Syaikh Muhammad al-Qashshab al-Amili

Beliau adalah sebagaimana judul di atas. Tidak ada pengurangan dan tambahan sedikit pun. Setidaknya itulah yang ada pada referensi kepustakaan saya. Saya tidak menemukan dalam kitab yang lain selain dalam Kitab Nafahat al-Unsi min Hadharat al-Qudsi karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami sebagai satu-satunya kitab yang menampung namanya.

Di dalam kitab Nafahat disebutkan bahwa Syaikh Muhammad al-Qashshab al-Amili berada di Damnghan, sebuah kota yang ada di Distrik Tengah dan termasuk kabupaten Damghan, Provinsi Semnan, Iran.

Menurut Syaikh Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang terkenal dengan sebutan Syaikh al-Islam bahwa Syaikh Muhammad al-Qashshab al-Amili termasuk murid dari Syaikh Abu al-‘Abbas al-Qashshab. Beliau, Syaikh Muhammad al-Qashshab al-Amili, adalah seorang sufi yang memberikan peringatan kepada umat manusia di sana.

Akan tetapi gurunya, Syaikh Abu al-‘Abbas al-Qashshab, mencegahnya. Kenapa dicegah oleh gurunya sendiri? Kenapa kok tidak malah diperintahkan? Tidak lain semata karena bahasanya terlalu tinggi. Beliau sangat agung kondisi rohaninya, kata-katanya tidak bisa terjangkau.

Ibaratnya adalah seluruh penduduk Damghan adalah bangkai-bangkai, sementara Syaikh Muhammad al-Qashshab al-Amili adalah roh mereka. Jarang sekali bahwa jasad-jasad itu memahami bahasa roh mereka. Bahasa yang langsung berhubungan dengan Allah Ta’ala.

Ketika dikatakan kepada mereka bahwa yang terdekat dengan mereka itu adalah Allah Ta’ala, mungkin hanya sementara mereka bisa paham, selebihnya hilang. Terus begitu walaupun sampai diulang-ulang. Menyaksikan apa pun sesungguhnya sama dengan menyaksikan Allah Ta’ala, mereka paham sebentar. Setelah itu, hilang lagi.

Betapa sulit dan susahnya untuk bisa merasakan Allah Ta’ala. Bahkan bisa dikatakan mustahil. Tapi betapa mudahnya seseorang merasakan Allah kalau sudah dikehendaki oleh hadiratNya. Jadi, Allah Ta’ala itu sebagai subyek. Sementara manusia walaupun usahanya macem-macem, tetap hanya sebagai obyek.

Menurut Syaikh al-Islam, seandainya Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani dan Syaikh Muhammad al-Qashshab masih sama-sama hidup, niscaya aku akan mengutus kalian kepada Syaikh Muhammad al-Qashshab, tidak kepada  Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani. Kenapa? Jelas bahwa bersahabat dengan Syaikh Muhammad al-Qashshab jauh lebih bermanfaat.

Karena bersahabat dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani sama sekali tidak bermanfaat terhadap para santri. Mungkin santri-santri itu tidak paham terhadap keterangan-keterangan beliau. Mungkin pembicaraan beliau terlalu tinggi untuk mereka. Dengan keterbatasan itu mereka merasa bahwa mereka bukanlah kelas beliau.

Secara pemahaman mungkin demikian, tapi secara spiritual, boleh jadi bersahabat dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani lebih bermanfaat. Seperti bersahabat dengan seorang sufi dan seorang filsuf, mana yang lebih berguna? Secara rasional, mungkin lebih berguna bersahabat dengan seorang filsuf, tapi secara rohani boleh jadi bersahabat dengan seorang sufi. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!