Diorama Dinding Toilet

            Sebelum biji panas melesat menuju batok kepalanya, dalam keadaan mata tertutup, tangan terikat ke belakang, dan badan berdiri tegap, ia masih sempat mengingat-ingat kapan terakhir kali mengeluarkan kotoran sambil mengejan. Dengan spidol yang ia bawa saat bertugas mencatat jumlah barang dalam toko, ia rangkai kata-kata di dalam sebuah ruangan sempit, apak, dan pesing. Aroma kotoran kemudian menguar, serupa kubis busuk, menyebar ke segala arah, memenuhi tiga ruangan yang berderet saat ia masih menyedot rokok.

            Ia benar-benar ingat ratapan dan keluhan hati orang-orang yang tertuang ke dalam tulisan di dinding yang sedikit berlumut hitam dan berlendir di bagian bawahnya. Di belakang punggung tempat ia nyaman berjongkok, terpampang retakan tembok selayaknya akar yang menjalar dari pojok ke samping atas. Di sebelah kanannya beragam coretan deretan huruf saling tumpang tindih, tertimpa cat ulang, serupa seni abstrak, mirip suara rakyat yang dibungkam dan hanya bisa bersanding dengan aroma pesing.

            Aku ingin nikah dengan Raline Shah. Tolol Lo! Anjing! Ngimpi! Nyeruput kopi enak nih. Tariiiiiik Mang! Kelon yukkkk! Babi! Ngaca Lo! Naikkan gaji! HIDUP PRESIDEN!

            Sebelum suara ledakan melesat, dan peluru itu entah hinggap di pelipisnya, di matanya, di ubun-ubunnya, atau di lehernya, huruf dan tulisan yang berpelukan tak beraturan di toilet itu terus mengingatkannya pada teman-teman seperjuangan. Din yang selalu mesum dan sering menggunjing perempuan yang lewat tengah malam di depan toko bosnya, dan mengatakan jika tentu saja perempuan itu lonte. Katanya, sudah kelihatan dari bedak dan rok yang dipakai. Din sering bergumam sendiri saat tidur, “Ah Sari, lonteku ….”

Kala itu, sambil jongkok di toilet, ia pikir, itu bukan salah perempuannya. Memang otak Din yang kotor dan busuk seperti kakus.

            Sambil mengisap rokok dalam-dalam, ingat Bari yang selalu mengaji di mes sebelah ruangan toko. Namun, entah mengapa sejak kejadian belasan tahun lalu itu, baginya Tuhan hanya serupa bayang-bayang senja yang mudah hilang ditelan pekat malam. Ia masih percaya. Sekadar percaya. Terkadang lupa dan abai dengan segala yang seharusnya ia lakukan sebagai kewajiban antara manusia dan pemilik semesta.

Ia juga ingat tiga teman lain yang hobinya berbeda-beda. Toro yang ngorok paling kencang, Wari yang hobi nonton bokep dan sering mengumpat kata-kata kotor dan membuat teman-temannya tidur menjauh di pojok karena ia sering tak pakai celana saat tidur, hanya terbungkus sarung, dan mungkin sambil merancap, dan Parno gembul, yang kerjanya agak lamban. Suara kentutnya menggelegar jika ia kekenyangan dan bisa membuat tembok mes bergetar hebat.

Di antara lima temannya, justru Parno yang misterius. Ia pendiam. Kata dan ucapannya tidak semesum namanya. Yang ia tahu, bosnya menemukan Parno sejak dari bayi yang dibuang di tong sampah. Istri bos lalu membawanya, menyewa babysitter, merawatnya dari kecil hingga ia sebesar anak gajah. Ia sebenarnya senior di antara lima orang lainnya yang ditemukan dalam berbagai macam keadaan. Lalu bos yang baik hati itu merawatnya, memberinya makan, mengajaknya kerja keras di toko bangunan dua lantai di tengah ibu kota.

            “Kau bener tak punya ayah ibu? Dari perawakan dan warna kulit, naluriku mengatakan kamu orang punya.”

            Sebenarnya, jika itu bukan pertanyaan dari Par yang senior di tempat kerjanya, ia tak pernah mau menceritakan kejadian belasan tahun lalu saat ia terpaksa minggat dari rumah. Pergi jauh dari kawasan pondok yang di dalamnya kemuliaan dan kehormatan menyelimuti diri dan keluarganya. Saat itu, ada hal yang benar-benar membuat hatinya murka, dan sebagai anak lelaki tunggal, pergi sejauh-jauhnya adalah pilihan yang dirasa tepat ketika itu. Menyusur jalan, menginap dari masjid ke masjid. Mengemis, mengamen, hingga ia ditemukan pemilik toko bangunan yang ia tinggali sekarang.

            “Aku pernah dengar kau mengimami Bari di musala sebelah. Dari nada itu, aku tahu mana yang paham dan tidak tentang tajwid dan makhraj. Mana yang bisa menyenandungkan bayyati atau hijaz. Kau orang pondok, bukan? Saat anak-anak, aku dulu pernah mondok sama Bari. Karena nakal, aku dikeluarkan. Sering menukar sendal, sering menggoda santriwati di asrama sebelah, dan terakhir aku ketahuan mencuri saat aku kehabisan uang. Mungkin kau lihat aku pendiam. Terlihat tenang memang kamuflase yang menarik untuk menyembunyikan masa laluku. Aku dibuang keluargaku. Lahir tanpa tahu di mana bapak dan ibuku. Melihat wajahmu seperti mengingatkan wajah seseorang, mirip kiai panutanku. Wajahnya sering kupajang di kamar asramaku. Jangan-jangan kau anak kiai, ya?”

            Bagaimana mungkin Par yang biasanya pendiam, menghakiminya seperti itu. Dan itu mengingatkannya pada kejadian belasan tahun lalu. Pada kediaman keluarga lamanya yang kata orang-orang, di sanalah malaikat-malaikat selalu turun memberkahi setiap orang di dalamnya.

            Keberkahan? Untuk keluarganya yang hancur? Apa malaikat sebercanda itu? Parno sungguh tak akan pernah tahu rasa sakit di dadanya yang tak bisa hilang bahkan mungkin sampai ia dimasukkan ke lubang pembaringan dalam tanah. Sungguh tak akan hilang. Bagaimana mungkin, ia melihat orang yang diagungkan santrinya, orang yang dianggap suci oleh banyak orang, orang yang seharusnya memberi contoh kebenaran, bermain api asmara dengan santriwatinya sendiri? Ia kira perempuan sialan itu menolak dengan halus atau mengatakan hal lain yang membuat bapaknya menjauh. Tidak! Ia menerima sebagai yang kedua. Berdalih bahwa hal itu diperbolehkan selama istri pertama merestui hubungan mereka.

            “Apakah Umi mengira ini adalah anjuran agama atau kebijaksanaan? Karena Ratri orang tak punya, anak yatim, dan Abi melakukan ini semua untuk itu? Munafik! Abi melakukan ini karena nafsu. Ratri serupa mangga ranum kuning kemerahan yang siap dipetik dan dinikmati. Aku lelaki, aku tahu apa yang dirasakan Abi. Hanya aku masih bisa menjaga diri.”

            “Sudah kukatakan jika aku hanya bisa memberinya anak kamu saja. Barangkali Abi ingin anak perempuan. Aku merelakannya.”

            “Aku tidak!”

            “Kau ingin pergi saat tahu tubuh Umi selemah ini, Nak? Setiap dua minggu Umi cuci darah hanya untuk menyambung umur yang Umi pun tak tahu, kapan ini akan selesai. Yang harus kau tahu, jika memang dari kemarin kau ingin pergi dan selepas itu Umi menemui kematian, percayalah, itu bukan akhir. Justrus awal dari segalanya dimulai setelah kematian. Perjalanan panjang, pertanyaan, dan pertanggungjawaban.”

            Ia masih ingat kapan terakhir kali memeluk ibunya untuk pergi. Entah ke mana ia tak tahu. Ia tak ingin pamit dengan Abi. Ia sudah cukup dewasa dan hanya butuh doa yang diberikan Umi untuknya.

            “Ini ada untukmu, sedikit bekal. Semoga cukup hingga kau dapat pekerjaan. Jika kangen, pulanglah. Pintu pondok ini selalu terbuka untukmu. Umi tak bisa memaksamu untuk satu atap dalam keaadan hatimu tak rela menerima takdir. Membayangkan ada perempuan lain dalam satu rumah. Memiliki dua ibu. Kau sudah cukup dewasa. Hanya doa yang bisa ibu senandungkan untukmu.”

            “Kuharap Umi tidak menyamakanku dengan Kan’an, anak nabi Nuh yang ingkar itu.”

            “Tidak, Nak. Hidup selalu diselimuti pilihan. Setiap pilihan mengandung risiko. Dan ini pilihanmu. Anak preman boleh bercita-cita jadi kiai. Anak kiai boleh bercita-cita jadi dokter, seniman, tentara, atau guru. Tak harus jadi kiai. Dunia mulai berubah. Jika Umi nanti mati, Umi ingin kau pulang. Entah di mana pun kau berada, pulanglah. Umi yakin nalurimu tajam. Satu yang harus selalu kau ingat, jangan lupa salat.”

            Itu adalah saat terahir ia bisa memeluk ibunya saat wajahnya pun mulai terlihat hitam mengisut dan terlihat tua sebelum waktunya. Mana ada seekor ulat mau memakan daun-daun yang keriput, layu, dan kering? Tentu saja ia lebih senang memakan daun muda yang segar dan ranum. Lalu Abi sering bilang saat di mimbar, apa yang dipilihnya adalah jalan rasul. Sebagai anak, ia muak mendengarnya. Yang ia tahu, rasul sering menikahi janda-janda tua korban perang. Bukan hobi menikahi janda muda atau perawan yang masih ranum.

            Setelah kepergiannya itu, nomor ponsel ia buang. Ia menghilangkan jejak terhadap Abi dan Uminya. Mencari kehidupan di belantara ibu kota yang keras. Lalu ia ditemukan seseorang. Sebaik itukah pemilik tempat ini sehingga selalu memungut anak jalanan dan merawatnya hingga besar? Termasuk lima temannya yang lain yang selalu bercanda dalam tawa dan duka. Bersama-sama hobi mencoret tembok toilet. Biarpun toiletnya sudah dicat berkali-kali, tetapi huruf yang tertinggal masih membekas samar dan masih bisa mereka baca dan sebagai candaan.

            Dan hari ini, kematian telah tepat di depannya. Menunggu detik yang terus bergelantungan menghitung waktu maju. Entah itu satu butir, tiga butir, tujuh butir, entah berapa butir yang akan dilesatkan menuju kepala. Di depannya, mungkin telah berderet empat atau lima atau sepuluh orang berseragam yang siap menembakkan peluru-peluru itu.

Tiba-tiba, ia mengangkat tangan, meminta sesuatu. “Boleh penutup mata ini dibuka saja?”

            “Anda yakin?”

            “Yakin sekali. Aku mohon. Aku ingin melihat dosaku di ujung pistol itu.”

            Sepuluh langkah darinya, ia melihat empat orang berjajar untuk mengakhiri segalanya. Semuanya mengenakan penutup kepala. Hanya dua bola mata mereka yang terlihat.

            Tangannya masih terikat saat empat ujung pistol mengarah kepadanya. Yang terbayang selanjutnya hanyalah tentang 960 kg sabu yang ia selundupkan. Tentang wajah Umi yang wajahnya terus mengisut dan hitam. Tentang wajah Abi yang mesum dan membuatnya mual. Tentang lima teman lain yang senasib dan selalu berbagi makanan di atas tikar. Tentang coretan terakhir di dinding toilet sebelum ia berdiri di sini.

            “Umi, maafkan anakmu.”

            DOR! DOR! DOR!

Apakah kematian selalu jadi akhir? Bukan. Justru segalanya sedang dimulai.

Dody Widianto
Latest posts by Dody Widianto (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!