
“Mari kita mulai semuanya dari awal.” Itu kalimat awal dalam cerita pendek yang Eka Anjani tulis, yang diucapkan tokoh perempuan kepada suami barunya. Kalimat serupa pernah Eka Anjani ucapkan kepada B, suaminya, ketika mereka duduk di sofa pelaminan, yang bikin B mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata sehingga tampangnya terlihat dungu.
Eka Anjani memulai ceritanya dengan kilas balik soal tokoh perempuan yang menderita hidup dalam rumah tangga dengan seorang laki-laki. Mereka tinggal di rumah susun berlantai lima, dan keduanya tinggal di kamar lantai empat. Penghasilan laki-laki itu sering kurang dari pengeluaran hingga tokoh perempuan mesti turut menambah penghasilan dengan berjualan gorengan, yang dia buat sendiri di dapur kamar rumah susunnya. Mereka dikaruniai dua anak. Semuanya perempuan: sang kakak berusia 12 tahun dan sang adik berusia 9 tahun. Mereka telah menjalani pernikahan 13 tahun.
Kita tahu bahwa tokoh laki-laki itu masih lumayan sebab jadi suami yang bertanggung jawab mencari nafkah meski doyan mabuk. Berbeda dengan J, mantan suami Eka Anjani. Kita patut prihatin sebab kehidupan nyata Eka Anjani yang justru mirip cerita-cerita fiksi klise dengan sosok suami berandal yang hobi berjudi, mabuk-mabukan serta ringan main tangan.
“Aku akan cari kerja, Dik.” Demikian hanya omong kosong J yang telah berkali-kali dilontarkan lelaki yang rasanya ingin kita kirim secepatnya ke alam baka. Kakak sepupu Eka Anjani pernah memasukkan J untuk kerja serabutan di PT. Logistik. Kebetulan sang kakak sepupu supervisor di sana. Sebagai orang dalam yang memasukkan laki-laki cecunguk itu ke tempat kerja, ia sering dapat teguran atasan sebab J sering telat dan bolos kerja serta kerap bermasalah dengan karyawan lain. Tahu posisinya terancam, akhirnya ia setuju supaya J dipecat.
“Apa tak ada saudaramu lagi, Dik, yang bisa memberiku kerja?” pinta J.
“Aku sedang mencari,” jawab Anjani pendek.
Lewat jalur orang dalam juga, J dimasukkan oleh sang paman dari jalur ibu Eka Anjani sebagai pekerja serabutan di CV. Pengepul Besi Tua. Selepas 3 bulan kerja di sana, kebiasaan buruk J bangkit kembali. Tentu nasibnya sekali lagi persis seseorang yang ditendang keluar pintu kendaraan—katakanlah mobil—oleh sang sopir sebab mengganggu. Begitu juga di pekerjaan selanjutnya, yaitu ketika J bekerja sebagai pembantu di rumah makan bebek milik bibi dari jalur ayah Eka Anjani. Sampai J akhirnya memutuskan menjadi pengangguran ketika Eka Anjani resmi jadi dosen sastra—sebelumnya ia hanya guru bahasa Indonesia di SMA.
“Beri aku uang, Dik. Aku yakin kali ini pasti akan menang dalam taruhan nanti.”
Selalu saja begitu, dan dungunya, seperti cerita-cerita fiksi klise, Eka Anjani akan memberikan uangnya kepada suami sialan itu. Makhluk bernama cinta yang tak punya akal sehat menulari perempuan terpelajar itu. Biasanya, J akan pulang ke rumah pada tengah malam dengan putus asa sebab uang itu ludes di meja judi. Kali lain, J pulang dengan kondisi sempoyongan mabuk berat. Kali lain, ketika Eka Anjani memarahinya, J akan main tangan kepadanya dan bikin kedua putrinya mengutuki ayah mereka.
Akhirnya, ini momen yang bikin kita jingkrak-jingkrak girang: Eka Anjani memutuskan menggugat cerai J ketika laki-laki itu ketahuan mengambil uang tabungan Eka Anjani dan melenyapkan uang itu dalam tiga malam di meja judi meski selepas 13 tahun pernikahan, mereka telah dikaruniai dua putri: sang kakak berusia 12 tahun dan sang adik berusia 9 tahun.
***
Suami tokoh perempuan dalam cerita karangan Eka Anjani itu seorang laki-laki yang manis di masa awal pernikahan. Si tokoh perempuan akhirnya tahu bahwa suaminya orang yang gampang bosan. Sungguh hidup jadi demikian absurd ketika kita tinggal satu atap dengan orang yang sudah tak memiliki cinta, seperti hidup dengan mesin yang hanya dikendalikan algoritma, bukan perasaan. Laki-laki itu jadi tak pernah menghiraukan ucapan istrinya dan tak mau mengerti perasaan istrinya. Cinta laki-laki itu hanya tersisa untuk dua anak mereka saja.
“Mas udah gak pernah ajak aku jalan-jalan berdua lagi kalau lagi libur.”
“Kita jalan-jalan bareng saja sama anak-anak besok-besok, ya.”
Untungnya dia punya kegiatan sosial yang bisa mengentaskan laranya. Dia aktif berkegiatan di komunitas baca dan menulis serta ikut berbagai workshop dan seminar. Kalau ada kegiatan begitu, dia akan meliburkan usahanya berjualan gorengan.
Yang juga menggetirkan, dia jarang dijamah oleh suaminya itu. Hanya ketika laki-laki itu kepingin saja, akan menjamahnya seperti anjing. Tak seperti dulu ketika urusan kerja bikin suaminya pening, laki-laki itu akan menjamahnya penuh cinta. Sementara kini, suaminya lebih sering membunuh peningnya dengan minum alkohol di bar lalu mengendarai motornya dengan agak oleng lalu ketika sampai di rumah langsung jatuh tertidur.
Kerap kali malam-malam seperti itu menjadi malam pertengkaran mereka. Lantas puncaknya adalah ketika dia mengecek ponsel milik suaminya yang sudah teler, dan mendapati percakapan mesra yang juga berisi janji temu di tempat-tempat romantis termasuk hotel. Malam itu dua putrinya sudah terlelap. Sumpah malam itu dia ingin meludahi atau mengencingi wajah suaminya yang terlelap, tapi tindakan jahat itu urung diperbuatnya.
Entah apa yang dipikirkan penulis kita satu ini, Eka Anjani. Ia menentukan takdir selanjutnya tokoh perempuan yang patah hati itu untuk pergi ke rooftop rumah susun yang diisi area jemuran. Lalu dia memutuskan untuk lompat dari atas sana. Entah apa yang selanjutnya dipikirkan penulis kita ini lagi, sekonyong-konyong sang tokoh perempuan tak jatuh dari ketinggian dan mengempas aspal. Ketika tubuhnya sedang meluncur di ketinggian, sekonyong-konyong dia dihadang oleh portal mirip trampolin yang muncul di udara. Trampolin yang tak mementalkan tubuhnya kembali ke atas, tapi menyedotnya seperti lubang hitam sehingga ia masuk ke dunia yang berbeda. Kita punya dugaan kuat bahwa Eka Anjani ketika menulis alur itu, ia tak ingin buru-buru mengakhiri cerita pendeknya dan tengah menentukan akhir cerita yang lebih cocok daripada mengamanatkan akhir keputusasaan. Kita yakin seketika itu ia ingat sebuah alur dalam cerita pendek Etgar Keret yang bizarre.
***
Kita kembali pada Eka Anjani yang setahun kemudian punya suami baru. Cukup mengejutkan bahwa yang datang melamarnya adalah B yang berusia 29 tahun, sementara ia berusia 35 tahun. Cukup mengejutkan bahwa B masih perjaka, sementara ia janda. Cukup mengejutkan juga bahwa B seorang ustaz dan anak pendakwah terkenal. Sungguh cinta adalah makhluk gila yang lekas menulari pemiliknya. Dari pandangan Eka Anjani, keseriusan dan kesalehan B yang bikin ia terpikat. Tentu saja pihak keluarga B sempat tak senang dengan hubungan demikian. Mereka berpikir seharusnya B menikah dengan perempuan sekufu—putri seorang ustaz atau kiai.
“Kenapa Abang milih aku? Aku janda, loh, Bang. Aku bukan perempuan keturunan ulama. Memang Abang gak malu?”
“Bahtera rumah tangga biar kita yang menentukan hendak berlayar ke mana, Sayang. Tak perlu kita dengarkan omongan orang lain yang tak benar.”
Betapa romantisnya B ketika mengucapkan itu di malam pertama. Eka Anjani merasa seolah diperlakukan bagai permaisuri di rumah itu meski mertuanya kadang menatapnya dengan pandangan miring. Sampai akhirnya ia nelangsa ketika B sekonyong-konyong menyuruhnya untuk berhenti jadi dosen sastra. Mereka berdebat akan itu. Lantas dari lisan B keluar argumen:
“Surgamu itu ada di ketaatan padaku. Dengarlah jangan membangkang. Istri itu di rumah saja. Di dapur, sumur, dan kasur.” Kata-kata begitu serupa khotbah yang tak menyisakan ruang diskusi untuk Eka Anjani bantah. Rasanya kita ingin menggampar mulut itu selepas melayang ucapan demikian.
Ketika 3 tahun usia pernikahan mereka, Eka Anjani tak betah dipingit di rumah mewah itu. Tapi ia berpikir, laki-laki lain belum tentu akan seperti B, yakni sebaik dan sesaleh itu. Belum lagi nafkah yang diberikan B dari undangan ceramahnya ke mana-mana, begitu mencukupi hidupnya, dua putrinya, dan putra mereka yang baru lahir—hampir berusia 2 tahun. B demikian mencintainya dan dua putrinya, apalagi putra mereka. Tapi B membentuk keluarga ideal versinya sendiri—versi di dalam kepalanya saja tanpa melibatkan istrinya.
Eka Anjani selalu rindu masa-masa aktif berkegiatan di komunitas baca dan menulis serta ikut berbagai seminar dan workshop. Ia rindu bertumbuh jadi manusia yang sumringah memupuk minat dan bakat. Betapa bebasnya dulu ia melesat ke mana pun ketika J masih jadi suaminya. Kini ia hanya aktif di komunitas ibu-ibu muslimat. Dan hanya berkomunitas baca dan menulis secara daring saja. Sesekali B membolehkannya keluar kandang hanya untuk keperluan yang menurut B demikian mendesak seperti acara bedah buku karya Eka Anjani atau acara penyerahan hadiah ketika ia menang lomba menulis cerita pendek.
***
Tokoh perempuan dari cerita Eka Anjani, yang tersedot lubang hitam itu, terdampar di suatu istana. Istana itu mirip rumah susun yang dia tempati dulu. Tapi bedanya, istana itu milik keluarganya. Kini dia seorang permaisuri dari pangeran tampan. Sekilas wajah pangeran itu mirip suaminya di dunia modern, tapi berkali lipat lebih tampan dan lebih kinclong. Dan tentu saja berkali lipat lebih kaya.
Namun, sebagai perempuan modern, dia cepat bosan hidup di zaman monarki begitu. Mulanya dia terperanjat ketika terjaga di alas tidur mewah, tapi begitu klasik; dia bergidik ketika menatap laki-laki tampan sekamar dengannya, yang ternyata seorang pangeran, suami barunya di dunia itu; dia juga terperanjat dengan pakaian modis, tapi kuno yang dikenakannya. Ketika sadar dia seolah terlahir kembali sebagai pengantin baru dengan seorang pangeran tampan, dia berucap dengan sangat mantap:
“Mari kita mulai semuanya dari awal.” Kalimat yang dia ucapkan kepada sang pangeran ketika mereka kelonan di suatu malam, bikin sang pangeran mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata sehingga tampangnya tampak dungu.
Selepas 3 tahun menjalani hidup barunya, dia jadi begitu bosan. Dia rindu dengan dua putrinya. Bagaimana kabar mereka? Dia rindu menggeser-geser layar ponsel. Dia rindu berkomunitas literasi dan berjumpa orang-orang yang memotivasi. Yang dia temui di kerajaan hanya para penyair, penulis, atau pelukis yang karyanya hanya untuk mengagung-agungkan raja dan keluarganya. Ketika dia mendengar penyair membacakan puisinya atau penulis membacakan hikayatnya dari daun lontar atau menatap hasil lukisan pelukis pada selembar kain, tak ada roh dalam karya mereka. Seperti pamflet-pamflet politik partai.
Lantas bagaimana akhir cerita dari tokoh perempuan itu? Beginilah Eka Anjani menentukan akhir cerita pendeknya, yang agaknya terinspirasi dari kehidupan rumah tangganya sendiri: tokoh perempuan itu tercenung menatap langit malam yang ditaburi sedikit gemintang dan tanpa bulan dari jendela di lantai atas istana. Di lantai itulah berdiri perpustakaan dengan banyak koleksi bacaan dan ruangan semacam museum yang menyimpan koleksi berharga. Kerap kali dia menatap ke bawah: tanah landai di bawah sana sebab istana itu berdiri di atas bukit.
Dia bisa memilih untuk lompat dari lantai itu, lalu berharap portal seperti trampolin dan lubang hitam menyedotnya lagi ke dunia yang berbeda atau ke dunia sebelumnya dan kembali ke pelukan suami lamanya. Atau dia bisa memilih tetap tercenung di atas sana, lalu melangkah gemulai turun satu lantai, lalu sebelum pergi tidur untuk menyambut hari esok, dia mencium kening putra kecilnya yang terlelap—berusia hampir 2 tahun. Mana dari dua akhir cerita pendek itu yang akan dipilih tokoh perempuan, adalah tugas kita yang menentukan.
Surabaya, 05 Maret 2026
- Menentukan Akhir Cerita Pendek - 14 August 2026
