Suluk Bunga Tebu
kalaulah patah
si tangkai glagah,
sujudnya telah menyatu
di kedalaman rindu.
/1./
angin mei mendesir pelan,
mengusir penghujan
jauh ke pangkal waktu.
tetapi, inilah kuncup embun
yang berhasil kujaring
dengan surai bungaku.
biarkan ia menjagamu
dari segala dahaga tanah
saat kemarau.
/2./
ada suara dari tepian,
saat telinga kau rapatkan.
ada yang gemetar,
seperti lenguh angin
melintasi ladang-ladang.
dan seseorang telah tinggal,
lama, hingga ruhnya bertaut
pada rukuk si daun tebu.
serbuk bunga
masih tabah menanti angin
di antara musim panen
dan musim kawin.
/3./
engkau melihat
ada serbuk tertiup,
lalu pecah meruah
terbang ke segala arah.
sementara, aku terdiam
seperti terpikat serbuk lain
yang terlepas
dari sudut senyummu.
kelak, tanah memeram keduanya
seperti mengulum
kebahagiaan kembang gula.
/4./
ah, aku tenggelam
melubuk dalam segala rindu
akan kembara
seribu persimpangan.
hujan begitu lama
tersandera dalam ingatan,
sementara dunia
diam-diam menutup pintu.
sungai-sungai
yang berhulu dari tatapanmu
kini tak lagi mengerti bahasa alir.
/5./
ada malai yang menguntai
butir-butir zikir
pada aras tangkai yang berayun.
oh, langit biru darah belangkas
teduhkanlah musim
agar kemarau tak lekas
menguapkan harapan.
sunyi menjelma angin,
mendaulat tualang,
menyusuri jejak rindu
pada manis gerimis silam.
kalaulah rebah
si tangkai glagah,
rindunya telah kembali
dalam rahim puisi…
Magetan, 2026
Laci
ada puisi di laci emily
mencuri pandang
ke arah jendela.
jendela itu begitu pasrah
setelah lelah menuntun lamunan
perempuan paruh baya
yang menunggu
senyum sekuntum magnolia.
engkau pun larut
menerka tanda bahasanya
—huruf renggang, goresan teka-teki,
ombak laut berpiuh, meninggi,
menapaki kabut—revolusi industri.
“apakah kesepianku memanjang
hingga jauh ke ujung waktu?”
mungkin tidak.
mungkin iya.
tetapi puisi-puisi di laci itu
diam-diam menyimpanmu,
mengawetkan setiap kematian
yang berjalan
—dalam parantesis rintik hujan…
2026
Rendezvous
—setelah Chet Baker
malam kusam diamorfin,
sembab, seperti kulit muffin.
—di tepi amstel,
sepasang kesepian
merayakan pertemuan.
angin malam
penghujung musim semi,
pelan mengetuk tingkap
sebuah penginapan.
“bagaimana kabarmu, tuan?”
lelaki pelancong itu
menjawab, “tidak begitu baik…”
parau suaranya
bercampur senyum masam.
“ayolah tuan,
bulan mei sedang baik hati…”
tetapi, mata cekung lelaki itu
sigap menangkap lincah peri hutan
—yang menari-nari,
mengitari tiang lampu.
“hei, tunggu aku!”
lelaki itu girang berseru
dan bersiap—walau tanpa sayap
—melompat keluar tingkap…
2026
Terbang
—setelah Munir
di sini, tiada jus jeruk
atau nomor kursi
selain kelas ekonomi.
rute ini terlalu dingin,
dan kau telah bersiap
dengan jas berlapis.
jejak sol sepatu itu,
akan tertinggal selalu
pada setiap anak tangga.
engkau pun terbang,
melihat tanah dari ketinggian,
melintasi cuaca sunyi.
lampu-lampu gemeriap
melontarkan sinar kesedihan
menembus halimun tipis.
lalu, kedua pelupukmu
tiba-tiba terpejam
oleh cahaya beracun.
mulutmu dibungkam
lengan-lengan kekar
dari balik kegelapan.
tapi gema suaramu
terdengar kian panjang,
menyebut nama mereka
yang tak pernah pulang…
2026
- Puisi Abimardha Kurniawan - 6 October 2026
- Bejo dan Bukunya - 3 March 2016
