Puisi Moehammad Abdoe

 

Surat-Surat Penyair yang Tak Pernah Dibacakan

 

  1. Surat dari Meja Kayu Patah

 

Aku menulis dari meja tua yang dilukai rayap dan waktu

Dengan tinta yang kuaduk dari sisa kopi dan airmata.

Bangsaku,

Apa kau masih mengingat penyairmu?

Yang dulu kau minta mengubah lapar jadi lagu

Dan luka jadi mars berbaris rapi?

 

Kau beri aku panggung—

Tapi tak pernah kursi

Kau minta aku menulis—

Tapi tak pernah membaca

Kau simpan puisiku di lemari dinas

Dan menyiarkannya di pagi peringatan

Namun tak sekali pun kau tanyakan

Bagaimana kabarku malam itu

Saat huruf-hurufku gagal membayar kontrakan

 

 

  1. Surat dari Kolong Panggung

 

Merdeka, kau ucapkan

Dengan suara serak seremonial

Sementara di bawah panggung

Aku duduk di kolong

Menghapus nama-nama

Yang dilarang disebut dalam sajak

 

Kau takut pada kata yang jujur

Lebih dari peluru

Kau ganti kata “perut kosong”

Dengan “gizi cukup”

Kau cabut baris tentang kampung

Yang ditenggelamkan proyek nasional

Dan menyelipkan slogan

Yang tak kutulis

 

Tapi aku diam

Karena diam kadang satu-satunya kemerdekaan

Yang belum kau cukai

 

 

  • Surat kepada Anak yang Tak Punya Tempat Bertanya

 

Anakku, jika suatu hari kau temukan buku puisiku

Berdebu di rak perpustakaan desa yang sepi,

Bacalah dengan pelan

Karena itu bukan sajak biasa

 

Itu adalah surat yang kusembunyikan

Dari sorotan kamera

Dan dari lengan panjang cengkeraman negara

 

Di sana aku titipkan

Sejarah yang dipotong

Dan fakta yang dimaniskan

 

Kau akan tahu,

Bahwa kata “kemenangan” di puisiku

Selalu terluka

Selalu bocor

Karena tak pernah benar-benar jadi milik kita

 

 

  1. Surat Terakhir dari Lidah Berdarah

 

Bangsaku, aku tidak menyesal menjadi penyair

Meski kau tak pernah menjemput puisiku pulang

Aku tak ingin dimakamkan di taman pahlawan

Cukup di kaki pohon randu

Di kampung yang tak ada di peta

Di mana kata-kata masih bernyanyi tanpa izin

 

Karena selama masih ada satu kalimat

Yang ditulis tanpa takut,

Satu sajak yang dibisikkan diam-diam di warung kopi,

Satu anak kecil

Yang bertanya mengapa rakyat harus ikut lomba panjat pinang

Untuk hadiah mie instan—

Selama itu pula

Aku akan tetap menulis

Meski kau tak pernah membaca

 

(2025)

 

 

 

Ars Memoriam Minus Homo

 

Tak ada nama yang disematkan di batu prasasti.

Hanya lekuk jemari yang mengerti:

siapa yang menatah dada patung itu

dengan nadi getir dan logam lengang.

 

Hari ini, bendera kembali dikibarkan

seperti selembar luka yang disetrika:

rapi, merah-putih, tapi masih bau

daging terbakar dalam ukiran sejarah.

 

Aku tak ikut upacara.

Terlalu banyak mata menghadap langit,

lupa bahwa kemenangan kerap ditanam

oleh yang tak sempat menyebutnya doa.

 

Tropi itu kini dipoles ulang saban Agustus,

disapu pel dan nasionalisme tipis-tipis.

Namun tak seorang pun menyeka debu

di punggung para pematung yang dilupakan.

 

(2025)

 

 

Teh Poci dalam Kepala Ayam

 

di warung sepi dekat kuburan,

kami menakar persahabatan

dari seberapa panas teh poci menahan hujan sore.

 

tak ada kata “kawan”

hanya dua kursi plastik

dan ayam mati yang jadi penunjuk arah

di kepala kita.

 

kau menyebut namaku seperti membaca mantra rusak,

dan aku membalas dengan

isyarat dari asap rokok kretek

yang tak pernah kau isap tuntas.

 

kita tak pernah sepakat

apakah dunia ini nyata

atau hanya amplop kosong

yang dikirim nenek moyang

dari desa yang sudah tenggelam dalam mimpi sendiri.

 

persahabatan, barangkali,

adalah ketika kita duduk

tanpa bicara sepatah pun,

namun sama-sama tahu

bahwa bulan di atas kepala itu

sebetulnya hanya tutup dandang

yang jatuh dari langit

tiga lebaran lalu.

 

(2025)

 

 

Sabuk Van Allen di Dada Chairil

 

Di antara khatulistiwa syaraf dan parabola kenangan,

kami mengikat tubuh pada sabuk Van Allen—

bukan untuk perlindungan, tapi

untuk mengukur berapa banyak puisi

yang bisa bertahan

di luar gravitasi makna.

 

Ada kata-kata yang hampa udara,

ada bait yang kehilangan tekanan

di atmosfer ketiga

tempat pertemanan kami menggigil

di antara serbuk bintang

dan derau sunyi tape rekaman puisi 1954.

 

Kami, dua zarah yang saling mengorbit

tanpa peta, tanpa deklinasi,

cuma dendam yang diputar ulang

di mesin kaset rusak perpustakaan planetarium.

 

Kau, penyair dengan dada kawah lunar,

menyematkan sajak ke gesperku:

“jangan percaya bumi

jika mulutnya belum pernah menganga untukmu.”

 

Kita duduk di antara sela-sela langit

memainkan satelit buatan

yang diretas dengan metafora—

setiap parabola menjadi salib,

setiap jeda menjadi jendela

untuk melompat dari satu musim ke gugus

tanpa harus punya nama.

 

Persahabatan kami bukan urat tangan,

melainkan ruang lengang

antara peluncuran dan kehilangan,

antara pelukan dan perpisahan

yang ditulis pakai gelombang radio

frekuensi rendah

dan dikubur di dada waktu.

 

Ada yang bilang

puisi tak perlu sabuk pengaman.

Tapi aku masih menyimpan

gesper logam itu,

dengan ukiran orbit tak selesai,

dan sebutir debu supernova

yang kautinggalkan

di sela huruf-hurufku

yang tak lagi bisa kembali ke bumi.

 

(2025)

Moehammad Abdoe
Latest posts by Moehammad Abdoe (see all)

Comments

  1. Abil. Q Reply

    RENYAH

  2. Yuhesti Mora Reply

    “Dilukai rayap dan waktu” itu sungguh larik yang kuat dan meninggalkan kesan.

    Simbol dari luka-luka kecil, rutinitas dan kekecewaan sehari-hari yang terakumulasi dalam jangka panjang.

    Dan kenapa tulisannya dilabeli “surat” dan bukan disebut “puisi”. Penulis seolah ingin menegaskan bahwa yang ditulis ini pada akhirnya adalah sebuah arsip batin yang harus dicurahkan, sebuah pesan yang ingin disampaikan kepada seseorang bukan tentang pertunjukan karya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!