
Hari ini adalah hari pertama Esa menjadi anak Ibu, tapi Ibu telat datang. Esa sudah duduk menunggu sejak pukul 7. Melawan bosan, kakinya bergoyang-goyang mengikuti irama lagu yang diputar toko mainan. Ia ingin masuk ke sana, seperti anak-anak lain, tapi ia diperintahkan untuk tetap di kursi. Jangan ke mana-mana sampai kamu bertemu Ibu. Begitu instruksi yang Esa terima.
Barangkali Ibu sibuk. Bisa juga, Ibu sudah tiba, tapi belum menemukan Esa. Mal memang sedang ramai. Ada banyak anak kecil, tidak sedikit pula yang berkeliaran sendirian. Meski Esa tahu wajah Ibu, Ibu belum tahu wajah Esa. Apa mungkin Ibu ternyata tepat waktu, kemudian menjemput anak yang salah? Ingin sekali Esa mencari Ibu. Semakin lama, semakin sulit baginya untuk duduk diam di kursi itu.
Mendekati pukul 10 malam, ketika toko-toko sudah sepi, seseorang menyentuh pundaknya dari belakang.
Ia menoleh dan lantas berseru, “Ibu!”
“Kamu Esa?” tanya perempuan itu pelan.
Sambil tersenyum lebar, Esa mengangguk-angguk. Menurutnya, Ibu yang asli lebih cantik dari Ibu di gambar.
“Kamu …. Sebentar lagi mal akan tutup. Ayo kita pulang,” kata Ibu.
Ibu tinggal di seberang mal, di gedung apartemen kekar menjulang. Bersama-sama mereka berjalan melewati jembatan yang menghubungkan kedua gedung. Dinding jembatan terbuat dari layar interaktif, sambung-menyambung, sementara langit-langitnya terbuat dari kaca. Saat mereka lewat, layar yang mulanya menampilkan pemandangan bukit-bukit kehijauan, padang bunga, serta awan-awan berkejaran, mulai memunculkan berbagai iklan. Saat Esa mendongak, yang tampak hanyalah langit merah kehitaman.
Jelas layar menganggap mereka sepasang ibu dan anak. Langkah mereka diiringi iklan makanan ringan, mainan, konsol game, kursus anak, pakaian anak, pakaian wanita, kosmetik, dan klinik kecantikan. Baik Ibu maupun Esa berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Lebih mudah mengabaikan iklan-iklan jika mereka terus bergerak.
Sampai kemudian, di dinding sebelah kiri, diiringi alunan musik, wajah Ibu mendadak menghiasi layar. Esa tidak bisa tidak berhenti.
Dalam iklan itu, Ibu bersimpuh di pantai berpasir hitam, dengan gaun putih tipis. Rambut Ibu basah. Air laut menyentuh ujung jemari kakinya. Tangan Ibu menggenggam botol parfum berbentuk oval dengan tutup menyerupai cangkang kerang. Mata Ibu, sepuluh tahun lebih muda, menatap kamera—menelisik mereka, siapa pun, yang tertarik untuk menaruh perhatian kepadanya.
Sejenak, Ibu yang asli diam menonton Ibu di layar. Oleh layar, atensi Ibu malah disangka ketertarikan untuk membeli. Timbul kotak bertuliskan harga promo, 13% lebih murah, disertai hitung mundur yang memberitahu kalau setengah jam lagi penawaran hangus. Melihat itu, Ibu tertawa begitu keras. Esa pun ikut tertawa walau tidak yakin apa yang lucu.
Setelah tawanya reda, Ibu menggandeng tangan Esa. “Itu iklan lama. Kamu belum lahir saat aku panas-panasan di pantai itu,” ujarnya. “Berapa umurmu?”
“Delapan tahun.”
“Delapan. Sama seperti Adam,” gumam Ibu.
“Adam itu siapa?”
Ibu mendadak berhenti. “Dia anakku,” katanya.
Saat mereka berjalan lagi, langkah kaki Ibu jadi lebih cepat. Esa tergesa-gesa mengimbangi.
Di ujung jembatan, mereka berbelok ke kiri, masuk ke sebuah lorong yang tampak sempit dari depan. Semakin dalam, lorong makin luas. Tiga kali langkah mereka terhenti, terhalang pintu-pintu perunggu bermotif sulur tanaman yang meliuk-liuk, merambat ke atas dan ke bawah. Lensa-lensa kecil tersebar di muka pintu, menyaru dengan putik bunga. Saat mata Ibu tertangkap salah satu kamera, pintu baru akan terbuka.
Pintu terakhir mengantarkan mereka ke lobi apartemen. Di sini, Ibu melepas genggaman tangannya. Lobi memiliki pilar-pilar besar berhiaskan ukiran, lantai marmer mengilat, serta wangi yang membuat Esa tertegun sejenak. Ia mengendus-endus udara di sekitarnya, mencari-cari bau asap. Pencarian Esa terbukti sia-sia. Tak pernah ia bayangkan bau asap yang selalu tercium di mal, jembatan, dan bahkan lorong barusan, yang tidak bisa dihindarinya dengan masker, yang menempel di setiap permukaan, dinding, kursi, pakaian, kulit dan rambut, bisa hilang begitu saja. Esa kesulitan memercayai hidungnya. Apartemen itu seakan terletak di dunia yang berbeda.
Seorang pria di dalam tabung kaca mengucapkan selamat malam kepada Ibu. Ia mengenakan jas abu-abu. Rambutnya klimis, kumisnya rapi. Bertengger di hidungnya sebuah kacamata baca. Pada dada kirinya terdapat tanda pengenal. Tertulis di sana: MX-351.
Esa melambaikan tangan kepada pria itu. “Kenapa dia di dalam tabung?”
“Sedang dicas,” sahut Ibu.
***
Pintu elevator berdenting saat terbuka. Sebuah foyer serba putih menyambut mereka. Dinding putih, lantai putih, bangku putih, meja putih, cermin besar berbingkai putih, juga setumpuk buku dengan sampul berwarna putih. Ke mana pun Esa melirik, ia bertemu putih dan putih lagi.
Setangkai mawar merah—diletakkan di vas berwarna putih—menjadi satu-satunya penyumbang warna. Bagai laron menjemput cahaya, Esa melangkah mendekati meja konsol. Tangannya terulur untuk menyentuh bunga berkelopak ganda itu. Jari Esa kemudian turun, menyusuri tangkai hijau yang sama sekali tidak berduri.
“Katanya itu mawar asli,” ujar Ibu. Ia tengah duduk melepas stiletto, menukarnya dengan sandal rumah. “Menurutmu bagaimana? Kelihatan asli?”
Esa mengangkat bahu.
Ibu mengaku, “Aku pikir bunga itu palsu.”
“Kenapa?”
“Aku membelinya dua tahun lalu. Kata penjualnya, yang penting vas selalu diisi air. Bunga ini butuh banyak sekali air. Bunga macam apa—bunga mawar pula!—yang cuma diberi air, tidak perlu cahaya, dan mekar terus-menerus?”
Esa menggelengkan kepala, tidak tahu.
“Penjualnya bersikukuh kalau ini bunga asli. Dia bilang ini varietas baru. Sengaja dibuat supaya lebih cantik dan tidak gampang mati.” Ibu berdiri, menenteng sepatunya. “Waktu itu aku ingin membantah, tapi aku tidak terlalu paham soal bunga.”
“Mungkin memang palsu,” kata Esa.
“Pernah aku membiarkan vas kering. Sorenya, bunga itu layu. Dua hari kemudian, aku isi vas dengan air. Tak sampai satu jam, mekar lagi. Aneh, ya?”
“Iya. Aneh sekali.”
Ibu mengisyaratkan Esa agar mengikutinya ke ruang tengah yang berbeda dengan foyer, tidak putih melulu. Ruang tengah memuat sofa besar, membentuk huruf U, dan sebuah meja bundar—keduanya diletakkan menghadap ke jendela.
Apartemen Ibu terletak di lantai 35, sejajar atau malah lebih tinggi dari banyak gedung. Namun, alih-alih pemandangan kota, jendela menampilkan sebuah danau biru. Asri, menenangkan, sepi. Tentu jendela itu bukan jendela biasa, dan pemandangan itu bukan pemandangan sungguhan. Meski begitu, bila melihatnya sedikit terlalu lama, siapa pun akan mulai percaya kalau mereka sedang berada di sebuah tempat terpencil. Jauh dari keramaian, jauh dari gangguan.
“Kalau yang ini jelas palsu,” kata Ibu.
Sedari tadi, karena terlalu fokus pada jendela, Esa tak menyadari Ibu yang berdiri tepat di sampingnya.
“Danaunya bagus,” kata Esa.
“Setiap bulan aku membayar mahal untuk ini. Kelewatan kalau tidak bagus.”
“Kalau tidak bayar, jendelanya diambil?”
Ibu tertawa pelan. “Jendelanya sudah jadi milikku. Tapi, misalnya aku lupa bayar, akan muncul banyak iklan. Jembatan tadi, kamu ingat? Persis seperti itu. Menyebalkan, kan?”
Esa mengangguk setuju.
“Mau lihat yang asli?” Ibu menawari.
Dengan telunjuknya, ia mengetuk kaca jendela sebanyak tiga kali.
Danau lenyap dalam sekejap, ditukar dengan tumpukan jalan layang, saling menyilang, menimbun. Sekilas, jalan-jalan itu tampak seperti satu tubuh. Tubuh itu tak seimbang, bagian bawah padat tak bergerak, sementara bagian atas begitu lenggang. Beberapa bagian juga tampak terputus, atau tak selesai dibangun. Esa maju sampai dahinya menempel ke jendela. Kesemrawutan yang ia saksikan, anehnya, membangkitkan semangat Esa untuk bertanya. Kenapa ada banyak sekali jalan? Kenapa membangun jalan baru saat ada banyak jalan yang belum selesai? Kenapa mobil-mobil itu tidak lewat jalan kosong di atas saja? Dahi Ibu mengerut, heran menyaksikan Esa yang mendadak banyak bicara. Ibu berusaha untuk menanggapi Esa dengan sabar, namun setiap jawaban yang ia beri hanya menghasilkan lebih banyak pertanyaan.
Hari ini begitu panjang. Didorong rasa lelah, Ibu mengetuk kaca lagi. Danau kembali mengemban tugasnya, menghalangi dunia luar masuk ke dalam.
Esa cemberut. Ia mulai merajuk.
“Sudah, ya. Sudah malam. Waktunya tidur,” ujar Ibu.
Seketika, seperti tersihir, mata Esa terasa berat. Sofa empuk seakan memanggil-manggilnya dan ia tak punya pilihan selain menuruti panggilan itu. Dalam hitungan detik, Esa telah berangkat menuju alam mimpi. Samar-samar, Esa mendengar Ibu menegur, “Jangan tidur di situ, di kamar saja.” Anak itu tak sempat menyahut. Ia tak mampu melawan kantuk.
***
Sebulan lalu, dalam sebuah panggilan video, Ibu meminta seorang anak berumur 6 tahun.
Pada saat itu, sang penjual berdeham, kemudian mengulangi penjelasannya.
“Anda bebas memilih perempuan atau laki-laki. Bayi atau remaja. Tinggi atau pendek. Gempal atau kurus. Anak kecil bersikap dewasa, dewasa bersifat kekanak-kanakan. Anak cerdas sekaligus penurut, anak cekatan yang mudah diatur. Tak ada batasan. Kapan lagi bisa memperoleh anak yang dibentuk dan dipilin sedemikian rupa, khusus untuk Anda seorang?
“Kalau hanya sekadar anak berumur 6 tahun, kenapa tidak mengadopsi dari panti asuhan saja? Anak-anak kami sengaja didesain untuk kebutuhan yang lebih spesifik. Saya rasa Anda menghubungi kami karena sadar Anda membutuhkan seorang anak yang spesial.”
Ibu menunduk, menghindari tatapan pria di layar. Ibu sendiri yang memutuskan untuk menghubungi perusahaan itu. Ia sendiri pula yang membayar segala macam biaya. Meski begitu, kini lidah Ibu kelu.
“Jujur,” ujar sang penjual, memecah hening yang Ibu ciptakan. “Anda adalah salah satu artis favorit saya. Saya sungguh mengagumi karya-karya Anda.”
“Terima kasih,” kata Ibu.
“Setahu saya, Anda punya seorang putra. Kapan terakhir kali Anda bertemu dengannya?”
“Dua … tahun lalu.”
“Wah, sudah lama sekali. Pasti Anda merindukannya.”
Ibu tersenyum kecut.
“Kami bisa membuat anak yang seperti dia, jika itu yang Anda mau.”
“Tidak. Jangan.”
“Kalau begitu, seorang anak yang 180 derajat berbeda darinya?”
“Bukan itu yang aku mau.”
“Atau begini. Kami bisa memilihkan yang sekiranya cocok untuk Anda berdasarkan data yang Anda berikan.”
Tangan Ibu mengusap tengkuk.
“Anda kelihatan ragu,” kata pria itu.
“Mungkin aku butuh waktu lebih untuk memikirkan semua ini.”
“Saya paham. Terkadang, orang tua tidak tahu apa yang mereka mau. Tidak jarang pula, mereka tahu apa yang mereka mau, tetapi malu untuk mengatakannya. Jika kami punya data Anda, kami bisa mendesain anak yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Tenang saja, data sensitif yang Anda berikan tidak akan disalahgunakan. Kami ingin melihat anak-anak dicintai oleh orang tuanya, maka tugas kami adalah membuat anak-anak yang mudah dicintai. Semua ini kami lakukan agar orang tua seperti Anda bisa memperoleh kebahagiaannya. Kami ada di sini untuk Anda.”
Beberapa kali Ibu menyuarakan keresahan-keresahannya. Setiap kalinya, sang penjual berkata kalau ia memahami Ibu. Namun ia tidak akan membiarkan Ibu membatalkan transaksi. Maka pria itu terus berbicara, membuat kepala Ibu tambah pusing. Di rumahnya sendiri, Ibu merasa tersudut. Ibu berakhir memberikan persetujuannya.
Lagipula pria itu benar. Yang Ibu inginkan memang bukan sekadar anak berumur 6 tahun. Yang ia inginkan adalah Adam, namun Adam tidak menginginkan Ibu. Adam ingin tinggal bersama ayahnya, jauh dari ibunya, di benua yang berbeda.
Sempat Ibu memperjuangkan apa yang ia anggap merupakan haknya. Mulanya Ibu yakin kalau mantan suaminya telah memengaruhi anak itu, menjelek-jelekkan Ibu, membesarkan keburukan-keburukannya dan meniadakan usaha-usahanya. Ketika Adam terus-menerus menolak bertemu, rasa yakin itu kian menipis. Kenapa ia bisa yakin kalau Adam diam-diam merindukannya? Bagaimana jika ia memang bukan ibu yang baik? Bagaimana kalau ternyata kekurangannya sungguh menyakiti anak itu dan usahanya tidak pernah cukup?
Dua tahun Ibu tinggal seorang diri. Dua tahun Adam tidak menginjakkan kaki di kamarnya. Sengaja Ibu membiarkan kamar Adam dalam keadaan yang sama—bantal berantakan, buku-buku berserakan, lemari lupa ditutup. Dengan begitu, saat mengintip kamar Adam, dua tahun akan terasa seperti kemarin. Jika perginya baru kemarin, mungkin saja Adam kembali besok.
Sekarang, ada seorang anak, yang bukan Adam, tidur pulas di sofa. Ibu mengambil bantal dan menyelipkannya di bawah kepala Esa. Juga diambilnya selimut dari kamar Adam. Ibu mengusap kepala Esa, menenggelamkan jarinya ke dalam helai-helai rambut ikal yang sedikit lengket karena keringat. Rambut Esa mirip rambut Adam. Rambut itu yang tadi membuat Ibu menghampiri Esa.
Lalu saat melihat wajah Esa, Ibu menelan ludah. Ia kecewa anak itu bukan Adam. Ia juga kecewa umur Esa 8 tahun. Satu-satunya permintaan Ibu tidak didengar. Ibu ingin Adam dua tahun lalu. Ia tidak ingin diingatkan akan Adam yang sekarang.
Apa benar ini yang Ibu mau? Seorang anak seperti Esa?
Ibu menarik napas dalam-dalam. Matanya beralih ke danau di jendela. Kecantikan seperti itu, yang asli, sudah punah. Tidak ada air sejernih itu, langit secerah itu. Meski begitu seringkali Ibu menemukan dirinya berniat membuka jendela, melangkah keluar, merasakan rumput menggelitik telapaknya. Ia membayangkan angin sejuk mengelus kulitnya. Burung-burung bernyanyi di pepohonan, sinar matahari di balik awan. Kalau Ibu menutup mata, semua terasa nyata.
Esa juga nyata. Esa bukan Adam, tapi Esa sabar menunggu berjam-jam di depan toko mainan. Esa tersenyum lebar saat melihat Ibu, meskipun Ibu terlambat datang. Esa bisa merengek, tapi akan langsung tidur saat disuruh. Dan selama Ibu rutin membayar tagihan, Esa tidak akan meninggalkan Ibu.
Mungkin, memang Esa yang Ibu mau.
- Adam dan Esa - 9 October 2026
