Lelucon Kampung Kami

Aku bayangkan perutku yang kurus dihuni puluhan ekor serigala. Kubayangkan serigala-serigala itu kurus dan lapar, hingga dengan beringas mencabik, menggigit tiap bagian perutku untuk mereka telan. Kubayangkan dengan sempurna kawanan serigala, yang sekalipun mereka kurus dan kecil, tetap bertaring dan bercakar, sehingga tak ada yang tak mungkin untuk menghabiskanku dari dalam.

Aku tak punya apa-apa selain dompet berisi sedikit uang. Aku tak bertaring dan tak bercakar. Lagi pula kita harus berhadap-hadapan untuk melawan. Mereka tidak ada di hadapan dan justru ada dalam perutku. Bagaimana caraku melawan?

Aku tahu ini aneh. Meski tak ada yang membunuhku dengan cara yang seburuk itu, kuanggap saja imajinasiku benar. Kuanggap bahwa di perutku terdapat puluhan ekor serigala kurus yang siap menyantapku sampai habis. Tentu saja, setelah mereka selesai, tubuhku tinggal tulang belulang dan serigala-serigala laknat itu jadi begitu gendut dan gagah.

“Bagaimana seseorang bisa disantap sampai habis dari dalam?” tanya seorang yang tinggal dekat rumahku tempo hari, setelah kuberi lelucon tentang rasa lapar bisa jadi adalah wujud serangan baru tukang santet.

Kusebut-sebut bahwa tukang santet tidak lagi mengirim paku, jarum jahit, beling, dan segala benda terkutuk itu. Setiap tukang santet di muka bumi bisa mengirim sesuatu yang lebih ganas, sesuatu yang hidup dalam skala yang jauh lebih kecil, yakni kawanan serigala lapar untuk menghabisi manusia dari dalam.

Lelucon itu kemudian jadi santapan sehari-hari kami, warga yang tinggal di tepian sungai besar, yang nyaris menyerupai selokan raksasa. Sungai besar ini begitu cokelat dan menebar bau tidak sedap setiap hari, sepanjang waktu, sehingga ketika orang-orang tidak punya uang untuk membeli makan, yang bisa dilakukan agar tak lekas mati adalah membuat bahan lelucon sebaik mungkin.

Leluconku adalah yang terbaik di antara yang terbaik. Beberapa orang pernah tidak berhenti dari lelucon tentang mayat yang terdampar di tepi sungai. Lelucon itu bercerita tentang sebuah mayat yang ditemukan pada suatu hari, yang tidak memiliki kepala, sepasang tangan, dan sepasang kaki.

Kata pembuat lelucon, “Mayat itu hanya sepotong tubuh manusia. Tidak ada yang tahu tubuh siapa itu, tetapi semua itu jadi tidak penting setelah orang-orang ini terlalu lama lapar. Mereka benci kelakuan bejat para wakil rakyat hingga ketika tahu di perut sepotong tubuh tersebut terdapat jarahbercap nomor urut napi di suatu penjara, serta label bertuliskan kata-kata yang begitu jelas: dosa korupsi, tidak ada yang mencegah ketika seseorang mulai memanfaatkan sepotong tubuh itu demi bertahan hidup!”

Lelucon yang satu ini dikisahkan seakan-akan nyata, sebagaimana lelucon lain yang beberapa di antaranya karanganku belaka. Setiap orang bisa dan diperkenankan mengungkap lelucon masing-masing saat nongkrong di tepi sungai bersama tetangga. Kebanyakan lelucon-lelucon mereka berhubungan dengan maut dan akhirat.

Aku sendiri sudah lama gabung ke kelompok pembuat lelucon di tepian sungai ini. Di kota besar sulit mencari kerja, apalagi dengan tanpa ijazah dan keahlianapa adanya. Orang tidak akan tertarik mempekerjakan orang-orang macam kami. Akhirnya beberapa kembali ke kampung asal, dan beberapa menghidupi dirinya sendiri dengan uang hasil memulung. Karena terlalu banyak pemulung, tidak semua bisa meniru itu. Aku tidak bisa meniru itu. Beberapa orang tidak bisa meniru, sehingga pada suatu hari yang membosankan, lelucon- lelucon mulai dibuat.

Lelucon yang bertahan lama, yakni lelucon tentang mayat koruptor tidak berkepala yang terdampar di tepi sungai itu, sempat diharapkan oleh seorang yang lumayan sinting di antara kami, untuk menjadi nyata. Sebut saja Mugeni. Orang ini sejak dulu terkenal sinting, tetapi tentang uang dan makanan, dia tidak bisa dikibuli.

Suatu kali Mugeni berdoa, “Semoga suatu hari benar-benar ada mayat koruptor terdampar di tepi sungai agar kita bisa memasaknya ramai-ramai dan lantas bernyanyi lagu Indonesia Raya.”

Doa tersebut diulang beberapa minggu lamanya, sampai telinga kami menjadi sakit dan akhirnya lelucon baru pun menggantikan kepopuleran lelucon tersebut. Suatu ketika, lelucon tentang serigala dianggap lebih aman dan tentu saja itu didasari oleh pemikiran kami bahwa kami tidak ingin orang-orang di luar sana, yang berduit banyak dan punya koneksi dengan para koruptor kelas kakap, mendengar lelucon tentang mayat koruptor yang dimasak untuk bertahan hidup. Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin kami bakal kena masalah.

Lelucon tentang serigala-serigala yang menghuni perut setiap manusia yang kurus, sebagai perwujudan rasa lapar, yang dikirim seorang tukang santet sialan, jadi begitu populer, karena kebanyakan dari kami memang sering kali harus menahan lapar. Di sebuah rumah, misalnya, kami sering menemukan seorang ibu yang mengorek tepian sungai demi mencari sesuatu untuk dimasak. Biasanya sayur layu dan busuk di aliran sungai cokelat menjadi sasaran untuk dijaring. Jika sedikit beruntung, dapat berbagai makanan sisa yang kambang di kardus-kardus. Dan, andai sedikit sial, jaring tersebut menangkap tahi manusia.

Sesekali orang-orang seperti kami pastinya pergi ke luar dan mencari peluang apa pun demi mendapat uang. Hidup tak melulu untuk lelucon. Ada saatnya kami mengira lelucon itu membuat hidup kami malah semakin menderita, sebab segala yang kami kerjakan tidak mendatangkan terlalu banyak manfaat.

Meski beberapa anggota kelompok pembuat lelucon ini akhirnya bisa keluar sebab sudah mendapat pekerjaan, tetap saja berdatangan orang-orang baru, yang tadinya asing di mata kami. Orang-orang datang dan pergi. Mereka yang baru datang dari desa dan belum dapat pekerjaan, singgah ke sini, berjuang tanpa daya, membuat lelucon soal maut dan akhirat, lalu kalau beruntung, pergi begitu saja ke lain tempat, demi tidak dikejar-kejar para tetangga yang butuh meminjam uang.

Aku sendiri cukup lama di sini dan sudah lama mendengar pergantian kepopuleran lelucon-lelucon tertentu seperti lelucon tentang mayat koruptor terdampar. Seorang teman berkata, “Kamu kalah start terus sama yang lain, Bung. Lihat saja Dakir, yang baru datang bulan lalu, besok sudah pindah. Sudah mendapat kerja di pabrik dekat rumah sepupunya. Nah, harga dirinya balik.”

Aku tahu sedikit cerita tentang Dakir, yang enggan tinggal di rumah sepupu selagi dia mencari kerja. Sebab, sepupunya itu suka angkuh dan membicarakan dirinya dengan cara yang tidak etis di depan keluarga besar mereka. Kini, Dakir pindah dan mengontrak sebuah kamar dan bekerja di pabrik dekat rumah sepupunya. Ia bisa pamer bahwa tanpa bantuan sang sepupu yang angkuh, ia bisa hidup mandiri.

Mendengar singgungan temanku soal Dakir yang beruntung, karena tak harus tahu terlalu banyak lelucon aneh kami, aku merasa benar-benar sepi. Sejak lama aku tinggal di sini dan gagal mendapat pekerjaan baik. Sehari-hari, kadang aku ngamen, tapi tidak terlalu menghasilkan. Kebanyakan membantu orang di pasar dengan upah sedikit. Itulah penyebab kenapa bisa perutku terlalu kurus untuk ukuran orang yang sebenarnya lumayan jangkung.

Sering ketika lelucon tentang kawanan serigala yang menyerbu perut manusia kurus, dan menyantapnya dari dalam itu dilontar, kubayangkan memang di dalamku ada banyak serigala. Jika Mugeni berdoa lelucon tentang mayat menjadi santapan itu terwujud nyata, aku malah berharap leluconkulah yang mestinya terwujud.

“Kiranya benar di tubuh manusia bisa muncul kawanan serigala dengan skala jauh lebih kecil begitu, saya ingin mereka tidak hanya berjumlah puluhan, tetapi seribu. Dengan seribu serigala mini di perut ini, butuh kurang dari semenit agar saya tiba ke pengembusan napas terakhir,” kataku ke seorang teman yang juga suka membuat lelucon.

Aku terus membayangkan itu seiring makin banyaknya teman-teman pembuat lelucon yang pergi dari tepian sungai, sebab sudah mendapat sesuatu yang lebih baik di luar sana. Semakin hari aku semakin menderita sampai di satu titik yang paling menyedihkan, yakni ketika Mugeni mati dan ditemukan terdampar di suatu tepi sungai di bagian lain di kota ini. Pada saat itu, semua penghuni kawasan ini sama sekali tidak kukenal. Leluconku tak lagi dibicarakan, karena orang-orang baru enggan bicara soal sesuatu yang tak ada manfaatnya. [ ]

Gempol, 2017–2025

Ken Hanggara
Latest posts by Ken Hanggara (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!