Salju Turun di Alun-Alun

in Cerita Pendek by
Sumber gambar
Sumber gambar Nydailynews.com

Setiap pukul lima sore, sepasang kekasih itu menghabiskan waktu di alun-alun. Alun-alun selalu ramai pada jam-jam itu. Anak-anak yang selesai mengikuti jam tambahan pelajaran sekolah, juga orang-orang yang baru pulang dari seharian bekerja.

Sepasang kekasih tahu, hanya di alun-alunlah tempat di mana hiburan termurah bisa mereka dapatkan. Selain luas dan tanpa biaya masuk, mereka biasa menemukan penjaja makanan dan minuman favorit. Bahkan di sudut-sudutnya, alun-alun menyimpan banyak kenangan tentang hubungan mereka.

Di alun-alun, kenangan tentang ketika pertama mula mereka bertemu terus diabadikan. Di sana, segala cekcok pedih tentang aib-aib mereka yang terkuak lalu menemukan kata sepakat untuk sama-sama menerima apa adanya. Di sana pula, musim-musim telah mengiringi hubungan mereka.

Meski musim-musim telah dilalui, sepasang kekasih mengira angin sore di alun-alun itu tak seperti biasa. Bukan, ternyata bukan di alun-alun saja. Tampak kota kecil itu belakangan dikungkung musim tak keruan. Asal tahu saja, kemarin sepasang kekasih itu masih bisa menikmati hangatnya matahari tenggelam di balik sudut alun-alun. Jadi, tak salah kalau kemudian mereka tak mempersiapkan baju hangat setelahnya.

Maka, ketika sore itu butiran-butiran lembut serupa kristal turun di atas langit alun-alun tempat mereka menghabiskan waktu, sepasang kekasih itu hanya tergelak menanggapi. Mungkin musim sedang mengajak bercanda.

“Hei, kau tahu berita, bukan? Seminggu lalu ada bongkahan es jatuh dari langit-langit Muntilan,” cerita laki-laki dari sepasang kekasih itu.

“Oh, ya? Bagaimana bisa?” tanya sang perempuan. Laki-laki yang setiap harinya bekerja di sebuah pabrik produksi plastik di pinggiran kota Magelang itu tentu saja mengangkat bahu. Mana tahu dia kenapa hal itu bisa terjadi. Dia lebih senang memikirkan tabungan-tabungan yang kian menumpuk untuk biaya pernikahan mereka secepatnya. Sang perempuan tertawa mengangguk. Sepakat dengan sang kekasih.

Sepasang kekasih itu lantas mendongak ke atas langit yang menaunginya sore itu. Apa sebab? Butiran-butiran lembut kristal yang mulanya hanya setipis debu, dirasa mulai mengembang.

Dan sore-sore setelahnya, kristal-kristal itu kian mengembang besarnya meski tetap selembut ketika pertama kali turun. Sepasang kekasih pun iseng berkelakar, “Sepertinya salju turun di alun-alun.” Mereka lantas bertanya pada orang-orang di sana. Orang-orang hanya tertawa menanggapi lucu, “Masa, salju turun di alun-alun. Haha….”

Kepastian pun datang. Sore berikutnya setelah mereka iseng berkata, salju turun di alun-alun, orang-orang sudah berkumpul pun heboh di sana. Salju ternyata benar-benar turun di alun-alun. Iya, di alun-alun. Hanya seluas alun-alun saja. Seluarnya tidak. Tentu saja sepasang kekasih itu ikut riang bukan kepalang. “Salju turun di alun-alun!” teriak mereka. Orang-orang lagi-lagi tertawa menanggapi lucu, “Masa, kalian baru tahu salju turun di alun-alun. Haha….”

Salju turun berhari-hari lamanya. Alun-alun yang biasanya ramai, kini semakin berlipat ramainya. Tentu saja itu mengundang banyak lagi penjaja makanan dan minuman.

Dari banyaknya penjaja makanan dan minuman yang ada, es puter pak tua menjadi favorit mereka. Letaknya di sudut barat alun-alun dekat dengan menara air di depan masjid kota. Mereka biasa menikmati es puter yang rasanya tiada dua setelah puas duduk-duduk di bawah pohon rindang yang kini daunnya mulai rontok karena salju yang turun di langit atasnya.

Sayangnya, mereka tidak tahu kalau itu adalah hari terakhir mereka menikmati es puter di alun-alun kota. “Kalian adalah pembeli pertama hari ini. Eh, seminggu, ini,” ujar pak tua penjaja sembari meracik dua mangkuk kertas es puter untuk mereka. “Saya besok sudah tidak berjualan di sini. Tidak mungkin orang-orang beli es di tengah salju seperti ini,” tutup pak tua.

Sepasang kekasih sedih. Tapi, mau bagaimana lagi? Memang benar, siapa juga mau membeli es di tengah dingin salju di alun-alun. Bahkan, sepasang kekasih memutuskan untuk tidak menghabiskan es puter yang mereka pesan. Satu suapan es puter saja membuat mereka buru-buru merapatkan lagi jaket yang dikenakan.

Berita mengenai salju yang turun di alun-alun mulai menyebar luas. Orang-orang dari luar kota bahkan mulai berdatangan. Alun-alun pun semakin riuh saja. Jangankan menikmati es puter, para penjaja juga mulai berkurang. Rupanya, sejak salju turun di alun-alun, para penjaja makanan dan minuman mulai beralih peran dengan menyewakan aneka permainan. Tentu saja yang disewakan adalah permainan yang bisa dinikmati di tengah salju yang turun hampir satu bulan lamanya.

Hingga pada sore yang tiba-tiba, pamong praja berjaga-jaga di alun-alun. Tak hanya itu saja, beberapa polisi ikut serta.

“Ada apa?” tanya sepasang kekasih ke orang-orang yang juga tak bisa masuk ke areal alun-alun. Sekali lagi, orang-orang menanggapinya dengan tertawa, “Masa, kalian baru tahu kalau wali kota akan menutup sementara alun-alun. Haha…,” tapi, tawa itu berangsur cemas, “kalau alun-alun ditutup, kita lalu tidak bisa menikmati salju yang turun di sana, ya?” Giliran sepasang kekasih itu tertawa.

Rupanya wali kota tak hanya menutup sementara alun-alun. Dari pidato pertanggungjawaban sikapnya di depan banyak warga di dekat alun-alun yang sudah mulai dibangun tinggi pagar-pagar, wali kota berseru, “Warga kota tercinta, saya tahu, banyak yang tidak setuju dengan pembangunan di alun-alun sekarang. Saya, selaku wali kota mohon maaf sebesar-besarnya. Tapi, percayalah. Ini demi masa depan Magelang, kota kita tercinta. Coba bayangkan, dari seluruh kota di Indonesia, sebut satu saja, apa ada salju yang turun di alun-alunnya? Sekali lagi, ini demi masa depan kota kita!”

Tapi, yang sepasang kekasih tahu kemudian, mereka dan orang-orang harus membayar tiket untuk bisa masuk ke alun-alun. Awalnya mereka kebingungan. “Bagaimana bisa? Sejak kapan orang-orang membayar tiket untuk masuk ke alun-alun?” protes sepasang kekasih itu. Nyatanya, mereka tak bisa apa-apa. Dan, setelah melalui banyak pertimbangan, di antaranya tentu saja adalah kenangan yang menguatkan hubungan mereka berdua selama ini, bahkan termasuk alasan ikut andil membantu pemerintah kota dalam merawat fasilitas bangunan yang ada,  mereka pun membayar tiket untuk masuk ke sana.

Memang, telah dibangun banyak fasilitas di sana. Ice skating mini area, penyewaan papan luncur es, penyewaan mantel atau jaket tebal, area bermain bola salju anak-anak, juga taman buatan dengan bangku dan pohon-pohon yang terbuat dari bongkahan es. Apalagi, salju kian deras turun di alun-alun.

Sepasang kekasih lalu memutuskan untuk menghitung ulang tabungan. Tidak bisa dipungkiri, tiket masuk mulai mengganggu tabungan yang sedianya untuk persiapan mereka menikah. “Terlalu banyak kenangan di sana, Mas. Kita tak bisa tidak menghabiskan setiap sore di sana,” keluh sang perempuan.

Jadi, hanya beberapa kali saja mereka lalu membeli tiket masuk ke alun-alun. Oleh karena alasan kenangan, bukan oleh salju yang lama-lama mulai menyebalkan. Dari yang beberapa kali itu, lalu berubah menjadi sesekali. Dan, dari sesekali, akhirnya menjadi tidak sama sekali.

Sepasang kekasih sedih. Mereka sudah tidak bisa menikmati alun-alun lagi. Bersama orang-orang lainnya yang sudah tak mampu membayar tiket untuk ke alun-alun, sepasang kekasih hanya bisa berdiri pasi di balik tembok tinggi yang menjulang melingkari alun-alun. Mereka mendongak ke atas. Bahkan, salju yang turunnya hanya di alun-alun itu sudah tak tampak lagi setinggi pandangan. Mereka lantas berdoa dalam hati, semoga salju berhenti turun di alun-alun.

Tapi, salju tak berhenti turun di alun-alun, dan pemberitaan atasnya malah kian merajalela, bahkan orang-orang semakin berbondong untuk bisa masuk ke sana. Melihat itu semua, maka diputuskanlah oleh wali kota tentang bayangan-bayangan indah atasnya. “Tiket kita naikkan! Fasilitas kita gandakan!”

Akibat dari itu semua, beberapa ratus meter di sekitaran alun-alun kota lalu ikut disterilkan meski harus menggusur permukiman. Warga tak bisa menolak. Iming-iming ganti rugi yang menggiurkan telah melenakan. Maka, bertambah tak ada lagi harapan bagi sepasang kekasih. Jangankan memupuk kenangan untuk kelanggengan hubungan mereka, alun-alun justru semakin jauh dari jangkauan.

Lantas, sepasang kekasih mulai memikirkan tempat baru untuk menghabiskan sore setelah pulang bekerja. Tak mungkin mereka terus memaksa membeli tiket masuk ke alun-alun. Lebih baik mereka kembali menumpuk tabungan yang sempat habis terkuras untuk tiket masuk ke alun-alun sebelumnya.

“Jadi, kita mau ke mana? Tidak ada lagi tempat untuk berdua. Taman satu-satunya yang tersisa hanya alun-alun kota,” sang perempuan mengeluh sebal.

Di tengah kebingungan mereka menyusuri jalan sepi kota sehabis pulang bekerja untuk mencari tempat berduaan, laki-laki berhenti tiba-tiba. Sang perempuan menubruk kaget karenanya.

“Hei, sepertinya kita menemukannya!” seru laki-laki dengan gembira.

Sang perempuan menganga riang. Benar, di depannya terhampar sepetak kecil taman yang tak terawat. Ditinggalkan. Meski di depan pintu masuk taman ada plang bertuliskan “Taman Ini Akan Dibangun Ulang!” Tulisan itu sudah tak terbaca. Mungkin, ini satu-satunya taman yang belum sempat dibangun ulang menjadi bangunan rumah dan toko karena wali kota sudah disibukkan dengan hal yang lebih menarik perhatian, salju yang turun di alun-alun.

Sore itu juga, sepasang kekasih lalu bersama-sama membersihkan taman. Dimulai dengan sekuat tenaga mencabut plang peringatan. Mereka lantas mulai membersihkan jalan setapak kecil yang sudah tak kelihatan jejaknya karena lumut dan rumput liar. Ketika lebih masuk ke dalam taman kecil itu, mereka menemukan sebuah bangku semen yang hancur di beberapa sudutnya karena usia. Dibersihkannya daun-daun kering yang menumpuk di sana untuk tempat mereka duduk kemudian.

Dipandanginya taman kecil itu.

“Hei, tahukah kamu, aku sepertinya pernah menghabiskan masa kecil di taman ini. Di depan sana, aku yakin ada ayunan, juga papan lorot, serta gua kecil berbentuk binatang!” teriak laki-laki menunjuk ke satu sudut taman yang mengingatkannya akan satu kenangan.

Sang perempuan ikut mengedar pandangan. Matanya lalu memicing, sepertinya ia juga mengingat sesuatu.

“Sebentar, kalau tidak salah, aku juga pernah diajak bapak ke sini. Aku dibelikan balon berwarna untuk pertama kali. Waktu itu, aku masih TK!” Sang perempuan mulai menggali ingat.

Kenangan. Kenanganlah yang sebenarnya menghidupkan banyak hal, termasuk tempat. Benar bahwa alun-alun, dengan atau tanpa salju turun di atasnya, adalah tempat istimewa bagi sepasang kekasih karena menyimpan begitu banyak kenangan tentang hubungan mereka. Tapi, taman kecil yang baru temukan juga tak kalah istimewa karena meski hanya menyimpan secuil kenangan, nyatanya itu adalah kenangan yang sangat menyenangkan.

Ting! Ting! Ting!

Mereka mendengar sesuatu sepertinya. Setelah menoleh kiri-kanan, mereka memastikan apa yang didengar itu benar adanya. Laki-laki segera berhambur ke jalanan. Laki-laki itu berbalik kemudian. Sang perempuan berdiri dari duduknya, ia tersenyum mengangguk begitu menangkap terang di mata laki-laki kekasihnya. Segera laki-laki pun berbalik lagi dan berteriak ke arah jalanan, “Es puter!”

Pak tua masih cekatan meracik dua mangkuk kertas es puter favorit mereka. “Nah, kalau sekarang, kalian menjadi pembeli terakhir hari ini. Setelah ini, saya mau pulang,” ujar pak tua riang, “untung, saljunya cuma turun di alun-alun, ya.”

Sepasang kekasih pun menikmati es puter mereka di bangku taman kecil yang baru mereka temukan, sembari memandangi dengan tenang daun-daun yang rimbun di pohon-pohon taman. Ketika memandangi daun-daun, kening sang perempuan berkernyit. Ia memastikan apa yang dilihatnya. Ia lalu memandang khawatir ke laki-laki kekasihnya.

“Kenapa?” tanya laki-laki ikut khawatir.

“Lihatlah!” tunjuk sang perempuan pada daun-daun rindang di pohon-pohon taman. “Kau tahu, bagaimana bisa daun-daun itu berbentuk jari lima dan berwarna cokelat kemerah-merahan?” tanyanya kemudian.

“Iya, seperti di film-film barat yang kita tonton di DVD bajakan,” timpal laki-laki.

Mereka lantas memandang sekeliling. Sekitaran tiba-tiba berubah menjadi taman yang manis, karena dari pohon-pohon berjatuhan daun-daun kering berjari lima berwarna cokelat kemerah-merahan.

“Sssst, jangan bilang orang-orang. Takutnya taman ini nanti jadi ramai, terus wali kota datang. Dan, kita tidak tahu ke mana lagi menemukan tempat untuk berduaan…,” bisik sang perempuan. Laki-laki mengangguk setuju. Mereka pun diam saja di sana menghabiskan sore di taman kecil yang baru saja mereka temukan sambil menikmati es puter, minuman kesayangan.

Ginanjar Teguh Iman

Ginanjar Teguh Iman

Lahir di Magelang, 7 Mei 1984. Buku pertamanya berisi kumpulan cerita pendek Cerita Hujan yang diterbitkan sendiri di tahun 2012. Novel pertamanya berjudul Bulan Merah (Qanita, Mizan Group) yang terbit di tahun 2014 lalu setelah memenangkan beasiswa kepenulisan Antitesa Mizan 2013.
Ginanjar Teguh Iman

Latest posts by Ginanjar Teguh Iman (see all)

  • Salju di Alun-Alun sebelumnya terpilih sebagai cerpen terbaik #KampusFiksi angkatan 13. Selamat!
    Salam sastra!

  • Teguh Irawan

    Ko bisa jadi terbaik ya? Menurut saya biasa-biasa saja. Terimakasih

    • Frida ‘vree’ Kurniawati

      mungkin artinya yg lain lebih biasa2 saja, Mas hehe :v

  • Lazione Budy

    Biasa sekali ceritanya.

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com