
Milenial
aku biarkan kacamata hitamku menjadi
juru bicara ketika matahari jam sebelas siang
datang dan menyatakan dirinya sebagai
matahari terbaik
lepas dari kepalaku dan terbang menjadi
seekor gagak ketika ada demonstrasi di jalanan
hinggap di dahan di aspal di kepala orang-
orang dengan aroma keringat sejenis keringatku
masa menjadi muda tinggal putaran terakhir
dan layar besar di tepi lintasan menayangkan
jam dinding yang sengaja tidur setiap kali film
memasuki adegan rusa-rusa kebun raya bogor
kemudian suara synthesizer-nya yang hantu itu
patah dalam kotak kapur kelas sekolah menengah
jakarta patah dan suaranya mengalir sampai sini
ke sanalah aku akan pergi
ketika gadis-gadis tak beranjak dari jalur sibuk
dalam kepala aku sedang berteduh di bawah beringin
sementara kaca gedung-gedung retak jadi puing
di SCBD, Megakuningan, di arena disko tepi pantai
suara letupannya menggelayuti lampu-lampu jalan
di depan BB’S, juga di kafe Kemang malam grunge
sebagai kelelawar sebesar manusia mata terpejam
sayapnya menangkup lebih elegan dari batman
bocah punk bersih-bersih di zucotti park, dan Obama
warna menyebar di corong vuvuzela dan pesta telah
sampai di pucuk piramid tempat Cristiano mengayun
tangkai sapu dan kaus longgar untuk Leo
kitab ditutup, bab tak selesai, dan tinju dibenamkan
ke dalam tanah lalu tertidur sepuluh tahun di tepi
sungai yang selalu berkabut–konon asap mariyuana
yang mengalun dari hutan terbakar di hulu gunung
panca indera mengubur dirinya di bawah semak-semak
matahari terbaik membangunkanku dengan suara
kaca jendela yang diretakkannya
sekaligus memberitahu bahwa ada matahari lain
berwarna hitam yang berkelana di atas kerumunan
hijau, biru, kuning–sebuah hoverboard ditancapkan
di ujung tombak tugu pengingat revolusi kota
orang-orang yang lebih muda berjalan di udara
tetapi sejauh mata memandang hanya asap jelaga
penunjuk jalan sudah usang–ke halim atau merak
pantai mediterania sudah terlalu sehari-hari di sini
di teras balkon kukenakan lagi kacamata hitamku
lalu kulihat anak-anak membelah matahari
dan mengeluarkan jeroannya
2026
Setahun Setelah Pemilihan Umum
selalu kuperiksa diriku sendiri
sejak urusan geopolitik menggelisahkan
layaknya kusen rumah masaremaja yang makin
lama makin teleng
karena sebagian besar temantemanku tidak
setidak pohon karet yang tetap ditoreh
seasam tempoyak durian tak kenal istilah diktator–
apalagi yang dicekup di ibukota yang namanya
kukenal dari telenovela tivi sumatra
bahkan yang bertahan di depan komputer
menyunting podcast sambil jadi barista
merasa jengah jika kudengar kata yankee,
hemisphere, dan nama-nama hispanik
kulit melayu di pasifik sana
andai tak ada wajahmu wahai garis untuk diterobos
pisau bedah di tanganku ini akan merobek
lambung babi
dari sana akan menggeliat jutaan manusia
yang telah memilih dengan sukarela
seorang diktator yang merantai diktator lainnya
kuketik:
alack! bahasa indonesianya…
2026
Pohon Kamboja
datang dari tempat yang tak mungkin
mendengar suara kuak-kuak burung gagak
jam 2.20 siang–ini tepi metropolitan dengan
sungai beraroma sama dengan kali di utara kami
maka ketika gagak-gagak melintas dengan
suaranya di angkasa, dan kau harus bicara
dengan bahasa inggris yang sama buruknya,
engkau sedang terdampar di sebuah teras
lantai tiga di mana seseorang berkata
“aku dari Texas” tanpa sempat ditanya
di meja dinding, kertas gulung dan penghancur
tembakau adalah perbandingan yang paling
terang. dan engkau butuh setidaknya dua malam
demi memastikan tak ada yang perlu kau takutkan
sebagai pengalih perhatian
rumpun kamboja putih di halaman belakang
kamar hotel menyediakan cahaya dari balik
pintu kaca geser lantai dua
asing tapi terasa akrab
mereka yang juga asing–tapi pandai bertanya
tentang asal usul walaupun bercakap-cakap
dengan nada yang kadang saling mengecam
2025
Biru
tak ada alasan khusus, atau pembenaran
tentang mengapa tak pernah kupasang cermin
dalam kamarku: biru
hanya kuraba-raba lagi pengalaman sepintas
beberapa tahun dulu tentang kepada siapa
mystique bicara di adegan terakhir itu:
charles atau magneto
katanya
dingin biru angin November, biru warna bus,
biru udara jelang maghrib, biru acuh langkah
trotoar jendela-jendela kaca raksasa, dan
pohon-pohon besar yang sudah ada di sana
sebelum aku
kulitku kulit manusia, memilih masuk
dalam tanah, menyerah pada cuaca
biar tumbuh jadi angsana
jadi beringin
atau batang asam jawa
2025
- Puisi Ervin Kumbang - 2 June 2026
- Puisi Ervin Kumbang - 2 December 2025
