
Beliau adalah ‘Abd al-Wahhab bin Muhammad bin Ayyub Abu Zur’ah al-Ardubili. Beliau adalah seorang sufi yang sangat cerdas, mengetahui berbagai macam ilmu, terutama ilmu agama. Beliau adalah seorang sufi yang sangat asketik terhadap dunia, jangan sampai harta benda dunia bercokol di dalam hatinya.
Beliau adalah seorang sufi yang sangat gemar berjalan kaki. Berjalan kaki rupanya bukan hanya semata kesenangan bagi beliau, tapi juga merupakan semacam tirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Di dalam dunia kenabian, beliau mengikuti perjalanan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam yang suka berjalan kaki.
Beliau adalah seorang sufi yang sangat panjang umurnya. Sangat bagus amalnya. Beliau berarti masuk dalam salah satu sabda Nabi Muhammad Saw bahwa sebaik-baik umur adalah umur yang panjang dan bagus amalnya. Semoga kita dikasih umur yang panjang dan amal yang baik. Amin.
Di dalam perjalanan di Hijaz, beliau termasuk seorang kawan bagi Abu ‘Abdillah bin al-Khafif. Salah satunya adalah beliau pergi ke Kota Madinah dalam rangka penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. Andaikan di sana tidak ada Nabi Junjungan Saw, pasti beliau tidak pergi ke sana.
Betapa sangat agung Nabi Muhammad Saw di hati beliau. Bahkan lebih agung Nabi Pungkasan Saw itu ketimbang dunia dan akhirat. Dunia dan akhirat itu menjadi ada karena Allah Ta’ala berkehendak untuk menciptakan Nabi Muhammad Saw. Seluruh makhluk berhutang budi kepada beliau Saw.
Diceritakan bahwa Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif bermaksud untuk bepergian. Beliau kemudian datang ke Syaikh Abu Zur’ah al-Ardubili. Beliau, Syaikh Abu Zur’ah al-Ardubili, menyodorkan daging yang busuk. Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif sama sekali tidak menyentuhnya.
Setelah mereka berdua keluar, diikuti oleh beberapa pengikutnya, untuk bepergian dan sampai di sebuah lembah, Allah Ta’ala sama sekali tidak memberikan makanan kepada mereka berdua selama empat hari. Syaikh Abu ‘Abdillah bin al-Khafif berkata kepada para pengikutnya:
“Berdirilah kalian. Silahkan kalian berburu. Siapa tahu kalian mendapatkan binatang.” Kemudian mendekatlah kepada mereka seekor anjing, entah punya siapa. Dalam pandangan fikih Imam Malik, anjing yang jinak itu hukumnya makruh saja, tidak sampai haram.
Dalam perkara hal itu, akhirnya mereka mengikuti pendapat Imam Malik bahwa menyembelih anjing jinak hukumnya makruh. Akhirnya mereka menyembelih anjing itu dan membagi-bagikan dagingnya untuk mereka. Semua mereka makan daging anjing itu.
Kecuali Syaikh Abu Zur’ah al-Ardubili, beliau sama sekali tidak makan. Beliau hanya merenung tentang memakan daging anjing itu dari mulai sore sampai waktu sahur tiba. Kepala anjing yang sudah disembelih itu kemudian berkata dengan fasih: “Ini adalah balasanmu. Karena engkau tak mau makan daging busuk yang disodorkan Abu Zur’ah al-Ardubili.” Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku - 10 April 2026
- Syaikh Abu Zur’ah al-Ar-Dubili - 3 April 2026
- Syaikh Ahmad an-Najjar & Syaikh Abu Zur’ah ar-Razi - 27 March 2026

Fadila
Jelas Dan sangat mudah Di mengerti