
Sup itu keasinan, dan yang salah bawang.
Aku menuang isi mangkuk ke wastafel dan memperhatikan kuah kuning itu mencari lubang. Di kursi plastik depan warung, Pak Darto sudah menghabiskan dua gelas es teh. Tukang ojek itu mengeluh keasinan setiap pagi dan selalu kembali keesokan paginya, seperti orang yang menagih utang kepada dirinya sendiri. Warung sup ini milik kakakku. Sejak enam bulan lalu, warung ini menjadi milikku, dan sejak itu aku lebih cocok disebut penjual es teh yang memakai sup sebagai umpan.
Kakak pergi pada hari Selasa tanpa penjelasan yang cukup. Sebelum pergi, ia berbicara kepada stoples garam, kebiasaan orang yang lama hidup bersama panci. Aku sedang sarapan dan tidak menoleh. Yang tertinggal di warung: kunci, tiga panci penyok, jam dinding yang kelebihan lima menit, dan buku resep bersampul minyak. Setiap baris buku itu berakhir dengan kata yang sama. Bawang putih secukupnya. Merica secukupnya. Air secukupnya. Garam secukupnya. Aku pernah menghitung: empat puluh satu kata “secukupnya”, nol takaran.
Dulu aku bekerja di kantor pajak. Pekerjaanku menghitung berapa yang kurang dan berapa yang lebih dari orang lain. Sekarang aku memegang buku yang menolak angka, ditulis oleh seseorang yang percaya pada pembacanya. Aku tidak pantas menerima kepercayaan sebanyak itu.
Lampu neon warung berdengung pada satu nada yang tidak pernah sumbang. Malam harinya, setelah lima mangkuk masuk wastafel, aku mematikannya, dan dalam sunyi yang menyusul, kudengar seseorang batuk di dalam stoples garam.
Stoples itu sebesar labu kecil, bertutup seng bundar. Tulisan GARAM di kacanya mengelupas sampai tinggal GAR. Kubuka tutupnya. Di atas gundukan putih berdiri makhluk setinggi jempol, berjas kulit bawang, dan bertopi tutup botol. Ia menatapku seperti pegawai kelurahan menatap orang yang datang lima menit sebelum loket tutup.
“Halit,” katanya. “Pejabat Takaran Tingkat Stoples, Wilayah Dapur Ini. Anda boleh memanggil saya Tuan.”
Kututup stoples. Kubuka lagi. Ia masih di sana dan bertambah jengkel.
“Setiap stoples garam punya satu pejabat,” katanya dengan gusar. “Tugas kami satu: memutuskan kapan secukupnya itu cukup. Tangan manusia berhenti menabur karena kami memberi aba-aba. Selama ini tidak seorang pun mengucapkan terima kasih.”
“Terima kasih,” kataku.
“Terlambat. Saya sedang mogok kerja. Sup Anda keasinan karena saya mogok, dan Anda yang menanggung akibatnya.”
“Aku menabur satu sendok setiap kali, sesuai resep.”
“Resepnya bilang secukupnya.”
“Satu sendok itu secukupnya.”
Pak Halit memandangi sendokku, lalu dinding stoples, lalu langit-langit, seperti pegawai yang menimbang apakah kebenaran termasuk dalam wewenangnya. Ia memutuskan “tidak”. Dari saku jasnya ia mengeluarkan gulungan sebesar kuku dan menyerahkannya kepadaku.
Surat keberatan. Ia menulisnya di kulit bawang dengan tinta kecap. Pasal satu menyatakan bahwa sendok takar, yang ditemukan entah oleh siapa, telah merampas jabatannya. Pasal dua menuntut tunjangan sebutir nasi setiap hari Jumat. Pasal tiga sampai tujuh mengeluhkan mutu bawang.
Kami mengadakan rapat tiga pihak pada Rabu pagi: aku, Pak Halit, dan stoples. Stoples abstain. Pak Halit mewakilinya dan menyampaikan bahwa stoples menolak berkomentar sampai tunjangan cair. Notulen rapat, yang ia tulis di kulit bawang kedua, mencatat bahwa aku hadir dengan raut kurang meyakinkan. Umurku tiga puluh dua dan aku kalah berdebat dari makhluk sebesar korek api. Aku menyetujui sebutir nasi. Pada Jumat pertama ia menerimanya dalam upacara singkat, memakannya selama empat jam, dan menyimpan separuh untuk jaga-jaga.
Untuk membuktikan diri bahwa aku telah paham apa itu “secukupnya”, aku membeli satu set sendok takar dan sebuah timbangan digital. Pak Halit menyaksikan pembukaan kemasan sendok itu seperti orang menyaksikan pemakaman. Timbangan menunjukkan 0,0 gram setiap kali aku menakar sesendok garam. Aku mengganti baterai. Aku mengganti timbangan. Aku memutuskan bahwa dunia sedang kekurangan timbangan yang bagus. Pak Halit tidak berkata apa-apa, dan diamnya itu untuk pertama kali membuatku curiga.
Setiap pukul empat pagi aku mengiris bawang, dan Pak Halit duduk di tepi talenan untuk menilai.
“Anda mengiris seperti orang yang membalas dendam,” katanya.
Aku menyeka mata dengan lengan baju. “Bawang.”
“Saya belum bertanya.”
“Bawang membuat mata siapa saja begini.”
“Bawang ini murahan. Mutunya di bawah standar. Tapi bawang belum pernah membuat orang berhenti di tengah irisan dan menatap dinding selama sebelas menit.”
Aku mengiris lebih cepat. Pekan lalu aku meminta tukang sayur memilihkan bawang yang paling tidak membuat orang menangis. Ia menimbang tanganku sebentar, lalu bilang bawang seperti itu namanya kentang.
Pak Halit menjauhi keran seperti orang menjauhi mantan. Ia melarangku mencuci stoples, mengepel dekat rak, dan menyebut kata hujan dalam jarak dua meter darinya. Soal larangan terakhir aku tidak bertanya, karena tiap pukul sebelas malam hujan memang turun di lemari piring. Hujan itu mulai pada Rabu pertama sesudah Kakak pergi. Titik-titik air itu turun tipis di rak kedua, di antara piring kaleng dan cangkir yang tidak pernah kupakai. Anehnya, pagi hari semua piring kering. Pak Halit dan aku sepakat tidak membicarakannya, seperti dua orang sekamar yang tahu yang satunya mendengkur.
Bu Nining, penjual gorengan sebelah, mencicipi kuahku pada bulan ketiga dan berkata, “Dulu gurih. Sekarang kayak masakan orang yang kebelet kawin.” Ia membayar juga. Semua orang membayar juga. Pak Darto menambah es teh.
Pak Halit tahu hal-hal yang belum pernah kuceritakan kepada siapa pun. Kakak mencicipi dengan kelingking kiri. Kakak bersenandung tiga nada waktu mengaduk, dan nada ketiganya sumbang. Kakak berdiri sepuluh menit di depan kompor sebelum warung buka, tanpa memasak apa pun. Waktu kecil aku terbangun oleh senandung itu dan tahu semuanya berjalan baik. “Saya ditugaskan di dapur ini sebelum Anda bisa berjalan,” kata Pak Halit ketika kutanya dari mana ia tahu. Ia tidak menambahkan apa-apa, dan jas kulit bawangnya hari itu lebih kusut dari biasanya.
Pada bulan keenam, hari Kamis, kaldu ayam menggelegak kecil di panci sejak sore. Jam dinding menunjuk sebelas lewat lima, artinya sebelas. Hujan mulai turun di lemari. Pak Halit duduk di gagang sendok sayur dan tidak mengomentari kaldu, bawang, atau aku.
“Saya berbohong,” katanya. “Soal mogok.”
Aku mengecilkan api.
“Sendok takar tidak pernah merampas apa-apa dari saya. Saya berhenti bekerja pada hari Selasa itu. Kakak Anda berdiri di depan stoples dan bertanya, ‘Sudah cukup?’ Itu pertanyaan yang saya jawab seumur jabatan. Sup sudah cukup. Garam sudah cukup. Untuk pertama kalinya saya tidak tahu apa yang ia tanyakan. Saya menjawab ‘cukup’, karena hanya itu jawaban yang saya punya.”
Hujan di lemari merintik lagi. Aku memandangi pintu warung. Selasa itu aku sedang mengunyah roti, dan aku mengira pertanyaan itu untukku.
“Aku juga tidak menoleh,” kataku.
“Saya tahu. Saya melihatnya dari stoples.” Ia mengusap topi tutup botolnya. “Marah itu enak. Marah itu kering. Elf garam yang basah larut, jadi saya marah-marah untuk kita berdua.”
“Untuk kita berdua.”
“Ketuk stoples itu.”
Kuketuk. Bunyinya seperti mengetuk pintu rumah yang ditinggal penghuninya. Kumasukkan sendok. Ujungnya menggores permukaan dan kembali kosong.
“Garam telah membatu sejak bulan pertama,” kata Pak Halit. “Setiap pagi Anda menabur sendok kosong, tiga putaran pergelangan, gerakan Kakak Anda. Saya menonton dan tidak sanggup bilang apa-apa.”
“Kalau begitu garamnya dari mana?”
Ia tidak menjawab. Ia menunjuk wajahku dengan seluruh lengannya.
“Aku tidak menangis.”
“Saya tahu. Anda mengiris bawang. Bawang itu murahan, tapi ia menyediakan alasan yang bagus.”
Aku ingin membantah dan tidak menemukan kalimat. Yang kutemukan air. Air itu jatuh ke panci kaldu dari mata yang sudah lama begitu tanpa izinku, dan permukaan kuah menerimanya tanpa komentar. Pak Halit di gagang sendok mulai melumer, seperti gula batu yang meleleh dalam teh. Jas kulit bawangnya terlepas, mengambang sebentar, lalu tenggelam.
“Bawang Anda jelek.” Sayup, aku mendengar ia berkata, dan suaranya sudah separuh kuah.
“Sudah cukup?” tanyaku.
“Tanya lidah Anda. Saya sudah selesai menjawab.”
Aku mengambil sendok. Kucicipi dengan kelingking kiri. Kuahnya pas. Aku tidak punya kata yang lain untuk itu, dan Kakak juga tidak pernah punya.
Hujan di lemari berhenti. Aku tidak mencari tahu mengapa.
Paginya gundukan di stoples runtuh menjadi butir-butir. Kuambil sesendok, dan sendokku terasa berat untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Jam dinding masih kelebihan lima menit. Aku membiarkannya, setidaknya sampai Kakak kembali. Kalau ia mau kembali.
Pak Darto duduk di kursi plastik dan menghabiskan mangkuknya tanpa memesan es teh. Penjualan es teh anjlok tujuh puluh persen. Aku tidak keberatan.
“Hari ini pas,” kata Pak Darto.
Aku mengiris bawang untuk mangkuk berikutnya. Mataku basah, dan kubiarkan. Sebelum menaburkan apa pun, kucicipi kuahnya dengan kelingking kiri.
Sup itu pas, dan yang salah bawang.
- Secukupnya - 2 October 2026
- Massa Jenis Kesedihan - 27 February 2026
