Perempuan di Kafe

etsy.com (Frida’s Dream print)

 

Aku suka selingkuh, dan aku sudah lama melakukannya dengan beberapa perempuan. Kendati aku menyukainya, aku tidak ingin terus-menerus terlibat dalam perselingkuhan. Aku telah berupaya untuk tidak lagi selingkuh, tetapi apalah daya—payudara dan kelangkang Sindi terasa kian menggairahkan semenjak suaminya sering pergi ke luar kota. (Lelaki bodoh mana yang mau melepaskan itu?) Namun, sekali lagi, aku ingin berhenti selingkuh, bahkan sekalipun aku disebut lelaki bodoh.

Aku harus meninggalkan dunia perselingkuhan, sebab dan rasanya begitu-begitu saja: mendebarkan tetapi menyenangkan. Aku pikir, menghabiskan waktu lebih banyak di rumah dengan membaca buku-buku atau bermain bersama cucu adalah sesuatu yang lebih berarti ketimbang selingkuh, apalagi ada banyak buku di rak yang belum sempat kubaca. Barangkali, cucuku yang masih kelas dua sekolah dasar itu bisa tertular karena melihat kakeknya banyak membaca; bukankah anak-anak perlu diajarkan rajin membaca—bukan pandailah selingkuh—sejak kecil?

Kesukaanku berselingkuh telah terawat selama puluhan tahun, bahkan jauh sebelum aku menikah. Istriku yang sekarang adalah hasil dari perselingkuhan. Saat pacaran dengan Linda, aku main serong dengan Mariam, seorang janda beranak satu—istriku yang sekarang. (Aku menyamarkan nama menjadi Linda, Sindi, Mariam dan nama-nama tokoh lain dalam cerita ini.) Kami sering bercinta, hingga suatu hari Mariam hamil lantas mendesakku agar segera menikahinya. Aku telah berupaya mengelak desakannya sebab aku lebih suka membayangkan perempuan lain yang menjadi istriku, tetapi akhirnya aku tak bisa lari dari tanggung jawab. Hubunganku dengan Linda terpaksa berakhir, dan dia menghadiahiku beberapa tamparan dan makian, setelah dia tahu aku akan menikah dengan Mariam.

Kendati hubunganku dengan Linda sudah berakhir dan aku menikahi Mariam, kehidupan rumah tangga tak mampu membikin aku jadi suami yang setia. Tanpa sepengetahuan Mariam, aku berselingkuh dengan beberapa perempuan, dan bercinta dengan Sindi adalah yang paling menyenangkan. Aku selingkuh tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan aku kerap merasa hebat karena mampu menaklukkan perempuan. Ya, aku memang bukan penganjur feminisme.

Namun beberapa minggu belakangan ini aku gamang. Aku mencoba supaya tidak lagi selingkuh, bahkan saat Sindi memintaku ke rumahnya. Tetapi, apa lacur, aku lebih sering gagal dan penuh girang menemui Sindi dan Rika dan Berna. Ah, aku benar-benar jalang.

Niat tetaplah hanya niat, ia tidak pernah benar-benar berhasil membawaku jauh dari perselingkuhan, setidaknya hingga sekarang. Walau niatku itu gampang goyah dan tidak seperti matahari saat kemarau, aku tetap bersyukur sudah memiliki dan merawatnya di masa kegamanganku ini. Aku tak tahu hidayah atau jenis setan apa yang merasukku. Barangkali keadaan rumah tangga anakku yang berantakan telah mendorongku untuk berhenti selingkuh. Anakku satu-satunya (ya, aku punya dua anak, tetapi yang satu lagi adalah anak tiri. Masing-masing kami—aku dan anak tiriku­—tidak sudi menyebut “anak” dan “ayah”) hampir bercerai dengan istrinya—tampaknya mereka akan benar-benar bercerai. Istrinya memergokinya selingkuh dengan teman sekantornya di sebuah hotel di luar kota. Terkadang aku tersenyum-senyum sendiri melihat kelakuan anakku itu. Aku pikir dia telah mewarisi sifatku yang suka selingkuh, tetapi dia kurang lihai bersiasat. Aku sering melihat anakku itu yang tampak sedih setelah kekusutan rumah tangganya terjadi. Saat aku bertanya tentang bagaimana perasaannya, dia mengatakan bahwa dia cemas jika akhirnya berpisah dengan istriya dan itu berdampak buruk kepada anak satu-satunya—cucu yang kusayang. Mendengar itu, aku menjadi takut jika kelak aku bisa saja senasib dengan anakku yang malang itu. Aku membayangkan sesuatu yang seram menimpaku bila aku bercerai dengan istriku lantaran perselingkuhanku terbongkar. Aku tak ingin itu terjadi.

Aku membicarakan niatku itu dengan beberapa teman dekat yang sesungguhnya sejak awal mereka sudah tahu tingkahku yang gemar main perempuan. Mereka antusias dan mendukungku, seraya mengajukan kiat-kiat yang mereka anggap jitu. “Sejak dulu aku sudah ingatkan. Akhirnya kau sadar juga. Perbanyaklah beribadah, Kawan. Selingkuh itu dilaknat Tuhan. Dekatkan dirimu kepada Tuhan,” kata seorang teman dekatku asal Bandung yang terdengar seperti pemuka agama. Temanku yang lain di Jakarta mengingatkan supaya aku giat berolahraga, “Bermain bulu tangkis, misalnya.” Menurutnya, olahraga mungkin bisa mengalihkan perhatianku sehingga lama-kelamaan aku bebas dari selingkuh. Temanku yang lain lagi menyarankan…. Namun, semua saran mereka menjadi omong kosong belaka dan semuanya gagal, dan aku tetap mengunjungi Sindi—selingkuhan yang paling aku dambakan.

Aku baru saja selesai membaca sebuah buku yang menceritakan kehidupan beberapa perempuan. Dalam buku itu, penulis mengulas kisah hidup perempuan dari catatan-catatan harian mereka, antara lain keluhan atas pekerjaan yang biasa perempuan lakukan di rumah hingga protes terhadap tugas-tugas kuliah yang menyebalkan dan dosen-dosen cabul. Sesungguhnya aku hanyut di hampir semua halaman buku, namun aku lebih tertarik pada bagian yang mengisahkan seorang janda yang suka bertualang cinta.

Janda itu bernama Nirmala. (Penulis buku itu telah menyamarkan namanya, maka aku tak perlu lagi melakukan itu). Suaminya mati ditabrak truk, dan kenyataan itu adalah kesempatan bagi lelaki yang penasaran. Setahun menjanda, Nirmala mulai merindukan sentuhan lelaki.

Nirmala seumpama kembang bermahkota indah yang menguarkan aroma khas, dan para lelaki bagai kumbang yang singgah dan menyesap sari bunga. Nirmala mendapatkan apa yang dia rindukan. Nirmala dan lelakinya bercinta dalam gelora tinggi. Di lain waktu, Nirmala juga bercinta dengan lelaki lain. Bahkan dalam buku itu dituliskan bahwa Nirmala pernah bercinta dengan enam lelaki yang berbeda dalam kurun kurang dari dua puluh jam. Nirmala sungguh hebat, bukan?

Nirmala hamil saat dia gemar bercinta dengan berganti-ganti lelaki, namun dia tidak tahu pasti siapa penyumbang benih dalam rahimnya. Dia hanya bisa menerka, dan dugaan terbaiknya adalah: di antara belasan yang tidur dengannya dalam waktu hampir bersamaan, entah siapa satu dari empat pemilik mani yang membuatnya hamil. Atas dugaan belaka itulah Nirmala menuntut satu per satu dari keempat lelaki itu agar menikahinya. Keseluruhan mereka sempat menolak—bahkan masing-masing mereka memukul janda yang hamil itu hingga wajahnya lebam—walau pada akhirnya salah seorang dari keempat lelaki itu menikahi Nirmala.

Setelah menikah, Nirmala tidak lagi bercinta dengan lelaki selain suaminya. Itulah yang bikin aku tertarik. Sayangnya, buku itu tidak menuliskan bagaimana Nirmala bisa setia.

Aku pikir aku perlu berbicara dengan Nirmala. Barangkali dia mau berbagi cerita lebih jauh atau bisa membantuku lepas dari jerat perselingkuhan.

Pesan masuk ke kotak surat elektronikku: sebuah surat balasan dari penulis buku yang mengisahkan Nirmala. Itu adalah surat balasannya yang keempat setelah aku mengirimkan delapan surat kepadanya. Tiga surat balasan sebelumnya berisi penolakan. Si Penulis mengatakan dalam suratnya bahwa ia tak berhak membocorkan identitas narasumber yang kisah hidupnya ia tulis. Katanya itu etika seorang peneliti, dan ia tak ingin lancang dengan begitu saja melanggar etika itu. Tetapi ketulusan dan kekukuhanku mungkin telah membuatnya berpikir hingga enam belas kali.

Surat balasan keempat itu sungguh melegakanku dan aku terperanjat saat membacanya. Si Penulis buku itu akan mengupayakan agar aku dan Nirmala bisa bertemu. Ia segera mengabarkan padaku setelah meminta persetujuan Nirmala.

Tiga hari kemudian, kabar yang kunanti datang dari si Penulis. Itu kabar gembira. Nirmala bersedia bertemu denganku. Si Penulis menginstruksikan bahwa Jumat sore pekan depan pukul setengah enam, aku dan Nirmala akan bertemu di sebuah kafe.

Aku mengenal kafe itu dan beberapa kali telah menyesap kopi di sana. Letaknya tidak jauh dari rumah, sekitar lima belas menit mengendara mobil. Ia berada beberapa meter dari pertigaan jalan yang tak begitu padat. Aku menyukai area parkir kafe yang lumayan luas dengan beberapa pohon saga tumbuh di tepi lahan membuat udara menjadi segar dan di dekatnya tetap rindang walau matahari terik. Bebijian saga berwarna merah jatuh dan berserakan di tanah tampak indah di mataku.

Pada hari pertemuan, aku sengaja datang lebih awal. Sebelum bertemu Nirmala, aku ingin menikmati kopi dan membaca buku yang kafe sediakan bagi pelanggan. Satu atau dua jam bukanlah waktu yang panjang bagiku untuk menunggu jika kopi dan buku menemani.

Halaman demi halaman buku tanpa terasa telah mengantarku ke pukul lima sore. Suasana kafe semakin ramai walau tidak bisa disebut padat. Beberapa bulan aku tak berkunjung, kafe ini semakin laris saja.

Seorang perempuan berkaus hijau bercelana jins hitam melangkah masuk. Aku memperhatikan lebih jeli, dan, ah, dia adalah istriku. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa dia ke sini. Dia melihatku lantas menghampiri. Wah, aku terkejut dan tak habis pikir mengapa pula istriku berpakaian persis dengan apa yang ditulis si Penulis dalam suratnya bahwa Nirmala akan mengenakan kaus hijau dan celana jins hitam saat menemuiku di kafe ini.

“Pa, mengapa di sini?”

Aku gelagapan. Istriku mengulang pertanyaannya.

“Minum kopi sambil baca buku,” jawabku.

“Di rumah kan bisa.”

“Ingin suasana lain, Ma. Mama sendiri mengapa ke sini?”

“Mau bertemu teman, Pa.”

“Janjiannya jam berapa?”

“Setengah enam. Sebentar lagi.”

“Kalau begitu tunggu dan pesan kopi, Mama.”

Istriku memalingkan wajahnya ke arah pelayan sembari mengangkat tangan kanannya sebagai tanda ia menginginkan sesuatu. Pelayan segera mendekati kami, sementara aku tak henti memikirkan pakaian istriku yang sama dengan yang akan Nirmala kenakan. Apa istriku adalah Nirmala, aku membatin.

Aku sangat gelisah sehingga menjawab sekena saja bahkan melantur ketika menanggapi omongon istriku.

Aku berdiri dan berjalan ke toilet. Di toilet, aku memeriksa kembali isi surat si Penulis melalui ponselku, dan ternyata benar bahwa Nirmala akan pakai kaus hijau dan celana jins hitam saat menemuiku. Sial.

Aku kembali ke istriku membawa kecemasan yang bertambah hingga ia mengira aku sakit. Sebelum akhirnya istriku mengajak pulang, sepanjang waktu aku menjadi pendiam.

“Kita pulang saja. Sudah lewat sejam aku menunggu, dia tak datang pula. Papa juga kelihatannya sakit. Wajah Papa pucat.”

Aku menurut saja.

Setelah membayar tagihan, kami ke luar kafe menuju parkiran. Aku melangkah dengan rikuh. Pikiranku amat gusar.

 

Jakarta, Desember 2019

Jasman Fery Simanjuntak
Latest posts by Jasman Fery Simanjuntak (see all)

Comments

  1. Susilo Suharsono Reply

    Tak terduga, bikin kaget saja.

  2. Zulayy Reply

    Duh, duh, ternyata

  3. Riil Fiksi Reply

    Alur ceritanya sudah tertebak. Tapi tetap menarik untuk dibaca.

  4. Melia Fitrianingsih Reply

    gempar menggelegar

  5. kleey Reply

    menarik! goodjob author!

  6. Anonymus Reply

    Apakah nirmala yang diceritakan dalam buku yang dibaca si tokoh itu istrinya? Kalau iya sudah benar dugaan saya dari awal.

  7. Rumah Jingga Reply

    Sudah bisa ditebak sebelum ending

  8. Frederica Reply

    Wah, saya masih penasaran bagaimana istrinya (Nirmala) berhenti selingkuh.

  9. Nandito A.P Reply

    Plot twist terbaik haha, cerita yang sangat amat menarik.

  10. Azrul Reply

    Pasangan mencerminkan diri

  11. Kholil Reply

    mantap bung

  12. stev Reply

    nirmala oh nirmala, kamu cerimanan

  13. Jasman Simanjuntak Reply

    Saya berterimakasih atas pemuatan cerita ini dan atas respons pembaca. Salam.

  14. Felix Reply

    Wow, cerita yg menarik banget

  15. Rin Reply

    keren

  16. Bisma Kalijaga Reply

    Sudah kuduga
    Tema ceritanya kreatif bung.

  17. Mega Reply

    ceritanya asik. suka dengan alurnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.