Puisi Arif Purnama Putra

Mencari Tabib Tjia

 

kami cari lagi tabib itu

ahli nujum dari cina daratan

membawa berpeti herbal

layaknya eksodus suruhan ratu wihelmina

 

terus, terus ke hulu

kami sibak sungai-sungai penuh biawak

hutan rapat dan bau anyir pepohonan

batu-batu aneh serupa megalit

kadang bertemu jejak tak terbaca

perkampungan terbengkalai

rangka rumah berlumut

serupa peninggalan penambang tak punya pilihan

 

“mereka merantau. mereka merantau,”

kata seorang peladang

 

sayang benar, menyibak ke hulu

tapi hilir tak diarungi

lupa benar kami

berjalan tak bersebab

pulang-pulang tak mendapat

 

/padang, 2024

 

 

Di Bandar X

 

ia ingat lagi

pelabuhan-pelabuhan

kapal-kapal pinisi

pesiar yang tersesat

dan petualang datang sebagai dagang

 

dagang yang janggal

pilin berpilin serupa gulung ombak

segala penjuru dikepung

ia datang tergesa

buru-buru sudah serupa pencari suaka

 

tapi, dari pelabuhan ke pelabuhan

tak tercatat kekalahan

ia baca kembali arah angin

pulau kecil—perca katanya;

dibandar x hanya ada tumpukan emas dan rempah

 

perintah tak jadi perintah di sini

kata kerja hanya berlaku pada badan sendiri

kata sifat menjelma umpatan belaka

segala metafora ditumpuk di lepau-lepau

siapa masuk bisa jadi santapan

 

ia ingat lagi

bandar-bandar dari dusun-dusun

kapal-kapal tersadai

menjelma sekumpulan budak

“tak ada yang benar-benar mereka bawa dari sini’

 

di bandar x, orang-orang dikepung kata-kata

janji sebatas angguk

bahkan, susah bedakan mana raja mana rakyat jelata

“di sini tak ada penjajah, datanglah berdagang, singgahlah”

 

/padang, 2025

 

 

Mencari Raja di Bandar X

 

setelahnya, dari barikade

orang-orang menggulung tikar masa lampau

menidurinya dalam pelayaran-pelayaran

membentangkannya serupa ranji silsilah

di lepau-lepau, setiap singgah

ia kata bandar x seumpama negara dalam negara

bahkan, gengshin khan tak sanggup melumpuhkannya

 

setelahnya, dari catatan kusut

orang-orang menenteng itu ke mana-mana

kadang dilipat sedemikian rupa

ditaruh dalam dompet agar menjelma azimat mujur

 

di rumah, anak-anaknya ditiduri waktu

masam dan merasai

dapur lupa aroma asap

tungku basah—pesing kencing anjing

ulayat menjelma umpan ikan kelaparan

di mana-mana datuk mudah diangkat

dan parewa mengaku sebagai raja

 

“numpang tanya satu, di mana bandar x yang katanya gudang ilmu?”

 

/padang, 2025

 

 

Rumus Musim-musim

 

barangkali begitu

masa lalu diusap-usap layaknya anak

di masa depan dilupa-lupa

orang-orang menagih banyak kelupaan

bertanya yang sudah terjawab

 

di hari yang janggal

mungkin dalam rumus ahli bintang

tertanda nahas

tapi cuaca tak begitu

ia pancaroba

musim buruk dan baik bisa datang kapan saja

 

ini musim itu

orang kata telah mendusta

cewang katanya, tapi gabak yang ada

begitu juga seterusnya

siapa mengutuk siapa

dalam nyanyian disebut juga

“takku dustakan takdir dan nasib darimu”

 

/padang, 2024

Arif Purnama Putra
Latest posts by Arif Purnama Putra (see all)

Comments

  1. zaski Reply

    cantik sekaliii

  2. diant Reply

    Keren kak..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!