
Kabut Sehelai Rambut
Nasib hanyalah lapisan kabut
Ia berjarak sehelai rambut
dari ujung hidungmu. Kita
menduga-duga kecepatan
angin yang tiba dari jendela
yang tak benar terbuka
yang tak rapat menutup daunnya
Aku dan kau adalah subjek
terombang-ambing di antara
ketenangan yang pura-pura
& kegelisahan apa adanya.
Nasib, ramalan yang tampak
nyata, hanya tampak nyata,
tapi selalu kita percayai
sebagai penanda.
Setiap sentuhan, mengukur suhu
masa depan yang beku.
Dan kau tak pernah tahu,
apakah tangan yang kau genggam
adalah tangan yang akan
mengantarmu pulang,
atau hanya sisa kesedihan
yang terlipat dalam
lipatan sarung basah.
damparalit, 2025
Perihal Maut
Maut adalah peristiwa paling purba.
Ia datang tanpa butuh penjelasan,
mungkin kita sedikit membuat alasan
kenapa ia bisa tiba begitu saja.
Tapi tentu, maut itu
hanya butuh penghadiran
dari suara yang hilang
dan bumi yang terbuka.
Kematian, adalah proyeksi dari ketakutan
saat jemari kita ingin menggenggam
seluruhnya.
Di senja hari, ketika sejarah tiba
dari bahu seorang pengembara,
kita melangkah ke batas cahaya.
Lalu bulan terbit sebagai tuntutan
yang tak pernah bisa kita hindari
dengan aneka macam logika.
Maut adalah harmoni
yang mengiringi gerak tubuhmu,
juga tubuhku
dalam tempo yang amat pelan.
Ia bergerak menjalar
seperti akar
yang perlahan tercabut,
memaksamu menerima fakta
bahwa semua kita adalah fragmen
yang akan pecah di tanah yang sama.
2025
Kematian di Bawah Selimut Pagi
andaikata aku bisa mengerut jadi udara,
kau pun tak akan menyadari aku pernah ada di sisimu semalam
kematian ini begitu sunyi,
tak ada jeda, tak ada jeda,
hanya satu napas lupa kembali.
kau duduk di pinggir ranjang,
memandang selimut yang tak lagi menghangatkan
tak ada peluk pagi, tak ada tawa kecil saat kopi meluber di meja
kau cicipi ampas hitam itu seperti menggigit bibirku—
manis pahit pernah saling kita cecap
kehidupan ini
kini cuma sisa mimpi semalam,
kini tak bisa lagi kau bangunkan
kekasih,
aku mati di antara bau tubuhmu
& wangi sabun pagi
tak sempat kau bilas dari leherku
aku mati di keriput sehelai baju,
di lipatan handuk yang lupa aku jemur,
di detik jam dinding yang terus berdetak
kau menyalakan radio, & lagu tak mau didengar
kau membuka jendela, & langit tak berubah
hanya kucing kita,
menatap ke sudut kosong itu
tempat biasanya aku duduk memandangi kau,
barangkali kucing kita bergumam
“pagi ini—tuan telah tiada.”
dan kau menangis
air matamu jatuh seperti uap dari cangkir kehilangan suhu,
dan aku—
yang tak bisa lagi menghapusnya dengan ibu jari
hanya menatap dari jauh,
dari entah di mana,
dari entah apa,
mungkin, dari dimensi lain
di mana bayang-bayang sedia
berjaga mengawasimu
dan waktu,
seperti biasa, terlalu tega untuk memelukmu
sementara aku telah hilang
dari rak-rak buku itu,
kau akan menemukan kenangan kita,
masih kau cium dalam bantal,
masih kau bawa di jemari yang menggenggam kehampaan,
masih ada—masih ada sisa
percakapan di meja makan.
Pacitan, 2025
Hanya Maut yang Menghentikan
Hanya maut yang menghentikan
putaran darah di bawah kulit,
namun tidak menghentikan gema
yang bergetar dari tulang-tulangmu.
Hanya maut yang menghentikan
perjalanan mata menembus cahaya,
namun tidak menghentikan bayangan
yang menempel di dinding gua ingatan.
Hanya maut yang menghentikan
napasmu di tenggorokan,
namun tidak menghentikan
angin yang telah kau lepas
ke telinga anak-anakmu.
Hanya maut yang menghentikan
gerak tubuhmu,
namun tidak menghentikan
tanda-tanda yang kau tancapkan
pada bumi,
pada langit,
pada air yang selalu mengalirkan namamu.
Hanya maut yang menghentikan,
tapi tidaklah menghentikan sepenuhnya
sebab setiap kata adalah lidah kedua,
setiap luka adalah pintu ketiga,
setiap kematian adalah langkah
menuju kematian yang lain.
Hanya maut yang menghentikan,
dan kita kelewat lupa
bahwa hidup ini sementara.
Pacitan, 2025
- Puisi Syeftyan Afat - 4 November 2025

Anonim
Kata-kata nya banyak yang familiar
Feri Febriyanto
Kata-katanya banyak kemiripan dari beberapa puisi orang lain,namun secara keseluruhan cukup bagus