
Beliau adalah ‘Ali bin ‘Utsman bin Abi ‘Ali al-Jullabi al-Ghaznawi. Semoga rahmat Allah Ta’ala diberikan kepada beliau. Kun-yah beliau, panggilan berdasarkan anaknya, adalah Abu al-Hasan. Beliau adalah seorang sufi yang alim dan makrifat kepada Allah Ta’ala.
Beliau adalah murid bagi Syaikh Abi al-Fadhl bin Hasan al-Khatli. Beliau juga bersahabat dengan banyak sufi yang lain. Di antara karya-karya yang menyebut namanya adalah salah satu kitab yang cukup terkenal, yaitu Kasyf al-Mahjub yang ditulis oleh Syaikh al-Hujwiri.
Kitab yang berisi bagian tasawuf itu, di antaranya, berisi tentang makrifat-makrifat mengenai hakikat segala sesuatu. Tentang substansi yang kalau ditelusuri pastilah berisi tentang Allah Ta’ala, bukan tentang apa dan siapa yang lain. Sama sekali bukan.
Beliau, Syaikh ‘Ali bin ‘Utsman al-Ghaznawi, berkata: “Aku bertanya kepada salah seorang sufi di antara para sufi, Syaikh Abu al-Qasim al-Karkani, tentang paling sedikitnya seseorang disebut faqir. Beliau menjawab bahwa ada tiga perkara yang menyebabkan seseorang itu disebut faqir.
Pertama, dia tahu dan bisa untuk menjahit pakaian dengan tangannya sendiri. Kedua, dia tahu dan kuasa untuk berkata dengan benar dan sanggup juga mendengarkan demikian. Ketiga, dia tahu dan kuasa untuk melangkahkan kakinya di atas bumi dengan benar.”
Setelah orang-orang itu pulang dan berkumpul dengan orang yang hadir di majelis tersebut, Syaikh ‘Ali bin ‘Utsman al-Ghaznawi berkata kepada mereka: “Wahai kawan-kawan, coba katakan makna yang diungkapkan Syaikh.” Mereka mengatakan: “MasyaAllah, sungguh bagus sekali.”
Yang dimaksud menjahit pakaian adalah menjahit karena kefakiran yang menderanya, sama sakali bukan karena perhiasan. Kalau menjahit karena kefakiran, kalaupun dia tidak fokus ke arah itu, maka dia sudah bisa dikatakan benar. Sudah sahih apa yang dikerjakannya.
Dan ungkapan yang dikatakannya dan didengarnya dengan kondisi rohani tertentu, tidak dengan angan-angan, itu juga sudah benar. Dia juga menggunakan kata-kata dengan benar dan penuh kesungguhan, sama sekali bukan dengan gurauan. Juga dipahami dengan kekuatan rasa dan cinta.
Mereka menyebut semua itu di hadapan Syaikh ‘Ali bin ‘Utsman al-Ghaznawi, apa tanggapan beliau? Beliau memberikan tanggapan: “Menurutku itu sangat benar. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kenyataan semua perkataan tersebut. Amin ya Mujibassailin.”
Di saat yang lain, beliau berkata bahwa suatu waktu beliau duduk di dekat kuburan gurunya, sendirian. Beliau melihat seekor merpati putih masuk di cungkup kuburan. Beliau melihat ke situ, tak ada apa-apa. Di hari kedua, beliau melihat lagi. Tak ada apa-apa. Demikian pula di hari ketiga. Sama.
Beliau takjub dan tercengang. Beliau kemudian bermimpi gurunya dan bertanya tentang hal itu. Gurunya menjawab: “Merpati putih yang kau lihat dalam mimpi itu adalah tulusnya perbuatanku di hadapan Allah. Dia datang tiap hari karena panggilanku di kuburku.” Wallahu a’lamu bish-shawab.
- SYAIKH ADIB KAMANDI - 6 March 2026
- Syaikh Ahmad as-Sarkhasi - 27 February 2026
- Syaikh ‘Ali bin ‘Utsman al-Ghaznawi - 20 February 2026
