Seorang Anak Sebaiknya Lahir di Rumah yang Hangat

Kami sudah menikah tiga tahun. Tidak berencana memiliki anak. Aku tidak percaya kita sanggup menjadi orangtua, kata Minami waktu kami telanjang di tempat tidur. Suaranya terdengar sedih. Sama seperti saat dia mengucapkan selamat pagi atau bertanya, Kau mau kopi atau teh? Belakangan suara Minami selalu terdengar sedih untuk kalimat apa pun yang dia ucapkan.

            Apa yang sebenarnya terjadi? tanyaku satu hari.

            Minami menggeleng. Mungkin dia tidak ingin mengatakannya atau dia memang tidak tahu.

            Pertanyaan sama kuajukan pada diri sendiri, dan aku juga tidak dapat menjawabnya.        

Pada akhirnya kami menjadi semakin banyak diam. Kami berhenti membahas film terbaru. Berhenti saling bertanya tentang pekerjaan masing-masing. Berhenti menelepon di jam istirahat untuk memastikan apa kami sudah makan siang. Saat sesekali bicara, paling-paling Minami hanya menyeletuk tentang tetangga yang diam-diam mengambil daun jeruk di pekarangan rumah kami atau seekor kucing liar yang sering kencing di balik pagar dan dia berpikir itu telah mengganggu ketenangannya. Aku tidak berkata apa-apa tentang itu. Hal-hal kecil yang bagiku sama sekali tidak masalah, tapi tidak mungkin kukatakan pada Minami. Aku tidak mau dia makin sedih dan menganggapku bukan lagi orang yang dia kenal, yang selama ini mendukung semua keinginan dan memahaminya. Seingatku di hari-hari itu kami sudah tidak pernah tertawa bersama. Aku lebih sering bersikap hati-hati dan Minami kian menutup diri.

Aku mulai pergi ke bar dan minum bersama teman-teman kantorku untuk mencari hiburan. Pekerjaan yang mengharuskan kami sering pergi bertemu klien, cukup membuat lelah. Dulu, aku tidak ikut-ikutan karena aku tahu Minami menungguku di rumah dengan minuman panas dan camilan untuk hidangan saat kami menonton film di TV kabel atau menyaksikan siaran sepak bola dan setelahnya membahas hasil pertandingan panjang lebar. Belakangan aku tidak punya alasan untuk cepat pulang.

Seperti malam ini, lagi-lagi aku terdampar di sebuah bar langganan. Aku tidak lagi menolak tiap teman kantor mengajakku. Malah beberapa kali aku yang berinisiatif. Untuk apa berada di rumah bila aku dan Minami hanya menjadi dua orang asing? pikirku. Apalagi kami tidak punya bayi yang harus kuurus. Tentang tidak punya bayi itu terlintas begitu saja dalam kepalaku. Aku pasti sedang mabuk, pikirku. Kami memang tidak ingin punya bayi dan selama ini kami baik-baik saja. Namun, kini aku merasa sangat sepi. Dalam mabukku, aku merasa sangat sepi. Dan aku tiba-tiba mengingat Minami yang pernah berkata, aku tidak percaya kita sanggup menjadi orangtua.

Sebenarnya aku tidak pernah bertanya pada diriku sendiri apa aku sanggup menjadi orangtua. Sewaktu kami membicarakan ulang di satu pagi yang tenang, aku bahkan menerimanya begitu saja dan menganggap tidak punya bayi memang pilihan terbaik buat kami yang banyak menghabiskan waktu di luar untuk pekerjaan. Aku tidak mencoba sedikit kritis mempertanyakan apa benar keputusan itu diambil karena kami tidak sanggup atau ada alasan lain yang lebih tepat. Rasanya, aku agak menyesal sekarang. Bukan soal kami pada akhirnya memang tidak punya bayi, melainkan aku merasa kejam pada calon anakku yang tentu sama sekali belum berwujud itu, tapi belakangan sering menghantui pikiranku. Mungkin saja calon anakku sangat sedih karena dia tahu aku bisa melakukan semuanya, tapi malah tidak sanggup membawanya ke dunia ini, memberinya kesempatan menangis yang keras dan membuka mata kecilnya.

Aku makin mabuk. Aku berteriak minta tambah minuman di tengah entakan musik. Aku tidak sanggup menghadapi rasa sepi yang kali ini terasa lebih menusuk. Tambah! Tambah! teriakku terdengar seru dan menikmati suasana, tapi sesungguhnya yang kurasakan bukan begitu. Gelasku diisi penuh sampai buihnya meluap dan mengalir keluar. Aku tertawa. Semua tertawa. Hanya saja lagi dan lagi kalimat Minami menggema dalam kepalaku: aku tidak percaya kita sanggup menjadi orangtua.

Ah, Minami, kenapa dia harus mengatakan kalimat itu tepat saat malam seharusnya kami membuat bayi? Tunggu. Seharusnya? Sungguhkah seharusnya kami punya bayi? Bayi yang mungkin hari ini tumbuh dengan baik dan bersiap masuk preschool dan kami banyak menghabiskan waktu di tempat-tempat terindah yang bisa kami kenang saat dia dewasa nanti. Bayi perempuan—atau lelaki—yang mengisi hati kami sampai penuh, hingga kami tidak mengenal rasa sepi. Beberapa kali Minami pernah bilang, dia mulai tidak suka dengan rumah yang terlalu rapi dan sunyi—yang menurut Minami seolah tidak ada kehidupan di dalamnya. Minami juga bilang, dia terlalu bosan dengan segala sesuatu yang dia temui selama ini sampai-sampai berpikir lebih baik mati.

Aku mendengarnya dengan jelas, meski Minami mengatakan kalimat itu lebih kepada dirinya sendiri.

Ya, seharusnya kami mencoba punya bayi—atau kalaupun tidak, bisa memilih sebuah alasan yang lebih tepat, yang membuat kami tidak perlu merasa bersalah. Aku yakin sekali telah membuat kesalahan besar di hari itu. Hingga aku dan Minami nyaris tak mampu lagi menghadapi kehidupan di hari-hari belakangan ini. Hingga pelan-pelan kami kehilangan diri kami sendiri.

Minami, tolong jangan berbicara dengan suara sedih ya, kataku dan rasanya dadaku nyaris meledak. Tolong jangan membuatku berpikir aku telah mengacaukan semuanya.

Aku sudah pasti sangat mabuk. Sampai-sampai aku tidak bisa mengangkat kepala dan mungkin ucapanku terdengar ngalur ngidul. Namun, jika benar aku sangat mabuk, kenapa aku masih memikirkan dan merasakan semua yang ingin kulupakan?   

Di bar itu, biasanya kami ditemani Lili. Begitu juga malam ini. Dia menuangkan minuman kami. Menemani ngobrol. Melantai bersama. Lili pernah bilang, dia punya seorang anak di rumah yang kadang terpaksa dia tinggal sendirian padahal masih berumur lima tahun. Mau bagaimana lagi, kata Lili. Kalau tidak keluar malam, Lili tidak dapat uang. Usia Lili baru 24 tahun. Lili memperlihatkan kartu pengenalnya. Namanya benar, Lili. Aku tidak perlu nama samaran, katanya terdengar berani. Sebenarnya tidak, kata Lili. Aku ini penakut sekali sebelum melahirkan Uvi—ya nama anaknya Uvi. Uvi yang membuat Lili tidak takut pada apa pun lagi.

Kenapa Minami tidak seperti Lili dan hidup lebih berani? pikirku. Aku ingin Minami seperti Lili.  

Kemudian, tahu-tahu aku berciuman dengan Lili. Tahu-tahu malam ini aku pergi ke hotel terdekat bersamanya dan tenggelam dalam parfum aroma mawar yang membuatku lupa segalanya.

***

Saat aku pulang jelang pagi, Minami belum tidur. Dia masih memperhatikan layar laptopnya. Minami jarang membawa pekerjaan ke rumah. Dulu dia bahkan tidak pernah melakukannya. Baru pulang? Minami memutar kursinya, matanya menatapku. Aku yang sudah tidak terbiasa mendapat pertanyaan, menjawab terbata, Y-a. Kau mabuk, kata Minami dengan suara sedihnya. Dia memutar kembali kursinya, menghadap layar laptop yang menyala, seakan aku tidak ada.

            Minami tidak masuk kamar hingga pagi. Aku menemukannya tertidur di kursi. Saat aku ingin membangunkannya, dia membuka mata. Aku bisa terlambat, katanya langsung berdiri dan mencoba menghindariku. Dia buru-buru ke kamar mandi. Namun, semenit kemudian dia keluar sambil mengangkat kemeja yang kupakai semalam.   

Aku mengambil kemeja itu. Tercium bau parfum Lili. Jika saja Minami bertanya, aku akan menceritakan tentang perempuan itu. Aku tidak memiliki hubungan serius dengan Lili selain dia bekerja di bar yang sering kukunjungi dan kami bercinta satu kali. Tapi, tampaknya Minami tak ingin membahasnya.

Tidak banyak yang berubah setelah itu. Kami tetap tidak banyak bicara. Makin sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Makin jarang ada di rumah. Tidak pernah lagi telanjang di tempat tidur saat kami bersama—dan sudah pasti tidak berusaha membicarakan ulang soal kemungkinan membuat bayi. Aku sempat mengira hubungan kami akan segera berakhir. Tapi, ternyata kami bertahan setahun lagi, lalu setahun lagi dengan segala sesuatu terus memburuk.

***

Hari ini, tahun keenam kami menikah. Kami sudah sepenuhnya orang asing. Aku tidur dengan beberapa perempuan. Minami mungkin juga begitu. Aku pernah mendengarnya menerima telepon dari seseorang dan mereka berbincang cukup lama. Di titik ini aku dapat mengerti, kenapa dulu Minami berkata, aku tidak percaya kita sanggup menjadi orangtua.

Kami mungkin tidak akan pernah berpisah dan mencoba hidup baru dengan seseorang yang memberi kami kebahagiaan. Aku menduga kami berpikiran sama bahwa hidup ini sudah terlalu melelahkan dan lebih baik kami begini saja, tak perlu beranjak ke mana-mana. Aku akan mendengar suara sedih tiap kali Minami berbicara. Aku juga makin merasa sepi. Namun, paling tidak aku tak lagi merasa bersalah pada calon anakku yang tidak kami perjuangkan. Dia memang lebih baik tidak hadir di rumah kami. Sebab, seorang anak sebaiknya lahir di rumah yang hangat.[]

Bengkulu, Juli 2025    

Yetti A.KA
Latest posts by Yetti A.KA (see all)

Comments

  1. Amar Reply

    Asik cerpennya

  2. ais Reply

    bagus bgtt

  3. Chopy Reply

    Dan bagaimana jika seorang anak telah terlahir di rumah yang tidak bisa disebut rumah. Seorang ibu yang pendiam malah jadi pemarah. Semoga anak itu menjadi kuat dan tangguh.. Semoga Allah menjaga anak itu

  4. Aditya Reply

    Keren sih

    • zuhud Reply

      bagus ceritanya

      • amalia fitri syahira Reply

        kerennn

  5. Muhammad Yusuf Ismail Reply

    Terimakasih tentang cerpennya yang telah membisikkan pelajaran berharga tentang membina sebuah keluarga, semoga aspek yang sedang kita jalani saat ini mendapatkan ridho dari Allah senantiasa.

  6. Mirey Reply

    lebih baik begini sih, dan aku setuju.

  7. elies Reply

    bagus ceritanya

  8. Budi Reply

    Aku suka

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!