Puisi Azman Bahbereh

 

Nyepi I

 

kini datang nyepi

di pohon jepun

semut api melamun

pecalang hitam di hamparan canang

 

selengkung penjor jatuh

di tepian hilir

angin rebah menyusul

dan azan pupus bersiul

 

pada pelinggih

menari cicit kedasih

dari barat

napas pantai tinggal gema

 

matahari pergi sebentar lagi

pijarnya hanyut di punggung laut

 

berbisik kemudian daun andong

berarak awan bagai gerbong

seribu pintu kayu ditutup sudah

malam meremukkan kusen jendela

 

lalu pasir-pasir berbintang

bulan karang menyendiri

derik jangkrik menyeru di pematang

bukit-bukit bersembunyi.

 

 

 

Rachmaninoff Terakhir

  • Brief Encounter

 

kamu berkata pada dirimu sendiri, seperti dalam keremangan dan penyesalan masa lampau, tepat setelah peluit tanda keberangkatan itu ditiupkan tentang ia tak pergi, ia pasti turun dari kereta dan kembali ke kafe ini dengan kebohongan bahwa ia telah melupakan sesuatu.

 

tapi tak ada sesuatu yang dilupakan. semuanya selesai; segelas kopi pahit, kwasong yang dihangatkan, dan kata-kata selamat tinggal yang akhirnya dibuangnya ketika ada kolegamu yang datang menyela napas panjang perpisahan kalian.

 

setelah itu tak ada apapun ketika pintu dibuka, tak ada apapun ketika pintu ditutup. ketika ia terlepas dari tanganmu, maka terlepas pula kenangan-kenangan kalian yang tak wajar. terbang bersama kengerian suara kereta yang membawa ia pergi.

 

di situasi genting itu kamu berharap ada sedikit ingatan yang bisa disimpan; perjumpaan-perjumpaan yang masih dalam tahap bermoral. namun semisal kamu dapat menyimpannya, apakah kamu bisa menanggungnya tanpa rasa bersalah di hadapan mereka?

 

sekarang terimalah semuanya—sebuah pelupaan. seperti asap di sana yang jatuh di bantalan rel yang gelap, perlahan kamu harus melupakan kalau kalian pernah saling mencintai dan merindukan di sebuah restoran saban kamis, di atas jembatan yang telah dua kali kalian datangi, di atas perahu, di ruangan bioskop, di depan rumah sakit, di depan pengunjung kafe, di dalam kafe, di luar kafe, dan di lubuk kecil kebohongan kalian ketika bertemu dengan seorang yang mengetahui bahwa kalian sebenarnya telah berkeluarga satu sama lain.

 

 

Dongeng Laut

  • End Credits, Keegan DeWitt

 

pernah ada gurita yang kesepian, dan gurita itu kerap bersedih di balik terumbu-terumbu cantik. kemudian di suatu sore datang seekor orca yang ingin menyantapnya. ketika mendekat, orca itu melihat gurita diam menangis—bukan karena rasa takut, tapi karena keterasingannya. insting membunuh membuatnya mengerti kalau daging yang sehat lahir dari suasana hati yang baik. akhirnya orca itu menemani gurita, sampai rasa sepi dalam kehidupannya sedikit sirna.

 

dan ini anehnya. kebersamaan orca dan gurita menumbuhkan perasaan di antara masing-masing mereka. mungkin aku… kata gurita terbata. mungkin aku juga… jawab orca terbata. namun pasti akan menjadi sebuah lelucon baru kalau keduanya sempat menikah, bukan?

 

hari-hari berlalu, orca harus mengarungi lautan agar ia tak mati kelaparan meski ia akan menjadi hewan paling bersedih jika harus meninggalkan gurita. kau bisa mengambil satu tentakelku, namun tetap di sini dan temani aku.

 

esoknya orca semakin lapar dan setiap laparnya kambuh, gurita dengan penuh kasih memberikan satu tentakelnya kepada orca. begitu seterusnya tanpa ada yang menyadari. sampai hanya tersisa apa yang tersisa dari dirinya,

 

sampai hanya tersisa orca, sendirian, menyesal dan merindu.

 

 

Lebaran yang Jauh

 

kamu mudik dan tiba-tiba kenanganmu mengeras

terjebak di runcing pagar coklat

rumah riuh

pada lebaran yang jauh

 

kamu ingat memar pagi di sana

dan kamu rasakan paruh dingin memagut gema takbir

dari sirip-sirip awan

selepas koran dan sajadah

mengantre pergi

dari tumpukan rumput-rumput jepang

 

di rumahmu

ada selipat kemeja hijau

celana kain dalam hitam yang pudar

mengintip dari sela lemari

yang tak ditutup rapat

 

mereka disetrika ibu

pada subuh yang biru

dengan mata setengah layu

 

tubuh cekingmu

menangkap kemeja itu

dan sepasang kaki 

menceburkan dirinya

ke dalam rongga celana

 

merasa rapi dan berbakti

kamu pergi berziarah ke kuburan

mendapati orang-orang dewasa

menggali-gali yang sudah tiada

dengan asin air mata

bunga-bunga

dan tengadah doa

 

bagi mata kecilmu

kesedihan yang semestinya ialah jejak langkah

yang masih menapaki gundukan tanah

ketika menyadari kebuli

sate kambing

dan gulai sapi

telah menghabiskan aromanya

di atas meja kayu

 

bagi mata kecilmu, kesedihan ialah masa-masa peluh menunggu

selembaran uang biru dibungkus amplop putih

masuk ke kantong kemeja yang siap menyeret tubuh cekingmu

ke sebuah kelontongan orang cina

yang mana tak bisa kau temukan lagi hari ini.

Azman Bahbereh
Latest posts by Azman Bahbereh (see all)

Comments

  1. mike Reply

    sangat keren

  2. Rizal Reply

    Singkat

  3. putri Reply

    keren sekali

  4. rizki Reply

    keren, singkatan,dan sangat bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!