
Beliau adalah Abu Hamid al-Muhib atau Abu Hamid Dustan sebagaimana dalam cetakan Persi. Cuma itu yang saya tahu tentang beliau, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurrahman al-Jami, seorang sufi dari Persia Barat Laut pada abad keenam belas.
Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam, Syaikh Abu Hamid al-Muhib berada di Merw di pintu sebuah toko, tiba-tiba datang seseorang yang sangat membutuhkan air. Syaikh Abu Hamid al-Muhib memberikan air kepadanya.
Air itu lewat di tangannya sejenak. Dia kemudian mengatakan: “Wahai Syaikh, kenapa kau tidak meminum air?” Syaikh Abu Hamid al-Muhib menjawab: “Ada seekor lalat yang sedang meminum air. Saya harus sabar sehingga ia selesai. Karena seorang pecinta Ilahi tidak boleh makan atau minum dengan berdesak-desakan.”
Menurut Syaikh al-Islam, orang yang makan dengan berdesak-desakan adalah orang yang makan sesuatu, sementara orang yang lain juga menginginkan sesuatu itu. Secara lahiriah, memang orang lain itu dikasih kelonggaran untuk makan, tapi secara batiniah sama sekali tidak. Ada kerakusan untuk menguasai makanan itu.
Orang lain itu menjadi keruh karenanya. Karena itu, tidak baik makan dengan cara berdesak-desakan. Berilah kelonggaran untuk orang lain. Jadilah orang yang berbahagia ketika orang lain makan. Bahkan lebih berbahagia ketimbang dirinya sendiri yang makan. Dengan kebahagiaan yang hakiki dan sesungguhnya.
Di dalam kitab Syarah Ta’arruf disebutkan bahwa mengagungkan Allah Ta’ala sudah biasa dilakukan oleh Syaikh Abu Hamid al-Muhib. Ketika beliau berdiri untuk shalat dan beliau mengatakan “Allah” sebelum mengatakan “Akbar”, beliau mengalami pingsan. Beliau terus mengalami itu sampai akhirnya beliau meninggal.
Dari saking fokusnya kepada Allah Ta’ala, beliau sering kali lupa perkara-perkara yang lain. Lupa pakai baju, lupa pakai sarung, lupa pakai songkok, serta lupa memakai yang lain. Bahkan beliau tidak pernah memakai bajunya dengan tangannya sendiri. Murid-murid beliau yang sering memakaikan bajunya.
Kalau seseorang memiliki hajat terhadap baju beliau, dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mencopot baju beliau. Fokus beliau mutlak tertuju kepada Allah Ta’ala, tidak kepada apa pun yang lain. Tidak kepada segala isi bumi ini. Tidak kepada segala isi langit itu. Hidup beliau betul-betul mengagumkan.
Pernah pada suatu hari beliau bersama sahabatnya. Sahabatnya itu berkata kepada beliau: “Kau tunggu saja di sini. Aku mau bersilaturrahmi pada seseorang.” Orang itu terus pergi. Sementara Syaikh Abu Hamid al-Muhib tetap berada di situ, duduk. Sedangkan orang itu tidak keluar dari rumah orang yang dimaini.
Pada hari kedua, laki-laki itu baru keluar. Dia menyaksikan Syaikh Abu Hamid al-Muhib berada di atas salju. Menggerak-gerakkan dan bermain salju. Laki-laki bertanya: “Kau tetap berada di sini?” Beliau menjawab: “Kau mengatakan supaya aku menunggu di sini. Sementara seorang pecinta tidak pernah menyalahi janjinya.” Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu Sa’id bin Abi Al-Khair #14 - 5 December 2025
- Syaikh Abu Sa’id bin Abi Al-Khair #13 - 28 November 2025
- Syaikh Abu Sa’id bin Abi Al-Khair #12 - 21 November 2025

