KISAH-KISAH NYARIS TENTANG TUHAN

1.

Gilang tidak religius, tapi juga tidak bisa dibilang atheis. Ia berada di tengah—di wilayah abu-abu antara percaya dan lupa. Tuhan, baginya, seperti teman SD yang sudah lama tidak berjumpa. Masih tahu namanya, tapi sudah lupa bagaimana caranya menyapa.

Suatu malam, ketika listrik mati dan ponselnya habis baterai, Gilang duduk di teras rumah. Tidak ada apa-apa selain suara jangkrik dan angin yang menampar pelan. Tiba-tiba, entah mengapa, ia berkata perlahan, “Tuhan, ini aku. Lagi iseng aja, sih.”

Tidak ada petir. Tidak ada bisikan magis. Namun, udara terasa hangat. Gilang menduga itu hanya sugesti, tapi sugesti itu membuatnya nyaman. Maka ia melanjutkan, “Bagaimana kabar-Mu? Lelah nggak dengar manusia yang isinya minta mulu?”

Dia tertawa sendiri setelah itu. Suaranya pecah dalam malam yang kosong. Tapi ada sesuatu yang berubah. Ia merasa tidak sepenuhnya sendiri.

Hari-hari berikutnya, Gilang mulai menjadikan ngobrol dengan Tuhan sebagai kebiasaan kecil. Bukan dalam bentuk doa-doa resmi. Ia bicara seperti sedang menelepon kawan jauh. Misalnya saat dia kehilangan diska lepas berisi tugas kerja, ia bergumam, “Tuhan, tolong, dong! Tapi kalau memang penting, sih. Kalau enggak, juga nggak papa.”

Kadang, saat hujan deras turun tanpa peringatan dan bajunya basah kuyup di jalan, ia bilang, “Oke, ini lucu. Saya ngerti, ini cara-Mu mengajarkan sabar, ya? Oke, saya sabar. Tapi, tolong, jangan flu, ya.”

Awalnya dia pikir semua ini absurd. Tapi perlahan, ia mulai merasa ada ruang baru dalam hidupnya. Ruang itu sunyi, tapi tidak kosong. Lapang, tapi tidak hampa.

Sampai suatu hari, ibunya sakit keras. Gilang mendadak panik dan menangis untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun. Saat itulah, ia berkata dengan suara gemetar, “Tuhan, tolong. Kali ini aku benar-benar memohon.”

Dan anehnya, tidak ada rasa bersalah. Ia tidak merasa munafik karena baru serius ketika butuh. Karena ia tahu—Tuhan sudah lama duduk di sebelahnya, mendengar semua obrolan isengnya.

Ibunya sembuh perlahan. Bukan karena mukjizat instan, tapi karena perawatan yang sabar, doa keluarga, dan keputusan Gilang untuk tetap bicara setiap malam. Kadang dengan cerita lucu. Kadang hanya gumaman pelan, “Halo, Bu, aku di sini.”

2.

Ciko adalah tipe orang yang selalu nyaris. Nyaris diterima kerja, nyaris jadian, nyaris sembuh dari trauma. Hidupnya seperti lagu yang terus berhenti di reff karena kasetnya macet. Tapi dia tetap hidup, meski dengan napas pendek dan langkah malas.

Dia pernah menulis status, “Hidup itu ujian, tapi saya nggak pernah dapet kisi-kisinya.”

Temannya membalas, “Lu udah daftar ulang belum pas lahir?”

Ciko ketawa, tapi hanya di luar. Di dalam, dia lelah.

Setiap pagi, dia bangun dengan kepala berat. Bukan karena begadang, tapi karena pertanyaan-pertanyaan kecil yang tumbuh seperti jamur: Kenapa gue di sini? Apa semua ini ada artinya? Kalau gagal terus, apa gue masih pantas bertahan?

Sampai suatu sore, dia duduk di taman kecil. Ada anak SD duduk di sebelahnya, belajar matematika dengan wajah frustrasi.

“Aku benci pecahan. Kenapa angka harus dipotong-potong?” kata anak itu.
Ciko tersenyum. “Karena kadang hidup juga begitu. Kita harus belajar membahagiakan diri walau lagi pecah.”

Anak itu bengong, lalu bilang, “Kakak aneh.”

Ciko tertawa. Tapi di balik tawa itu, sesuatu mengendap. Sesuatu yang menyerupai pemahaman.

Hidupnya memang belum pernah ‘lulus’ dalam ukuran orang dewasa. Tapi dia masih di sini. Masih duduk di bangku ujian meski bolpennya kadang macet dan kertasnya basah air mata. Dan itu … sebuah ketangguhan juga, bukan?

Ciko mulai mengganti target harian, dari “jadi sukses” ke “muncul dan hadir.” Dari “harus kuat” ke “cukup bangun pagi.”

Dan pelan-pelan, semesta tak lagi terasa seperti ruang ujian, tapi seperti ruang tunggu. Tempat dia boleh menunggu, berpikir, dan perlahan-lahan belajar mengisi soal yang tak pernah punya jawaban benar—karena yang penting adalah: tetap berusaha menulis.

3.

Rani sering berdoa sambil berpikir: “Berapa lama lagi ya, baru dijawab?” Dia membayangkan Tuhan kayak petugas administrasi Puskesmas: buka map satu per satu, lalu berkata, “Oh, ini doa Rani dari dua tahun lalu. Sabar ya, masih diproses.”

Dia jadi hemat doa. Cuma minta kalau benar-benar kepepet. Tapi lama-lama dia bingung, kok hidup rasanya sepi?

Akhirnya dia iseng curhat ke Tuhan. Bukan minta apa-apa. Cuma cerita soal siang yang panas dan nasi padang yang tumpah. Ajaibnya, rasanya plong.

Lalu dia sadar, mungkin Tuhan bukan petugas administrasi, tapi sahabat yang diam-diam selalu mendengar, bahkan sebelum kita membuka mulut.

4.

Andra adalah manusia modern. Sarapan kopi sachet, pakai spreadsheet untuk mengatur emosi, dan bikin to-do list buat urusan hati. Suatu hari, setelah tiga kali gagal pacaran dan dua kali ditolak kerja, dia memutuskan berdoa. Tapi tentu saja, dia bikin dulu draft-nya.

Doanya diketik rapi. Font Calibri, 12 pt, margin normal. Ada subjudul: “Kebutuhan Dasar”, “Harapan Emosional”, dan “Permohonan Tambahan Jika Tidak Merepotkan”. Lalu dia simpan dalam PDF dan … ya, nggak tahu harus dikirim ke mana.

Andra bingung. “Apa Tuhan pakai email?”

Aku jawab, “Nggak. Tapi mungkin Dia suka pesan suara langsung dari hati.”

Dia akhirnya berdoa. Tak rapi, tak sistematis. Cuma gumaman, air mata, dan satu kata: “Tolong.”

Besoknya, dia tidak langsung dapat pekerjaan. Tapi dia mimpi bisa tertawa lagi. Dan mungkin, itu adalah jawaban pertama dari doa yang dibuka bukan lewat file, tapi lewat fragmen jiwa.

5.

Reta sudah tak berdoa selama tiga tahun. Terakhir kali bersimpuh, ia minta ayahnya disembuhkan. Tapi pagi itu juga, rumahnya sunyi oleh napas terakhir sang ayah. Sejak saat itu, ia simpan semua kalimatnya. Tidak ada “Tuhan”, tidak ada “tolong”, tidak ada air mata yang diniatkan untuk langit.

Ia hidup seperti orang jalan-jalan tanpa arah. Bekerja karena harus. Tertawa karena refleks. Tapi di dalam dirinya, ada ruang kosong seperti bangunan yang ditinggal renovasi di tengah jalan. Tidak rusak, tapi juga tidak selesai.

Lalu suatu malam, listrik padam. Ponsel mati. Hujan turun. Dunia memaksa hening.

Reta duduk di dekat jendela, dan entah mengapa, lidahnya bergerak sendiri. “Tuhan,” katanya, pelan. Seperti kata asing yang baru dipelajari kembali. “Dengar aku, sekali ini saja. Atau selamanya.”

Ia menangis. Tapi bukan tangis minta sesuatu. Tangis yang datang karena ia akhirnya bicara, setelah sekian lama diam.

6.

Bima terburu-buru ke wawancara kerja. Ia percaya Tuhan akan menuntun jalannya—dengan bantuan GPS tentunya. Tapi hari itu Google Maps ngaco. Ia disuruh belok kanan ke sawah, kiri ke gang buntu, dan berputar-putar sampai frustrasi.

Akhirnya, ia menyerah. Ia berhenti di sebuah warung tua di pinggir jalan yang tak pernah ia lewati sebelumnya, duduk, dan pesan teh manis. Di seberangnya, seorang pria tua mengamati.

“Kesasar, Mas?” tanya pria itu.

Bima tertawa getir. “GPS saya rusak.”

Pria itu mengangguk bijak seperti dalang. “Kadang GPS rusak itu cara Tuhan bilang, ‘Sudah, jangan terlalu yakin kamu tahu ke mana harus pergi.’”

Bima terdiam. Pria itu kemudian bercerita tentang hidupnya—dulu ia seorang seniman, gagal berkali-kali, tapi justru kesasarlah yang membuatnya sampai di tempat terbaik dalam hidup.

Bima tak jadi pergi ke wawancara kerja. Ia justru menulis esai tentang pengalaman hari itu, dan seminggu kemudian, tulisannya viral. Ia tak jadi bekerja di kantor, tapi malah menjadi penulis perjalanan. Semua berkat tersasar.

Ia menatap GPS di ponselnya yang masih beku, lantas tersenyum. “Ternyata jalan Tuhan kadang beloknya curam. Tapi ujungnya sampai juga.”

Kadang, saat peta rusak, jiwa kita akhirnya mau mendengar kompas yang sebenarnya.

7.

Waktu kecil, Jaka dikasih tahu neneknya, “Kalau kamu berdoa terus-terusan, Tuhan bisa capek.”

“Lho, bukannya Tuhan Maha Segalanya?”

“Iya. Tapi Tuhan juga Maha Sibuk.”

Sejak itu, Jaka hanya berdoa sekali di usia sembilan tahun. Doanya sederhana. “Tuhan, saya ingin hidup saya lancar, ya. Pokoknya selamat dunia akhirat. Yang lain-lain, silakan improvisasi.”

Dan hidupnya … ya begitu. Tidak jelek, tapi juga tidak spektakuler. Seperti sinetron jam dua siang. Ada adegan jatuh cinta, patah hati, kehilangan dompet, bertemu kucing lucu, dan rencana bisnis yang gagal total. Tapi Jaka konsisten. Ia tidak pernah minta apa-apa lagi. Karena dia percaya, Tuhan mengerti. Tuhan pasti tahu.

Sampai suatu malam, di umur tiga puluh delapan, sehabis menyantap mie goreng instan dan menonton siaran ulang sinetron lawas, Jaka tiba-tiba ingin menangis. Bukan karena sedih, tapi karena ia merasa … kosong. Seperti botol parfum yang habis: wangi masih ada di udara, tapi isinya sudah lenyap.

Dia bertanya—bukan ke Tuhan, tapi ke dirinya sendiri, “Apa aku terlalu sopan dalam meminta? Apa aku terlalu percaya sampai lupa bicara?”

Dan malam itu, dia akhirnya berdoa lagi. Tapi kali ini tak pakai kalimat panjang, cuma bisikan pelan: “Aku di sini ya, Tuhan. Aku masih butuh Kau.”

Tak ada kilat, tak ada pelangi. Tapi paginya, mie instannya terasa lebih enak. Mungkin karena Tuhan, meski Maha Tahu, tetap suka mendengar kabar dari kita.

Chyntia
Latest posts by Chyntia (see all)

Comments

  1. budz Reply

    menyenangkan membaca cerpen ini

  2. La Ode A. Salam Reply

    Menarik

  3. Dito Radhya Reply

    semoga tulisan saya bisa segera di publikasikan

  4. salma Reply

    penuh makna

    • Nur Reply

      keren dan menginspirasi sih, makasi penulis:)

  5. Bamby Reply

    Sederhana tapi renyah banget

  6. Sri Agustina Reply

    barangkali, saya juga terlalu diam dan tidak menghiraukan alarm tuhan:(…terimakasih kak chintyaa

  7. Afi Reply

    Keren menginspirasi

  8. nnap Reply

    wow sangat seru banget membaca cerpen ini

  9. Tio Reply

    sangat seru cerpennya

  10. aji sulistyo Reply

    Cerpennya bagus, mudah dipahami dan sarat makna

    • Bunga Reply

      Bagus banget, suka cekali sama ceritanya yang sangat berarti tiap kalimatnya, terima kasih sudah menuliskan ini

  11. RINDY Reply

    ajaib sekali… seperti diarahkan untuk membaca tulisan mu… dan air mataku mengalir terus disetiap ceritanya.. mungkin si KOSONG itu dan ini cara TUHAN menyapaku.. TERIMA KASIH…….

  12. Neti Reply

    Terharu karena saya merasa “ih iya aku juga gitu” pas bacanya..Gaya tulisannya renyah tapi ga dangkal..ayo banyakin nulis lagi kak ✌🏻😁

  13. Alghifari Reply

    Cerpen yang penuh dengan makna

  14. Dita Reply

    Kerennnnn bangettttttt.

  15. fugii Reply

    asikk sekali bacanya

  16. Linda Reply

    masya Allah….cantik banget…lobe tuk penulis

  17. Linda Reply

    masya Allah….cantik banget…love tuk penulis

  18. cinnamonrolls Reply

    menemukan tulisan yang menyentil hati di senin siang yang mendung ini. terima kasih penulis, you write a good stories.

  19. Ristianti Reply

    Just wow…. Tuhan mengirimku untuk membaca cerita ini.

  20. Eka wulandari Reply

    Menemukan sesutu lagi untukku berfikir”lewat cerita” asik

  21. atikaazz Reply

    nemu cerita sederhana ini disaat down cari kerjaan;)

    • Admin Reply

      semangat, kak!

  22. Saturnis Reply

    Ini, keren banget. BANGET! Maknanya dalam, dari cerita yang disampaikan dengan begitu sederhana ❤

  23. Nayra Reply

    Keren, mengisi hati dan hari-hari yang mulai terasa kosong

  24. riana Reply

    membaca ini sambil menitikan air mata

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!