Puisi Syeftyan Afat

Kabut Sehelai Rambut

 

Nasib hanyalah lapisan kabut

Ia berjarak sehelai rambut

dari ujung hidungmu. Kita

menduga-duga kecepatan

angin yang tiba dari jendela

               yang tak benar terbuka

yang tak rapat menutup daunnya

 

Aku dan kau adalah subjek

terombang-ambing di antara

ketenangan yang pura-pura

& kegelisahan apa adanya.

Nasib, ramalan yang tampak

nyata, hanya tampak nyata,

tapi selalu kita percayai

             sebagai penanda.

 

Setiap sentuhan, mengukur suhu

masa depan yang beku.

Dan kau tak pernah tahu,

apakah tangan yang kau genggam

adalah tangan yang akan

mengantarmu pulang,

atau hanya sisa kesedihan

yang terlipat dalam

lipatan sarung basah.

 

damparalit, 2025

 

 

Perihal Maut

 

Maut adalah peristiwa paling purba.

Ia datang tanpa butuh penjelasan,

mungkin kita sedikit membuat alasan

kenapa ia bisa tiba begitu saja.

Tapi tentu, maut itu

hanya butuh penghadiran

dari suara yang hilang

dan bumi yang terbuka.

 

Kematian, adalah proyeksi dari ketakutan

saat jemari kita ingin menggenggam

                                   seluruhnya.

 

Di senja hari, ketika sejarah tiba

dari bahu seorang pengembara,

kita melangkah ke batas cahaya.

Lalu bulan terbit sebagai tuntutan

yang tak pernah bisa kita hindari

dengan aneka macam logika.

 

Maut adalah harmoni

yang mengiringi gerak tubuhmu,

                         juga tubuhku

dalam tempo yang amat pelan.

Ia bergerak menjalar

                           seperti akar

yang perlahan tercabut,

memaksamu menerima fakta

bahwa semua kita adalah fragmen

yang akan pecah di tanah yang sama.

 

2025

Kematian di Bawah Selimut Pagi

 

andaikata aku bisa mengerut jadi udara,

kau pun tak akan menyadari aku pernah ada di sisimu semalam

kematian ini begitu sunyi,

tak ada jeda, tak ada jeda,

hanya satu napas lupa kembali.

 

kau duduk di pinggir ranjang,

memandang selimut yang tak lagi menghangatkan

tak ada peluk pagi, tak ada tawa kecil saat kopi meluber di meja

kau cicipi ampas hitam itu seperti menggigit bibirku—

manis pahit pernah saling kita cecap

kehidupan ini

kini cuma sisa mimpi semalam,

kini tak bisa lagi kau bangunkan

 

kekasih,

aku mati di antara bau tubuhmu

& wangi sabun pagi

tak sempat kau bilas dari leherku

aku mati di keriput sehelai baju,

di lipatan handuk yang lupa aku jemur,

di detik jam dinding yang terus berdetak

 

kau menyalakan radio, & lagu tak mau didengar

kau membuka jendela, & langit tak berubah

hanya kucing kita,

menatap ke sudut kosong itu

tempat biasanya aku duduk memandangi kau,

 

barangkali kucing kita bergumam

“pagi ini—tuan telah tiada.”

 

dan kau menangis

air matamu jatuh seperti uap dari cangkir kehilangan suhu,

dan aku—

yang tak bisa lagi menghapusnya dengan ibu jari

hanya menatap dari jauh,

dari entah di mana,

dari entah apa,

mungkin, dari dimensi lain

di mana bayang-bayang sedia

berjaga mengawasimu

 

dan waktu,

seperti biasa, terlalu tega untuk memelukmu

sementara aku telah hilang

dari rak-rak buku itu,

kau akan menemukan kenangan kita,

masih kau cium dalam bantal,

masih kau bawa di jemari yang menggenggam kehampaan,

 

masih ada—masih ada sisa

percakapan di meja makan.

 

Pacitan, 2025

 

 

 

Hanya Maut yang Menghentikan

 

Hanya maut yang menghentikan

putaran darah di bawah kulit,

namun tidak menghentikan gema

yang bergetar dari tulang-tulangmu.

 

Hanya maut yang menghentikan

perjalanan mata menembus cahaya,

namun tidak menghentikan bayangan

yang menempel di dinding gua ingatan.

 

Hanya maut yang menghentikan

napasmu di tenggorokan,

namun tidak menghentikan

angin yang telah kau lepas

ke telinga anak-anakmu.

 

Hanya maut yang menghentikan

gerak tubuhmu,

namun tidak menghentikan

tanda-tanda yang kau tancapkan

pada bumi,

pada langit,

pada air yang selalu mengalirkan namamu.

 

Hanya maut yang menghentikan,

tapi tidaklah menghentikan sepenuhnya

sebab setiap kata adalah lidah kedua,

setiap luka adalah pintu ketiga,

setiap kematian adalah langkah

menuju kematian yang lain.

 

Hanya maut yang menghentikan,

dan kita kelewat lupa

bahwa hidup ini sementara.

 

Pacitan, 2025

Syeftyan Afat
Latest posts by Syeftyan Afat (see all)

Comments

  1. Anonim Reply

    Kata-kata nya banyak yang familiar

  2. Feri Febriyanto Reply

    Kata-katanya banyak kemiripan dari beberapa puisi orang lain,namun secara keseluruhan cukup bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!