Abu Syu’aib al-Mishri

pinterest.com

 

Beliau adalah Shalih Abu Syu’aib al-Muqanna’ al-Mishri. Lahir dan tinggal di Mesir. Segenerasi dengan Syaikh Abu Sa’id al-Kharraz. Hal itu berarti menegaskan bahwa beliau hidup di tahun 200an Hijriah.

Betapa sangat gigih beliau menempuh perjalanan rohani, melebihi rata-rata kaum sufi yang lain. Bayangkan saja, beliau melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali. Tidak tanggung-tanggung, rukun Islam yang kelima itu ditempuh dengan berjalan kaki dari Mesir ke Makkah.

Dengan rutin beliau memulai ihram di Baitul Maqdis. Kemudian menyusuri Lembah Tabuk dengan sepenuhnya tawakal kepada Allah Ta’ala dalam pemahamannya yang paling harfiah. Artinya adalah bahwa dalam menempuh perjalanan ibadah haji itu beliau tidak membawa bekal apa pun, murni menyerahkan nasib dirinya kepada hadiratNya. Tawakal “buta”, tidak sebagaimana kebanyakan orang lain yang berikhtiar terlebih dahulu baru kemudian tawakal.

Ada sebuah kisah yang sangat menarik, setidaknya bagi saya pribadi, tentang beliau ketika menunaikan ibadah haji untuk terakhir kalinya. Pada saat itu, di atas hamparan padang sahara yang sangat luas, beliau melihat seekor anjing yang sedang didera oleh dahaga yang sangat menyiksanya. Dari saking hausnya, binatang yang dikenal dengan kesetiaannya itu terus-menerus menjulurkan lidahnya.

Karena tidak kuat menahan gelombang kasih-sayang terhadap binatang yang sangat lemah dan tidak berdaya ditikam dahaga itu, beliau lalu menjerit sekuat-kuatnya dengan perasaan yang sangat pilu: “Siapa yang mau membeli pahala tujuh puluh kali hajiku dengan seteguk air?”

Ada seorang laki-laki yang kemudian datang dengan membawa air dan menyodorkannya kepada beliau. Dengan cepat, beliau memberikan minum kepada anjing yang kelimpungan itu. “Ini,” kata sang sufi dengan sangat meyakinkan, “lebih utama bagiku ketimbang seluruh ibadah haji yang sudah kutunaikan. Karena Rasulullah Saw. bersabda, ‘Di dalam setiap jantung yang berdetak itu ada pahala’.”

Apa yang bisa kita ambil dari kisah tersebut? Pertama, semakin banyak ibadah seseorang secara kualitatif, semakin bermutu dia secara spiritual, semakin dekat dia kepada Allah Ta’ala, maka dapat dipastikan bahwa dia akan semakin meluap-luap dengan kasih-sayang kepada segenap makhluk, bahkan terhadap seekor anjing sekali pun.

Bagaimana mungkin tidak, sedangkan menyelam ke dalam hadiratNya dengan segenap ketulusan dan kepatuhan adalah sama saja dengan menyelami samudera kasih-sayang Allah Ta’ala yang tidak bertepi. Bukankah ar-Rahman sebagai salah satu namaNya itu merupakan induk bagi seluruh namaNya yang lain? Dan dia yang tekun menyelam di samudera rohani itu pastilah “basah” dengan guyuran sifat-sifat keilahian yang kebak dengan kasih-sayang.

Kedua, kendornya rasa kepemilikan untuk diri sendiri. Lihatlah keberanian Syaikh Abu Syu’aib al-Mishri di dalam “menjual” seluruh pahala dari tujuh puluh kali hajinya demi hanya untuk mendapatkan seteguk air karena beliau merasa iba kepada seekor anjing yang kehausan. Seandainya seluruh pahala dari tujuh puluh kali hajinya itu betul-betul habis karena telah ditukar seteguk air, lalu karena habisnya pahala itu beliau kelak masuk neraka, sungguh hal itu sama sekali tidak merisaukan hati beliau.

Artinya adalah bahwa keinginan beliau yang sangat kuat untuk bisa menolong salah satu makhluk Allah Ta’ala yang amat membutuhkan bantuannya menjadikan beliau legawa kehilangan segala sesuatu yang dimiliki, dalam konteks ini berupa pahala dari seluruh ibadah hajinya, demi tertunaikannya keinginan untuk menolong tersebut.

Betapa sangat luhur akhlak beliau, betapa sangat altruistik perilakunya. Kalau terhadap seekor anjing saja sedemikian rupa keberpihakan beliau, apalagi terhadap sesama manusia. Sungguh teramat mengagumkan kekuatan rohani beliau. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.