Doa-Doa di Atas Kepala

Markum bisa melihat dan mendengar doa-doa yang dipanjatkan setiap orang yang berada di dalam mushola dekat rumahnya. Di atas kepala setiap pendoa, bisa dilihatnya dengan jelas, mengetahui apa-apa yang diminta setiap orang. Doa-doa itu biasanya diucapkan dalam hati setelah shalat, atau di saat seseorang sujud pada rakaat terakhir. Wujudnya seperti potongan gambar-gambar diikuti dengan suara rendah penuh harap, tepat di atas kepala, yang terlihat seperti kita menonton berita atawa sinetron di televisi.

Markum senang dengan kemampuan yang secara tidak sengaja didapatnya setelah dia tidur seharian di samping mushola, setahun lampau. Tapi lama kelamaan, Markum bosan dan ingin membuangnya jauh-jauh, supaya dia kembali normal senormal-normalnya, tak bisa melihat dan mendengar apa yang diminta setiap pendoa seperti sebelumnya. Markum menyadari pada akhirnya dia tidak lagi bisa khusyuk beribadah, pikirannya menjadi berantakan karena terlalu sibuk memikirkan doa-doa orang lain. Tetapi Markum tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan kemampuan aneh yang tidak pernah dia inginkan itu.

Sudah setahun ini, setiap kelar shalat, Markum jadi tidak lagi khusyuk berdoa. Dia malah sibuk memperhatikan doa-doa jamaah mushola lainnya, yang meminta ini dan itu, berharap Tuhan mewujudkan keinginan mereka. Selain doa-doa minta diselamatkan hidup di dunia dan akhirat, banyak lagi serentetan doa-doa yang dipanjatkan. Yang tampak di atas kepala para pendoa.

Pada mulanya Markum menikmati kemampuannya bisa melihat dan mendengar doa di atas kepala setiap orang. Markum jadi tahu apa saja keinginan para tetangga yang shalat di mushola dekat rumahnya. Dia tahu kalau Nurhasan, tetangga yang masih ngontrak di rumah Haji Sarkih, ingin sekali punya rumah sendiri. Markum bisa melihat pada kepala Nurhasan yang sedang berdoa, ada gambar rumah yang diinginkan Nurhasan. Gambar sebuah rumah besar, bukan kontrakan sempit kotak sabun seperti yang saat ini dihuninya. Gambar itu begitu nyatanya, gambar yang sering muncul setiap kali Nurhasan berdoa, dengan diikuti suara memohon yang terdengar santun dan khidmat, menginginkan rumah besar itu.

Selepas keluar mushola, Markum ingin sekali berpesan kepada Nurhasan, kalau dia ingin memiliki rumah besar itu, berhentilah jadi kontraktor alias pindah-pindah rumah kontrakan. Sebaiknya dia bekerja yang benar. Jangan sebentar-sebentar berhenti, supaya dia mendapat kerjaan yang ajeg dan bergaji besar sehingga bisa menabung dan dapat mewujudkan keinginannya. Tapi tentu saja keinginan Markum membicarakan hal itu dia simpan dalam-dalam. Markum khawatir Nurhasan tahu kalau dirinya bisa mengetahui apa yang diminta Nurhasan setiap kali berdoa.

Lain lagi doa anak muda bernama Ridwan, pemuda yang sehari-hari hobinya mancing di danau belakang sebuah mal. Markum bisa melihat dan mendengar doa-doa di atas kepalanya, seorang gadis dambaan yang ingin dipersunting. Ridwan rupanya ingin Tuhan mewujudkan keinginannya punya istri yang cantik. Dan Markum sebenarnya ingin sekali menasihatinya, supaya Ridwan berhenti mancing dan mencari penghasilan tetap. Sebab Markum khawatir sulit bagi Ridwan mendapatkan perempuan untuk dijadikan istri, apalagi perempuan cantik, yang calon suaminya masih menganggur dan hobinya setiap hari memancing di danau.

Yang menggelikan doa Bang Sarman. Doa yang bisa dilihat dan didengar Markum di atas kepalanya adalah minta istri lagi. Entah kenapa Bang Sarman memanjatkan doa begitu. Padahal dia sudah punya dua istri dan keduanya tidak hidup bahagia. Markum tahu kalau keluarga Sarman sering cekcok soal banyak hal. Bagaimana kalau ditambah satu istri lagi? Di akhir doa Sarman pernah berkata kepada Tuhan, Ya Allah … kabulkanlah agar aku mendapatkan istri satu lagi, siapa tahu dia ini berbeda dengan kedua istriku sebelumnya. Hahaha, pandai sekali Sarman merayu Tuhannya.

Doa Sarmadan lain lagi. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan rendahan bank swasta itu ingin membeli mobil baru. Selama ini dia ke kantor naik sepeda motor. Sarmadan meminta kepada Tuhan agar gajinya dinaikkan. Dia berharap Tuhan menggerakkan hati atasannya, supaya menaikkan gajinya yang masih UMR jadi berlipat-lipat. Alasan punya mobil karena dia punya tiga anak yang masih kecil-kecil, jadi kalau naik sepeda motor sempit umpel-umpelan. Dia dan satu anaknya saja sudah terasap ngap, apalagi kalau sampai ditambah memboncengi dua anak yang lain.

Setelah melihat dan mendengar doa-doa Sarmadan, Markum membuktikan sendiri saat keluarga Sarmadan hendak kondangan ke hajatan kerabat mereka. Sarmadan dan istrinya naik motor membawa ketiga anak yang masih kecil-kecil. Anak terbesar yang berumur 10 tahun naik paling depan, anak kedua umur 8 tahun di tengah, dan bayinya dipangku sang istri. Markum rasa wajar kalau Sarmadan berdoa minta mobil. Tapi tentu tidak mudah doa ini terkabulkan kalau dari mengandalkan gajinya. Markum ingin sekali menasihatinya, agar Sarmadan berhenti berdoa punya mobil, karena dia bisa menggunakan jasa sopir online.

Markum pernah mendengar Sarmadan curhat, gajinya selama ini pas-pasan. Gali lobang tutup lobang. Rumah masih satu atap dengan mertua. Ketiga anaknya menyusu formula yang harganya tidak murah, itu artinya tidak menyusu dengan air susu ibu yang gratis. Selain itu, istrinya gemar bersolek sejak melahirkan anak ketiga, sering gonta-ganti sepatu dan baju, yang dia beli secara online. Memang sih tidak begitu mahal. Tapi kalau terlampau sering tentu akan menguras dompet Sarmadan. Semua itu diceritakan Sarmadan kepada Markum.

Sewaktu bercerita Sarmadan katakan dia ingin membeli mobil murah, yang seken juga tidak apa-apa. Markum hanya tersenyum mendengarnya. Tanpa Sarmadan bercerita, Markum sudah tahu. Karena Markum sering melihat Sarmadan berdoa minta mobil. Terutama pada shalat Isya dan Subuh, sebab kalau shalat lain Sarmadan tidak melakukannya di mushola dekat rumah. Mungkin dia shalat di sekitar bank tempatnya bekerja.

***

Setiap kali bercakap-cakap dengan sesama jamaah yang kerap shalat di mushola dekat rumahnya, Markum selalu was-was. Markum khawatir mereka mengetahui kalau sebenarnya Markum tahu isi setiap doa-doa yang dipanjatkan para jamaah. Pernah Markum keceplosan pada Tarmiji sewaktu dia curhat soal istrinya. Markum pernah menyarankan Tarmiji pikir-pikir punya keinginan menceraikan istrinya. Markum tahu, setiap berdoa Tarmiji selalu meminta petunjuk agar bisa menceraikan istrinya yang genit dan sering susah diatur.

Pernah juga Markum kelepasan ngomong dengan tetangganya yang lain, Pak Remon. Waktu itu Pak Remon ingin meminjam uang lumayan besar, tapi dia ragu melakukannya. Pak Remon berharap Tuhan bersedia membolak balik hati istrinya, agar dia bisa diperbolehkan menjual tanah warisan istrinya. Pak Remon meminta kepada Tuhan berupa doa-doa agar keinginannya dikabulkan. Dia sedang membutuhkan modal besar untuk usaha sewa alat-alat pesta. Markum menyarankan Pak Remon menggadaikan surat rumahnya saja, ketimbang menjual tanah warisan istrinya. Pak Remon waktu itu tersentak, mungkin dia berpikir, kok Markum tahu kalau sebenarnya Pak Remon ingin menjual tanah warisan istrinya? Padahal Pak Remon belum pernah bercerita soal itu kepada Markum.

Sejak saat itu, Markum jadi lebih berhati-hati dengan lawan bicaranya, terutama orang-orang yang menjadi jamaah shalat di mushola dekat rumahnya itu.

***

 Markum yang masih lajang di usianya yang sudah semakin matang sehari-hari menunggu warung kelontong milik keluarga. Sudah sejak lama Markum jatuh hati pada Elliza, gadis dari adik teman semasa kecil yang sekarang tumbuh semakin cantik. Elliza anak tetangga sebelah yang baru pindah kerja di kota lain. Elliza perempuan soleha yang belakangan sesekali shalat di mushola. Markum jadi penasaran, kalau Elliza berdoa, kira-kira apa yang dia minta.

Akhirnya selepas shalat berjamaah di mushola, Markum memberanikan diri mengintip ke shaf jamaah perempuan dengan berpura-pura menyapu lantai mushola, dan merapihkan ini itu di bagian belakang, agar dia bisa melihat doa-doa apa saja yang dipanjatkan gadis cantik pujaan hatinya tersebut. Kebetulan marbot mushola sedang pulang kampung. Jadi Markum bisa berpura-pura membantu membersihkan mushola.

Markum heran, karena setelah selesai shalat, Elliza tidak berdoa seperti jamaah perempuan lainnya. Markum secara tidak sengaja malah melihat doa perempuan di sebelah Elliza. Nama perempuan itu Shakila, gadis keturunan Arab berhidung pesek. (Soal Shakila tidak mungkin diceritakan di sini, khawatir akan makan banyak halaman. Kita kembali kepada soal Markum yang ingin mengetahui doa-doa perempuan yang ditaksirnya). Beruntung yang diinginkan Shakila dalam doa-doanya adalah ingin mendapatkan jodoh lelaki kaya raya, dan tidak berdoa minta lelaki penunggu toko kelontong.

Markum tidak putus asa. Markum akan melihat Elliza berdoa selepas shalat jamaah di waktu lain. Markum yakin, pasti perempuan cantik dan soleha itu akan memanjatkan doa selepas shalat, tidak seperti saat ini. Dan benar saja. Bakda shalat Isya berjamaah, Markum melihat Elliza duduk bersimpuh di atas sajadah, dan terlihat doa-doa Elliza berada di depan Kabah. Tergambar dengan jelas Elliza mengenakan pakaian ihram, dan sedang berthawaf mengelilingi Ka’bah. Elliza ingin naik haji.

 Suatu sore Elliza berbelanja barang kebutuhan di warung kelontong yang dijaga Markum. Sebelum Elliza membayar, Markum berpura-pura melihat-lihat telepon selululernya, seolah dia lagi melihat gambar Ka’bah. Saat Elliza membayar, Markum katakan kepada gadis cantik itu kalau dia ingin membawa seseorang yang akan menjadi istrinya naik haji. Elliza tersentak mendengarnya, lalu dia tersipu malu.

Sejak saat itu Elliza jadi sering berbelanja ke toko kelontong yang dijaga Markum. Pernah Elliza membeli barang yang sama di hari yang sama. Sewaktu Markum tanyakan, barang yang dia beli sebelumnya dia katakan langsung rusak. Maka Elliza membeli yang baru. Dan saat setiap kali berbelanja itulah Elliza dan Markum mengobrol, saling bertukar cerita, termasuk mengingat masa-masa lucu saat mereka masih kanak-kanak.

Sampai akhirnya hubungan Markum dan Elliza terendus oleh orangtua Elliza, yang sudah sejak lama tidak menyukai Markum. Menurut orangtua Elliza, meskipun berwajah tampan, Markum pemuda pemalas dan tidak punya keinginan. Masak sekolah hukum bukan menjadi pengacara atau jadi hakim. Malah jadi penunggu toko kelontong.

Ungkapan orangtua Elliza tidak lantas membuat Markum kecewa atau marah. Markum justru penasaran, kira-kira doa-doa apa saja yang dipanjatkan orangtua Elliza. Sayangnya, kedua orangtua Elliza jarang ke mushola.

***

Suatu hari Markum prei menunggu toko kelontong. Markum jalan-jalan ke tempat bekas teman kuliahnya yang pindah ke kota lain, sahabat semasa kecil bersama-sama Elliza. Markum tahu, sahabatnya ini juga dulu naksir pada Elliza. Beruntung sahabat dekatnya ini sudah menikah dan baru saja punya momongan. Dengan begitu, sejauh ini Markum merasa tidak punya saingan. Markum main ke rumah sahabatnya pun dengan alasan ingin memberikan kado untuk kelahiran anak sahabatnya itu. Tetapi saat mengobrol, ternyata sang sahabat masih menyimpan rasa sukanya pada Elliza. Dia bilang, cinta pertama itu sulit dihapuskan dari ingatan.

Saat waktu azan berkumandang, Markum diajak shalat di masjid dekat rumah sahabatnya itu. Markum terkejut. Selepas shalat berjamaah, dia bisa melihat doa-doa yang dipanjatkan semua jamaah. Ternyata Markum tidak hanya bisa melihat doa-doa yang diminta jamaah di mushola dekat rumahnya saja. Doa-doa itu terlihat jelas pula di atas kepala semua jamaah di masjid ini. Markum sempat melihat doa-doa di atas kepala sahabatnya. Doa-doa itu tidak terdengar dengan jelas, sehingga Markum tidak tahu apa yang diinginkan sahabatnya dengan doa-doanya itu. Markum hanya bisa melihat di atas kepala sahabatnya, ada Elliza sedang tersenyum manis sekali.***

Tangerang Selatan, 2021

Latest posts by Zaenal Radar T. (see all)

Comments

  1. Novan Reply

    kalo boleh kritik, endingnya kok terasa hampa ya bang?

  2. Janur kuning Reply

    Kalau temanya horor bisa g ya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!