Kala itu Hujan Belum Reda

“… TERU TERU BOZU, jadikan hari esok menjadi cerah, seperti langit dalam mimpi di suatu waktu …”

Sudah beberapa kali aku memarahi Momoko karena perkara ini. Bukan saja karena aku tidak menyukai lagunya yang membuat bulu kudukku meremang, melainkan juga yang dilakukannya itu menurutku sia-sia: menjahit dan menggantung boneka teru-teru bozu. Buktinya, mendung pekat yang menggantung, tak juga menyingkir dari langit.

Boneka yang menyerupai hantu kecil berkepala bulat dengan tubuh menjuntai tanpa kaki itu menggelantung di kusen jendela dapur yang berbatasan dengan taman. Angin dari luar membuatnya bergoyang perlahan. Gumpalan kapas yang Momoko jejalkan terlalu banyak di bagian kepala membuatnya tampak menekuk ke samping dengan ganjil seperti orang dengan leher yang patah. Mata dan lengkung senyum yang digambar Momoko tak menyelamatkan boneka itu dari kesan seram.

Suara nyanyian Momoko yang lirih dengan latar berita kriminal di televisi membuatku tambah merinding. Seorang pembunuh berantai masih berkeliaran di sekitar pemukiman kami. Korbannya rata-rata wanita muda seusia Momoko. Menurut berita, pola modus operandinya sulit dilacak karena tersangka memilih target dan waktu beraksi secara acak, bahkan ketika siang hari.

“Semakin menakutkan saja. Oneechan, apa belakangan ini kau merasa ada yang memerhatikan kita?” tanya Momoko usai menggantung boneka-boneka putih mungil itu.

“Maksudmu?”

“Belakangan ketika aku pulang kursus, aku merasa ada yang mengikuti. Kadang ketika di rumah sendirian pun aku juga suka merasa ada yang memerhatikanku.”

“Kurasa perasaanmu saja. Kau kan memang suka berkhayal dan percaya tahayul.”

Ia hanya tergelak. Siaran televisi sudah beralih pada ramalan cuaca yang mengabarkan bahwa curah hujan sebesar 50 mm selama beberapa hari ke depan. Aku tidak begitu paham maksudnya, namun yang kutahu, sepanjang hari ini futon tidak bisa dijemur. Kain cucianku juga sudah berbau apek. Matahari sudah lama tidak muncul di Prefektur Kagawa. Terpenting, hatiku juga tidak dalam kondisi baik-baik saja ketika hujan tiba.

Momoko, adikku adalah wanita muda yang sedang ikut kursus masuk universitas. Ia tinggal bersamaku dan Yoshito, suamiku sejak sepuluh tahun lalu. Pernikahanku dengan Yoshito tidak bisa dikatakan baik, namun juga tidak dalam kategori rusak. Ibarat shoujin ryouri, hambar.

Sepuluh tahun pernikahan kami, rahimku belum terisi oleh janin. Kata dokter, sperma Yoshito tidak memiliki ekor sehingga tidak bisa membuahi sel telurku. Tapi kata mertuaku, penyebab ketidakhamilanku adalah karena aku terlalu banyak pikiran. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku sudah menerima hidupku apa pun kondisinya. Entah dengan Yoshito.

Momoko adalah anak periang. Tahun ini ia baru berumur sembilan belas tahun. Jika tidak sedang kursus, ia bekerja paruh waktu di sebuah restoran sebagai pelayan, atau bersantai sepanjang hari. Katanya ia belum mempunyai pacar. Tiap kutanya, ia menjawab tidak tertarik pacaran karena sibuk menjagaku. Entah dari mana pula ia belajar omong kosong itu. Yang ada, justru aku yang sibuk menggantikan ibu menjaganya.

“Hari ini kau memasak apa, Hiroko-Nee?” tanyanya sambil memeluk dan mencium ketiakku.

Aku tidak mengacuhkan Momoko, melainkan tetap asyik memotong daikon. Bunyi pisau dan talenan kayu beradu seperti genderang den-den daiko-nya Raijin.

Misoshiru, ya? Apa yang bisa kubantu?”

Aku diam. Pisau tadi kuletakkan di atas talenan. Kata-kata itu yang kutunggu. Aku memutar badan melepaskan pelukannya. Kutatap mata Momoko. Ia tertawa, lesung pipinya dalam. Manis sekali. Memang pembawaannya yang ceria membuat Momoko sering tidak peka terhadap kondisi sekitar.

“Bantu saja aku menjemur pakaian.”

“Tapi, mau hujan.”

“Lakukan saja yang kusuruh. Nanti kalau hujan, angkat lagi,” jawabku tak acuh.

Momoko mendengus. Andai bukan adikku satu-satunya, pisau yang tergeletak di atas talenan sudah menancap ke lesung pipinya yang manis itu.

“… Teru Teru Bozu, jadikan hari esok menjadi cerah, tapi jika awan menangis, aku akan memotong kepalamu.” Ia bernyanyi sambil menjemur baju kami satu per satu. Belum selesai bernyanyi, ia bertanya padaku, “Kau benaran tidak mau percaya pada teru-teru bozu lagi, Oneechan?”

“Wanita berumur tiga puluhan bodoh mana yang memercayai itu?”

“Aku percaya itu, meskipun masih belum berumur tiga puluhan tahun.”

“Itu karena kau bodoh.”

“Aku begini karena kau yang mengajarkannya.”

Aku diam. Asap panci yang mengepul seakan membawaku kembali ke masa silam ketika kami masih kanak-kanak. Kami, anak-anak di desa suka membuat teru-teru bozu sebagai omamori (jimat) ketika musim hujan tiba dan menggantungkannya entah di beranda, dapur, pohon, dan di mana pun bisa digantungkan.

“Berhentilah membuat boneka itu! Jangan-jangan kau tidak lulus tes masuk universitas karena keasyikan membuat boneka itu terus,” ujarku ketus. Momoko tidak menjawab. Dia tidak lagi tersenyum sambil membawa keranjang cucian kain yang sudah kosong masuk.

“Maaf. Bukan maksudku,” ucapku dengan suara tercekat.

“Tidak mengapa, Oneechan. Tidak mengapa.”

Momoko tersenyum yang lebih seperti terpaksa. Kebiasaan membuat teru-teru bozu itu diturunkan oleh ibu kami. Aku pun begitu dulunya. Setidaknya sampai hari terkutuk itu terjadi.

***

Hari itu, hujan deras sekali. Kami menapaki dengan hati-hati undakan ke kuil yang licin. Aku berjalan dipegangi ayah.

“Kau cantik sekali mengenakan shiromuku ini, putriku,” ucap ayah. Matanya basah.

Wataboshi-ku hampir basah kuyup andai tak dipayungi ibu. Di kuil, Yoshito dan keluarganya sudah menunggu. Ia terlihat gagah dalam balutan hakama hitam. Hujan turun demikian rapat. Ibu teringat akan teru-teru bozu yang dijahitnya.

“Biar kuambil dulu. Semoga Kaminari-Sama mau menghentikan hujan dulu sementara.” Ia berjalan tergesa sembari menyeret geta-nya. Payung hitam itu dipeganginya dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi mengangkat rok kimono-nya agar tidak terkena cipratan genangan.

“Pernikahan anak kita hanya sekali. Aku ingin pernikahan yang berkesan baginya. Lagipun upacara belum dimulai,” tambahnya.

Setelah mengucapkan itu, ia langsung bergegas menuruni tangga kuil menuju mobil. Ayah sudah melarang, namun ibu bersikeras.         

Ayah pasrah. Ia tahu, mendebat ibu hanya akan memperpendek usianya. Ibu mampu membalas sepuluh kali lebih banyak argumentasi ayah, dan ia juga mampu membuat ayah hilang akal karena didiamkan sepanjang hari. Alhasil, daripada ibu uring-uringan tidak jelas, ayah hanya bisa mengiyakan.

Sambil menunggu upacara dimulai, aku melihat Yoshito menatapku dengan tatapan lain, seperti serigala hendak menerkam mangsa. Aku menundukkan kepala, menenggelamkan wajahku dalam wataboshi, malu. Pernikahan secara omiai atau dijodohkan ini membuat kami belum terlalu mengenal satu sama lain.

Di luar, orang-orang mendadak ribut. Ayah berdiri dan menggeser shoji, kemudian terduduk mendengar kabar ibu jatuh tergelincir dari undakan yang tinggi. Ia terguling hingga undakan paling bawah. Kepalanya membentur batu. Seketika duniaku gelap. Wajah Yoshito tak terlihat lagi. Hanya kelam yang pekat.

***

“Kau tahu, Hiroko-Nee, semua itu bukan salahmu. Tidak ada yang pernah menyalahkanmu.” Pelukan Momoko membuyarkan lamunanku dan menyeretku kembali ke masa kini. Uap dari panci sudah mengaromakan bau harum.

“Ah, seperti kau paham saja,” tukasku.

“Aku paham. Kau menyalahkan dirimu. Karena ibu meninggal pada hari pernikahanmu ketika mau mengambil boneka teru-teru bozu. Ayah menjadi depresi dan meninggal tak lama kemudian. Hingga kau trauma dengan hujan dan teru-teru bozu.”

Aku diam. Tidak membantah, juga tidak mengiyakan.

“Kau harus maju, Oneechan. Hidupmu harus berjalan terus.”

Aku lagi-lagi diam.

“Sampai kapan kau mau memercayai boneka itu?” ujarku akhirnya.

“Kau tahu, setidaknya sampai hujan di hatimu reda dan kau bisa kembali ceria.”

***

 Hari ini Yoshito flu. Kemarin sepulang kerja, ia kehujanan, basah kuyup dan lupa membawa payung. Kulihat ia seperti mau mati. Padahal, hanya flu biasa. Panasnya masih dalam batas toleransi. Kata orang, laki-laki memang demikian, suka belagak seperti mau mati hanya karena demam kecil.

Yoshito adalah lelaki yang kaku, kadang keras. Di rumah, sangat jarang sekali kami mengobrol mesra seperti suami-istri kebanyakan. Terkadang aku merasa capai mengurus rumah tangga. Ingin rasanya kembali bekerja di luar seperti dulu. Tetapi Yoshito tidak memberiku izin sehingga kami sering bertengkar karenanya. Aku muak dengan sikap Yoshito yang acuh tak acuh. Namun ketika di atas kasur, ia pun bisa berubah menjadi lelaki yang romantis, meskipun kadang suka bermain kasar. Ia bisa membuatku melayang dengan sentuhan dan kecupannya. Mengingat wataknya yang sukar ditebak inilah yang membuatku sering merasa bahwa tugasku sebagai istri hanyalah mengurusi kebutuhan dan keperluannya saja, termasuk menjadi wadah untuk air asinnya itu.

Kepalanya sudah kukompres, pun tadi malam aku memeluknya dan tidur dalam keadaan sama-sama telanjang, meskipun akhirnya kami tidak jadi tidur dan berakhir dengan adegan ranjang. Namun, panas Yoshito tidak turun juga. Aku khawatir dengan kondisinya.

Selepas mencuci dan memasak sarapan, aku pergi belanja. Beberapa hari lagi akan sangat dingin dan berangin, sedangkan persediaan makanan penghangat kami sudah mulai habis.

Jalan lengang, mendung. Beberapa orang tua berpayung sambil membawa anjingnya. Penjual ubi bakar juga beberapa kali lewat meninggalkan aroma yang membuat mengantuk. Aku buru-buru pulang setelah mendapatkan semua yang kucari.

Tiba-tiba hujan lebat turun tak terduga. Aku merogoh tas belanja mencari payung lipat. Tidak kutemukan. Barangkali ketinggalan di rumah setelah kupakai tadi malam ke apotek untuk membeli obat untuk Yoshito. Aku pun berteduh menunggu hujan reda di depan halte. Sialnya, ponsel juga ketinggalan di rumah.

Lagi-lagi aku teringat hari terkutuk itu. Menunggu hujan berhenti terasa sangat menyiksaku. Ketika hujan berubah menjadi gerimis, kuputuskan untuk menerobosnya. Tak lagi kupedulikan badanku yang basah. Aku terus berjalan sambil menjinjing keranjang belanjaan. Dua kali belokan lagi sudah sampai di apato kami. Langkah kaki kupercepat. Sial, kali ini kunciku yang tercecer entah di mana. Barangkali ketika merogoh tas mencari payung tadi.

“Hujan sialan!”

Pintu kuketuk, tidak ada jawaban. Aku merutuk. Kuketuk lagi lebih keras, masih tidak ada jawaban. Karena lama tak terdengar suara apa pun, aku mulai cemas dan teringat berita pembunuh berantai yang berkeliaran belakangan. Dengan panik pintu kugedor kuat. Namun, yang keluar bukan Yoshito ataupun Momoko, melainkan tetangga sebelah apato.

Seorang lelaki muda berpenampilan kusut. Aroma tubuhnya menyengat hidung. Tampangnya seperti otaku pada umumnya, memandangku dengan tatapan tidak suka. Aku menatap dengan pandangan memelas. Seakan mengerti, si otaku membantu membuka pintu. Tidak berhasil. Kemudian ia mengambil ancang-ancang, dan mendobrak pintu. Dalam hati aku hanya berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

Kami masuk dengan hati-hati. Si Otaku tetap mendampingi dengan posisi waspada dan kuda-kuda ala karateka. Ia berjinjit waspada. Sedang aku buru-buru masuk ke dalam. Tak mau kehilangan waktu sedetik pun yang berharga.

Di atas tatami ruang tamu, tubuh Yoshito terbaring. Badannya tergeletak di sebelah meja kotatsu yang sudah terbalik dan juga basah bersimbah darah. Luka menganga terlihat di lehernya. Darah membasahi tatami. Si Otaku berteriak kaget dan berlari keluar. Aku menjerit, melengking, hingga suaraku hilang.

Tubuh Yoshito kupeluk. Darahnya yang amis menempel di bajuku. Aku tidak peduli. Hanya ada rasa frustrasi dan sedih yang saling bercampur-baur menyesaki dadaku. Kuguncang-guncangkan tubuhnya, berharap ini hanyalah acara televisi semata yang suka mengerjai orang. Namun, tubuh Yoshito tetap diam tidak bergerak.

Dalam tangis berkepanjangan itu aku teringat Momoko, adikku. Kuletakkan sebentar tubuh Yoshito, dan kuseret langkahku yang sudah tidak bertenaga lagi mencari Momoko. Kubuka pintu kamar, kosong. Dapur, juga kosong. Kuseret kakiku menuju pintu ke beranda belakang tempat menjemur pakaian.

Kali ini aku tak sanggup berdiri sama sekali. Kepalaku pusing, terasa semakin berat dan dunia terasa berputar. Adikku tersayang, Momoko terlihat menyeramkan. Rambutnya kusut, mukanya lebam. Badannya penuh darah, dan dari pangkal pahanya mengalir darah yang kemudian menetes dan menggenang di lantai, bercampur dengan cairan kuning, tempat sebilah pisau buah tergeletak di tengahnya.

Sambil memeluk kakinya, aku merutuki Momoko. Bukankah ia berjanji akan terus menggantung teru-teru bozu sampai hujan di hatiku reda? Ia ingkar. Hujan itu belum reda, bahkan menderas, tetapi ia malah menjelma teru-teru bozu yang bergantungdi kusen pintu. [*]

Daftar Istilah:

  1. Teru-teru bozu: Boneka kain berbentuk biksu gundul yang dianggap sebagai jimat penangkal hujan
  2. Oneechan: Kakak Perempuan
  3. Futon: Kasur lipat Jepang
  4. Shoujin ryouri: Makanan vegan yang menggunakan bahan-bahan alami dan berkualitas terbaik yang biasa disajikan di kuil. Memiliki makna simbolis, seperti ketidakserakahan, kedisiplinan, dan tanggung jawab 
  5. Nee: Singkatan dari oneesan/chan yang berarti Kakak Perempuan. Hiroko-Nee berarti Kak Hiroko.
  6. Daikon: Varietas lobak putih Asia yang panjang dan terkadang disebut juga lobak Jepang.
  7. den-den daiko: Alat musik tradisional Jepang yang berbentuk drum pelet genggam.
  8. Raijin: dewa petir, guntur, dan badai dalam mitologi Jepang dan agama Shinto
  9. Misoshiru: Sup tradisional Jepang yang terbuat dari kaldu atau “dashi” yang dilarutkan dengan pasta miso.
  10. Shiromuku: kimono pengantin wanita tradisional Jepang yang berwarna putih bersih (shiro).
  11. Wataboshi: tudung kepala pada pengantin wanita yang dikenakan dengan shiromuku.
  12. Hakama: Pakaian resmi pria untuk menghadiri acara formal, seperti pesta pernikahan, upacara minum teh, dan seijin shiki.
  13. Kaminari-Sama: nama lain dari Raijin, dewa guntur, hujan
  14. Geta: Sandal jepit khas jepang yang terbuat dari kayu
  15. Kimono: Pakaian tradisional Jepang
  16. Omiai: Tradisi perjodohan di Jepang
  17. Shoji: Pintu geser Jepang.
  18. Apato: Apartemen sederhana Jepang.
  19. Otaku: Maniak budaya populer Jepang seperti anime, manga, game, musik, dan sebagainya.
  20. Tatami: semacam tikar tradisional Jepang yang dibuat dari jerami.
  21. Kotatsu: Meja lesehan di ruang tamu Jepang yang memiliki penghangat di dalamnya. Di Indonesia dikenal dengan meja Oshin karena dipopulerkan pada serial Oshin.


WS. Djambak
Latest posts by WS. Djambak (see all)

Comments

  1. Risa umami Reply

    Ga ada yang perlu di komen

  2. Risa umami Reply

    Emm

  3. Destya Reply

    Ceritanya bagus,alurnya ceritanya nyambung

  4. Ann. Reply

    Momoko.. 😔🥀

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!