21 Tahun Sejak Menulis Ulid—dan Menjualnya (1)*

Ketika menulis “Belajar Menyukai Seekor Kambing” (yang kemudian diubah menjadi “Belajar Mencintai Kambing”) pada awal Mei 2003, saya baru saja melewatkan usia ke-23. Saat itu saya belum lulus kuliah, namun skripsi tinggal tersisa renik-reniknya—pada ucapan terima kasih, skripsi itu ditandai selesai pada Juli 2003, sebelum diujikan sebulan kemudian. Seorang kawan dekat, yang biasa tidur, nongkrong, dan gitaran lagu-lagu slow rock Malaysia bareng saya di kampus, tiba-tiba bilang bahwa ia akan menikah. “Kalau menuruti keinginan, siang ini maunya indomie rebus, tapi aku tahu aku harus makan nasi dengan sayur yang cukup agar kuat sampai sore nanti,” katanya kepada saya di sebuah warung makan di belakang Rumah Sakit Panti Rapih, membuka obrolan panjang tentang rencana pernikahannya. “Ya, tentu aku maunya menikah dengan pasangan yang aku inginkan, tapi kurasa aku sudah putuskan untuk memilih pasangan yang aku butuhkan.”

Itu obrolan yang terlalu berat untuk saya. Pada saat yang sama juga berita yang cukup mengejutkan. Ia hanya setahun lebih tua dari saya, juga hingga hari itu masih sering tidur di kampus bareng saya. Dan ia seorang seniman yang berbakat. 

Di usia 23, saya bukan hanya mahasiswa miskin, tapi juga penulis pemula yang tak berpengharapan. Masa-masa akhir kuliah sebenarnya masa paling produktif saya di fase-fase awal mulai menulis, namun saat itu saya baru sanggup menembus satu-dua koran daerah, dan karena itu tetap tidak yakin dengan dunia tulis-menulis. Jika saja saat itu nama saya sedikit saja lebih mapan di mata beberapa redaktur budaya, saya pikir cukup waktu untuk saya menulis cerpen, mendapatkan wesel dari koran, dan membeli kado untuknya. Tapi, itu masih jadi cita-cita. Jadi, ya, saya akhirnya hanya menulis cerpen, dan menjadikan cerpen itu sebagai “kado” pernikahannya.

Cerpen itu benar-benar saya tulis untuknya. Saya menulis tentang bocah yang menginginkan sepeda namun justru mendapatkan kambing, sebuah premis yang betul-betul saya ambil langsung dari ucapannya tentang pasangan “yang diinginkan” dan “yang dibutuhkan”. Juga, cerpen itu kelihatannya tidak diniatkan untuk dikirim ke koran, mengingat ceritanya yang tidak tipikal cerpen-cerpen koran, selain ukurannya yang sedikit kelewat panjang dibanding dengan cerpen koran pada umumnya.

Dan, tampaknya juga, cerpen itu tidak saya tulis dengan cara biasa saya menulis cerpen. Dari judul dan beberapa kalimat pembuka, jelas sekali pengaruh cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang memang intens saya baca selama satu setengah tahun itu, tapi daleman-nya, bagaimana karakter dibangun, cerita digerakkan, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf panjang dipilih dan dipamerkan, dan terutama bagaimana narator serba tahu melihat dan memperlakukan tokoh utamanya, itu jelas kilatan api yang saya tangkap dari halaman-halaman novel Banerji. Sesuka-suka apa pun Kunto menulis cerpennya saat itu (dan Kompas akan tetap memuatnya), ia tak akan menulis sebuah manual menyabit rumput sepanjang 120 kata. (Di awal 2000an, saya kira juga tidak lazim untuk cerpen koran membuat paragraf tunggal lebih dari 300 kata.) Tapi, terutama bagaimana tokoh utamanya, seorang bocah laki-laki tak bernama yang disebut “ia”, terhubung dengan ibunya yang menyayanginya tapi sekaligus sulit memahaminya, ia sangat dekat dengan bagaimana hubungan Apu dan Sarbajaya di Pater Pancali.

Sampai setahun kemudian, cerpen itu tetap menjadi sebuah kado pernikahan. Anak dalam cerpen itu, juga bapak dan ibunya, belum bernama. Tak ada latar tempat dalam gambaran yang lebih jelas yang sudah terbayang. Tak juga ada cerita yang lebih besar menunggu. Sudah ada kambing dan sandiwara radio di situ, tapi belum ada Lerok dan Malaysia. Saya mungkin membayangkan akan menulis novel di masa depan dengan cerpen tersebut sebagai bagiannya, dan karena itu saya menutup cerpen tersebut dengan menambahkan keterangan mengambang yang saat itu sedang jadi trend: “sebuah fragmen”. Tapi saya tak tahu saya akan menulis novel itu kapan. Sampai, pada akhir tahun itu, sebuah lembaga kebudayaan di Jogja membuka pengumuman beasiswa penulisan novel.

***

Sejak Februari 2004, sekitar tiga bulan setelah wisuda, saya sudah berada di Jakarta, bekerja di sebuah LSM yang bergerak di bidang studi dan mengawasan informasi—sebuah tempat “pembuangan” bagi kebanyakan mantan aktivis pers mahasiswa yang tidak (laku) jadi wartawan. Itu tahun politik: Pemilu kedua sejak Reformasi 1998 akan diselenggarakan, dan untuk pertama kalinya Presiden Indonesia akan dipilih secara langsung. Saya bertugas merekam berita-berita dari stasiun-stasiun TV, menontonnya berulang-ulang, mengisi borang-borang tentang partai, tokoh, atau calon presiden mana yang disiarkan, berapa lama durasinya, dan bagaimana nada pemberitaannya. Saya masih belum tahu pekerjaan macam apa yang saya idealkan, tapi melakukan hal seperti itu, dengan gaji di bawah UMR dan kontrak tujuh bulan, di Jakarta pula, itu jelas bukan hal yang saya sukai. Maka, ketika seorang kawan dari Jogja mengabarkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) kembali membuka beasiswa penulisan novel, saya sudah membayangkan akan kembali ke Jogja, main Seven Scope dengan kawan-kawan karib saya, para pemalas yang pada belum lulus itu, seperti yang saya lakukan nyaris sepanjang waktu sejak selesai skripsi. Karena satu-satunya cara untuk kembali ke Jogja adalah menulis novel, maka saya mulai memikirkan sebuah cerita yang lebih besar, lebih panjang. Dan begitu saya memikirkannya, cerita itu saya pikir sudah selesai: saya tahu mulai dari mana dan mengakhirinya di mana, tapi yang terpenting saya sudah tahu apa yang akan saya ceritakan. Saya juga sudah menentukan latar tempat dan latar waktu untuk cerita itu.

Cerita yang “sudah selesai” itu saya tulis dalam sebuah proposal bernada makalah. Ada semacam pendahuluan, latar belakang masalah, dan tentu saja rencana kerja. Saya tidak tahu apakah proposal untuk pengajuan beasiswa penulisan novel memang semacam itu, tapi saya saat itu membayangkan diri sebagai seorang aktivis yang sedang mengajukan program kerja berapi-api kepada sebuah lembaga donor yang punya target mengubah dunia menjadi lebih baik. Kata-kata atau frasa-frasa berat macam “demografi”, “difusi”, “akulturasi”, “perubahan sosio-kultural”, “pergeseran budaya”, hingga “dokumen sosial”, bisa ditemukan di proposal tersebut.

Dan proposal itu tidak diterima—entah karena ia ditulis dengan buruk, atau ceritanya tidak menarik, atau, seperti bisik-bisik dengan seorang teman karib yang proposalnya diterima, boleh jadi kurang transformatif. Itu adalah kegagalan pertama “menjual” (ide yang nanti menjadi) Ulid. Dan itu membuat saya mesti tetap di Jakarta, mengerjakan pekerjaan yang tidak saya sukai, mensyukuri upah yang tidak seberapa, dan menatap masa depan (terutama diri sendiri, tapi juga sastra Indonesia) dengan muram.

Beruntung, proposal novel yang tak diterima itu, dengan segala heroismenya, juga kenaifannya, tidak pergi dari kepala saya. Seperti berkali-kali saya ceritakan, LSM di Jakarta itu mengupah saya terlalu sedikit, tapi ia memberi banyak sekali bloknote kosong dan komputer yang tak terpakai, dan itu adalah privilese yang tidak akan saya miliki kalau saya masih atau kembali ke Jogja. Dan setelah melewati dua bulan pertama kerja, yang di sela-selanya menghasilkan beberapa cerpen gagal, saya mulai mengerjakan NOVEL itu, sekitar Mei 2004, tepat setahun setelah cerpen yang menjadi kado pernikahan itu.

Dan, entah mengapa, saya bersetia dengan cerita yang saya bayangkan di proposal gagal itu. Juga mulai berusaha menghidupkannya. Setelah berkali-kali membongkar pasang teknik naratifnya, saya memutuskan bahwa novel ini akan diceritakan oleh pencerita serba tahu yang bercerita lewat mata seorang anak kecil. Ya, ini semakin menguatkan kecondongan saya kepada Pater Pancali-nya Banerji. Dan menjadi lebih jelas, proyek ini terhubung dengan cerpen tersebut. Saya bisa melihat bocah yang menyaksikan desanya berubah karena migrasi seperti yang saya sodorkan pada proposal itu adalah bocah yang sama yang ingin sepeda namun malah mendapatkan kambing. Saya menamai bocah itu Ulid, sementara desanya, desa yang disaksikannya berubah akibat sebagian penduduknya merantau ke Malaysia, disebut Lerok.

***

Proyek itu saya beri judul tentatif “Batu dan Kayu Tak Bisa Ditanam”, sebuah olahan sarkastis dari lirik lagu Koes Plus “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” yang telah jadi pemeo klasik. Ini judul yang cocok untuk sekitar 50an halaman pertama novel, yang sebagian besarnya menceritakan bagaimana batu dan kayu yang berjumpa dalam tungku pembakaran gamping rumahan di Lerok hancur oleh industri semen, yang kemudian menjadi pemicu bagi gelombang migrasi para warganya. Namun, sejak awal saya merasa judul itu terlalu depresif untuk sebuah bildungsroman bertokoh utama seorang bocah yang saya idealkan ada lucu-lucunya, sebagaimana Pater Pancali.

Sejak awal saya ingin menulis sebuah novel sastra. Tapi sastra yang seperti apa? Apa yang sedang saya kerjakan itu jelas keluar dari rel karya-karya sastra Indonesia yang saya acu dan tiru sejak mulai belajar menulis pada 1999, seperti Seno Gumira, Putu Wijaya, atau Yanusa Nugroho. Tak ada surealisme sama sekali di naskah itu, entah yang urban maupun pedesaan—tak seperti beberapa cerpen yang saya tulis satu-dua tahun sebelumnya; tak juga ada absurdisme ala Menunggu Godot, karena yang sedang saya kerjakan adalah kisah realis paling mentah yang bisa saya tulis. Ia juga tak mengikuti apa yang sedang hype di sastra Indonesia saat itu—yang kelak dengan tepat ditengarai oleh kritikut Katrin Bandel. Ia tidak seksual seperti karya-karya Ayu Utami, yang mencipta tren saat itu sekaligus melahirkan banyak epigon. Barangkali karena belum membaca Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan (meski mengikuti proses penerbitannya dari cukup dekat sekaligus menyimak polemiknya dari kejauhan), saya juga tak kepikiran untuk mencoba-coba menambahkan magisme pada kisah realis itu.

Pada saat yang sama, bildungsroman bukan jenis novel yang banyak ditemukan dalam kesusastraan Indonesia; Kenang-kenangan Hidup dari Hamka adalah bacaan yang paling dekat dengan gambaran tentang bildungsroman yang pernah saya baca dalam kesusastraan Indonesia, tapi tentu saja itu bukan bildungsroman karena ia bukan novel melainkan otobiografi. Ini menimbulkan masalah, baik saat mengerjakannya maupun ketika mencoba membayangkan bagaimana nanti menerbitkannya. Pertama, saya mesti mencari pembanding sekaligus acuan nyaris semuanya ke luar, dari mulai Banerji di India, ke Joyce yang Irlandia, lalu ke Wiesel dan Kertez di Hungaria (meski, karena menceritakan tragedi Holocaust, mereka sering tak dimasukkan dalam bildungsroman), hingga Pira Sudham di Siam. Kedua, karena acuan-acuan tersebut di atas, saya sulit membayangkan penerbit yang bisa menerbitkan sebuah bildungsroman selain Obor—dan satu-dua penerbit lain sebagai semacam cadangan yang samar dan jauh.

Bajilak! Siapa penulis pemula yang menerbitkan novelnya di Obor? Jangan-jangan, saya sedang mengerjakan sebuah novel yang tak akan pernah terbit?

Pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan itu semakin menggelayut ketika novel itu macet di halaman 60an sekian. Dan karena dihantui oleh kemungkinan mengerjakan novel yang tidak akan terbit, saya menyiapkan sebuah proyek cadangan, sebuah naskah yang bisa lebih mudah dijual, yang kurang nyastra. Naskah itulah yang kelak menjadi Kambing dan Hujan

*Bagian pertama dari tiga tulisan.

Mahfud Ikhwan
Latest posts by Mahfud Ikhwan (see all)

Comments

  1. Isna Bahtiar Reply

    Belum pernah baca novel Pak Mahfud Ikhwan, kok menarik sepertinya. Terima kasih, Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!