MENJADI AYAH YANG BAIK

Sudah nyaris dua jam anak itu duduk di sana, di antara onggokan onderdil kipas angin yang dilucuti Hasim dari barang-barang yang urung diambil oleh pemiliknya. Tangan bocah itu sibuk moncoreti halaman demi halaman kosong di balik kalender kedaluwarsa. Ini bukan kunjungan pertamanya, tapi dapat dipastikan ‘sebagai yang terlama’ dibanding dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya.

“Ibumu ke luar kota lagi?” tanya Hasim sambil lalu.

Anak itu menggeleng.

Dahi Hasim mengerut. Dia tatap sejenak anak laki-laki sembilan tahun itu. “Ibumu pasti belum pulang sejak semalam. Iya, kan?”

Anak itu menggeleng lagi.

“Apa ibumu lupa memberimu uang makan?”

Anak itu bergeming. Jangankan membuka mulut, menggelengkan kepala pun tidak. Hasim melanjutkan pekerjaannya: mengelap baling-baling dan teralis kipas dengan kemoceng, lalu memasangnya ulang ke batang penyangga; mengencangkan baut di sana-sini dan memastikan tombol sakelar pengatur dapat berfungsi dengan baik. Hasim mengulur kabel dan mencolokkan ujung steker ke stop kontak. Tombol 1, 2, 3, dan off pada dudukan ditekan bergantian dan terus berulang. Kipas angin pun mendesis, berputar-putar mendorong angin segar ke sekitar.

“Aku tak punya sesuatu untuk dibagi hari ini,” ujar Hasim. “Nanti sore kalau barang ini jadi diambil, pastinya ada uang. Kau sudah makan?”

Anak itu mendongak, lalu menggeleng. Hasim mengempaskan napas dan mulai terlihat geregetan. “Kau tak punya mulut, ya?” ujarnya kemudian.

Seolah sedang menguji Hasim, anak itu tak menggubris. Dia hanya peduli dengan garis-garis yang dibuatnya: sketsa-sketsa yang menyerupai sesuatu. Hasim berniat merampas pena di tangannya agar anak itu memperhatikan sejenak ketika diajak bicara. Namun, ketika matanya terantuk gambar sepatu, dia mengurungkan niatnya. Alih-alih geram, dirinya justru diam-diam memperhatikan. Dia takjub dengan kemampuan anak itu menarik garis-garis semau-maunya—lebih tampak seperti keisengan semata—dan tiba-tiba saja membentuk sesuatu benda. Kini dia bisa melihat dua pasang sepatu laki-laki dan perempuan di depan pintu sebuah rumah. Dia tak begitu peduli dengan model gambar sepatu laki-laki yang menyerupai jenis pantofel, tapi gambar sepatu perempuan itu—sepatu dengan hak tinggi—begitu saja mengingatkannya pada sebuah malam. Dan dia menjadi heran: dari sekian banyak ingatan, mengapa justru sepatu itu yang tiba-tiba tumbuh di kepalanya?

Itu malam yang konyol baginya. Dia hampir saja celaka—dan oleh karenanya dia punya alasan untuk murka—ketika sebuah taksi tiba-tiba melambat dan berhenti tepat di depannya yang sedang berkendara. Namun, yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Seorang perempuan keluar sambil membanting pintu taksi, lalu memaki-maki si sopir. Sopir itu—dia masih ingat wajah laki-laki itu—berbalik mengancam si perempuan. Bukan hanya gertakan di mulut, si sopir sempat turun dari taksi dan hendak menyerang si perempuan. Tentu saja, Hasim yang sejak awal sudah murka, berusaha menghalanginya dan terjadilah baku hantam. Di tengah kacaunya baku hantam itu, tiba-tiba sebuah benda melayang ke kepalanya: sebuah sepatu, sepatu hak tinggi seorang perempuan. Rupanya, perempuan itu tak tinggal diam. Dia melampiaskan rasa muaknya kepada si sopir taksi dengan melemparkan sepatu itu. Namun, bukannya membantu, sepatu itu justru menyasar dirinya yang tengah susah payah melawan keganasan si sopir taksi.

Malam itu berakhir dengan sebuah gertakan: dia mengancam akan berteriak memanggil orang kampung jika sopir taksi itu tak segera meninggalkan mereka. Dia berteriak sekali, dan itu berhasil membuat si sopir menggeber taksinya meninggalkan mereka. Selepas sopir taksi itu pergi, drama yang lain baru dimulai. Perempuan itu tak mau diantarkan ke kediamannya—dia bersikeras untuk diselamatkan. Malam itu, di rumah petak yang disewa perempuan itu, sedang ada kunjungan seorang ibu yang telah bertahun-tahun tak bertemu anaknya. Sementara, perempuan itu telanjur mengatakan sedang ada panggilan pekerjaan ke luar kota untuk beberapa hari. Tentu saja, perempuan itu tahu tempat-tempat yang bersedia menerimanya dengan sebuah imbalan. Namun, hatinya begitu hancur malam itu dan yang dibutuhkannya hanya perlindungan tanpa embel-embel apa pun. Dan Hasim, sebagai laki-laki yang mudah terpanggil hatinya, memberikan perlindungan itu. Sebuah kamar indekos murah, yang dihuni seorang gadis kerabat jauh Hasim dari kampung, menjadi tempat pulang perempuan itu untuk dua hari.

Itu peristiwa lama sebelum seorang anak laki-laki lahir di sebuah Puskesmas dan perempuan itu terus berkeliling mencari sosok ayah bagi janin yang pernah dikandungnya. Hingga kini, ketika usia anak itu sudah sembilan tahun berjalan, sosok yang dicarinya belum juga ditemukan.

 “Kalau sudah tak tahan lapar, kau bisa ke warung di sebelah gang itu,” ujar Hasim seraya memperhatikan wajah anak itu—dan dia memastikan wajah sopir taksi itu tak ada di sana.  “Bilang saja, sore nanti akan kulunasi. Aku sering mengajakmu ke sana, kan?”

“Aku belum lapar,” tanggap anak itu. Dia membalik halaman kosong yang baru dan meletakkan pena di atasnya. “Ibu ada di rumah, dia bersama temannya dari tadi malam.”

Dia menggangguk pelan dan menyadari bahwa kali ini anak itu datang dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya. Biasanya anak itu datang dengan wajah pucat karena menahan lapar. Jika sudah begitu, bisa dipastikan ibunya ‘sedang berada di luar kota’ barang dua atau tiga hari dan lupa memberinya uang makan. Untuk urusan lupa ini, anak itu pernah berterus terang bahwa sebenarnya ibunya tidak selalu lupa, melainkan sedang tak punya cukup uang untuk diberikan kepadanya. Maka satu-satunya hal yang paling bisa dilakukan adalah menemui seseorang yang dikenalnya dan bisa menerimanya dengan baik—dan sialnya, orang itu adalah Hasim.

“Aku mau antar barang servisan ini. Kebetulan sejalur dengan tempatmu. Ayo ikut, sekalian biar kuantar pulang,” ujar Hasim seraya mengemas sebuah kipas angin yang baru selesai diperbaiki.

“Apa boleh aku di sini dulu?” tanggap anak itu. “Orang itu pasti masih ada di sana. Aku malas bicara sama dia.”

“Kau yakin?”

Anak itu mengangguk.

“Kenapa kau tak suka orang itu?”

“Dia mau jadi ayahku ….”

“Kau yakin dia serius?”

Anak itu mengangguk lagi. “Ibu pernah bilang,” ujarnya kemudian, “kalau dia baik, dia bisa saja akan jadi ayahku. Dan ibu tak perlu ke sana kemari lagi…”

“Nah, itu kan?” sela Hasim. “Ibumu saja bilang kalau dia orang baik. Mestinya kau setuju saja.”

“Dia pernah menampar ibu, dan dia bilang itu cuma bercanda.”

“Hah, Bangsat!” Nada bicara Hasim seketika berubah. “Kau melihatnya sendiri?”

Anak itu mengangguk sebelum menatapnya dengan heran. Hasim tampak salah tingkah seraya meraba-raba saku celana dan bajunya, mencari-cari kunci-kontak dan tak ketemu. Dia baru menyadari ketika anak itu menunjukkan bahwa kunci-kontak itu masih menancap di leher sepeda motor.

“Lebih baik kau ikut saja,” ujar Hasim. “Nanti sama-sama kita cari makan. Soal pulang, itu gampang.”

Hasim menyalakan sepeda motornya. Anak itu mendekat, bersiap ikut berangkat.

***

Perempuan itu datang ke tempatnya. Dia mengeluhkan kipas angin yang sudah nyaris sebulan kerap mengeluarkan bunyi seperti deru helikopter. Hasim segera memeriksanya. Tak ada kerusakan berarti. Dia hanya perlu membongkarnya, membersihkannya, mengencangkan baut yang kendor, mengganti satu-dua onderdil lainnya yang sudah aus atau karatan. Setelah memasangnya ulang, kipas angin itu bisa berfungsi dengan baik—setidaknya bunyi seperti “deru helikopter” itu sudah jauh berkurang.

“Sudah bisa tidur nyenyak sehabis ini,” jelas Hasim. “Dijamin, tak akan terganggu bunyi helikopter lagi.”

Perempuan itu tersenyum, sekejap saja. Hasim menjelaskan beberapa detail kecil tentang kerusakan kipas angin. Perempuan itu mendengarkan, mengangguk-angguk, dan Hasim mulai khawatir bahwa dirinya sedang menjelaskan sesuatu pada waktu yang kurang tepat. Dan tampaknya itu benar adanya: perempuan itu segera mengalihkan pembicaraan.

“Selain malam itu, malam dengan sopir taksi bangsat itu, seingatmu kapan kau mengalami malam yang buruk bersamaku?”

Kening Hasim berkerut-kerut. Bukan karena berusaha mengingat-ingat sebuah peristiwa tertentu, tapi dia merasa pertanyaan perempuan itu sedikit ganjil. Hasim tak pernah berpikir, bahwa dirinya pernah mengalami malam-malam yang buruk bersama perempuan itu. Dia merasa aneh, bahwa sejauh ini dirinya telah mengenal perempuan itu dengan cukup baik—sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kadang-kadang dia merasa perlu berterima kasih kepada ‘sopir taksi bangsat’ yang membuatnya bertemu dengan perempuan itu.

“Tukang servis kipas angin sepertiku, mana tahu hal-hal semacam itu,” tanggap Hasim—dan dia berusaha tersenyum. “Maksudku, malam buruk, tak ada malam buruk bersamamu, atau bersama siapa saja. Maksudku, hidupku ya begini. Tak jauh beda dengan para perantau di kota ini, punya sedikit pekerjaan dan merasa beruntung kalau sesekali masih bisa menikmati hiburan.”

 “Bukan itu,” perempuan itu menyela dan tiba-tiba tatapan matanya menjadi tampak serius. “Kau ingat, malam waktu pertama kali aku mengajakmu ke bar? Kita mabuk parah dan pulang ke sini. Ya, aku tidur di kasurmu.”

Dia tak menduga perempuan itu menyinggung peristiwa itu lagi. Apa yang dikatakan perempuan itu benar adanya. Namun, keduanya tak tahu menahu—lebih tepatnya tak ingat—siapa sebenarnya yang mengarahkan taksi dini hari itu ke rumah bobrok tempat Hasim tinggal selama ini.

“Yang paling kuingat siangnya. Aku terbangun dan melihatmu di situ, di kasur itu,” tanggap Hasim.

“Dan itu di sampingmu, kan? Tepat di sampingmu.”

Hasim menatap perempuan itu, menatap dinding kamarnya yang mengelupas di beberapa bagian, menatap kipas angin yang mendesis perlahan, menatap gambar dua pasang sepatu laki-laki dan perempuan hasil corat-coret anak usia sembilan tahun yang kerap berkunjung ke tempatnya—Hasim telah menggunting gambar itu dari lembaran kalender kedaluwarsa, membikinkan bingkai sederhana, dan memajangnya di dinding kamarnya. Hasim menatap perempuan itu lagi, lalu mengangguk perlahan. “Kita tidur bersama waktu itu.”

“Apa yang kau pikirkan setelah itu?”

“Khawatir.”

“Maksudmu?”

“Aku memikirkanmu dan benar-benar khawatir. Mungkin lebih tepatnya takut. Aku takut telah melakukan sesuatu di luar batas yang aku tak tahu. Kau tahulah, waktu itu .…”

Hasim tak melanjutkan kata-katanya dan dia lebih senang jika perempuan itu tak menyinggung peristiwa itu lagi.

“Kau tahu,” ujar perempuan itu kemudian. “Aku sering menangis setelah itu. Aku ingat, aku telah menamparmu dengan keras siang itu. Seharusnya aku tak melakukannya.”

Ada yang berubah dengan nada bicara perempuan itu dan Hasim berharap, itu sama sekali bukan penyesalan. Hasim telah menganggap tamparan keras itu sebagai sebuah hukuman atau peringatan: bahwa dia tak boleh mengambil kesempatan dalam situasi seperti itu.

“Aku tak keberatan kau menamparku,” ujar Hasim. “Sepertinya kau memang harus melakukannya.”

“Bukan, bukan begitu. Mestinya aku tak perlu menamparmu. Mestinya aku justru yang meminta maaf .…”

Hasim merasa kikuk ketika perempuan itu tiba-tiba menangis dan memegang tangannya, dan memeluknya, dan mengatakan sesuatu dengan tersendat-sendat bahwa dia menyesal, bahwa dia lelah dengan semua hal yang telah menimpanya, bahwa dia ingin berhenti.

“Aku ingin berhenti, Hasim. Ingin berhenti. Kau tahu, sewaktu anak itu tertidur dan aku menatap wajahnya lama-lama, aku selalu tak tahan. Aku selalu menangis .… Aku tak peduli lagi siapa yang akan jadi ayahnya nanti. Aku cuma ingin membuat dia lebih banyak tersenyum, gembira, dan … memaafkanku.”

Perempuan itu semakin tersedu. Hasim membalas pelukannya dan membiarkan perempuan itu menumpah-muntahkan perasaan apa saja di dekatnya.

Menjelang sore, pelan-pelan setelah semuanya mereda, mereka kembali berbincang sewajarnya. Hasim menawarkan diri untuk mengantar perempuan itu kembali ke kediamannya, tapi perempuan itu menolaknya. Dia katakan bahwa dirinya akan ke luar kota beberapa hari. Dia telah membawa pakaian dan lain-lain dan telah menitipkannya di rumah seorang teman sebelum mampir untuk menaruh kipas angin di tempat ini. Sambil menunggu taksi pesanan datang, perempuan itu meminta tolong kepada Hasim agar berkenan menjaga anaknya beberapa hari.

“Anak itu sudah biasa sendirian di kosan. Dia sudah bisa masak sekadar mi instan. Untuk uang makan sudah aku siapkan. Tolong sering jenguk dia, ya ….”

“Berapa hari kau akan pergi?” tanggap Hasim. “Kalau terus begini, sepertinya akan sulit untuk berhenti.”

Perempuan itu tercenung, sebelum kemudian tangan dan matanya memindai layar gawai. Keningnya mengedut ketika dia menekan fitur tertentu dan itu membuatnya segera meletakkan gawai di atas karpet.

“Tak lebih dari seminggu,” ujar perempuan itu. “Aku dapat pekerjaan bagus. Ini benar-benar kerja bermartabat. Aku punya kemampuan melayani orang, bisa jadi asisten pribadi, juga mengurusi acara-acara tertentu. Ini ada acara seminar bisnis, juga acara amal. Rasanya aku tak akan terperosok lagi.”

Hasim hanya mengangguk ringan.

“Kau tak percaya?”

Hasim memegang tangan perempuan itu—dan dia heran sendiri, bahwa jauh di dalam hatinya tengah mencemaskan sesuatu. Dia ingin menyampaikan hal itu, tapi sebuah taksi tiba-tiba menepi di depan rumah.

“Aku berangkat sekarang,” ujar perempuan itu.

Hasim mengekor langkah perempuan itu, bahkan dialah yang membukakan pintu taksi. Perempuan itu berterima kasih kepadanya seraya membisikkan sesuatu, “Jadilah ayah yang baik untuknya beberapa hari .…”

Hasim mengingat bisikan itu hingga keesokan harinya, hingga hari-hari berikutnya.

***

Hasim meletakkan kipas angin di pojok kamar dan menyalakannya. Udara gerah siang itu serta-merta berubah sejuk. Anak itu masih tertidur dengan kening sedikit berpeluh. Hasim tak berusaha membangunkannya. Dia berencana sebentar saja di tempat itu dan akan kembali sore hari untuk mengajak anak itu jalan-jalan. Sudah nyaris seminggu dia melakukan tugas sebagai ayah yang baik seperti yang diinginkan ibu dari anak itu tepat sebelum pergi. Selama beberapa hari, perempuan itu selalu menyempatkan diri menghubunginya, bertanya kabar ini-itu tentang anaknya, dan semuanya terasa baik-baik saja. Kini, ketika kembali berada di rumah petak, dia merindukan suara perempuan itu lagi—dia ingin perempuan itu segera menghubunginya agar dia bisa mengatakan hal-hal sepele: bahwa dirinya saat ini sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar, bahwa kipas angin itu sudah berhari-hari tidak rewel, bahwa dia saat ini sedang menatap foto seorang perempuan muda yang terpampang di dinding kamar. Dan satu lagi—jika situasinya memungkinkan—dia akan lebih berani mengatakan, bahwa dirinya sudah berusaha menjadi ayah yang baik.

Maka begitulah, ketika tiba-tiba gawainya berdering, dadanya berdebar-debar—debar yang menyenangkan.

“Ya, halo,” dia menyambut panggilan itu. Terdengar suara perempuan di ujung gawai, tapi jelas bukan suara perempuan itu. Dia tak menyiapkan apa-apa untuk mendengar informasi berikutnya selain prasangka baik: barangkali gawai perempuan itu tertinggal di suatu tempat, dan seseorang telah berbaik hati untuk memberitahunya.

Perempuan di ujung gawai mengaku sebagai seorang aparat. Dengan caranya yang tegas, tapi sopan mengatakan, bahwa perempuan itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah kamar hotel—dalam kondisi tak berbusana, aparat itu menambahkan dengan hati-hati.

“Karena penyebab kematiannya terasa tidak wajar, kami akan melakukan autopsi forensik,” jelas aparat itu.

Hasim terduduk di lantai, tubuhnya serentak terasa lunglai. Bahkan dia hanya bisa mendengarkan dalam diam. Pada saat itulah, bocah itu terbangun. Dia menggosok-gosok matanya dan memperhatikan sekitar.

“Apa ibu sedang menelepon?” tanya anak itu. “Aku mau bilang kepadanya, kalau kau sudah jadi ayah yang baik.”

Hasim hanya menggeleng. Menggeleng lemah, sampai kemudian memeluk anak itu erat-erat. ()

Kolomayan, 25 Januari 2026

Tjak S. Parlan
Latest posts by Tjak S. Parlan (see all)

Comments

  1. Ariyani Reply

    Cerita yang sangat bagus. Membuat pembaca masuk ke kisahnya dan akhir begitu tragis tak terbaca.

  2. Sugi Reply

    Ceritanya bagus sekali, Pakcik.

  3. Rio pratama Reply

    woppp baguss banget ceritanya, pelajaran nya dapat banget makasih pak telah menyajikan cerita sebagus ini

  4. zhyvent Reply

    ●Judul yang Reflektif
    ​Judul “Menjadi Ayah yang Baik” dipadukan dengan adegan seorang ayah yang bekerja sambil mengawasi anaknya, menciptakan kesan bahwa cerita ini akan mengeksplorasi sisi kemanusiaan yang hangat tentang tanggung jawab dan kasih sayang dalam bentuk yang paling sederhana.
    ​Cerpen ini terasa sangat membumi dan hangat, seperti sedang melihat cuplikan kehidupan nyata yang sering terlewatkan.
    ●Kepekaan Emosional yang Halus
    ​Meskipun baru di bagian awal, pembaca sudah bisa merasakan adanya kedalaman emosi antara Hasim dan sang anak.
    ​Kesunyian anak yang sibuk mencoreti kalender selama hampir dua jam menunjukkan karakter yang kontemplatif dan mungkin menyimpan rasa sepi.
    ​Interaksi singkat lewat pertanyaan Hasim menciptakan rasa penasaran (intrigue) bagi pembaca tentang dinamika keluarga mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!