
Beliau adalah ‘Ali bin Muhammad bin ‘Abdillah yang terkenal dengan sebutan Ibn Bakuih. Beliau betul-betul mensamudra di dalam ilmu pengetahuan. Tidak hanya dalam ilmu pengetahuan agama, tapi juga dalam ilmu pengetahuan secara umum. Betul-betul beliau sangat mengagumkan.
Di masa-masa remaja, beliau sempat menyaksikan seorang sufi bernama Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif. Kemudian, beliau pergi dari Syiraz, lalu menetap di Nisabur. Di Nisabur, beliau berkumpul dengan Imam al-Qusyairi yang terkenal dengan kitabnya itu, juga dengan Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair.
Beliau bersahabat dengan Syaikh Abu al-‘Abbas an-Nahawandi. Di antara keduanya banyak terjadi pembicaraan tentang thariqah, tentang model jalan yang menuju kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, Syaikh Abu al-‘Abbas an-Nahawandi kemudian mengakui tentang keunggulan Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku.
Beliau kemudian kembali ke Syiraz. Di Syiraz, beliau memilih untuk ‘uzlah, menghindar dari hiruk-pikuk kehidupan, menyendiri untuk berasyik-masyuk dengan Allah Ta’ala. Beliau memilih goa-goa sebagai tempat untuk bisa fokus kepada hadiratNya, untuk bisa konsentrasi kepada Allah Ta’ala.
Para sufi, para ulama, para faqir, para miskin: semuanya berziarah kepada beliau. Untuk apa mereka mendatangi beliau? Tidak lain semata-mata untuk mendapatkan berkah, untuk mendapatkan tambahan kebaikan dari Allah Ta’ala lewat perantara beliau. Semakin fokus kepada hadiratNya, semakin banyak orang yang datang kepada beliau.
Beliau wafat pada tahun empat ratus empat puluh dua Hijriah, pada hari-hari ketika Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berada di Nisabur. Bumi ini, kata Maulana Rumi, sudah menemukan makanannya yang paling lezat. Bayangkan, orang paling bertakwa kepada Allah Ta’ala, paling cinta kepada hadiratNya, telah dikubur di dalamnya.
Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi berkata kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair: “Dalam setiap minggu sekali, berilah peringatan kepada umat manusia di sebuah khaniqah, di sebuah tempat yang khusus untuk pengajian.” Maka, orang-orang lalu meletakkan mimbar, memberikan pakaian kepadanya, dan mereka berkumpul.
Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian datang untuk menziarahi al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi. Beliau berkata: “Ada apa ini?” Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi menjawab: “Sesungguhnya Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berbicara kepada banyak manusia. Duduklah, dengarkan apa yang beliau bicarakan.”
Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak yakin terhadap adanya kemampuan Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair. Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian duduk. Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi kemudian mengatakan: “Wahai Abu ‘Abdillah al-Baku, dengarkan kata-kata Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair.”
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kemudian masuk. Beliau melihat sejenak ke mimbar. Seseorang lalu membaca beberapa ayat dalam Qur’an. Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kemudian berdoa, lalu beliau memulai pembicaraan. Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian perlahan-lahan mulutnya.
Beliau lalu berkata dalam dirinya: “Angin sangat kencang di sini.” Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair kemudian menolehkan wajahnya kepada Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku kemudian mengatakan: “Ya, di sini memang sangat kencang sekali angin.” Kemudian beliau kembali ke pembicaraan awal. Subhanallah. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Yusuf bin Muhammad bin Sam’an - 15 May 2026
- Syaikh Muhammad bin Abi Ahmad al-Jasyti - 8 May 2026
- Syaikh Abu Ahmad Abdal al-Jasyti - 1 May 2026
