Bersama Gardner, Mengintip Anton Kurnia dan Dunia

in Rehal by

Judul buku: Cinta Semanis Racun

Kurator dan Penerjemah: Anton Kurnia

Penerbit: DIVA Press

Cetakan: Agustus 2016

Tebal: 632 halaman

ISBN: 978-602-391-182-0

***

Dalam sebuah wawancara pada tahun 1979 dengan The Paris Review, John Gardner, yang dalam bayangan saya tersenyum tipis dengan geligi yang mengintip rapi, berkata, “We get too many books full of meaning by innuendo—the ingenious symbol, the allegorical overlay, stories in which events are of only the most trivial importance, just the thread on which the writer strings hints of his ‘real’ meaning. This has been partly a fault of the way we’ve been studying and teaching literature, of course.” Serakan simbol-simbol, alegori, cangkang-cangkang, baginya, kerap membuat sebuah prosa gagal tampil sebagai cerita yang menghibur. Si penulis terlalu bergairah untuk menyampaikan pesan yang, anehnya, harus tersembunyi sekaligus ingin dipahami.

Kendati pesan atau ide-moral itu penting, bagi Gardner, keberadaannya tidak semestinya mengorbankan nilai “cerita” sebuah prosa. Karena itu, selain menghindari ruahan simbol dan alegori, penting pula untuk tidak menyampaikan sebuah ide-moral senormatif kitab suci. Anton Kurnia, sebagai kurator, jelas memahami prinsip ini ketika memilih 99 cerpen dalam Cinta Semanis Racun. Cerpen-cerpen dalam buku ini mampu memanggungkan kondisi sebuah masyarakat dalam fragmen-fragmen yang sama sekali tidak berusaha meluruskan apa pun. Banyak adegan yang tidak mempertunjukkan apa yang benar, melainkan apa yang terjadi—dan berhasil membuat pembaca terusik olehnya.

Salah satu contohnya muncul dalam cerpen tragis berjudul “Anjing dan Titwal” karya Saadat Hasan Manto. Dikisahkan bahwa, di dua buah bukit yang dipisahkan sebuah sungai kecil, para prajurit India yang sedang berkonfrontasi dengan prajurit Pakistan kedatangan seekor anjing asing. Salah satu dari mereka mencurigai anjing itu dan yang lain menimpali dengan tegas, “Bahkan anjing pun kini harus memutuskan apakah mereka memilih India atau Pakistan … dan semua warga Pakistan, termasuk anjing, akan ditembak.” Anjing lugu itu akhirnya mati ditembus peluru setelah sebelumnya dipermainkan oleh kedua pihak yang berperang.

Selain dibuka dengan narasi yang unik, cerpen “Paman Facundo” karya Isidoro Blaisten menorehkan kesan yang dalam ketika sosok Facundo yang romantik, yang dalam cerpen itu membuat sebuah keluarga yang “lurus” menjadi tak bermoral namun bahagia, atau bahagia namun merasa mengkhianati nuraninya, dideskripsikan lebih detail sebagai manusia yang percaya bahwa “kecantikan dan pornografi harus didukung semua pihak karena masalah terbesar yang dimiliki manusia selain perang adalah kebosanan.” Munculnya “kebosanan” dalam deskripsi tersebut membuat seluruh bangunan cerpen itu menjadi ganjil namun tidak mungkin untuk tidak dipercaya.

Keterusikan—dari ide-moral yang diwadahi dengan baik—dalam cerpen-cerpen ini pun lebih tepat bila dipakai sebagai tolok ukur kualitas sebuah karya sastra ketimbang kriteria-kriteria dalam dikotomi “sastra populer” dan “sastra serius”. Sebuah karya sastra, yang berisi banalitas yang betul-betul mainstream ataupun tragedi raja-raja dengan pilihan diksi yang langka, akan berharga jika, dan hanya jika, membawa suatu ide-moral yang sanggup memantik atau bahkan meledakkan benak pembacanya. Dalam bahasa Gardner, “A truly moral book is one that is radically open to persuasion, but looks hard at a problem, and keeps looking for answers.”

Kisah cinta absurd berjudul “Tentang Berjumpa dengan Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna pada Satu Pagi yang Indah di Bulan April”—ya, judulnya memang sepanjang ini—karya Haruki Murakami, kisah seseorang yang putus cinta dalam cerpen “Cinta Semanis Racun” karya David Albahari, dan kisah petualang yang menemukan cintanya di jalanan dalam cerpen “Gadis Meksiko” karya Jack Kerouac, bisa menjadi contoh bagaimana tema sekaligus gaya bercerita yang sederhana, yang sama sekali jauh dari surealisme macam “seorang lelaki menenteng kepalanya menuju kantor polisi untuk melaporkan kematiannya sendiri”, sanggup menghadirkan keterusikan yang menyebalkan.

Cerpen-cerpen lain hadir dengan tema yang lebih berat semisal peperangan, seksualitas, perselingkuhan, dan tentu meninggalkan kesan yang tak kalah baik. “Jaring Laba-Laba” karya Ryunosuke Akutagawa, yang menjadi cerpen pembuka buku ini, bercerita tentang kegelisahan Buddha terhadap Kandata, seorang manusia yang berada dalam neraka padahal pernah menyelamatkan seekor laba-laba. Dikemas dengan gaya liris-filosofis khas Kahlil Gibran, cerpen ini punya impresi yang kuat sekali dan layak dijadikan pintu gerbang menuju sastra-dunia Anton Kurnia yang, di bagian akhirnya, ditutup oleh cerpen “Sungai Air Mata” karya Thomas Keneally yang bercerita tentang serdadu tua Polandia, Edek Kempner, dalam gejolak politik negerinya.

“Perempuan Ayahku” karya Nadine Gordimer, “Tamu Pernikahan” karya O. Henry, “Putri Seorang Penggembala” karya William Saroyan, “Sepasang Kekasih” karya Eduardo Galeano, “Tali” karya Charles Baudelaire, adalah beberapa cerpen yang layak dibaca sebelum mati. Dan banyak lainnya. Satu hal saja yang patut disayangkan, dan mungkin ini terjadi pada hampir semua antologi cerpen hasil terjemahan, adalah kemiripan dalam gaya tutur—terutama perihal diksi—yang dipakai oleh 96 sastrawan yang masuk di dalamnya, yang tentu saja dipengaruhi oleh gaya bertutur penerjemah.

Di samping persoalan itu, buku ini terselamatkan oleh ragam tema dan ide-moral yang diusung para penulisnya, dan, barangkali, karya-karya dalam buku ini adalah bacaan wajib bagi manusia seperti Soe Hok Gie, Christopher McCandless, juga termasuk dalam sastra yang disinggung oleh Subcomandante Marcos ketika ditanya mengenai kondisi keluarganya oleh Gabriel Garcia Marquez. Marcos, yang dalam bayangan saya sedang mengisap cerutu tebal dengan mata yang jernih, berkata, “Kami tidak mengenal dunia lewat siaran berita, tapi lewat sebuah novel, esai, atau sepotong sajak. Ini membuat kami benar-benar berbeda. Inilah cermin yang diberikan kedua orang tua kami, tatkala orang lain menggunakan media massa sebagai cermin atau hanya sebagai kaca buram hingga tak seorang pun mengerti apa yang sedang terjadi.”

Reza Nufa

Reza Nufa

Pemuda kelahiran tahun 89 yang kini berbobot 63 kilogram dan masih membenci buncis. Bagian dari komunitas Kampus Fiksi, editor di penerbit Basabasi, dan senang jalan-jalan terutama yang menjauhi keramaian. Silakan disapa diam-diam di rezanufa@gmail.com atau Twitter @rezanufa.
Reza Nufa

Latest posts by Reza Nufa (see all)