
Gugatan di Atas Kain Songket
seharian
jemariku keluar masuk lubang jarum
benang emas
menangkap cahaya sore
di pangkuanku
satu motif selesai
disusul motif berikutnya
burung
daun
pucuak rabuang
semuanya tumbuh
dengan sabar
di atas kain
orang-orang datang
memuji tangan perempuan
yang mampu membuat keindahan
tak ada yang bertanya
ke mana tangan itu
ingin pergi setelahnya
jariku tertusuk
setitik darah
jatuh di antara benang merah
aku membiarkannya
barangkali kain ini perlu tahu
bahwa tidak semua yang indah
lahir tanpa luka
malam turun
bunyi kayu tenun
berhenti di ruang belakang
untuk pertama kalinya
aku membiarkan benang
terlepas dari jemariku
sehelai demi sehelai
di luar
angin menggerakkan jemuran
dan kain songket itu
tetap berkilau
meski tak lagi
menutupi apa pun
Pisau dan Tingkuluak
di atas kasur
kelambu merah menggantung rendah
kau meletakkan tingkuluak tanduak
di samping sebilah belati
katamu,
menjadi perempuan Minang
adalah belajar memikul sesuatu
tanpa suara
aku memandang kain itu
lipat demi lipatnya
menyerupai aturan
yang diwariskan lebih lama
daripada namaku sendiri
kau ingin aku tersenyum
di hadapan para datuk
seolah wajah perempuan
adalah bagian dari upacara
diam-diam
aku mengasah keberanian
pada mata pisau
yang tak pernah dipakai memasak
jika suatu malam
seluruh rumah tertidur
aku ingin membuka simpul tingkuluak itu
dan membiarkan rambutku
mengenal angin
lebih dulu
daripada adat
Gadis yang Menolak Dipinang
ruang tengah
dipenuhi bau teh pekat
dan asap kayu manis
orang-orang duduk melingkar
membicarakan masa depanku
seperti membagi sawah
yang belum ditanami
namaku disebut
bersama jumlah emas
dan panjang silsilah
aku duduk
di dekat jendela
hujan memukul halaman
lebih jujur
daripada percakapan di dalam rumah
katanya
lelaki itu baik
punya tanah
punya pekerjaan
punya keluarga yang dihormati
tak seorang pun bertanya
apakah aku pernah
membayangkan hidup
dengan wajah yang lain
aku berdiri
gelang perak bergemerincing
di pergelangan tangan
tak ada pidato
hanya pintu yang kubuka
dan udara Bukittinggi
masuk bersama gerimis
di belakangku
percakapan masih berlangsung
seolah perempuan
bisa tetap dipinang
meski telah meninggalkan ruangan
Catatan di Lembah Anai
di Lembah Anai
air jatuh tanpa pernah meminta
batu-batu menyebut namanya
aku berdiri di tepi jalan
membiarkan kabut naik
dari sela pohon dan tebing
di sini
perempuan diajari menjadi indah
seperti lembah selepas hujan
tetapi harus kuat
seperti batu
yang bertahun-tahun menerima
hantaman
aku menyimpan beberapa pertanyaan
di balik buku yang kubawa dari rumah
mengapa suara perempuan
selalu terdengar seperti ancaman
ketika ia tidak memilih diam
mengapa penolakan
harus dibaca sebagai durhaka
jauh di bawah sana
air Batang Anai menggulung daun
membawanya entah ke mana
barangkali begitulah pikiran
ia tidak selalu tahu
ke mana harus pergi
tetapi sekali mengalir
sulit membuatnya kembali
menjadi genangan
aku menulis namaku
di halaman terakhir buku
lalu menutupnya
sementara air
terus mengikis batu
pelan-pelan
- Puisi Rika Prima Nanda - 13 October 2026
- Puisi Rika Prima Nanda - 29 July 2025
- Puisi Rika Prima Nanda - 11 February 2025
