Syaikh Abu al-Fadhl al-Khatli

Beliau adalah Muhammad bin al-Hasan al-Khatli Abu al-Fadhl, bukan Syaikh Abu al-Fadhl Hasan as-Sarkhasi. Beliau wafat di desa Bait al-Jin, salah satu desa di puncak Damaskus, Iran.

Dalam Kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri menulis: “Aku mengikuti beliau di dalam thariqah. Beliau sangat alim di dalam ilmu tafsir dan di dalam ilmu sejarah. Beliau adalah murid dari Syaikh al-Hushri, seorang sufi yang memegang rahasia beliau. Beliau termasuk kawan dari Syaikh Abu ‘Amr al-Qazwini dan Syaikh Abu al-Hasan bin Salibah.”

Beliau ‘uzlah, mengasingkan diri dari manusia di sebuah kamar, sampai selama enam puluh tahun. Beliau betul-betul menjauh dari makhluk, terutama manusia. Beliau sering ada di Gunung Lukam, sebuah gunung yang banyak dihuni oleh para wali yang ada di Suriah dan Turki.

Beliau banyak dianugerahi karamah oleh Allah Ta’ala, kejadian luar biasa yang terjadi pada para wali, juga ayat-ayat yang sangat banyak. Akan tetapi beliau tidak mengenakan pakaian-pakaian para sufi. Beliau cuma agak menyerupai para sufi. Dan Syaikh al-Hujwiri tidak melihat seorang pun yang lebih hebat ketimbang beliau.

Beliau pernah mengatakan bahwa dunia ini ibaratnya hanyalah satu hari dan di hari itu para sufi berpuasa. Orang berpuasa haruslah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta’ala agar puasanya tidak batal secara hakiki. Sementara di akhirat waktunya berbuka dengan sepuas-puasnya.

Syaikh al-Hujwiri berkata bahwa pada suatu hari saya pernah menuangkan air di tangannya. Di dalam hatiku muncul sebuah ungkapan: “Jika berbagai macam perkara ditentukan dengan berbagai ketentuan Allah Ta’ala, pembagian dan waktunya juga ditentukan, kenapa para pemuda kok tak berkhidmat kepada para syaikh untuk mengharapkan karomah?”

Beliau kemudian menanggapi dengan ramah: “Wahai anakku, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Segala sesuatu ada sebabnya. Kalau Allah Ta’ala berkehendak untuk memberikan kekuasaan pada seseorang, maka pertama-tama Allah Ta’ala akan memberikan cara untuk bertaubat.

Kemudian orang itu akan menyibukkan diri dengan berkhidmat kepada para wali. Hingga khidmat itu akan menjadi sebab datangnya karomah kepada dirinya.” Begitulah sebab datangnya karomah kepada orang itu. Jadi, sangat bisa diterima oleh rasionalitas manusia.

Di waktu yang lain, Syaikh al-Hujwiri mau pergi ke Damaskus dari Desa Bait al-Jin. Saat itu adalah musim penghujan. Hujan datang dengan sangat deras. Beliau berjalan di atas lumpur yang becek dengan sangat lelah. Beliau memandang Syaikh Abu al-Fadhl al-Khatli yang sandalnya kering.

Syaikh al-Hujwiri berkata dalam hatinya: “Andaikan hujan tidak membuat jalanan becek.” Syaikh Abu al-Fadhl menanggapi dengan lisan: “Kuangkat kecurigaan jalan tawakkal, kujaga batinku dari jalan binatang buas, maka Allah Ta’ala dari lumpur. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!