Sajak-Sajak Ali Sadli Salim

 

Di Sungai Hitam

Mengalirlah air keruh asam
Gambut membiak kabut
Di atas pohonan pucuk Halaban.


Perahu jukung batang kayu
Berkayuh pelan mengintai kecipak ikan
Satu dua bekantan menyapa.

“Halo, apa kabar ibu kota?

Buah pedada matang jatuh,
lalu hilang sekelebat kibas
Patin seekor menamatkan lapar.
Pada permukaan lambat arus,
liuk capung tak lagi lincah
di mulut ikan sumpit.

Biawak dan Piton berlawan arah
memetakan kode wilayah.

Di pelabuhan kecil,

jejak amis para turis
begitu menggoda.
Rupa rupiah jelas
warna dan nominalnya.

Samboja, 2021

 

Ke Dalam Syair Penyair Cair

Aku takut

kata-kataku

memakan aku,

kata-kata

yang kutulis

sebagai puisi.

Apa yang kutulis

menjadi mantra,

menjadi larik-larik

tuah juga amarah.

Dikutuknya aku

jadi syair perindu.

Kata-kataku

sari pati huruf

menyusun dirinya

menjadi makna.

Air matanya

kata-kata.

Tawanya

kata-kata.

Segala apa

pada dirinya

menjelma

kata-kata.

Ke dalam kata

membenam

menuntas kertas

lembar-lembar

kabar menjabar.

Mengutuklah kata,

tubuh mencair.

Sungai Raden, 2020

 

 

Garbarium

Nutfah.

Perjalanan waktu

menuju Engkau.

Di antara iga dan sulbi ibu,

diturunkan dari Lauhul Mahfuz

sebelum ditiupkan

nur kekasihNya

Menangislah,

sekeras kau bisa.

Beritakan pada dunia

nikmat perjalanan

menuju kampung halaman

Adam dan Hawa.

2020

 

 

Kopikarta

Kita,

Menyusun peta kota

di setiap malam.

Dari bangku ke bangku,

Dari saset–saset kopi,

menandai letak mimpi.

Kita jumputi kata-kata.

Daurpermak sebait sajak,

tentang mimpi sebuah kota.

Dari bungkus bekas kopi,

bukan melulu rindu.

Ada pula diam

mengasapi demam.

Menghangatkan air mata

menyetem nada tawa

sebab nasib seharian

tak terbayangkan.

Bermacam pisuhan

kita telan saja.

Sebab di kota ini,

setiap waktu kita

tak peduli, tak mengenali.

Kopikarta,

di tengah kota

mimpi kita menyusun

rupa macam perkara;

Sungai Raden, 2017.

 

Latest posts by Ali Sadli Salim (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.