SYAIKH ABU SA’ID BIN ABI AL-KHAIR #2

Syaikh Abu al-Fadhl menyatakan bahwa orang menyebut nama Allah akan “tenggelam” di dalamnya, lantaran mendengarkan hal itu Syaikh Abu Sa’id menjadi tidak bisa tidur di malam itu, sepenuhnya. “Aku bangun dari tempat tidur sebelum matahari terbit,” kata beliau.

Beliau datang kepada Syaikh Abu al-Fadhl. Untuk apa? Untuk mencari tafsir yang lebih ringan tentang ayat kesembilan puluh satu surat al-An’am. Ujung ayat kesembilan puluh satu itu berarti “katakanlah: ‘Allah’ yang telah menurunkan kitab suci itu. Kemudian setelah itu biarkan mereka bermain-main dengan kesesatannya.”

Berarti dengan demikian, Allahlah yang merupakan ujung dari segala sesuatu, Allah pula yang merupakan pangkalnya. Artinya adalah bahwa hidup kita sepenuhnya dikepung oleh Allah Ta’ala, juga keberadaan segala sesuatu yang lain, bukan oleh kekuatan apa pun yang lain.

Dengan cara berpikir seperti ini, akan lebih mudah bagi kita untuk bisa “menggenggam” Allah Ta’ala. Jadi, sangat rasional kemudian kalau kita mengatakan bahwa hadiratNya itu sangat dekat kepada kita, bahkan lebih ketimbang apa pun yang sudah terdekat dengan diri kita.

Contohnya seperti apa? Seperti penglihatan, kan sudah sangat dekat dengan diri kita, masih jauh lebih dekat Allah Ta’ala kepada kita. Seperti pendengaran. Kan sudah sangat dekat dengan diri kita. Masih jauh lebih dekat hadiratNya kepada diri kita. Betapa sangat mengagumkan Allah Ta’ala itu.

Kemudian Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair pergi kepada Syaikh Abu ‘Ali al-Faqih untuk menanyakan tafsir ayat sembilan puluh satu tersebut. Beliau betul bersungguh-sungguh dalam menyimak keterangannya. Lantaran menyimak penjelasan ayat itu, Allah Ta’ala membuka pintu hatinya.

Dengan terbukanya pintu hati itu, beliau semakin merasakan kemahabesaran hadiratNya. Bahkan kemahabesaran Allah Ta’ala meliputi alam raya, lebih besar ketimbang apa pun yang ada. Sungguh, sangat besar hadiratNya itu. Segala sesuatu di hadapan kemahabesaran Allah Ta’ala sangat kecil.

Setelah melihat kondisi rohaninya, Syaikh Abu ‘Ali al-Faqih bertanya kepada Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair: “Ke mana engkau tadi malam?” Yang ditanya menjawab: “Di rumah Syaikh Abu al-Fadhl.” “Berdirilah dan pergilah ke sana, ke rumah beliau. Haram engkau membawa makna yang disampaikan di sana kepada makna yang ada di sini.”

Artinya adalah makna yang ada di sana janganlah dicampuradukkan dengan makna yang ada di sini. Kenapa? Karena pasti engkau tidak akan semakin paham tentang ayat tersebut, tapi akan semakin bingung. Karena itu disampaikan di mana-mana bahwa berbicara itu mesti disesuaikan dengan kemampuan orang menerimanya.

Kalau tidak demikian, pasti kita yang berbicara diasosiasikan sebagai orang gila atau orang yang ngelantur. Akhirnya apa? Orang-orang yang mendengarkan tidak akan bisa mengambil manfaat, paling cuma bisa bertambah pusing karena itu. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!