
Nyepi I
kini datang nyepi
di pohon jepun
semut api melamun
pecalang hitam di hamparan canang
selengkung penjor jatuh
di tepian hilir
angin rebah menyusul
dan azan pupus bersiul
pada pelinggih
menari cicit kedasih
dari barat
napas pantai tinggal gema
matahari pergi sebentar lagi
pijarnya hanyut di punggung laut
berbisik kemudian daun andong
berarak awan bagai gerbong
seribu pintu kayu ditutup sudah
malam meremukkan kusen jendela
lalu pasir-pasir berbintang
bulan karang menyendiri
derik jangkrik menyeru di pematang
bukit-bukit bersembunyi.
Rachmaninoff Terakhir
- Brief Encounter
kamu berkata pada dirimu sendiri, seperti dalam keremangan dan penyesalan masa lampau, tepat setelah peluit tanda keberangkatan itu ditiupkan tentang ia tak pergi, ia pasti turun dari kereta dan kembali ke kafe ini dengan kebohongan bahwa ia telah melupakan sesuatu.
tapi tak ada sesuatu yang dilupakan. semuanya selesai; segelas kopi pahit, kwasong yang dihangatkan, dan kata-kata selamat tinggal yang akhirnya dibuangnya ketika ada kolegamu yang datang menyela napas panjang perpisahan kalian.
setelah itu tak ada apapun ketika pintu dibuka, tak ada apapun ketika pintu ditutup. ketika ia terlepas dari tanganmu, maka terlepas pula kenangan-kenangan kalian yang tak wajar. terbang bersama kengerian suara kereta yang membawa ia pergi.
di situasi genting itu kamu berharap ada sedikit ingatan yang bisa disimpan; perjumpaan-perjumpaan yang masih dalam tahap bermoral. namun semisal kamu dapat menyimpannya, apakah kamu bisa menanggungnya tanpa rasa bersalah di hadapan mereka?
sekarang terimalah semuanya—sebuah pelupaan. seperti asap di sana yang jatuh di bantalan rel yang gelap, perlahan kamu harus melupakan kalau kalian pernah saling mencintai dan merindukan di sebuah restoran saban kamis, di atas jembatan yang telah dua kali kalian datangi, di atas perahu, di ruangan bioskop, di depan rumah sakit, di depan pengunjung kafe, di dalam kafe, di luar kafe, dan di lubuk kecil kebohongan kalian ketika bertemu dengan seorang yang mengetahui bahwa kalian sebenarnya telah berkeluarga satu sama lain.
Dongeng Laut
- End Credits, Keegan DeWitt
pernah ada gurita yang kesepian, dan gurita itu kerap bersedih di balik terumbu-terumbu cantik. kemudian di suatu sore datang seekor orca yang ingin menyantapnya. ketika mendekat, orca itu melihat gurita diam menangis—bukan karena rasa takut, tapi karena keterasingannya. insting membunuh membuatnya mengerti kalau daging yang sehat lahir dari suasana hati yang baik. akhirnya orca itu menemani gurita, sampai rasa sepi dalam kehidupannya sedikit sirna.
dan ini anehnya. kebersamaan orca dan gurita menumbuhkan perasaan di antara masing-masing mereka. mungkin aku… kata gurita terbata. mungkin aku juga… jawab orca terbata. namun pasti akan menjadi sebuah lelucon baru kalau keduanya sempat menikah, bukan?
hari-hari berlalu, orca harus mengarungi lautan agar ia tak mati kelaparan meski ia akan menjadi hewan paling bersedih jika harus meninggalkan gurita. kau bisa mengambil satu tentakelku, namun tetap di sini dan temani aku.
esoknya orca semakin lapar dan setiap laparnya kambuh, gurita dengan penuh kasih memberikan satu tentakelnya kepada orca. begitu seterusnya tanpa ada yang menyadari. sampai hanya tersisa apa yang tersisa dari dirinya,
sampai hanya tersisa orca, sendirian, menyesal dan merindu.
Lebaran yang Jauh
kamu mudik dan tiba-tiba kenanganmu mengeras
terjebak di runcing pagar coklat
rumah riuh
pada lebaran yang jauh
kamu ingat memar pagi di sana
dan kamu rasakan paruh dingin memagut gema takbir
dari sirip-sirip awan
selepas koran dan sajadah
mengantre pergi
dari tumpukan rumput-rumput jepang
di rumahmu
ada selipat kemeja hijau
celana kain dalam hitam yang pudar
mengintip dari sela lemari
yang tak ditutup rapat
mereka disetrika ibu
pada subuh yang biru
dengan mata setengah layu
tubuh cekingmu
menangkap kemeja itu
dan sepasang kaki
menceburkan dirinya
ke dalam rongga celana
merasa rapi dan berbakti
kamu pergi berziarah ke kuburan
mendapati orang-orang dewasa
menggali-gali yang sudah tiada
dengan asin air mata
bunga-bunga
dan tengadah doa
bagi mata kecilmu
kesedihan yang semestinya ialah jejak langkah
yang masih menapaki gundukan tanah
ketika menyadari kebuli
sate kambing
dan gulai sapi
telah menghabiskan aromanya
di atas meja kayu
bagi mata kecilmu, kesedihan ialah masa-masa peluh menunggu
selembaran uang biru dibungkus amplop putih
masuk ke kantong kemeja yang siap menyeret tubuh cekingmu
ke sebuah kelontongan orang cina
yang mana tak bisa kau temukan lagi hari ini.
- Puisi Azman Bahbereh - 22 July 2025


mike
sangat keren
Rizal
Singkat
putri
keren sekali
rizki
keren, singkatan,dan sangat bagus