
Aku sudah memegang gagang sapu. Tanganku mengambil ancang-ancang untuk memukul seekor tikus putih yang masuk lewat pagar dan berkeliaran di teras. Ia melintasi meja, membentur vas bunga, dan melesat ke laptop, lalu merangkak ke sisi cangkir. Mulutnya terbuka. Lidahnya nyaris menjilat kopiku. Ih, jijik!
Plak! Satu pukulan meleset. Malah kena cangkir hingga pecah. Selain tumpah, kopiku terciprat ke mana-mana. Amarahku kian dahsyat. Berkali-kali kupukul tikus itu, tapi terus meleset. Ia lari ketakutan sambil bercericit, tetapi kemudian akhirnya terpojok juga di sudut dapur. Tanganku kembali terangkat.
“Hai, Mas! Hentikan!”
Istriku datang. Dengan sigap, ia memegang gagang sapu di tanganku.
“Kenapa, Dik?”
“Itu tikus peliharaan ketua RT. Jika tikus itu mati di tanganmu, ia akan marah.”
“Tapi tikus itu selalu mengganggu. Mengapa tidak diberi kandang?”
“Sudahlah! Jangan banyak tanya!” Istriku mengambil sapu dari tanganku.
Tikus itu meringkuk kelelahan di pojok lantai, lalu merangkak pelan dengan sisa tenaganya. Diam-diam dalam hati aku berencana untuk meracun tikus itu jika kembali datang dan mengganggu.
Beda cerita di sore hari. Aku terkejut begitu melihat tiga ekor ayam asyik bersantai di atas meja teras. Ayam-ayam itu sudah bertahi pula di sana. Belum lagi beberapa tumpuk yang tersebar di lantai.
“Huuuh!” Spontan, kuambil sandal dan kulempar ke arah tiga ayam itu. Sandal tepat mendarat di tubuh ayam yang berbulu hitam. Tapi tiga ayam itu bukannya lari ketakutan, malah tetap santai, seolah menyerahkan hidupnya kepadaku.
Ketika aku mendekat, tiga ayam itu masih tetap di atas meja. Spontan kuambil pisau. Barangkali salah satunya bisa kusembelih, biar dagingnya kuantar ke pemiliknya.
“Jangan, Pak! Ayam itu milik Kiai Amir.” Istriku melarang lagi. Aku tak menjawab sepatah kata pun. Pisau kutaruh di meja. Kepalaku penuh tanya.
#
Sebagai warga pendatang yang baru seminggu menikah dan tinggal bersama istri di kompleks ini, hanya satu hal yang membuat kepalaku pusing: setiap waktu, ada saja hewan peliharaan tetangga yang datang ke rumah. Kadang ayam, kucing, tikus, anjing, musang, kambing, bahkan juga ular.
“Mengapa hewan-hewan itu tidak dikandangkan, Dik?”
“Kandangnya sebenarnya ada, Mas. Cuma sesekali hewan-hewan itu memang mesti dilepas.”
“Kalau dilepas kan mengganggu tetangga. Kalau tikus masih mending, tapi kalau ular, anjing, musang. Duh!”
Istriku tersenyum. “Jangan ambil pusing, Mas! Tak usah dimasukkan hati. Anggap saja angin lewat. Begitu kata orang tuaku jika melihat beberapa hewan peliharaan masuk ke halaman kita. Ya mau bagaimana lagi?”
Aku mematung, tak habis pikir. Adakalanya aku mencari cara agar halaman rumah aman dari hewan-hewan itu. Satu-satunya cara yang kudapat adalah dengan membuat pagar lebih rapat dari biasanya, begitu pula dengan bentuk pintunya.
Gagasan itu langsung kuterapkan. Aku mempekerjakan dua orang tukang untuk memperbaiki pagar. Pikirku, di awal nikah, setidaknya aku jadi pahlawan bagi keselamatan rumah dari hewan peliharaan tetangga. Sebab, hewan-hewan yang kerap membuat ulah itu secara tidak langsung merampas waktu kerja keluargaku karena tak jarang waktu habis hanya untuk menghalau mereka sekaligus membersihkan tahinya.
Alhasil, seminggu lamanya rumah aman dari hewan peliharaan tetangga. Aku hanya melihat hewan-hewan itu berkeliaran di luar pagar karena tak berhasil menerobosnya. Aku tersenyum puas. Hari kedelapan, aku terkejut. Sepulang kerja, tahi ayam memenuhi lantai teras dan meja. Tiga ekor tikus kembali kejar-kejaran. Seekor kucing dengan tenangnya mengunyah sisa kerupuk di atas meja makan.
“Huuuh! Mengapa semua ini bisa terjadi?” teriakku nyaring. Ibu mertuaku keluar. Sontak aku mengubah mimik. Sungkan.
“Tadi pagi saat berangkat, kamu lupa menutup pintu. Ibu dan yang lain kebetulan ada di dalam, tak sadar jika pintu terbuka.”
Seingatku, pagar sudah kututup. Tapi, aku tak berani membantah.
#
Mumpung hari libur, aku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga terdekat. Selain niat silaturahmi dan mengenalkan diri, aku ingin tahu lebih dekat perihal hewan-hewan peliharaan yang ada di kompleks ini. Mulai pukul 07.30 sampai jelang azan Zuhur, aku berhasil mengunjungi lima rumah.
Apa yang diceritakan istriku ternyata bukan rekaan belaka. Rata-rata tetanggaku punya hewan peliharaan. Hewan-hewan itu memang ada kandangnya, tapi jarang dikurung, kecuali saat malam hari atau dalam situasi tertentu. Nyaris semua hewan-hewan itu dilepas dan dibiarkan berkeliaran ke mana pun—termasuk ke halaman rumah-rumah tetangga.
“Kebiasaan memelihara hewan dan dilepas begitu saja memang tradisi sejak tetua kami dulu,” ungkap Paman Heri kepadaku. Ia adik bungsu ibu istriku.
“Bagaimana bila mengganggu tetangga, Paman?”
Paman Heri tersenyum, lantas menjentikkan rokok ke mulut asbak. “Warga di sini sudah saling memaklumi.”
“Oh, begitu.” Aku mengangguk. “Kalau hewan yang berbahaya seperti ular misalnya?”
“Ya, harus dimaklumi. Boleh diusir sekadarnya, tapi jangan kasar.”
“Hewan yang boleh dipelihara bebas ya, Paman? Apa ada aturannya juga?”
“Bebas.”
Aku hanya bisa mengangguk kembali—antara takjub dan jengkel pada kebiasaan warga di kompleks ini. Sambil bercakap dengan Paman Heri, aku melihat musang-musang tetangga berkeliaran di dekatku. Ada burung yang bebas bertengger di kawat jemuran sambil bertahi seenaknya. Di tempat sandal, seekor ular melintas, melewati kucing yang sedang muntah.
Aku bergidik. Perutku mual.
#
Mungkin memang benar ada jin yang memengaruhi jiwa setiap orang di kompleks ini, sehingga rata-rata hobi memelihara hewan. Aku yang semula tak suka memelihara hewan, di bulan kelima menikah, mulai terdorong untuk punya hewan peliharaan. Semacam kena bisikan jin. Tapi aku bingung mau memelihara apa, sebab sedari kecil aku tak terlalu suka memelihara hewan. Aku hanya berpikir untuk memelihara hewan unik yang belum dimiliki oleh siapa pun di kompleks ini, tapi harganya murah, dan kalau bisa gratis.
Satu hingga dua hari, tak kunjung kutemukan hewan yang hendak kupelihara. Sore, ketika aku sedang lanjut berpikir tentang itu, tiba-tiba seekor anak tupai melompat di dahan mangga yang tumbuh di pojok halaman. Ia seperti kelaparan. Ia mencari-cari buah mangga yang matang, tapi sia-sia karena semua buahnya masih muda. Setelah melompat dari dahan satu ke dahan yang lain, akhirnya ia kelelahan dan jatuh di tanah. Spontan aku memungutnya. Bentuknya begitu imut. Karena kasihan, saat itu pula aku berkeinginan untuk memeliharanya. Kumasukkan ke dalam kardus dan kuberi makan pisang. Ia begitu lahap makan.
Seminggu kemudian tiba-tiba tupai itu hilang. Agaknya ia keluar lewat lubang kardus yang kubuat untuk sirkulasi udara. Pikiranku teraduk-aduk, antara panik dan takut ia hilang. Aku sudah telanjur menyayanginya. Jelang Magrib, ternyata tupai itu datang dan masuk sendiri ke dalam kardus, tinggal semalaman, dan keesokan harinya keluar lagi. Sepertinya ia lebih suka mencari makan di alam bebas. Setelah kenyang, ia datang dan berdiam kembali dalam kardus. Begitu setiap hari. Membuatku semakin sayang kepadanya.
Sebulan kemudian, tupai itu mulai terbiasa ikut aku jika bepergian ke luar rumah, terutama kalau jalan kaki. Ketika aku lari pagi misalnya, ia akan mengikuti ruteku dengan cara berjalan melompat-lompat di dahan-dahan pohon, tiang, kabel, dan benda lain yang ada di atasku. Saat aku sudah berhenti, ia akan turun dan berdiam di bahuku. Sejak saat itu, aku memastikan selalu ada pisang dalam saku celana. Ketika tupai itu bertengger di bahu, aku akan memberinya makan.
#
Aku tak menyangka, tupai yang kupelihara iseng-iseng saja ternyata jadi hewan terhebat yang tidak hanya terkenal di kompleks ini, tapi juga menyebar ke berbagai daerah—terutama setelah diliput wartawan.
Akhir-akhir ini, bakatnya bertambah. Ia bisa kusuruh membawa benda kecil dan meletakkannya di tempat yang kutentukan hanya dengan bicara kepadanya sebagaimana aku bicara kepada manusia. Ia seolah mengerti bahasaku. Bahkan aku bisa memberinya tugas rahasia, seperti meletakkan kapsul mungil di tempat pakan tikus-tikus Pak RT. Sejak itu kudengar tikus-tikus Pak RT makin berkurang dan hanya tinggal beberapa saja. Setidaknya makanan di atas mejaku sekarang makin aman dari gasakan tikus.
Semakin banyak orang yang datang ke rumah untuk melihat tupai itu. Di antara orang-orang itu bahkan ada yang ingin membelinya dengan harga 50 juta. Tapi aku tak ingin menjualnya, kecuali apabila ada yang berani membeli 100 juta. Aku semakin sayang kepadanya sehingga jarang-jarang kulepas kecuali di saat aku sedang lowong untuk mengawasi. Aku mulai menempatkannya di sangkar besi.
Pagi itu, aku menyiram bunga sambil bernyanyi-nyanyi. Aku mengarahkan selang dan melihat air bening yang memancar dari ujungnya. Lalu tiba-tiba kulihat sosok Pak RT yang menyembul dari samping pintu pagar. Ia mengucap salam, tapi nadanya agak tinggi. Wajahnya terlihat geram. Tanganku gemetaran. Apakah ia sudah tahu siapa biang keladi di balik nasib tikus-tikusnya?
Aku menyilakannya duduk di teras. Pak RT tak menyahut. Tapi ia duduk begitu saja sambil menaruh kardus yang dari tadi dibawanya ke atas meja. Wajahnya makin tampak seram.
“Tupai pintarmu sekarang ada di mana?”
Aku menoleh ke arah sangkar. Betapa terkejutnya karena ia tak ada di sangkar. Padahal ia tak pernah kulepas sembarangan.
“Oh, maaf, Pak RT. Apa tupai saya berkeliaran ke rumah Pak RT?”
Pak RT hanya mengangguk dengan wajah semakin memerah. Aku berusaha tenang dengan menarik napasku dalam-dalam. Apakah ia sudah tahu apa yang terjadi dengan tikus-tikusnya?
“Tupaimu membawa ini ke hadapan istriku,” tukas Pak RT dengan suara keras sambil melempar kertas yang terlipat kecil ke atas meja. Kertas itu kubuka. Kubaca perlahan, “Aku semakin mencintaimu, Sayang”.
Aku terkejut bagai tersambar petir. Itu bukan tulisanku, tapi aku tahu persis siapa pemilik gaya tulisan itu. “Maaf, Pak. Saya tak mengerti,” ucapku dengan bibir gemetar.
Pak RT terdiam. Kedua matanya melirik ke atas seperti berpikir.
“Tupai saya sekarang ada di mana?” tanyaku dengan suara serak. Pikiranku kalut, antara mengkhawatirkan tupaiku, juga memikirkan bagaimana cara menanyai si pemilik surat itu nanti malam.
Pak RT mendorong kardus tepat ke hadapanku. Lalu dengan sangat hati-hati, aku membukanya agar tupai itu tak melompat ketakutan. Setelah purna kubuka, tupaiku ternyata meringkuk lemah di pojok kardus dengan tatapan mata kosong. Persis tikus Pak RT yang dulu hendak kupukul dengan sapu.
Gapura, 2026
- Hewan Peliharaan - 8 May 2026
- Puisi A. Warits Rovi - 23 December 2025
- Pisau Khitan Kakek - 1 August 2025
