Literasi yang Membumi, Gagasan yang Menyadarkan

in Rehal by

Judul              : Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial

Penulis            : Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah

Penerbit          : PT Remaja Rosdakarya

Cetakan          : I/Mei 2017

Tebal              : 234 halaman

Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah hadir di tengah gegap gempita gerakan literasi nasional yang merupakan respons pemerintah terhadap rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia di tataran internasional. Menurut pemeringkatan literasi internasional, posisi Indonesia selalu termasuk paling buncit, sebagaimana dibahas di buku ini. Uniknya, penulis buku ini, yang juga terlibat dalam program literasi nasional itu, memiliki pandangan yang dibilang sangat mewadahi gerakan literasi yang tidak seperti digalakkan oleh pemerintah. Karena itulah, buku ini menyegarkan dan menyadarkan.

Suara dari Marjin adalah peleburan hasil dari dua penelitian yang pernah dijalankan oleh kedua penulisnya secara terpisah. Sofie Dewayani melakukan penelitian atas praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di jalan untuk keperluan disertasi S3-nya di University of Illinois at Urbana-Champaign. Sementara itu, Pratiwi Retnaningdyah meneliti praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong.

Buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru atau New Literacy Studies (NLS). Menurut NLS, literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal. Literasi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Dalam khazanah NLS, literasi dibedakan menjadi otonom dan ideologis. Literasi otonom adalah gerakan literasi yang tujuannya murni untuk meningkatkan kemampuan baca-tulis kritis tanpa mempertimbangkan faktor lain. Literasi ideologis, di lain pihak, adalah peningkatan kemampuan intelektual yang tak terpisahkan dengan keseharian si pelaku, sehingga tujuan akhirnya adalah peningkatan hajat hidup si pelaku. Literasi ideologis lazimnya menyadari elemen yang ada di lingkungan pelaku dan memanfaatkannya untuk pendidikan literasi. Dan literasi ideologis inilah yang disuarakan dalam buku Sofie dan Pratiwi ini.

Dari upaya literasi di kalangan “anak jalanan” (yang hendaknya selalu disertai tanda kutip karena ternyata sebutan ini dianggap tidak akurat mewakili dan terkesan merendahkan mereka yang dirujuk), Sofie mendapati penerapan konsep-konsep yang disuarakan NLS. Contohnya adalah Bu Sri, pendiri dan pengelola PAUD Bestari yang bercita-cita membimbing balita di Pasundan, Bandung, agar bisa masuk ke Sekolah Dasar, sehingga terhindar dari menghabiskan waktu di jalan pada usia sekolah. Dalam praktik mengajarnya Bu Sri banyak menggunakan apa-apa yang telah dipahami anak-anak (yang secara teoretis disebut “teks kultural”) dan mengoptimalkannya guna mengajari anak-anak keterampilan dasar baca tulis yang memampukan mereka masuk ke Sekolah Dasar.

Dari kalangan BMI, Pratiwi menyoroti proses pembelajaran yang memaksimalkan pengalaman keseharian mereka untuk meningkatkan potensi pribadi mereka. Di antara contoh-contoh kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie Rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang belajar blogging sendiri hingga akhirnya terbiasa menulis dan banyak membuahkan tulisan yang membangun kepercayaan diri sesama BMI dan bahkan berambisi mengubah citra “babu” yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Rie Rie kemudian menularkan keterampilannya kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan.

Dari dia, pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marginal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dan tidak relevan dengan keseharian pelaku (otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, tetapi bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (ideologis).

Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marginal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen upaya literasi otonom di dalamnya. Maka, di tengah gegap gempita literasi yang banyak berorientasi pada literasi otonom ini, tulisan Sofie dan Pratiwi yang juga terlibat dalam proyek pengembangan literasi nasional ini menyegarkan dan menyadarkan, membuat kita lebih awas dengan potensi literasi di sekeliling kita, literasi yang membumi.

Wawan Eko Yulianto

Wawan Eko Yulianto

Peresensi adalah dosen Sastra Inggris di Universitas Ma Chung, blogger di http://timbalaning.wordpress.com dan ikut bergiat di Pelangi Sastra Malang.
Wawan Eko Yulianto

Latest posts by Wawan Eko Yulianto (see all)