Obituarium Nama

Muntok, 1879. Nommer 312. Chinees. Herkomst: Moi-yen. Lengte: 1,61 M. Gewicht: 52 kg. Gebit: goed.[i]

Di pasar Moi-yen, babi tidak pernah ditanya namanya. Ia ditepuk perutnya; lalu dibuka mulutnya untuk dilihat gigi dan lidahnya; serta terakhir ditimbang dan diberi harga untuk seorang pembeli yang kelak menginginkannya. Liu A Sin kecil sering menonton para jagal bekerja. Yang ia ingat bukan darah para hewan yang tampak merah pekat itu, melainkan tenangnya air muka semua orang di sana—seakan-akan tak ada yang sedang terjadi di antara kembik babi dan seburat darah.

Bertahun-tahun kemudian, ia tidak menyangka ketenangan yang mencekam itu kembali ditemukannya lagi di sebuah pelabuhan Swatow yang berwarna tembaga karena remang senja. Seorang kheh-thau, calo perekrut kuli, menggiringnya bersama ratusan pemuda lain ke lambung kapal yang berbau garam dan kotoran babi. Para calo menyebut orang seperti dia, zhuzai, anak babi. Waktu itu ia sama sekali tidak tersinggung. Ia belum tahu bahwa nama adalah barang pertama yang kelak akan hilang di sana. Ia juga belum tahu bahwa di Bangka, tanah yang berwarna seperti luka yang dibiarkan terbuka itu, ia diperiksa persis seperti babi di pasar Moi-yen.

Pada sebuah kantor timah di Muntok, seorang juru tulis muda berambut jerami mencatat para sinkeh, orang-orang baru itu, satu per satu. Pemuda itu tidak menanyakan nama. Ia menimbang A Sin seperti menimbang balok timah; mengukur tingginya dengan tongkat pengukur; membuka mulutnya untuk memeriksa gigi seperti memeriksa babi; lalu menulis sebuah angka. Bukan nama.

“Nommer tiga ratus dua belas,” katanya kepada mandor. “Kasih dia pacul.”

A Sin mengingat wajah orang yang mengukurnya itu: hidung memerah oleh matahari, mata biru pucat yang tak pernah sungguh-sungguh menatap. Selama lima tahun berikutnya, angka itulah yang dipanggil setiap pagi kepadanya. Lama-lama, tanpa disadarinya, ia sendiri sering menyahut lebih cepat pada angka itu daripada pada nama aslinya bila dipanggil.

Lima tahun di parit-parit timah dengan lumpur dan kerikil ternyata sama sekali tidak mengubah nasibnya. Upahnya bahkan sering dipotong untuk persekot yang tak pernah lunas, seperti: beras, tikar, dan candu yang dijual pachter di ujung kongsi. Mula-mula, ia mengisap candu itu untuk menahan demam, tetapi lama-kelamaan candu itu berubah untuk menahan hidup. Setiap akhir bulan, juru tulis membacakan hitungannya: upah enam ringgit, dipotong beras dua, tikar setengah, candu empat. Hasilnya selalu kurang dari nol, dan kekurangan itu dicatat sebagai utang. Ketika kontraknya habis, utangnya lebih panjang daripada umurnya di sana.

Tetapi tanpa ia duga seorang tauke Hokkian melunasi utang itu. A Sin sempat mengira dirinya diselamatkan oleh malaikat dari kayangan. Sialnya, tiga minggu kemudian, A Sin sudah berada di kapal menuju Belawan dengan kontrak baru yang tak bisa ia baca dan cap jempol yang masih basah.

“Tembakau,” kata si tauke sambil menepuk bahunya. “Lebih ringan dari timah. Lu orang beruntung.”

Di Deli, A Sin belajar bahwa sesama Tionghoa pun bisa menjual sesamanya. Ia juga belajar bahwa dunia ini punya tangga yang tak kelihatan. Di anak tangga teratas berdiri tuan-tuan Eropa. Di tengah ada tauke-tauke Cina pemegang pacht candu, judi, dan pasar, yang oleh kompeni digolongkan sebagai Vreemde Oosterlingen, Timur Asing, dan diberi sedikit tempat untuk berdiri. Di bawah mereka ada orang Jawa dan Melayu, para Inlander.

Tetapi ada anak tangga yang lebih rendah lagi, yang tak tercatat dalam undang-undang mana pun: kuli. Di sana tidak ada Cina, tidak ada Jawa. Yang ada hanya badan, dan angka yang dijahitkan pada badan A Sin.

***

Deli, 1884. Koelie No. 1047. Chinees. Contract: 3 jaar. Voorschot: $30,[ii]

Ia menemukan dirinya kembali menjadi sebuah angka pada kemarau 1884. Ketika itu A Sin sudah menjadi laukeh, kuli lama yang tahu di mana air minum paling bersih dan tandil mana yang paling ringan tangan. Pagi itu seorang tuan asisten baru tiba di onderneming. A Sin mengenalinya pada apel pertama, ketika para kuli ditimbang satu per satu di timbangan daun: hidung merah, mata biru pucat, rambut jerami yang kini menipis. Juru tulis dari Muntok itu sekarang bernama Tuan Brouwer, dan pena di tangannya sudah berganti ekor pari.

Tuan Brouwer tidak mengenalinya.

“Kau orang Cina semua punya muka sama,” katanya sambil tertawa, setelah salah memanggil dua kuli. “Tandil, tulis nomor di baju mereka. Besar-besar.”

Sore itu, dengan kapur, tandil menulis seribu empat puluh tujuh di punggung baju A Sin. Itu angka keduanya. Namanya tetap satu, dan tak seorang pun di kebun ini memakainya.

Pada malam hari, dari jendela rumah panggung Brouwer, kuli yang lewat bisa melihatnya membungkuk di bawah lampu minyak, menarik garis dengan pena: batas ladang, sungai, bangsal kuli, rumah pengeringan. Ia pernah berkata kepada Toean Besar, sang administrateur, bahwa peta adalah bukti peradaban.

“Apa yang bisa digambar, bisa diatur,” jelas Brouwer. “Apa yang bisa diatur, bisa dipunyai.”

Bangsal A Sin sendiri adalah gubuk reot berdinding papan yang mirip kandang babi, berbau kotoran dan demam. Tetapi di peta Brouwer, bangsal itu hanyalah kotak kecil yang rapi dengan sebuah angka di tengahnya. Di dalam kotak itu tidak ada demam yang merenggut teman-teman A Sin. Tidak ada mimpi tentang sawah bertingkat di Moi-yen yang sangat ingin ia urus. Kontrak A Sin tiga tahun dengan tuannya yang baru. A Sin menghitungnya dengan menggores tiang bangsal, satu garis setiap purnama. Ketika garis ke-36 selesai, ia menghadap ke kantor kebun.

“Tuan, kontrak saya sudah habis. Saya mau pulang ke Tong-san.”

Brouwer membuka buku besar. Jarinya menyusuri kolom-kolom yang rapi.

“Habis? Lu masih utang empat puluh dua ringgit. Persekot. Candu. Judi waktu Cap Go Meh. Obat dokter kebun,” Brouwer menutup buku itu dengan lembut, seperti menutup Alkitab. “Lu teken lagi satu tahun. Itu namanya adil.”

“Saya tidak pernah main judi, Tuan.”

“Catatan ini tidak pernah bohong,” Brouwer tersenyum, nyaris ramah, lalu menuang jenever ke gelas kecil. “Lu tahu kenapa gua suka orang Cina? Orang Jawa kalau lari, dia pulang ke kampungnya, ke rajanya. Ada yang cari. Lu orang Cina kalau mati di sini, siapa yang cari? Kaisar lu? Tauke yang jual lu?”

Ia meneguk jenevernya.

“Lu bukan Inlander, bukan juga orang Blanda. Lu di tengah. Dan yang di tengah, A Sin… eh, nomor berapa lu? Yang di tengah itu paling enak dijepit dari dua sisi.”

Untuk pertama kalinya A Sin mendengar tuan itu menyebut namanya, lalu menariknya kembali. Demikianlah malam itu ia menyalakan sebatang hio di depan toapekong kecil di sudut bangsal. Setelah bertahun-tahun, ia berbisik memanggil a-me, ibunya, yang jauh di Tong-san. Lalu ia lari, tanpa bulan, menyusuri parit irigasi ke arah sungai. Ia tidak tahu sungai itu bermuara ke mana. Ia hanya berharap masih ada sesuatu yang belum dimiliki siapa pun. Ia tidak tahu bahwa di meja Brouwer, sungai itu pun sudah diberi garis dan nama Belanda.

***

Deli, 1887. Koelie No. 1047. Gedrost.[iii]

Seribu empat puluh tujuh lebih dulu dikirim ke kantor controleur di Medan sebagai kuli lari. Pada hari ketiga ia tertangkap oleh dua orang kampung yang dibayar sepuluh ringgit untuk setiap kepala kuli lari. Begitulah hukum kebun: koeli-ordonnantie, poenale sanctie. Lari dari kontrak adalah kejahatan. Mencambuk orang yang lari adalah ketertiban.

Siang itu, di bawah matahari yang terik, dan tanah merekah seperti ingin mengisapnya hidup-hidup, ia diikat pada sebuah tiang depan rumah pengeringan, disaksikan seluruh kuli. Cina dan Jawa berdiri dalam satu barisan, kali ini tanpa sekat bangsal. Brouwer sendiri yang memegang ekor pari. Ia menghitung pukulan dalam bahasa Belanda, pelan dan berirama—seperti guru yang mengajarkan mengeja angka kepada muridnya.

Een. Twee. Drie…

Pada hitungan kelima, A Sin mendapati bibirnya sendiri ikut bergerak. Vijf. Zes. Zeven. Ia menghitung pukulan di punggungnya dalam bahasa tuannya, seperti dulu ia menyahut angka lebih cepat daripada namanya.

Pada pukulan kesembilan, A Sin mengangkat kepala. Wajahnya tampak menengadah menatap wajah-wajah di barisan depan. Wajah yang ia temui itu pun tampak tenang. Begitu tenangnya hingga A Sin teringat orang-orang di pasar Moi-yen dulu. Dan di antara rasa pedih yang dirasakannya, A Sin melihat seorang perempuan Jawa berdiri menatapnya. Ia barangkali kuli kontrak juga, yang pernah mencurikan sepotong ubi untuknya ketika demam dahulu.

Apakah kau menangis untukku di sana? bisik A Sin di dalam hatinya.

Demikianlah, di antara puluhan wajah itu, hanya perempuan itu yang menangis untuknya, meskipun tanpa suara. A Sin bisa membaca angka di bajunya: dua ratus empat puluh. Ia tidak tahu namanya. Di tengah perih, ia sadar bahwa selama ini dirinya tidak pernah bertanya. Di kebun ini, angka tidak pernah saling memanggil.

Vijftien.

“Tuan,” suara A Sin pecah. “Muntok. Tahun tujuh puluh sembilan. Tuan yang tulis nomor saya. Tiga ratus dua belas.”

Ekor pari itu berhenti. Untuk pertama kalinya, Brouwer benar-benar menatap. Ada yang bergerak di mata pucatnya. Bukan iba, melainkan keheranan seorang juru tulis yang menemukan angka lama di buku yang sudah lama ia buang. Yang dikenali Brouwer bukan wajah itu, melainkan angkanya.

“Tiga ratus dua belas,” ulangnya. Lalu ia tertawa kecil. “Lihat! Sistem bekerja. Dari Bangka sampai Deli, lu tetap di tempat lu.”

Zestien.

Brouwer kemudian menambah dua tahun pada kontraknya: ongkos penangkapan, ongkos cambuk, ongkos hari-hari yang tak dikerjakan. Buku tidak bohong. Begitu punggungnya bisa ditegakkan, A Sin ditugaskan memetik di petak terjauh. Daun Deli adalah daun terbaik di dunia, kata tandil. Di Amsterdam orang membungkus cerutu dengannya, dan tuan-tuan Eropa membayar mahal untuk daun yang tipis dan rata seperti kulit.

Siang itu, ketika tandil tertidur di bawah pohon, A Sin mencabut sebatang duri dari pagar. Di sehelai daun yang paling lebar, ia menulis dengan aksara yang diajarkan ayahnya, goresan demi goresan, pelan-pelan, seperti orang menggali parit di Bangka. Pada aksara terakhir tangannya sempat berhenti; sudah lama sekali ia tidak menuliskannya. Lalu ia menyelesaikannya:

Liu A Sin.

Bukan tiga ratus dua belas. Bukan seribu empat puluh tujuh.

Ia memasukkan daun itu ke keranjang bersama daun-daun lain. Daun itu akan dikeringkan di rumah tempat ia dicambuk, difermentasi, ditimbang, dicatat dalam buku Brouwer, lalu dikapalkan dari Belawan dan dilelang di Amsterdam. Seseorang di sana akan menggulungnya. Seorang tuan, barangkali di ruang tamu yang hangat dengan peta Hindia Belanda tergantung di dinding, akan menyalakannya selepas makan malam.

Namanya akan terbakar di bibir tuan itu menjadi asap, lalu menjadi abu yang dijentikkan ke asbak perak kusam. Tuan itu tak akan pernah tahu bahwa ia baru saja membakar sebuah nama. A Sin tahu itu. Ia tetap menuliskannya.

Deli, 1889. Koelie No. 1047 (ex-Muntok 312). Chinees. Overleden. Restschuld: $ 47,[iv] (*)


[i] Terjemahan: “Muntok, 1879. Nomor 312. Cina. Asal: Moi-yen. Tinggi: 1,61 meter. Berat: 52 kilogram. Gigi: baik.” Entri register di awal tiap bagian cerpen ini dibuat menyerupai catatan administrasi kuli pada masa kolonial, yang mendata ciri fisik pekerja seperti mendata barang dagangan. Muntok adalah kota pelabuhan dan pusat administrasi tambang timah di Bangka.

[ii] Terjemahan: “Deli, 1884. Kuli No. 1047. Cina. Kontrak: 3 tahun. Uang muka: 30 dolar.” Voorschot adalah uang muka yang di perkebunan disebut persekot; utang inilah yang mengikat kuli pada kontraknya. Tanda $ merujuk pada dolar perak (dolar Meksiko atau dolar Selat), yang di Deli disebut ringgit.

[iii] Terjemahan: “Deli, 1887. Kuli No. 1047. Melarikan diri.” Gedrost berasal dari kata kerja Belanda drossen, yang berarti kabur dari dinas atau kontrak. Di bawah koeli-ordonnantie dan poenale sanctie, kuli yang kabur dapat diburu, ditangkap, dan dihukum.

[iv] Terjemahan: “Deli, 1889. Kuli No. 1047 (sebelumnya Muntok, No. 312). Cina. Meninggal. Sisa utang: 47 dolar.” Ex berarti “sebelumnya”. Restschuld adalah sisa utang yang belum terbayar; dalam buku besar perkebunan, utang itu tetap tercatat meskipun orangnya telah tiada.

Risda Nur Widia
Latest posts by Risda Nur Widia (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!