Waktu

in Cerita Pendek by

Waktu. Ketika tertarik mundur seperti pusaran air di tengah aliran sungai yang menuju ke laut. Sedangkan ia selembar daun. Bersama iring-iringan sampah, daun itu terombang-ambing di tengah arus sungai. Karena sungai begitu panjang dan berkelok-kelok, kebanyakan sampah tidak sampai pada muara. Sebagian tenggelam, sebagian lagi tersangkut tetumbuhan di pinggiran sungai. Ketika air surut, sampah-sampah itu akan berserakan dan menumpuk seperti bukit-bukit kecil.

Namun ia adalah selembar daun yang memasuki pusaran air. Terisap oleh waktu yang berjalan mundur.

Pagi di bulan kemarau, tahun ke tujuh usia pernikahannya, ia dipilih waktu menjadi selembar daun. Tidak ada pertanda ataupun keganjilan pada sikapnya. Hari-hari berjalan seperti biasa. Sebagaimana seorang laki-laki yang memiliki keluarga, ia bekerja dengan baik. Menjaga cinta dan memberikan kasih sayang. Memelihara kejujuran dan mempersembahkan ketulusan. Kendati materi yang diberikan tidak semewah perasaan dan ketulusannya, sulit mengatakan seorang perempuan tidak bahagia jika bersanding dengannya. Sama sulitnya menebak bahwa di balik kebahagiaan yang tampak pada istrinya, tersimpan sebuah rahasia. Istrinya begitu rapi menyembunyikannya. Bahkan waktu pun jangan sampai tahu, pikir istrinya.

Sayang sekali, waktu tetaplah sebuah kekuatan yang tidak pernah diperhitungkan istrinya. Waktu mengetahui rahasianya. Lantas mengubah suaminya menjadi selembar daun. Terkadang waktu memihak pada keburukan dan ketidakadilan. Kali ini, waktu memandang pada kebaikan seorang laki-laki. Menyelamatkan laki-laki itu dari keburukan sebuah rahasia.

Kejadiannya tidak terlalu cepat. Di atas tempat tidur, ia merasakan pagi itu sangat dingin melebihi musim hujan yang baru empat pekan berlalu. Begitu ia membuka mata, yang pertama muncul dalam ingatannya adalah istri dan anaknya, kemudian tanah yang akan digarapnya. Pasti keras sekali, pikirnya. Ia harus menggunakan tenaga lebih untuk mencangkulnya.

Ia bangun sambil menahan rasa ngilu dan pegal di semua tulang-tulangnya.

Di ruang belakang, anaknya duduk di depan meja makan dari kayu sengon, sudah rapi mengenakan seragam sekolah. Sambil menunggu sarapan yang sedang disiapkan istrinya, anak itu membaca buku. Pemandangan itu membuat semua rasa sakit di tubuhnya terlupakan. Istrinya begitu cantik. Ia sering membatin ketika memandang istrinya dengan tatapan kagum, rasanya tidak pantas menjadi istri seorang petani miskin seperti dirinya.

Pada saat itu, angin tiba-tiba bertiup memasuki pintu yang terbuka. Tidak begitu kencang. Menyentuh kulitnya dengan rasa dingin. Dingin itu menjalar sampai pada bola matanya. Semakin lama semakin dingin sampai tubuhnya terasa membeku. Hingga angin bertiup semakin kencang, ia merasakan tubuhnya terasa sangat ringan. Kemudian terbawa angin bagai selembar daun.

Menghadapi kenyataan bahwa orang yang dicintai lenyap menjadi barang tidak berharga, istrinya menangis tak berkesudahan. Sedangkan anaknya semakin menjadi pendiam. Menerima kenyataan itu rasanya seperti sehelai kulit bambu menyayat-nyayat organ dalam tubuhnya. Daun itu terbang sebelum sempat meninggalkan pesan maupun penjelasan. Suaminya tidak mengatakan apa-apa. Hanya tatapan matanya yang menyala-nyala penuh cinta, menjadi pemandangan terakhir saat ia pergi bersama angin.

Tidak ada kata-kata cukup jelas terucap dari mulut istrinya sebagai ungkapan kesedihan ataupun ketidakpercayaan atas kejadian yang dialaminya. Hanya kekosongan dalam hati; berpadunya kehampaan dan kesedihan. Kesedihan berlebihan menimbulkan rasa sakit yang tidak mudah diungkapkan. Istrinya diam seribu bahasa seraya memeluk anaknya.

 

Selembar Daun

 

Suaminya berlayar di atas permukaan air sungai. Berupa selembar daun. Anehnya ia tidak menyadari telah menjadi daun, mendekati air yang berputar sangat kencang. Sebelum terisap ke dalam pusaran air, ia menyaksikan berbagai kejadian di masa lalu. Dengan senyum mengembang, ia menyerahkan diri seraya memejamkan mata, tertelan ke dalam air, terseret ke dalam pusaran waktu yang melaju mundur.

Ia kembali menjadi laki-laki berusia dua puluh tiga tahun yang berjalan menyusuri trotoar kota.

Di sisi sepanjang trotoar adalah taman kota dengan bangku-bangku kokoh nan cantik. Rumput hijau terawat seperti permadani tebal menutupi tanahnya. Bunga-bunga dan tanaman hias tumbuh dengan baik. Tidak kekurangan air. Kelihatan dari daun-daunnya yang segar. Tidak ditempeli debu jalanan juga asap kendaraan sekalipun pada musim kemarau. Setiap sore, enam atau tujuh hari sekali, mobil tangki berjalan lambat, menyemprotkan air lewat pipa besar berwarna hijau.

Tidak jauh lagi ia akan sampai pada bangku kesukaannya. Terletak di ujung taman. Di sana ia akan duduk, menyalakan rokoknya, memandangi sekeliling sambil memikirkan apa saja yang tersangkut di kepalanya. Lebih sering ia membuka bukunya.

Bukan kebiasaan aneh jika ia menyukai buku. Hanya saja, sebagai mahasiswa fakultas bahasa Arab, ia lebih tertarik dengan novel dan puisi. Keduanya seperti kehidupan, sarat dengan gairah dan keputusasaan. Pikirnya, novel dan puisi seperti bangku kesukaannya, bercat merah hati, saling berhadap-hadapan di tengah ketenangan juga keindahan tetumbuhan, di samping keramaian lalu-lalang kendaraan.

Sampai di ujung taman, bangku itu sudah ditempati seorang perempuan hamil.

Tapi tidak masalah. Bangku di hadapannya masih kosong. Ia segera duduk. Menarik napas. Merasa lega. Merogoh saku celananya. Mengeluarkan rokoknya. Namun urung menyalakannya. Ada sesuatu yang mengganggunya, seperti memperingatkannya; rokok tidak akan ada rasanya, adalah perempuan di hadapannya. Memandang kosong ke arus jalan raya. Entah penyihir atau manusia. Memiliki kecantikan luar biasa kendati perutnya buncit.

Bila dilihat dari ukuran perutnya ia mengira usia kandungannya sudah mendekati kelahiran. Kelak, kata luar biasa selalu tidak tepat untuk memuaskan kekagumannya. Perempuan di hadapannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ia pun jatuh cinta. Jatuh cinta dengan tiba-tiba pada seorang perempuan hamil tua.

 

Perempuan Tercantik

 

Sementara suaminya terseret oleh waktu yang berjalan mundur, istrinya merasa kehidupan sudah berakhir. Jiwanya ditelan rasa kehilangan. Namun tidak untuk anaknya. Istrinya tidak bisa membiarkannya begitu saja, mengingat anak pertamanya, dengan laki-laki tidak bertanggungjawab, sudah menjadi korban kelalaiannya. Terpaksa ikut neneknya di kota, karena sulitnya hidup dari segi ekonomi maupun sosial masyarakat desa yang kental dengan adat dan aturan. Ia tidak siap mendengarkan pertanyaan-pertanyaan licik masyarakat jika harus mengajak anak pertamanya tinggal bersama. Masyarakat selalu penuh kecurigaan. Selalu mencari-cari celah untuk menjatuhkan dan akhirnya akan menghakiminya sebagai perempuan murahan.

Bersama anak keduanya ini, ia memainkan peran dengan baik. Ia mengurus anaknya penuh kasih sayang. Terlalu sayang. Sehingga tanpa disadari ia sering menggunakan cara berlebihan dalam mendidik anaknya supaya menjadi baik. Selalu melihat dari sudut pandangnya sebagai orangtua, bukan dari sudut pandang anak-anak. Alhasil, kekerasan tidak lagi terasa kekerasan, tapi kasih sayang demi kebaikan si anak. Namun sekarang jiwanya sedang kosong. Mulutnya tidak setajam seperti hari-hari ketika suaminya masih ada. Tangannya tidak terlalu membahayakan bagi anaknya. Untuk itu, anaknya pantas merasa bersyukur di samping bersedih karena kehilangan ayahnya.

Kepergian suaminya benar-benar mengguncang jiwanya. Ketika memandangi wajah anaknya yang mirip dengan ayahnya yang raib menjadi daun, rasanya seperti hanyut dalam gelombang teramat besar. Ia tidak pernah bisa menghindar. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menyendiri di tepi sungai. Meski ia tidak tahu jika daun itu hanyut bersama arus sungai. Untuk sementara ia lupa dengan kebiasaan menyakiti anaknya sendiri.

Biasanya, seusai mengantar anaknya ke sekolah dengan menggunakan sepeda kayuh peninggalan suaminya, alih-alih langsung pulang, ia menyandarkan sepedanya pada pohon randu lantas duduk memunggungi jalan desa, memandangi aliran sungai di hadapannya, berbicara sendiri selama berjam-jam, kadang menangis terisak-isak sampai matanya bengkak. Orang-orang yang menyaksikan menganggapnya gila akibat ditinggal suaminya. Dan ia tidak peduli dengan segala ejekan mereka. Lebih tepatnya ia tidak mengerti telah menjadi bahan tertawaan.

“Cantik-cantik kok gila,” orang-orang yang lewat meneriaki punggungnya.

Tidak salah. Ia selalu cantik ketika duduk di tepi sungai. Tidak lupa mengenakan pakaian terbaik. Wajah cantiknya bukan hasil dari polesan kosmetik. Tanpa sebutir bedak pun wajahnya sudah memukau melebihi pengantin. Tanpa lipstik pun bibirnya adalah mata air bagi orang yang dahaga. Hari itu rambutnya yang lebat, hitam, dan berkilau terikat menyamping, ditarik ke depan menyusuri dada kanannya. Ia sengaja mengatur rambutnya sedemikian rupa untuk mengenang masa-masa pertama kenal dengan suaminya di taman kota bertahun-tahun silam.

“Kenapa kamu memandangiku seperti itu?” Itukah yang dulu ia katakan pada laki-laki di hadapannya?

Lantas laki-laki di hadapannya tidak mampu menjawab. Bibirnya bergetar seperti tersengat aliran listrik.

Ia tersenyum tipis masih memandangi aliran sungai di hadapannya. Banyak daun terbawa arus sungai. Namun daun manakah yang dicarinya?

Angin semilir berembus dari hamparan pesawahan di seberang sungai, menerpa wajahnya.

 

Di Taman Kota

 

Perempuan di hadapannya membuatnya salah tingkah. Sadar diri telah jatuh cinta, ia berpikir bagaimana supaya terjadi percakapan. Siapa dia, di mana suaminya, kenapa duduk sendirian di taman. Namun itu sebatas pertanyaan dalam hati. Mulutnya sama sekali terkunci. Akan tetapi cinta yang dirasakannya adalah kehendak takdir setelah, sesaat, ia menimbangnya dengan logika. Meski penyebabnya sangat biasa: kecantikan.

Jika bukan kehendak takdir, ia tidak akan gelap mata jatuh cinta kepada perempuan hamil!

Ketika perempuan di hadapannya mengucapkan sesuatu dengan nada marah, merasa risih menjadi pandangan laki-laki tak dikenal, ia hanya mendengus seraya menelan ludah, tidak sadar bibirnya bergeletar akibat berusaha mencari kata-kata untuk menjawab kesinisan perempuan di hadapannya. Tapi tidak ada kata-kata. Ia hanya menundukkan kepalanya. Membuka bukunya. Menahan gejolak jiwanya yang dikutuk cinta. Baru ketika perempuan itu meninggalkan bangku, ia merasa lega, paling tidak untuk sebentar, bahwa yang dirasakannya hanya perasaan tak berdasar.

Tetapi ia masih gemetaran, darahnya mengalir kencang. Untuk kemudian ia mengalami kegilaan. Hari-harinya setelah melihat perempuan itu terasa sebuah tekanan. Apa pun yang dilakukannya hanya membuatnya tersiksa. Keinginannya hanya satu, melihat perempuan itu lagi untuk mengatakan sesuatu, berniat mendapatkan perempuan itu untuk dijadikan pendamping hidupnya, bagaimanapun caranya.

Keinginannya, yang tanpa perhitungan itu, merupakan bukti cintanya kehendak takdir. Apa bedanya kehendak takdir dengan cinta buta? Ia tidak punya waktu untuk memikirkannya. Kendati demikian, di bawah sadar, ia akan melupakannya jika perempuan itu sudah memiliki suami. Tapi tidak untuk saat ini. Jiwanya benar-benar tersiksa sebelum bertemu perempun itu lagi untuk mendapatkan kejelasan.

Karena kehendak takdir juga pengaruh cinta buta, ia dipertemukan untuk yang kedua kalinya di tempat yang sama. Tidak ingin kehilangan kesempatan lagi, ia melakukan pendekatan. Akhirnya, ia tersenyum mengetahui perempuan itu tidak memiliki suami. Kehamilannya akibat pergaulan serampangan, sebuah asmara yang dungu. Tidak lama lagi bayi itu akan lahir dan ia akan menyambutnya, mempersembahkan diri sebagai ayahnya, mencarikan tempat untuk tinggal bersama, dan mulai berpikir untuk mendapatkan pekerjaan.

Sudah pasti ia akan tersaruk-saruk menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Namun karena berbekal cinta yang tidak masuk akal, ia menjalaninya dengan semangat membara.

Keinginannya tinggal bersama perempuan itu terwujud meski tanpa pernikahan. Tanpa harus berusaha keras untuk membuat anak, ia sudah dianugerahi seorang anak yang cantik. Ia mencintai anak itu seperti anaknya sendiri. Sulit dipahami seperti apa kondisi jiwanya hingga ada cinta untuk bayi itu.

Kecintaannya pada novel dan puisi menolongnya dalam masalah ini. Kendati dari segala penjuru semua manusia menentang hubungannya karena perempuan itu telah hamil tanpa suami dan berbeda agama pula, ia tetap menikahi perempuan itu dengan caranya sendiri, memberikan maskawin berupa cinta dan meminta langit bumi menjadi saksinya. Baginya itu sudah cukup dan sah.

Belum genap empat bulan menikah, perempuan itu mengandung. Ia menyambut dengan bahagia meski dalam hatinya luluh lantak ditelan kekhawatiran karena hidup sungguh tidak mudah.

 

Di Tepi Sungai

 

Hidup memang sulit sekaligus aneh, pikir istrinya.

Angin berembus membawa bau jerami. Hamparan pesawahan di hadapannya baru selesai dipanen. Burung-burung berbulu putih, berkaki dan berleher panjang, bertebaran mencari makan di atas jerami-jerami yang berserakan.

“Aneh,” pikirnya, “kenapa aku bisa sampai di kampung terpencil semacam ini?”

Hanya kehilangan selembar daun sudah menjadikannya sebagai perempuan penunggu sungai.

Dulu, prinsipnya, betapa laki-laki tidak lebih sedikit dari ikan di laut. Begitu mudah didapatkan. Tidak perlu berlayar jauh-jauh. Tidak perlu menebar jaring. Tidak perlu memasang perangkap. Ikan sudah datang dengan sendirinya. Ia sepenuhnya sadar akan kecantikan yang dimilikinya. Sebab itulah ia selalu memandang ke atas saat berjalan dalam kehidupan. Pikirnya, kecantikan adalah segalanya bagi seorang perempuan. Kecantikan adalah sebuah lentera dalam kegelapan. Dan ia bisa dengan seenak hati mempermainkan ikan-ikan yang tertarik oleh sinar dalam kegelapan. Kendati laki-laki yang menikahinya dengan cinta dan menjadikan langit bumi sebagai saksinya itu sudah membukakan kehidupan baru dan memberikan kehamilan yang dilandasi cinta buta yang dikehendaki takdir, oleh karena itu berarti cinta yang tulus, ia tetap saja tidak paham bagaimana menghargai cinta yang sudah dipersembahkan laki-laki itu.

Ia cenderung berperilaku curang. Main asmara dengan laki-laki lain. Tapi tidak. Dalam pemahamannya tidak ada konsep curang. Semua perilakunya adalah alami milik seorang perempuan yang sepenuhnya sadar memiliki kecantikan yang luar biasa dan selalu memandang langit ketika berjalan di atas bumi. Seperti kucing tidak pernah memahami konsep mencuri makanan dari majikannya sendiri, semua adalah alami perilaku kucing.

Ia tidak merasa bersalah melihat laki-laki yang menikahinya dengan cinta berurai air mata di hadapannya.

“Kamu hanya menekanku untuk mengakui sesuatu yang tidak aku lakukan!”

Ia membela diri dengan begitu egois sekaligus konyol. Meski perbuatannya sudah jelas terungkap, kedapatan berduaan dengan laki-laki lain, tertangkap basah dengan dada terbuka seperti ikan duyung saat menyembulkan setengah badannya di atas air.

Akhirnya laki-laki tulus itu memutuskan pergi. Alih-alih menghilang dengan membawa dendam, laki-laki itu tetap saja buta. Cintanya tetap menyala di dada. Andai ia mau menghentikan dan memohon supaya jangan pergi, pasti laki-laki itu dengan senang hati akan tinggal. Tapi sudah tentu ia tidak menghalangi kepergian laki-laki yang sudah disakitinya. Harga dirinya tidak mengizinkan untuk berbuat seperti perempuan lemah.

Dan sekarang, lihat, ia menangis. Bahkan bangau-bangau di sawah pun tidak menghiraukan kesedihannya.

Setelah Menikahi Perempuannya Dengan Maskawin Cinta

Tidak ada yang peduli pada kesulitan hidupnya. Menanggung hidup satu anak sudah membuat pikirannya berantakan, badannya kurus tinggal tulang, kini istrinya hamil lagi. Untung saja, sebagai suami, ia laki-laki yang tangguh. Sangat lucu bila cinta harus gugur hanya karena masalah perut. Meski harus tertatih dan tersaruk, menunaikan tanggung jawab adalah harga diri seorang laki-laki yang memiliki cinta. Jika cinta menyala di dada, jalan gelap dan berlubang bukan suatu halangan. Setelah ditentang dan dicerca habis-habisan oleh keluarganya sendiri, ia harus berdiri di atas kakinya sendiri.

Mula-mula ia menjadi pelayan toko kelontong. Kemudian menjadi kuli bangunan. Sempat pula menjadi pedagang keliling, menjajakan kerupuk, es krim, menggunakan sepeda kayuh milik majikannya. Mau tidak mau ia harus melupakan kuliahnya. Kesibukannya sebagai pencari nafkah, lambat laun membuatnya berjarak dari novel dan puisi. Pikirnya, yang sedang dijalaninya tidak jauh beda dengan novel dan puisi. Andai saja ada penulis yang mau mendengarkan ceritanya dan menuliskannya, perjalanan hidupnya bisa menjadi sebuah buku yang romantis.

Namun, tidak disangka, perjalanan cinta menjerumuskan langkahnya pada lubang yang tidak diinginkannya. Menjatuhkannya dengan keji dan tanpa perasaan. Sampai pusaran waktu semakin dalam mengisap mundur, memaparkan dengan gamblang gambaran-gambaran kejadian, ia menolak melihatnya kembali.

Ia memejamkan mata kuat-kuat, meski tentu saja, masih bisa menyaksikan dengan mata hati. Sebuah kejadian singkat akan tetapi begitu membekas. Ia pasrah dalam pusaran air. Semakin dalam ia terisap, semakin kuat arus menyeretnya.

Sesaat kemudian, setelah melewati kejadian itu, ia berjalan di sebuah gang gelap nan sunyi, kepalanya menunduk, langkahnya tidak bertenaga. Sepertinya ia baru saja mengalami sesuatu yang buruk. Kegelapan gang itu membuat dadanya terlihat mengeluarkan pendar-pendar cahaya redup.

Ia meninggalkan perempuan yang baru dinikahinya atas alasan yang tidak mau ia ceritakan pada siapa pun. Ia terus berjalan semampu kakinya melangkah. Bertekad pindah kota, berpura-pura tidak mengetahui ada pendar cinta dalam dadanya. Ia berharap cinta akan padam dengan sendirinya akibat gerusan waktu.

 

Di Sekolahan

 

Setiap kali lonceng berdentang dan anak-anak berhambur keluar dari dalam kelas, istrinya sudah berdiri sambil memegangi sepeda kayuhnya. Dan hari itu, anaknya harus menunggu beberapa saat sampai ibunya kelihatan di kejauhan mengayuh sepeda. Sejak suaminya menjadi daun, setiap kali menjemput anaknya, matanya sering kali bengkak. Anaknya tidak lagi menanyakan mengenai matanya karena tahu akan mendengar jawaban yang sama: dihempas debu waktu.

Sesampainya di rumah, setelah menyiapkan makanan untuk anaknya, menasihatinya dengan kasar untuk belajar atau istirahat, ia lekas keluar untuk bekerja, menjadi buruh cuci baju tetangga, menyetrika, mengepel, dan apa pun yang bisa ia lakukan demi bertahan hidup.

Semua dikerjakannya dengan mulut bungkam. Pikirannya hanya tertuju pada suaminya, terus menggali kenangan-kenangan bersama suaminya. Sebelum suaminya menghilang, ia tidak bekerja pada orang lain. Menjadi tukang cuci baju adalah lelucon yang sering digunakan suaminya untuk menggodanya saat menjelang tidur. Meski hidup jauh di bawah pas-pasan, istrinya tidak seharusnya bekerja. Lebih baik mengurus anak saja. Suaminya punya sedikit tanah. Jika alam berbaik hati, hasilnya bisa ditabung sedikit demi sedikit untuk membeli sepeda motor bekas supaya matahari tidak meninggalkan jejak pada kaki dan wajah istrinya karena harus melaju lambat di bawah sengatannya, mengayuh sepeda setiap hari kecuali hari libur sekolah, menembus pesawahan yang cukup jauh.

Suaminya bergurau. Tanah yang dimilikinya tidak lebih dari sepetak pekarangan kecil di belakang rumahnya. Hanya cukup ditanami singkong, beberapa cabe dan terong. Untuk mewujudkan impian itu, suaminya harus berdoa lebih tulus dan bekerja lebih giat sebagai buruh tani atau ikut perahu kecil, menangkap ikan di laut. Sungguh bersyukur, istrinya seorang penyabar, harta benda tidak pernah menjadi masalah, hari-hari dijalaninya dengan ceria, banyak senyum dan bicara, seolah tidak mempunyai beban maupun persoalan.

Itu karena istrinya memiliki cinta. Jika tidak ia tidak akan sampai di kampung kelahiran suaminya. Namun berbeda dengan cinta yang dimiliki suaminya, cinta istrinya sebuah perasaan rumit yang hanya boleh dibicarakan oleh dirinya sendiri. Orang lain jangan sampai mendengarnya.

Dulu ketika suaminya meninggalkannya dalam keadaan hamil, kenangnya saat mengucek baju di rumah tetangganya, ia mulai merasakan hidup tidak bisa dilalui dengan sekehendak hatinya sendiri. Dengan perut besar, seraya menggendong bayi yang belum genap berusia dua belas bulan, ia mengayuh sepeda menyusuri terotoar kota, menuju rumah ayahnya, bermaksud mendapatkan belas kasihan demi sepiring makanan. Ayahnya mengusirnya. Mengatainya pelacur.

Dengan hati kecewa, ia kembali mengayuh sepedanya, berganti mendatangi tempat tinggal ibunya dengan niat yang sama. Ibunya menyambut dengan wajah menderita, hampir putus asa memikirkan hidupnya sendiri, lantas meneriakinya anak tidak tahu diri.

Apa yang harus diperbuatnya? Alih-alih sadar telah melepaskan keberuntungannya dengan memperoleh laki-laki baik hati, ia semakin menjadi-jadi.

Berbekal kebencian pada kedua orangtuanya sendiri, mengingat selama ia sekolah selalu mendapat malu karena harus membayar uang sekolah dari belas kasihan orang lain, kadang tetangganya, kadang teman-temannya, tidak jarang dibantu gurunya sendiri karena ia termasuk siswa berprestasi, ia bertekad melupakan kedua orangtuanya. Itu tidak cukup. Mereka harus menerima ganjarannya. Mereka sudah menelantarkannya, tidak pernah memberikan perhatian apalagi kasih sayang. Sebagai orangtua hanya pertengkaran yang mampu mereka tunjukkan, akhirnya perceraian mereka menjadi kenyataan pahit bagi anaknya.

Tepat satu minggu setelah kelahiran yang kedua, ia membopong dua bayi di dadanya, berjalan menyusuri terotoar kota, mendatangi rumah ayahnya, meletakkan dua bayinya begitu saja, di atas ambin tanpa pesan ataupun memberi peringatan terlebih dahulu. Ia akan pergi mencari dunianya sendiri. Kelak, jika dunia sudah ditundukkan dengan kecantikannya, ia akan kembali, mengambil kedua bayinya.

Ia menahan sedu-sedan tangisnya, pundaknya terguncang-guncang, sebentar kemudian senyum-senyum sendiri. Tangannya bergerak lembut di atas baju yang sedang dilicinkannya. Keringat tipis timbul pada lekuk leher dan dahinya.

Hari sudah lewat senja, ia bergegas pulang, dua lembar uang puluhan tergenggam di tangannya.

 

Di Kota Baru

 

Hari, bulan, dan pergantian musim terus berjalan. Cintanya bukan lagi sebuah cahaya redup, namun nyala terang yang merasuki semua organ tubuhnya. Tidak sehari pun bisa terlewati tanpa bayangan perempuan itu. Cinta sungguh buta. Tanpa kebutaan pada cinta, keindahan cinta tidak akan pernah ada.

Sering ia berpikir untuk mencari perempuannya. Tanpa disadari keinginan itu nyaris tak terbendung. Tidak terpikirkan sepuluh musim telah menyulap cintanya tumbuh sebesar badai. Lalu di mana bekas rasa sakit akibat kejadian buruk yang dialaminya?

Kejadian itu tersimpan dalam ingatannya. Menjadikannya seorang laki-laki penuh kepura-puraan. Ucapannya sama sekali tidak sama dengan hatinya. Ia sangat pandai menipu diri, berpura-pura bahagia tanpa perempuan itu. Tidak akan pernah mengulang hidup bersama perempuan itu. Melihatnya pun jangan sampai.

Rasa cinta dan sakit akibat kecewa adalah sepasang racun mematikan. Hanya pertapa sejati yang bisa terbebas darinya. Sedangkan ia tidak lebih dari laki-laki biasa, tidak berdaya mencegah jiwanya tersesat di belantara tak bertuan, tiada henti didera kesendirian juga kesepian, dihempas angin dan cuaca menyedihkan. Jiwanya tidak lebih rapuh dari selembar daun kering setiap kali ia berkhayal tentang hidup bahagia bersama perempuan itu. Suatu hari takdir akan mempersatukannya kembali, itulah keyakinannya. Suatu saat perempuan itu akan menyadari betapa tidak ada cinta sebagaimana dirinya mencintai, tidak ada tempat kembali selain pada pelukannya.

Sungguh mimpi yang tidak tahu diri. Tapi siapa sangka, takdir bisa dipengaruhi oleh tekad dan mimpi yang kuat, sekalipun selama sepuluh musim itu ia sama sekali tidak tahu-menahu ataupun berusaha mencari tahu kabar tentang perempuannya.

Ia akan sabar menunggu sentuhan tangan-tangan takdir mempertemukannya lagi dengan perempuan itu. Dalam menjalani bergantinya hari, mengarungi waktu dengan batinnya, ia melepaskan jiwanya sendiri pada lembaran-lembaran novel dan puisi, begitu sabar mencari gambaran kehidupan yang mempunyai kemiripan dengan keadaannya, mencari sosok yang barangkali ada kesamaan dengan perempuannya.

Ia tahu, membaca buku kadang terasa amat membosankan sampai tidak mengerti apa kegunaan tumpukan buku-buku dalam kamarnya selain sebagai pelarian jiwanya sendiri.

Buku-buku itu ia beli dari hasil kerja menjadi kuli angkut pasar. Lewat seorang teman yang dikenalnyalah ia mulai mengangkuti barang-barang dagangan. Kadang hanya dipanggul, kadang menggunakan alat dorong, membongkarnya dari muatan, memindahkannya ke dalam kios-kios pasar.

Itulah yang diinginkannya. Sebuah keletihan tubuh. Supaya pikirannya beristirahat dari mimpi-mimpi menyedihkan. Supaya jiwanya berhenti sejenak dari perjalanan membingungkan. Tapi jika malam atau di saat sendirian, mimpi-mimpi menyedihkan itu hadir bagai sekumpulan semut merah, berpesta pora di kepalanya.

Tidak hanya bayangan perempuan itu yang mengusik ketenangannya. Kadang wajah kedua orangtua dan kakak-kakaknya hadir silih berganti. Seperti apa keadaan mereka sekarang. Orangtuanya yang sudah tua, masih hidupkah mereka? Kenapa mereka tidak mau memahami cinta anak laki-laki satu-satunya? Rumahnya juga tidak ketinggalan ikut hadir dalam kegelisahannya. Berupa bayangan tidak jelas. Seperti gambar bergerak. Hitam dan buram.

 

Pohon Singkong di Pekarangan

 

Dalam keremangan, rumahnya berdiri muram. Pohonan singkong di pekarangan berdiri bisu, seperti hantu atau bayangan hitam, teramat suram. Hanya lampu neon di masjid depan rumahnya menyala. Sinarnya tidak sampai pada pekarangan di mana ia berdiri sembari membelai-belai daun singkong. Itulah jejak yang ditinggalkan suaminya. Entah sudah berapa kali ia menggumam sendiri, meminta maaf pada suaminya.

Ingatan tentang hidup sebelum bersama suaminya terus mengejarnya tanpa ampun. Sulit sekali ia menghilangkan kebencian dalam pikirannya sendiri. Orangtuanya! Di mana mereka ketika ia menikah sungguhan, tujuh tahun silam, dengan mengenakan baju pinjaman milik kakak perempuan suaminya? Jangankan batang hidung mereka kelihatan, sepatah kata pun tidak mereka berikan. Tidak ada satu pun manusia merayakan pernikahannya. Hanya dua buku kecil yang didapatnya, menyatakan keduanya adalah pasangan suami istri yang direstui agama dan negara.

Sejak hari itu, buku nikah menjadi isi dompetnya, selalu dibawa ke mana pun dirinya keluar rumah. Belanja di warung, mengantar anak sekolah. Dan sebagai muallaf, ia memberanikan diri ikut pengajian-pengajian kampung. Kelak nasib akan mengisi dompetnya dengan uang, begitu harapannya, dan ia bisa menyimpan buku nikahnya di bawah tempat tidur.

Keadaan ini membuatnya semakin benci kepada orangtuanya.

Ia tidak menyesal jika dulu sudah membikin ayahnya kebingungan dengan dua bayi sebelum ayahnya memutuskan mengirimkan yang satu pada mantan istrinya, nenek si bayi. Dan satunya lagi dirawat sendiri bersama ibunya atau buyut si bayi. Tapi sekuat apa pun tekatnya melupakan kedua orangtuanya, ia tidak bisa begitu saja menghilang tanpa kabar atau pun jejak. Kedua anaknya ada pada mereka. Ia tidak bisa menjalani hari tanpa mengetahui kabar kedua buah hatinya. Lantas ia mengambil jalan sederhana, mencari kerja, dan diterima sebagai penjual produk kecantikan di sebuah pusat perbelanjaan kota. Pikirnya kehidupannya akan mulai tertata. Namun, orangtuanya tidak berhenti menekannya. Setiap kali ia datang untuk melihat anaknya, ibunya berteriak-teriak seperti perempuan kalap, mengungkapkan kehidupannya semakin menderita gara-gara mengurus bayi. Setiap waktu ayahnya membentaknya, keranjingan, pelacur, perempuan murahan.

Dalam keadaan tertekan, ia kembali teringat laki-laki yang sudah disakitinya. Ingin sekali ia menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu lantas menangis tersedu-sedu. Alih-alih penyesalannya membawa laki-laki itu hadir kembali, jalan kehidupan menggiringnya jatuh dalam pelukan laki-laki baru, seorang mahasiswa universitas swasta asal negara tetangga. Lebih tepatnya, ia sendiri yang memilih jalan hidupnya sendiri, sekalipun tanpa harus menebar pesona, setiap laki-laki sudah naksir tiap kali melihatnya pada pandangan pertama. Tapi pengalaman mengajarinya untuk tidak sembarangan menerima laki-laki. Sudah dua kali ia hamil dan ditinggalkan begitu saja. Jika harus kembali menjalani hidup dengan laki-laki, pertama-tama laki-laki itu harus tampan dan kaya. Dan itu sudah ada pada laki-laki barunya. Bahkan lebih muda dan tampan dari laki-laki yang sudah menikahinya dengan cinta itu.

Jenis dunia seperti inilah yang akan ditundukkan dengan kecantikannya.

Mula-mula ia harus meninggalkan pekerjaannya, mencari pekerjaan lain yang mudah menghasilkan uang tanpa harus menghabiskan waktu juga tenaga. Karena kecantikannya, pekerjaan semacam itu tidaklah sulit dicari. Sebelum bekerja di tempat hiburan malam, ia menjadi penyanyi di sebuah tempat karaoke. Kebetulan suaranya cukup bagus. Pun permasalahan hidupnya untuk sementara teratasi dengan mudah. Anak-anaknya tidak lagi kekurangan susu dan pempres. Mulut ayah dan ibunya dibuat bungkam dengan uang. Pulang dalam keadaan mabuk berat dan pakaian tidak senonoh terkesan biasa ketika uang sudah berbicara.

Jika ia sedang tidak berselera melihat orangtua dan anak-anaknya, ia sudah memiliki kamar kos sendiri. Pulang menjelang pagi, turun dari taksi, memasuki gerbang rumah kos dengan langkah sempoyongan sambil meracau tentang penderitaan cinta, pengkhianatan laki-laki, semua laki-laki adalah brengsek, kejam dan tidak berperasaan. Seolah kehidupannya sebagai perempuan malam adalah siksa dan keterpaksaan. Dengan merasa diri sebagai perempuan lugu yang kehidupannya sudah dirusak laki-laki, jiwanya bagai terlambungkan ke awang-awang. Oh dunia seperti terasa surga.

Itu sebuah dusta yang menyejukkan ketika dikeluhkan di hadapan orang, bahwa dirinya adalah korban kecurangan laki-laki. Perasaannya yang jujur hanya boleh keluar ketika ia sudah melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memejamkan mata, kadang memandangi langit-langit, merasakan embusan udara dari pendingin dalam kamarnya, alangkah indah saat ini jika laki-laki yang sudah menikahinya dengan cinta itu menemaninya. Ciuman pertamanya dengan laki-laki itu tidak pernah ia temukan dengan laki-laki mana pun selama mengarungi dunia malam. Pelukannya. Dekapannya. Ketulusannya. Cara bercintanya. Semua begitu sempurna. Tidak sebatas aktivitas tubuh. Melainkan jiwa. Perasaan. Hati. Kekaguman dan cinta yang menggebu-gebu. Bersatu padu dalam setiap memperlakukan tubuhnya.

Toh kenyataannya takdir tidak berhenti menimpakan ketetapan yang sama, asmaranya bersama laki-laki bermata sipit berkulit kuning asal negara tetangga itu membuahkan sebuah kehamilan. Berarti ini kehamilan ketiga kalinya. Semua dengan laki-laki berbeda. Ketika mengungkapkan keadaan perutnya, kekasihnya memeluknya dan berjanji akan menikahinya. Beberapa hari kemudian, kekasihnya menghilang, pasti lari ke negara asalnya, ia tidak mungkin mengejarnya.

Terbiasa dengan perlakuan takdir semacam ini, ia sama sekali tidak kaget dan tidak akan mengejarnya. Ia begitu yakin bahwa yang sedang dihadapinya adalah masalah sepele. Tidak lama ia akan mendapatkan penggantinya. Ini terbukti ketika suatu hari berjalan dalam pusat perbelanjaan ada laki-laki yang terpikat padanya. Meski ia sudah mengungkapkan dirinya tengah hamil, laki-laki itu tidak peduli. Bila dilihat-lihat, laki-laki itu cukup tampan. Masih sangat belia. Enam belas tahun umurnya. Peranakan kulit putih berambut pirang yang sudah lama menetap di kota dan berganti kewarganegaraan. Cukup memabukkan bila menjalin hubungan asmara. Sampai ia melahirkan, laki-laki itu tetap pada pendiriannya, bahkan memperkenalkan pada orangtuanya, tidak lupa membawa bayinya yang kebetulan berkulit putih rambutnya juga pirang, meminta supaya merestui hubungannya, berdusta bahwa bayi yang dibawanya adalah hasil hubungan cinta mereka.

Terang saja orangtua laki-laki itu menolak permintaannya karena ia masih sekolah baru kelas dua SMA. Tapi karena sudah ada anak dan desakan moral juga kepantasan, terpaksa orangtuanya menikahkannya secara rahasia, hanya disahkan oleh pemuka agama.

Ia menarik bibir seperti hendak meremehkan ketentuan takdir, atau mungkin bermaksud menepis bayang-bayang yang ditimbulkan oleh pohonan singkong yang tertelan gelap.

Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya.

 

Kembali ke Kota Lama

 

Tahun ke lima. Memasuki awal tahun ke enam. Kekuasaan tangan takdir menggiring perjalanan jiwanya menemukan sebuah tepi. Ia memutuskan kembali ke kota lama.

Pemandangan yang menyambutnya tidak asing sama sekali. Mula-mula sebuah jalan raya yang terbentang sepanjang lima kilometer dari barat ke timur. Di sisi kanannya sebuah taman. Letaknya memanjang mengikuti jalan itu. Di sisinya lagi trotoar untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda kayuh. Inilah kota di mana ia meninggalkan banyak kenangan. Taman itu, jalan itu, menyambutnya dengan gempita; suara-suara tidak jelas, gaduh dan menggema dalam dadanya. Momen teramat puitis seperti sajak-sajak cinta yang pernah dibacanya. Ada kemabukan, kegairahan, sekaligus euforia juga keputusasaan.

Kota itu masih kelihatan sama seperti saat kepergiannya. Akankah kota itu menawarkan sebuah jalan dan kehidupan baru untuknya? Tidak ada yang dituju dan dipikirkannya selain perempuan itu. Namun ia tidak akan membiarkan dirinya ikut campur dalam urusan takdir demi menemukan perempuan yang sudah ditinggalkannya. Ia tidak akan pernah mendatangi rumah perempuan itu sekalipun tidak lupa jalannya.

Ia cukup membaur dengan masyarakat kota, menanti perputaran waktu memperlihatkan kekuasaannya. Inginnya, murni kehendak waktu yang akan mewujudkan mimpinya bertemu dengan perempuan itu. Entah kapan, bagaimana dan seperti apa, biar waktu sendiri yang merancangnya. Ia cukup menjalani hidup di dalam kota. Sepenuhnya ia pasrah pada putaran waktu. Jika ia sering duduk-duduk di taman atau sengaja menyusuri tiap-tiap jalan kota, itu hanya upaya untuk memelihara kenangannya. Jiwanya akan terpuaskan dengan membawa-bawa kenangan.

Dalam hatinya, entah bagaimana, ia seperti melihat sebuah kejadian pada waktu yang masih di depan. Entah seperti apa logikanya ia memiliki kemampuan seperti itu. Mungkin itu hanya khayalannya saja. Perputaran waktu dan kehendak takdir yang akan memutuskan. Layaknya sebagai daun yang tertiup angin dan hanyut di atas permukaan air, ia hanya pasrah.

 

Di Rumah Peninggalan Suaminya

 

Kehidupannya terasa pahit. Ia merasa dirinya sebagai perempuan paling menderita dalam kehidupan. Tanpa suami, suasana rumahnya sungguh terasa mengimpit jiwanya.

Anaknya sedang membaca buku di depan meja dari kayu sengon buatan ayahnya. Anak itu suka membaca, sama seperti ayahnya. Meski baru kelas empat sekolah dasar, sudah puluhan buku milik ayahnya tamat dibacanya. Tidak aneh. Itu anaknya, tegasnya dalam hati, meyakinkan diri sendiri, bukan anak dari laki-laki yang dulu mencumbu ikan duyung.

Namun rumah itu seperti perahu tersesat di tengah lautan. Hanya membawa dua penumpang yang jarang saling berbicara. Tidak ada suara selain kesiut angin, kadang melengking, kadang terdengar seperti gemuruh di atas permukaan air yang terhampar seluas mata memandang. Kesunyian teramat dahsyat. Berteriak sekeras apa pun tidak akan memecah kesunyiannya. Bagi orang yang putus asa, lebih baik menenggelamkan diri supaya terlepas dari cekaman kesunyian.

Ia merasa harus bertahan mengingat penderitaannya ini tidak separah dulu ketika memasuki rumah besar dan mewah milik laki-laki keturunan kulit putih itu. Berada di tengah-tengah penghuninya yang menganggap diri memiliki adab terdepan dalam segala aspek kehidupan, jiwa dan raganya benar-benar tergilas, tidak lebih berharga dari sampah. Kiranya sampah lebih berharga karena tidak perlu disembunyikan. Namun ia, sebagai istri laki-laki belia keturunan kulit putih berambut pirang dengan bahasa yang menguasai dunia, seperti bangkai yang bau, harus dikurung dalam kamar, tidak boleh memperlihatkan diri di hadapan kerabatnya jika kebetulan mereka berkunjung.

Kamar dan dapur adalah wilayah di mana ia diizinkan melangkahkan kakinya. Jangan sampai ke ruang tamu. Jangan duduk-duduk di teras, begitu kata mertuanya yang penuh kecurigaan, seperti sundal, berpenampilan ala tante-tante girang. Meski tidak kurang pembantu, ia harus memasak untuk dirinya sendiri dari sayur-sayuran sisa. Akan memalukan jika sampai makan semeja bersama.

Dengan sejuta penyesalan bercampur sakit hati ia mengurus suaminya, menyiapkan seragam sekolahnya, menyetrikanya, mencucinya, merapikan buku-buku pelajarannya. Jika malam di tengah-tengah keletihannya mengurus bayi, ia harus tetap siaga untuk suaminya yang asyik di depan layar game. Nanti akan butuh kopi. Sebentar-sebentar lapar minta dibuatkan mi. Ambilkan korek api. Tolong bersihkan asbak ini. Jika tidak, karena sudah merasa memiliki hak sebagai suami, laki-laki itu akan memaki, dasar perempuan tidak tahu diuntung, laki-laki mana yang sudi padamu, sudah miskin, punya anak di mana-mana, ruwet, tidak jelas! Kalau bukan karena aku, kamu sudah mejadi pelacur jalanan!

Laki-laki ingusan yang belum paham bagaimana mencintai perempuan, pikirnya.

Cinta laki-laki itu berbeda dengan sebelum memasuki rumah neraka itu. Dulu, semua diberikan. Apa pun dikorbankan. Kala masih tinggal bersama di kamar kontrakan, ia tidak pernah menyentuh alat-alat dapur. Laki-laki itu memasakkan untuknya, meski tidak paham membuat makanan kecuali merebus air dan membuat mi cepat saji. Semua dilakukan demi memikat hatinya.

Laki-laki itu selalu teringat ketika ia bercerita dengan mata berbinar-binar tentang mantan kekasihnya, yang begitu heroik menikahinya dengan maskawin cinta, mendaulat langit bumi menjadi saksinya, tidak mendendam dengan kebencian ketika disakitinya, mengurus pekerjaan rumah dengan penuh cinta, menerima kehamilannya dari laki-laki lain, mengurus bayinya tanpa mengeluh dan banyak bicara.

Laki-laki itu merasa dibandingkan dengan laki-laki lain, sungguh tidak terima rasanya. Alhasil laki-laki cengeng itu ingin menjadi laki-laki yang bisa dibanggakan dan ideal menurut penilaiannya.

Sekarang berbeda, merasa sudah menikahi dan memberikan tempat berteduh, sang laki-laki belia nan tampan itu mutlak berkuasa. Tidak perlu memedulikan kebahagiaannya. Tidak harus khawatir perempuan yang sudah dinikahinya mempunyai kemungkinan masih laku bila disia-siakannya. Ditimbang dari keadaannya, tidak akan ada laki-laki di dunia ini yang mau. Ia tidak akan berani membelot dan mendongakkan kepalanya lagi.

Sebuah penilaian keliru tentu saja. Kepribadiannya tidak memiliki rasa takut. Ia tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus ditindas. Meski dalam hatinya ada sedikit cinta, tapi kekecewaan dan sakit hati akan berubah menjadi dendam ketika kondisi batin dan raganya berantakan akibat penindasan yang keterlaluan itu. Ia harus membalaskan sakit hatinya. Sebelum remaja dungu itu hancur hatinya, merangkak-rangkak dan memohon di bawah kakinya, hidupnya tidak akan pernah tenang. Ia akan menunggu waktu itu tiba.

Dadanya berdegup tak menentu. Matanya memandang kosong jauh ke masa lalu.

Anaknya sudah selesai membaca buku. Sedih memandangi sang ibu yang diam bermuram durja.

Malam selalu muram. Tidak mudah dilewatkan begitu saja sejak kepergian suaminya. Putus asa dan harapan melebur dalam dirinya. Berulang-ulang, seperti perempuan bodoh, setiap menjelang tidur, ia menggumamkan perkataan yang sama: kembalikan suamiku. Tidak bisa dipastikan apakah ucapannya itu harapan atau keputusasaan.

Waktu yang akan menjawabnya. Apakah waktu akan mengembalikan suaminya atau tetap menelannya.

 

Di Kota Lama

 

Waktu memang berputar seperti roda. Akan kembali di titik dari keberangkatannya. Di dalamnya ada harapan dan keputusasaan. Itu benar, setidaknya bagi perjalanan hidupnya. Melangsungkan hidup di kota lama, menunggu waktu mengembalikannya pada titik kejadian yang sama, ia memahami bahasa alam dengan sendirinya. Sapuan angin pada kulitnya, hempasan debu, suhu matahari pada hari-hari tertentu, daun-daun yang gugur, kesibukan masyarakat kota, semua itu terdengar seperti gema sebuah puisi, mengabarkan tidak lama lagi perempuan itu akan kembali.

Seperti itulah alam ketika mengungkapkan pertandanya. Mungkin cukup penyair dan pertapa yang sanggup memahaminya. Tapi tidak. Ia bukan penyair atau pertapa sama sekali. Bukan penulis apalagi. Tidak pernah berpikir mengangkat pena untuk mengungkapkan perasaan ataupun pemberontakannya. Ia hanya laki-laki yang menggembalakan jiwanya sendiri pada padang cinta. Tidak lama lagi waktu akan mengembalikan kejadian yang sama, mempertemukannya lagi dengan pujaan hatinya. Kiatnya memelihara kenangan dengan sering duduk-duduk di taman, tidak peduli siang ataupun malam, di mana dulu ia mengenal perempuan itu, menyebabkan takdir harus memutuskan sesuatu.

Dan hari itu akhirnya tiba. Saat pagi buta. Menjelang subuh. Udara membawa bau basah. Perempuan itu muncul di taman kota. Duduk pada bangku merah hatinya. Siapa sangka itu adalah perempuan yang dinantinya. Muncul dari kereta waktu. Penampilan perempuan itu sama sekali berbeda dari pertemuan pertama bertahun-tahun silam. Ia hampir tidak mengenalinya kalau saja perempuan itu tidak mengatakan sesuatu, membutuhkan api untuk menyalakan rokonya.

Ia mengulurkan korek api pada perempuan gemuk di hadapannya. Tidak mengenali wajahnya. Perutnya menyembul hendak meretas kancing-kancing bajunya. Lengan dan pahanya terbuka, penuh lemak. Entah kehidupan seperti apa yang telah menyulap tubuhnya menjadi sedemikian buruk. Suaranyalah yang membuatnya mengerutkan dahi, berpikir sejenak, tidak asing, seperti pernah mendengarnya, lantas mengamati wajahnya. Sisa-sisa kecantikannya seluruhnya tertimbun oleh lemak. Wajahnya kini bulat. Tulang rahangnya tertutup daging. Lehernya terlihat lebih pendek. Berat tubuhnya mendekati obesitas.

Jika kecantikan merupakan faktor tunggal yang menyebabkan ia jatuh cinta, tentu pagi itu jiwanya tidak akan meledak karena terkejut. Bibirnya tidak akan bergetar disebabkan tidak tahu harus mengakatan apa. Apakah benar dia perempuan yang dulu dinikahinya dengan cinta? Tidak salah itu permpuan yang dicintainya. Pun perempuan itu mengenali laki-laki di hadapannya meski rambutnya kini panjang, tergerai hampir mencapai pinggang.

Keduanya bertemu pandang. Sejenak mereka tidak mengerti bagaimana memulai pembicaraan.

Angin tidak berembus. Cahaya lampu jalanan menembus kabut di udara. Suasana beku.

“Anakmu sudah besar,” ujar perempuan itu memecah keheningan.

Ia tidak tertarik membicarakan anak, tidak merasakan apa-apa ketika diberi tahu anaknya sudah berumur empat tahun. Ia tidak paham keindahan semacam apa dengan memiliki anak. Untuk itu ia tidak menanggapi apa-apa. Sedangkan perempuan itu terus bicara. Menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menginginkan laki-laki di hadapannya kembali untuk dirinya.

“Tapi anak tetaplah anak,” kata perempuan itu, “tidak ada bekas anak. Kamu akan bertemu dengannya. Besok aku tunggu kamu di sini. Datanglah sebagai seorang laki-laki.”

Ia hampir mengatakan, aku hanya mencintaimu kalau saja perempuan itu tidak membuka dompet merahnya yang tebal, kemudian menyodorkan selembar foto.

“Itu anakmu,” perempuan itu menjelaskan, “perempuan.”

Ketika mengamati bocah berambut pendek mengenakan baju kuning dalam foto itu, ia merasakan ada sesuatu yang aneh merambati hatinya, semacam keterkejutan yang lembut, dadanya mengembang.

Benarkah itu anaknya? Jangan-jangan gejolak di dadanya itu sekadar reaksi air sungai yang memenuhi paru-parunya. Dalam gulungan pusaran air, dalam isapan waktu yang melaju mundur, ia tidak melihat kejelasan apa-apa mengenai anaknya. Alih-alih waktu membukakan gambaran jelas mengenai asal-muasal anak kecil pada foto itu, pusaran air membawanya duduk menghadap meja, kedua tangannya menempel pada cangkir kopi di hadapannya, sedangkan matanya berbinar-binar, menyala penuh cinta, memandang perempuan di hadapannya.

Sampai di sini, ia berteriak dalam kendali waktu yang terus menyajikan gambaran-gambaran kejadian. Ia tidak ingin melihatnya. Kendati ia bisa memejamkan matanya, namun hatinya tidak bisa ditutupi dengan apa pun. Ia pasrah. Digulung. Diisap. Semakin jauh, semakin dalam sampai ke dasar, menyaksikan semua kejadian yang pernah dialaminya, sampai tubuhnya menggembung dan melepuh di dasar sungai, sampai selembar daun membusuk di dasar pusaran waktu.

 

Suara Orang Mengaji

 

Istrinya memejamkan mata. Kesadarannya sulit tenggelam dalam tidur. Rasanya malam berjalan sangat lamban. Ia meringkuk dalam kamar bersama anaknya. Sebentar-sebentar terbangun, duduk memandangi dinding kamarnya yang berlubang-lubang. Gorden jendelanya adalah sarung milik suaminya. Kasur dan spreinya lusuh, tanpa ranjang, terhampar di atas lantai yang dialasi tikar.

Rasanya baru kemarin ia memasuki rumah itu. Bersama suaminya, ia menemukan kasur itu teronggok bersama tumpukan-tumpukan kain dan barang-barang tak terpakai lainnya di salah satu kamar dalam rumah itu. Setelah kedua orangtua suaminya meninggal, rumah ini dibiarkan kosong, begitu ia mengenang cerita suaminya. Akhirnya musim dan cuaca dengan mudah melengserkan genting-gentingnya, kemudian dinding dan kerangkanya keropos dimakan rayap. Kakak-kakak suaminya putus asa untuk menjual rumah berikut tanahnya itu. Tidak ada orang yang mau membelinya karena tidak ingin terkena masalah. Rumah dan tanah itu berstatus sengketa jika tanpa persetujuan adik mereka yang tidak pernah kembali.

Secara fisik, rumah itu benar-benar menyedihkan.

Barang tentu memasuki rumah itu terasa memasuki surga bila dibandingkan tinggal di kota serta kehidupan malamnya yang penuh kecurangan dan kemunafikan. Rumah suaminya adalah pengasingan yang tepat bagi dirinya untuk mengawali lembaran baru. Suaminya senang mengetahui istrinya bahagia dengan kehidupan baru itu. Aku memang bahagia, ucapnya dalam hati seraya membetulkan selimut anaknya supaya embusan angin yang masuk dari lubang-lubang pagar tidak membuatnya sakit. Besok anaknya harus bangun pagi untuk sekolah.

Kebahagiaan yang membingungkan. Ia sungguh menyadari itu. Mengingat awal mula ia sampai di rumah suaminya, dadanya terasa seperti menyempit, terimpit rasa bersalah. Suaminya begitu baik. Hampir bisa dikatakan bodoh. Tidak mempunyai prasangka buruk sekalipun demi kewaspadaan.

Ia kembali mengenang di taman kota dulu ketika membawa anaknya, mempertemukan dan mengenalkan pada ayahnya. Tidak ada reaksi terkesan dramatisasi ataupun sentimental pada ayahnya. Ayahnya hanya memeluknya, menggendongnya, menciumnya. Malamnya mereka berdua duduk menghadap kopi. Ia menceritakan secara rinci tentang kehidupannya. Mengemas kisah hidupnya sendiri dengan sangat cerdas. Jangan sampai tercium ada modus. Jangan sampai terkesan tendensius. Semua harus terdengar alami. Mengalir seperti air. Bertiup seperti angin. Dirinya murni menjalani peran sesuai kehendak takdir.

Laki-laki di hadapannya mendengarkan dengan saksama seraya menatapnya penuh cinta, lantas menanyakan sesuatu.

“Di mana anakmu dengan laki-laki berkulit putih itu?”

“Aku menitipkannya pada seorang pengasuh. Satu minggu sekali atau jika aku sedang tidak bekerja, aku menjenguknya, membawakan keperluannya, memberikan uang gaji buat pengasuhnya.”

“Kamu bekerja di mana?”

“Haruskah aku beri tahu?”

“Aku ingin mendengarnya.”

“Aku bekerja di tempat hiburan malam. Tapi aku tidak termasuk seperti yang dinilai banyak orang.”

“Itu tidak penting.”

“Aku sudah kehilangan semuanya dan aku menerima jalan hidupku. Tapi sulit rasanya melupakan kesalahanku padamu. Seharusnya aku tidak menyakitimu.”

“Aku sudah melupakannya.”

“Lalu bagaimana denganmu? Maksudku kehidupanmu selama ini?”

“Seperti yang kamu lihat. Aku tetap sama seperti dulu.”

“Aku ingin mendengar lebih dari itu.”

“Aku masih dan tetap mencintaimu,” ujar si laki-laki dengan nada datar.

“Itu saja?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku tidak berani memintamu untuk kembali padaku.”

“Kenapa?”

“Entahlah.”

“Karena aku sudah terlalu buruk di matamu? Karena aku sebagai perempuan malam?”

“Aku tetap mencintaimu.”

“Jangan cemas. Aku sudah meninggalkan laki-laki sialan itu. Hanya saja, kadang kita masih bertemu hanya karena urusan anak.”

“Aku mengerti.”

Diam sejenak.

Ia membatin, semoga kamu jangan sampai mengerti. Hubunganku dengan laki-laki itu tidak seratus persen selesai. Saat ini sedang rumit-rumitnya. Membingungkan. Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku harus memikatmu karena aku membutuhkan cintamu supaya aku terbebas dari jeratan perasaanku sendiri.

Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Ia harus bekerja. Sebelum berpisah, ia mengantar laki-laki itu dengan taksi.

“Ke mana?”

“Aku tidak punya tempat tinggal. Aku titipkan baju dan buku-buku di tempat kawan. Di sana aku sekadar menumpang mandi dan ganti pakaian. Aku lebih sering tidur di jalanan.”

“Kita ke rumah kawanmu?”

“Gang depan masuk lima puluh meter. Rumah dengan gerbang biru.”

Sebelum laki-laki itu turun, ia menciumnya.

Ingatan-ingatan menyedihkan itu tidak bisa membuatnya tidur. Hingga terdengar suara orang mengaji di masjid depan rumahnya, menyadarkannya bahwa beberapa jam lagi hari mulai berganti.

Jika subuh seperti ini, suara orang mengaji terdengar sangat menyayat. Itu selalu terjadi jika suaminya tidak ada di sampingnya. Suara itu mengingatkannya pada suaminya. Sejak pertama menempati rumah itu, suaminya rajin ke masjid dan mengaji di rumah, mengajari istri dan anaknya.

Sadar suaminya sudah menjadi daun, suara itu tidak lagi terasa menyayat, namun nyaris membunuhnya.

Dulu, minggu-minggu pertama di rumah ini, saat subuh seperti ini, ia akan bangun dengan terpaksa demi kepantasan sebagai istri, begitu kesal dan muak, menyiapkan bekal sarapan untuk suaminya yang akan berangkat ke laut atau ke sawah sebagai buruh memanen padi bersama orang-orang kampung. Ia belum terbiasa, atau lebih tepatnya belum siap menjalani peran sebagai istri. Jiwanya masih dihuni dentuman musik, minuman keras, kerlip lampu pesta, tangan-tangan cabul laki-laki penghambur uang, bapak-bapak berkantong tebal, kekasih-kekasih simpanan yang selalu berganti seperti dirinya berganti pakaian.

Yang terakhirlah yang paling disukainya. Ada kepuasan tak terkatakan ketika berhasil menghacurkan hati laki-laki sehancur-hancurnya. Tidak terhitung laki-laki yang sudah dipatahkan hatinya. Perbuatan tercela yang sulit dilepaskannya.

Sebenarnya ia tidak menyadari perbuatannya. Bagaimana bisa ia tidak merasa berdosa bermesra-mesraan dengan remaja tampan lewat telepon genggam ketika suaminya mempertaruhkan hidup mati demi sesuap nasi di atas lautan. Hatinya tidak sedikit pun tersentuh ketika suaminya pulang dari sawah dengan muka merah-hitam karena tenaganya diperas habis-habisan di bawah terik matahari, memotong tanaman padi, memanggulnya dari tengah pesawahan menuju tepi. Hanya lewat telepon genggam, tidak lebih, berarti tidak masalah dan tidak bersalah menurut dirinya. Hanya sekadar janjian, kelak akan ketemuan, tidak lebih, aku belum menemuinya berarti aku tidak berdosa.

Berdiri di depan pintu, dandanan wajahnya seperti hantu, goresan pensil alis tebal di bulu matanya, sedangkan di sudut matanya, ia menarik garis membentuk daun-daun kecil, seperti motif batik, ia menyambut suaminya pulang dengan senyum palsu.

Napas suaminya masih tersengal-sengal ketika mengulurkan lembaran uang dengan hati puas sekaligus lega sudah menunaikan tanggung jawab.

 

Tanaman Padi

 

Terang saja suaminya hampir pingsan bekerja di sawah. Tidak sekali pun pernah mencoba kerja seberat memanen padi di sawah. Hanya laki-laki perkasa, para dedengkot desa yang ahli, yang mampu melakukannya. Untung saja suaminya tidak mati sungguhan karena dadanya meledak akibat detakan jantungnya terpacu terlalu cepat. Seharusnya suaminya mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan.

Alih-alih kapok, keesokan harinya, suaminya bangun waktu subuh, mengambil air untuk berwudu, sembahyang dan berdoa, kemudian menyiapkan sabit dan tali yang dibuat dari karung padi, melangkah keluar rumah, menuju sawah, demi memberikan cinta pada anak istri.

Musim panen pertama itu adalah ujian tidak waras bagi suaminya. Lima jari tangan suaminya hampir hilang teriris sabit ketika memotong tanaman padi kalau saja temannya tidak mengingatkan supaya jangan terlalu cepat mengayunkan sabit karena ia belum berpengalaman.

Hamparan tanaman padi adalah medan mistik bagi orang yang tidak pernah memotongnya. Sekalipun suaminya pandai membaca buku, mengenali dari kata ke kata hingga menjadi kalimat yang kemudian tergenggam dalam pemahamannya, kecerdasannya tidak berlaku ketika ia berdiri di hadapan hamparan tanaman padi. Setiap genggam tanaman padi bukanlah kata-kata yang bisa digenggam dengan penglihatan dan pemahaman saja.

Untung hanya jari kelingking tangan kiri suaminya yang terbelah. Segera saja suaminya membebatnya dengan kain yang disobek dari pakaiannya sendiri setelah menyiramkan solar, untuk mesin penggiling tanaman padi, pada lukanya.

Suatu kali di tengah mengangkuti karung-karung padi, berjalan di lumpur sawah, perasaan suaminya menjadi rapuh dan terharu. Lantas diam-diam memisahkan diri dari teman-temannya yang sibuk mengusung padi. Menuju pinggiran sungai, bersembunyi di bawah jembatan kereta api. Menenangkan degupan dadanya sendiri. Mencelupkan tangannya ke dalam air. Membasahi wajah dan kepalanya. Kemudian memandangi langit yang membentang di atasnya.

Matahari memanggang pesawahan dengan panas yang luar biasa. Suaminya menangis sesaat, hanya sebentar, tapi sungguh berkesan dan melegakan. Hidup sungguh tidak mudah. Tapi suaminya harus kuat. Mengingat anak dan istrinya di rumah menunggu. Cinta bukanlah kata-kata dalam novel dan puisi yang pernah dibacanya. Menurutnya cinta lebih mengarah ke pembuktian dan pengabdian.

 

Waktu Bercerita

 

Mengingat wajah suaminya yang penuh cinta membuat istrinya menangis terisak-isak di subuh itu. Anaknya terbangun disebabkan suara tangis ibunya. Anaknya mengerti, ibunya menangis karena sedih atau matanya terkena debu waktu.

Embun belum menguap dari rerumputan di pinggir jalan desa. Istrinya mengayuh sepeda, memboncengkan anaknya, menembus kabut tipis menuju ke sekolah. Andaikan waktu seperti kabut, istrinya akan menembusnya, menuju kehidupan sebelumnya untuk memperbaiki jalan hidupnya, menyayangi suaminya dan memperlihatkan kebahagiaan di hadapan suaminya tanpa harus menyebunyikan suatu rahasia.

Kenyataannya penyesalan tidak pernah bisa mengembalikan apa pun. Penyesalan hanya kata-kata dan ungkapan perasaan bersalah. Kendati istrinya sudah menyesali semua perbuatannya sebelum suaminya terbang terbawa angin, kenapa takdir tidak memaafkannya, kenapa waktu tidak mengasihaninya, malah mengambil suaminya, mengasingkannya pada tempat antah berantah.

Tidak! Istrinya hanya mengelabui waktu. Istrinya sudah melakukan kesalahan yang keterlaluan. Sering kali, ketika suaminya bekerja selama beberapa minggu di tempat yang jauh sebagai buruh pemanen padi, istrinya mengajari anaknya menjadi pembohong, jangan sampai mengatakan pada ayahnya kalau dirinya keluar rumah, pulang menuju kota asalnya yang jaraknya ratusan kilometer dari desanya demi urusan-urusan sepele. Ibarat menyelam sambil minum air, dengan kembali ke kota kelahirannya, istrinya boleh melakukan apa saja sampai melakukan sesuatu yang tidak berani diakui ataupun dikatakannya di hadapan waktu, suaminya tidak akan melihat apa yang dilakukan istrinya, oleh karena itu tidak akan menyakiti suaminya.

Kenyataannya sekarang istrinya benar-benar mencintai suaminya. Sedikit demi sedikit berusaha berubah menjadi istri yang baik. Waktu pun melihat dan mendengar cinta istrinya. Waktu menyaksikan pengabdiannya sebagai istri penyabar. Menerima keadaan sulit. Tidak pernah mendebat kemampuan suaminya dalam memberi makan. Tidak pernah bersuara menahan lapar selama bertahun-tahun sampai badannya menjadi kurus kembali seperti sedia kala.

Di sisi lain istrinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengakhiri hubungannya dengan remaja tampan berambut pirang itu, meski dulu remaja tampan itu sudah ditinggalkannya, dipatahkan hatinya sampai membuatnya merangkak-rangkak memohon supaya dimaafkan dan jangan ditinggalkan.

Alasannya selalu anak. Anaknya ada pada remaja belia itu. Tapi bukankah suaminya sejak awal sudah meminta istrinya membawa dua anaknya yang tercecer di luar itu? Istrinya menolak karena malu dan tidak berani. Itu pun tidak sepenuhnya benar. Istrinya tidak terlalu suka terhadap ketiga anaknya. Kelak waktu akan membawa salah satu dari anaknya untuk menyampaikan sebuah cerita. Setidaknya waktu sudah melihat bahwa anak itu memiliki tanda-tanda punya kemampuan untuk mengisahkan sesuatu. Anak itu pendiam dan menyukai buku.

Jika waktu mengambil suaminya, menyelamatkannya dari kepura-puraan istrinya dengan menjadikannya daun, suaminya tidak akan bisa kembali lagi. Waktu sungguh mengerti, suaminya tidak wajar dalam mencintai. Tanpa menjadikannya selembar daun, suaminya akan kembali sekalipun waktu membukakan rahasia yang sudah disembunyikan istrinya.

“Sungguh,” tegas waktu, “suaminya akan kembali.”

Batang, 2017-2018

Memenuhi permintaan Arik selama seabad.

Semoga menjadi kisah yang romantis.

Akasa Dwipa

Akasa Dwipa

lahir di Batang, Jawa Tengah, pada akhir Agustus 1983. Menulis sejumlah cerita pendek dan novel. Novel pertamanya yang berjudul Kota Anjing menjadi pemenang ketiga Lomba Novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) pada 2011. Novel kedua Rima-Rima Tiga Jiwa diterbitkan oleh LiterasiPress pada 2016. Sejumlah cerpennya diterbitkan di beberapa media sastra cetak, media online, dan koran.
Akasa Dwipa

Latest posts by Akasa Dwipa (see all)