
Mungkin sudah hampir dua bulan Nyonya Ling selalu terlihat murung. Sesekali aku mendapati beliau menangis di hadapan sebuah lukisan yang dipajang di dinding ruang kerjanya. Sejak peristiwa itu, ia menjadi pendiam, berbicara seperlunya dengan nada yang lembut, padahal biasanya ceplas-ceplos, tegas, dan melengking.
Selama hampir dua bulan itu pula, aku ditugaskan mencari pelukis yang telah membuat Nyonya Ling murung dan sikapnya berubah. Dari berbagai teman, kolega hingga semua koneksi Nyonya Ling, tidak ada yang mengenal sosok pelukis yang dimaksud, tidak ada yang tahu meskipun kami menunjukkan foto lukisannya.
Sepanjang ingatanku, pelukis itu datang pada suatu siang menjelang sore, mungkin lima tahun silam, pada musim kemarau. Ia ingin bertemu Nyonya Ling. Dari penampilannya, aku tidak menyangka kalau lelaki itu seorang pelukis. Pakaiannya terlihat lusuh, wajahnya kusam, berminyak, dan tampak lelah seperti telah melewati hari-hari yang teramat berat. Angin pagi menjelang siang turut menyapa hidung dengan membawa bau badan lelaki itu ke hadapanku. Napasku seketika tertahan.
Aku sempat menolak kedatangannya, apalagi ia tidak membuat janji terlebih dahulu. Lelaki itu tetap mendesakku untuk menyampaikan pesannya kepada Nyonya Ling.
“Jika Nyonya mendengar nama saya, beliau pasti mau menemui,” katanya. “Nama saya Iwo, sampaikan kepadanya,” lanjutnya.
Hatiku melunak. Lantas kupersilakan tamu itu menunggu. Perasaanku sedikit ragu. Barangkali lelaki itu memang membuat janji dengan Nyonya Ling tanpa memberitahuku. Aku pun menghubungi nyonya.
“Hari ini aku tidak membuat janji kepada siapa pun,” katanya. “Aku mau istirahat. Jangan ganggu!”
“Namanya Iwo.”
“Iwo?”
Nyonya Ling mematung, seperti mengumpulkan ingatan. Dari raut wajah, sepertinya Nyonya Ling tidak yakin mengenalnya.
“Suruh dia masuk!”
Aku mempersilakan lelaki itu masuk ruang tamu. Ia duduk tenang sambil mengamati beberapa lukisan yang tergantung di dinding.
“Ada yang bisa saya bantu?” kata Nyonya Ling setelah bergabung di ruang tamu.
“Saya datang memenuhi permintaan Nyonya.”
“Permintaan apa?”
“Melukis pemandangan. Saya juga sepakat dengan biayanya.”
“Kita belum pernah bertemu. Kapan kita membuat kesepakatan?” tanya Nyonya Ling dengan tatapan menyelidik.
“Sudah. Dalam mimpi,” kata lelaki itu sembari tersenyum.
Sungguh konyol. Bisa-bisanya lelaki itu bercanda seperti itu di hadapan nyonya. Aku hampir menyela, tetapi Nyonya Ling mengangkat tangannya, mengisyaratkanku untuk duduk dan diam.
Aku mengalihkan pandangan pada nyonya. Ia tampak berusaha mengingat sesuatu. Benarkah nyonya bertemu dengan lelaki itu dalam mimpi?
“Ya, aku ingat,” katanya setelah beberapa saat. “Tapi itu hanya mimpi.”
“Memangnya tidak boleh menjadi kenyataan?”
Nyonya Ling memperhatikan lawan bicaranya lebih seksama.
“Tiga hari yang lalu,” kata Iwo. “Apa ada yang masih Nyonya ingat?”
Nyonya Ling tampak mematung, seperti berusaha mengingatnya.
“Sebentar, apakah kamu memperlihatkan gambar seorang gadis kecil bersama seekor kucing dan lukisan ikan terbang hinggap di pohon mangga?”
“Ingatan Nyonya masih tajam.”
Lelaki itu mengambil semacam buku sketsa dari tasnya. Gambar-gambar yang disebutkan Nyonya Ling ada di sana.
“Mustahil!”
Aku sempat terpaku pada lukisannya, sekaligus merinding. Nyonya Ling pun terdiam untuk beberapa saat.
“Bagaimana?”
“Jika hasilnya tidak sesuai harapan, saya tidak akan membayar,” kata Nyonya Ling.
“Tidak masalah.”
“Tunggu,” kata Nyonya Ling. “Apa kamu tahu lukisan yang saya inginkan?”
“Tentu, bukankah pemandangan dari lantai paling atas di café milik Nyonya?”
Nyonya Ling pun lebih terkejut. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.
Aku pun tidak tahu lanjutan obrolan Nyonya Ling dengan tamu itu. Nyonya memintaku mempersiapkan peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk melukis, sebagaimana bahan-bahan yang sudah pernah digunakan oleh pelukis lain.
Dari lantai paling atas, terlihat matahari mulai turun perlahan. Cahaya keemasannya memantul pada dinding-dinding kaca gedung bertingkat, sementara cerobong pabrik mengirimkan asap tipis ke langit.
Senja selalu tampak indah dari sini, menjadi akhir bagi siang, dan selalu membuka sebuah awal bagi malam, dan mungkin esok memberi kesempatan untuk memulai kembali dengan suatu cerita yang berbeda. Aku duduk di meja pojok café.
Iwo pun menyusul ke lantai atas, didampingi satpam. Aku memandangi Iwo yang sudah memulai melukis. Ia lebih sering memejamkan mata daripada melihat pemandangan. Aku tidak tahu apakah lelaki itu mampu memenuhi harapan nyonya. Sejauh ini setidaknya sudah sepuluh lukisan dari seniman yang diundang ke tempat ini. Jika nyonya tidak menemukan lukisan yang cocok dengan perasaannya, ia akan memintaku untuk mencari pelukis lain dan itu cukup melelahkan.
Lukisan Iwo sudah rampung ketika senja hampir selesai. Lukisan itu menampilkan lanskap yang tampaknya rumit: gunung, senja, langit, pohon, dan sungai yang memantulkan cahaya kemerahan. Lukisan itu tidak sama dengan realita, terlihat muram, seperti ada sesuatu yang tertahan. Aku mencoba melihat agak jauh, menafsirkan lukisan ini, seperti sebuah kekesalan dan luka mendalam dengan kuas ketidakpastian.
Aku memperlihatkan lukisan itu kepada nyonya sembari memberi sedikit pemaknaan sebagaimana kebiasaanku setiap menunjukkan lukisan. Nyonya Ling seperti enggan berdiskusi, ia langsung menghampiri Iwo.
“Ini bukan yang aku harapkan,” kata Nyonya.
“Tidak masalah. Lukisan ini memang belum selesai dan akan selesai setelah waktunya tiba. Semoga nanti Nyonya masih sempat melihatnya,” jawab Iwo, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
Aku mengenal Nyonya Ling sebagai perempuan yang lebih percaya pada firasat dibanding laporan. Berkali-kali ia mengambil keputusan yang menurut orang lain tidak masuk akal. Dan hampir selalu benar.
Aku juga merasakan bahwa lukisan ini sedikit berantakan. Meskipun menyadari, untuk pertama kali, aku melihat lukisan dengan teknik yang tak biasa. Tapi begitulah, Nyonya juga memiliki insting yang kuat dalam memilih lukisan yang diharapkan.
Bertahun-tahun sebelumnya, sepulang meninjau lokasi pembangunan di perumahan Erakit, kami dihampiri seorang anak laki-laki, seperti gelandangan. Separuh wajah kirinya tampak seperti bekas luka bakar. Ia menawarkan beberapa lukisan.
Nyonya Ling tertarik pada salah satu lukisan bukit dan pepohonan yang diselimuti warna jingga, dengan sebuah rumah kecil bertengger di atas pohon. Nyonya Ling tersenyum melihat lukisan itu. Ia pun memintaku untuk membayar dengan harga yang tidak masuk akal.
“Bukankah terlalu mahal, Nyonya?” kataku menimpali perintah nyonya.
“Memangnya berapa harga yang pantas untuk lukisan ini?”
Aku hanya diam karena memang tidak paham lukisan. Mungkin pemilik rumah dalam lukisan ingin naik daun, pikirku dalam hati. Aku pun melaksanakan apa yang diperintahkan Nyonya. Anak lelaki itu tampak senang dan mengucapkan banyak terima kasih.
Dalam perjalanan pulang, Nyonya Ling tiba-tiba membatalkan rencana membeli kawasan Erakit. Nyonya lebih mencari tempat perbukitan ke arah timur untuk memulai lini perusahaan. Ia juga memintaku untuk banyak mengenal lukisan dan menjadi teman diskusinya.
Perjalanan bisnis nyonya mulai berkembang, termasuk kafe di atas bukit. Lantai kafe paling atas adalah tempat paling diminati pelanggan. Meskipun menyajikan pemandangan perumahan Erakit, senja di sana cukup mempesona.
Dengan perkembangan bisnisnya, Nyonya Ling ingin mempunyai lukisan pemandangan yang tampak dari atas kafe dengan latar pegunungan dan senja. Katanya sebagai pengingat untuk selalu melihat yang di bawah. Beliau berasal dari keluarga miskin. Katanya, seseorang bisa kehilangan arah ketika lupa dari mana ia berasal. Karena itu, ia ingin selalu memiliki sesuatu yang mengingatkannya pada silsilah melarat. Itu sebabnya sampai saat itu, nyonya suka membantu orang-orang yang membutuhkan.
Kadang Nyonya Ling sering bernostalgia perihal lukisan anak kecil. Itu semacam penyemangat untuk mencapai bukit kesuksesan dan mungkin bisa melampaui batas. Nyonya Ling pun memintaku untuk mencari pelukis. Akan tetapi dalam proses mencari lukisan tidak ada satu pun yang cocok hingga akhirnya datanglah pelukis yang mengaku dari mimpi.
***
Hingga akhirnya peristiwa itu datang. Pemandangan dari atas kafe yang selama ini memanjakan mata berubah menjadi mencekam. Bencana meratakan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Kabar itu cepat menyebar di radio, televisi, hingga surat kabar. Perlahan ketika melihat suasana dari atas kafe, aku merasa tidak asing. Aku ingat lukisan Iwo. Aku mencarinya di arsip galeri.
“Bukankah lukisan ini akhirnya benar, Nyonya,” kataku sembari memberikan lukisan itu kepada nyonya.
Nyonya Ling hanya diam sembari mengamati lukisan. Hari-hari berikutnya, ia banyak termenung dan memintaku mencari tahu tentang pelukis itu.
Memasuki bulan ketiga pencarian, aku menemukan sebuah berita di koran lokal. Seorang remaja pelukis diwawancarai setelah pameran kecil di balai rumah galeri. Wajah kirinya menyimpan bekas luka yang kukenal. Di bawah fotonya tertulis:
“… belajar melukis dari ayahnya, yang hilang ketika mempertahankan tanah sebelum menjadi perumahan Erakit.”
Aku menutup koran dengan menghela napas berat. Aku pun beranjak menemui Nyonya Ling.
“Ada kabar baru?” tanya nyonya.
“Ya.”
“Bagus,” katanya lirih. “Aku menangisi diriku sendiri. Waktu itu aku hanya mencari lukisan yang kuinginkan. Aku tidak memahami apa yang ingin ia sampaikan,” lanjutnya.
Nyonya Ling masih berdiri di depan lukisan yang dulu ditolaknya. Jemarinya perlahan menyentuh sapuan cat. Aku pun melangkah dan berdiri di sampingnya, memperhatikan lukisan yang akhirnya selesai setelah waktunya tiba. []
- Pelukis yang Datang dari Mimpi - 17 July 2026
