Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi

Beliau adalah ‘Abd al-Karim bin Hawazin al-Qusyairi, pemilik Kitab “Risalah” yang terkenal itu. Selain menulis Kitab Risalah, beliau juga menulis tentang kitab tafsir yang cukup populer, yaitu Lathaif al-Isyarat. Beliau adalah murid dari Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq dan guru dari Syaikh Abu ‘Ali al-Farmidzi.

Beliau wafat pada bulan Rabi’ul Akhir pada tahun empat ratus enam puluh lima Hijriah. Dunia berduka karena ditinggalkan oleh beliau, orang-orang juga berduka, pepohonan dan padang pasir berduka karena kehilangan beliau. Sungguh, rasa duka yang mendalam bagi siapa saja atau apa saja yang ditinggalkan oleh beliau.

Penulis kitab tasawuf yang terkenal, Kasyf al-Mahjub, Syaikh al-Hujwiri, bertanya kepada beliau tentang permulaan kondisi rohani beliau. Beliau menjawab: “Pada awalnya, gak tahu kenapa aku sangat butuh pada batu. Setiap kali kuambil batu, ia berubah menjadi permata.”

Karena itu, beliau membuang batu-batu yang semula diambilnya itu. Tidak ada perasaan eman sama sekali kepada permata-permata itu. Karena itu, antara batu dan permata di hadapan beliau sama saja. Bahkan menurut beliau, permata itu lebih hina dari pada batu.

Kenapa permata lebih hina daripada batu? Karena yang dikehendaki oleh beliau adalah batu, bukan permata. Pasti di hadapan beliau saat itu, yang paling berharga di seluruh dunia tak lain adalah Allah Ta’ala, tidak ada siapa atau apa pun yang lain. Segala sesuatu yang lain hanyalah nomor sekian.

Beliau juga mengatakan sebagaimana yang didengar penulis Kitab Kasyf al-Mahjub, Syaikh al-Hujwiri bahwa perumpamaan seorang sufi adalah seperti radang selaput dada. Pertamanya banyak bicara, ngoceh. Akhirnya adalah diam. Bila engkau telah merasakan teguh, engkau menjadi diam karenanya.

Menurut Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi, tauhid adalah gugurnya gambaran ketika nama-nama Allah Ta’ala telah menjadi nyata di hadapan seseorang. Tauhid adalah sirnanya segala sesuatu yang lain ketika cahaya-cahaya Ilahi muncul, menampakkan diri kepada seseorang.

Tauhid adalah tergulungnya seluruh makhluk ketika hakikat-hakikat kebenaran menjadi nyata di hadapan seseorang. Tauhid adalah lenyapnya seluruh makhluk pada penglihatan seseorang ketika Allah Ta’ala dirasakan begitu dekat kepada dirinya sendiri. Begitulah, bukan merupakan sesuatu yang lain.

Di antara puisi-puisi yang dituliskan untuk dirinya sendiri adalah sebagaimana berikut ini: “Allah telah memberikan hujan ketika aku berkhalwat dengan wajah-wajamu. Sedang pelabuhan cinta di taman keindahan tertawa. Kami bermukim di sebuah zaman,

Sementara mata demi mata sangat berpegang teguh pada kenyataan. Pada suatu pagi, aku telah menerima kenyataan itu. Sementara pelupuk-pelupuk mata dengan gembira menumpahkan darah.” Aduhai, betapa sangat indah lengkungannya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!