Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq

Beliau adalah Hasan bin Muhammad Abu ‘Ali ad-Daqqaq. Beliau adalah seorang sufi yang paling cerdas di Nisapur pada zamannya, seorang yang menjadi panutan dalam dunia tasawuf. Beliau adalah seorang sufi yang berbicara dengan sangat fasih. Juga sanggup menjelaskan, utamanya tentang keislaman, dengan sangat gamblang.

Beliau adalah seorang sufi yang tidak memiliki tandingan di masanya. Beliau adalah seorang murid dari Syaikh an-Nashraabadzi. Beliau telah menyaksikan para sufi yang banyak sekali. Beliau senantiasa memberikan nasehat kepada umat manusia di Nisapur. Beliau juga wafat di sana pada bulan Dzulqa’dah tahun 405 Hijriah.

Menurut Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Islam, beliau senantiasa bepergian setiap tahun sekali. Beliau juga senantiasa bermukim di sebagian kota. Kemudian setelah itu beliau kembali lagi ke rumahnya di Nisapur, Iran.

Seorang yang sangat terkenal, Syaikh al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, mengkhitan beliau bersama dengan seorang santrinya. Tentu ketika itu beliau masih kecil, mungkin berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Di waktu itu, beliau senantiasa gelisah, kacau dan gampang emosi. Maklum, masih anak-anak.

Ketika telah dewasa, beliau menekuni dunia kerohanian melebihi orang-orang kebanyakan. Bahkan, pemilik Kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri, mendengarkan langsung dari gurunya bahwa dia memasuki majelis Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq dan bertanya tentang tawakal kepadanya.

Sementara di kepala Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq ada sebuah surban dari Tiberias, sebuah kota yang termasuk di dalam wilayah Israil. Dia sangat menyukai surban itu. Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq memberikan jawaban tentang tawakal kepadanya sembari memberikan surbannya: “Memutus pengharapan dari surban orang lain.”

Dari mana Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq mengetahui hati tamunya bahwa dia menyukai surban yang sedang dipakainya itu? Tidak lain pastilah beliau mengetahui hal itu dari Tuhan semesta alam, tidak mungkin dari siapa atau apa pun yang lain. Karena itu, beliau menjadi sangat titis.

Berkaitan spiritualitas beliau yang sangat mumpuni itu, beliau menyatakan bahwa sebuah pohon tumbuh di padang pasir. Pastilah pohon tersebut tidak berbuah kalau tidak ada orang yang merawatnya. Kalaupun pohon itu berbuah, pastilah buahnya tidak lezat rasanya.

“Aku mendapatkan spiritualitasku yang tangguh dan cemerlang dari Syaikh an-Nashraabadzi. Syaikh an-Nashraabadzi mendapatkannya dari Syaikh Abubakar asy-Syibli. Syaikh Abubakar asy-Syibli mendapatkannya dari Syaikh Junaidi al-Baghdadi. Dan, aku tidaklah pergi dari Syaikh an-Nashraabadzi kecuali untuk mandi.”

Sungguh, perilaku beliau merupakan perilaku yang kebak dengan sopan santun. Utamanya kepada guru beliau. Semoga kita senantiasa mendapatkan manfaat dan barokahnya. Baik untuk kehidupan kita di dunia ini maupun di akhirat nanti. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. AGUNG Reply

    SAPI SAPI SAPI

  2. AGUNG Reply

    syaikh abu ali ad-daqqaq

  3. Reva Reply

    menurutku Hasan bin Muhammad abu dali ad daqqaq
    adalah orng yg cerdas dan dia bisa menjelaskan ke islaman dengan sangat gemblang

  4. syaon Reply

    masyaallah sangat mulia sekali beliau

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!