
Beliau adalah sebagaimana judul di atas. Tidak saya tambahi dan kurangi sedikit pun. Beliau adalah anak seorang sultan di Farsanafah, dari seorang perempuan keturunan Sayyidina Husin. Beliau adalah seorang raja pada negeri itu. Beliau punya saudara perempuan yang sangat cantik.
Bahkan, Syaikh Abu Ishaq asy-Syami pernah datang ke rumahnya. Beliau juga pernah makan di sana. Beliau sangat menikmati makanan di sana, seolah-olah tidak ada makanan yang nikmat selain di sana. Makanan yang nikmat bersenyawa dengan rupa yang sangat cantik, cantik sekali.
Syaikh Abu Ishaq asy-Syami pernah menyatakan kepada saudaranya bahwa pada suatu hari nanti Allah Ta’ala akan memberikan kepada saudaramu seorang anak yang sangat agung. Jagalah istrinya pada saat kehamilannya, jangan sampai ia memakan sesuatu yang haram dan syubhat.
Perempuan yang lemah dan shalihah betul-betul hanya mengikuti perintah Syaikh Abu Ishaq asy-Syami. Yaitu, menenun baju dan menjual barang-barang tenunan itu. Perempuan lemah dan shalihah itu betul-betul melahirkan melahirkan seorang Abu Ahmad pada tahun 260 Hijriah, pada masa al-Mu’tasim Billah.
Perempuan shalihah betul-betul memberikan hanya makanan halal kepadanya. Perempuan itu benar-benar membimbing anak kecil itu, juga memberikan makan ibunya. Betapa sangat berharga kehidupan perempuan itu, memberikan kehidupan yang halal kepada seorang anak kecil dan ibunya.
Pada sebagian waktunya, Syaikh Abu Ishaq asy-Syami pernah datang kepada Syaikh Abu Ahmad al-Jasyti ketika beliau masih muda. Syaikh Abu Ahmad Ishaq asy-Syami bilang dari seorang yang masih muda ini datang wewangian yang sangat harum. Sehingga nampak darinya keajaiban-keajaiban yang nyata.
Pada umurnya mencapai dua puluh tahun, Syaikh Abu Ahmad Abdal al-Jasyti keluar bersama bapaknya, Sultan Farsanafah, untuk berburu. Kemudian ada perselisihan antara dia, bapaknya, dan beberapa ‘askar yang mengikutinya. Ketika perjalanan mereka sampai di suatu gunung,
Beliau melihat empat puluh laki-laki berdiri di atas sebuah batu besar. Di antara mereka ada Syaikh Abu Ishaq asy-Syami. Kondisi Syaikh Abu Ahmad Abdal al-Jasyti kemudian berubah. Beliau kemudian turun dari kudanya. Betul-betul hanya berjalan kaki. Beliau sungguh-sungguh keluar dari kuda dan persenjataan perang.
Beliau kini hanya bersama Allah Ta’ala, tidak bersama apa pun dari harta benda dunia. Beliau hanya mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dan berjalan bersama mereka. Orang-orang kemudian mencari beliau, tapi mereka tidak menemukannya walaupun sudah mencari.
Setelah beberapa hari mereka mencari beliau, baru kemudian ada kabar bahwa beliau bersama dengan Syaikh Abu Ishaq asy-Syami di tempat tertentu, di guwa sebuah gunung. Bapak beliau mengutus jama’ah dan memberikan nasehat kepada beliau. Tapi sama sekali tidak diterima. Beliau memilih bersahabat dengan para syaikh. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Yusuf bin Muhammad bin Sam’an - 15 May 2026
- Syaikh Muhammad bin Abi Ahmad al-Jasyti - 8 May 2026
- Syaikh Abu Ahmad Abdal al-Jasyti - 1 May 2026

Riska
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi bukit dan kebun kurma, hiduplah seorang ulama sederhana bernama Syaikh Abu Ahmad Abdal Al-Jasyti. Ia dikenal bukan karena kekayaan atau jabatan, melainkan karena kebijaksanaan dan ketenangan hatinya.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, beliau sudah duduk di serambi rumahnya. Dengan tasbih di tangan, ia berzikir dalam diam. Wajahnya tenang, seolah tak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia. Penduduk desa sering datang kepadanya untuk meminta nasihat, mulai dari masalah keluarga hingga urusan hati.
Suatu hari, seorang pemuda bernama Haris datang dengan wajah gelisah.
“Wahai Syaikh,” katanya, “aku telah berusaha keras dalam hidup, namun hatiku tetap kosong. Apa yang salah denganku?”
Syaikh Abu Ahmad tersenyum lembut. Ia tidak langsung menjawab. Ia justru mengajak Haris berjalan menuju kebun di belakang rumahnya. Di sana, terdapat sebuah sumur tua.
“Lihat sumur ini,” kata Syaikh. “Airnya jernih karena ia diam dan dalam. Jika kau terus mengaduknya, maka airnya akan keruh.”
Haris terdiam, mencoba memahami.
“Begitu juga hati manusia,” lanjut Syaikh. “Jika terlalu sibuk dengan dunia, iri, dan gelisah, maka hatinya akan keruh. Namun jika ia belajar diam, bersyukur, dan mendekat kepada Allah, maka ia akan jernih.”
Sejak hari itu, Haris mulai mengubah hidupnya. Ia lebih sering merenung, memperbaiki ibadah, dan mengurangi keluhan. Perlahan, ketenangan mulai hadir dalam dirinya.
Waktu berlalu. Syaikh Abu Ahmad tetap hidup sederhana, namun pengaruhnya semakin besar. Ia tidak pernah meninggalkan desa itu, tetapi ajarannya menyebar jauh, dibawa oleh murid-muridnya.
Ketika beliau wafat, seluruh desa diliputi kesedihan. Namun, satu hal yang pasti—ajaran dan keteladanannya tetap hidup di hati banyak orang.
Dan di setiap pagi yang sunyi, ketika angin lembut berhembus, orang-orang sering teringat sosoknya—seorang lelaki sederhana yang mengajarkan bahwa kedamaian sejati tidak ditemukan di luar, melainkan di dalam hati yang dekat dengan Sang Pencipta.