Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani #2

Ketika Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani ditanya oleh orang-orang tentang siapa sesungguhnya seorang sufi, beliau memberikan jawaban bahwa seorang sufi adalah dia yang pakaiannya tidak ditambal-tambal, adalah orang yang sajadahnya tidak bagus. Tidak seperti itu.

Bahkan beliau mengatakan bahwa seorang sufi adalah orang yang tidak dibelenggu oleh berbagai macam ketentuan, oleh berbagai macam kebisaan. Seorang sufi adalah dia yang sudah sepenuhnya tidak ada. Betul-betul tidak ada. Karena bahkan dunia ini, di pandangan sufi ini, sepenuhnya tiada.

Karena segala sesuatu yang ada, tapi sebelumnya tidak ada, maka ia tercatat tidak ada. Kita sekarang ada, tapi sebelumnya tidak ada, maka kita tercatat tidak ada. Sama dengan seluruh isi bumi ini, sama dengan seluruh isi langit itu, semua asalnya tidak ada, maka hakikatnya semua itu tidak ada.

Seorang sufi adalah dia yang tidak butuh apa pun kecuali kepada Allah Ta’ala. Di siang hari, seorang sufi adalah dia yang tidak butuh kepada matahari. Di malam hari, dia tidak butuh kepada bintang-bintang, tidak butuh kepada rembulan. Beliau tidak butuh kepada apa saja, kecuali kepada Allah Ta’ala.

Ketika Syaikh Abu al-Hasan al-Kharaqani ditanya dengan apa seorang sufi mengenal kesadarannya sendiri? Beliau menjawab bahwa apabila seorang sufi berdzikir kepada Allah Ta’ala, dia hadir dari zamannya di dunia ini menuju ke zaman azali ketika segala sesuatu belum dimulai oleh hadiratNya.

Ketika beliau ditanya oleh orang-orang tentang apa itu ikhlas? Beliau menjawab bahwa apa pun yang kau kerjakan semata-mata karena Allah Ta’ala, tidak karena sesuatu yang lain, itulah yang disebut ikhlas. Dan apa pun yang kau kerjakan karena sesuatu yang lain, itulah yang disebut dengan riya’.

Di saat beliau ditanya oleh orang-orang tentang apa itu yang disebut dengan jujur, beliau menjawab bahwa jujur itu adalah orang yang hatinya berbicara, bukan semata lisannya. Yakni, lisan orang itu cocok dengan hatinya. Itulah yang disebut bahwa hati orang itu berada di depan, sementara lisannya berada di belakang.

Lantas beliau ditanya lagi, kepada siapa orang boleh berbicara tentang kesementaraan dan keabadian, tentang fana dan baqa? Kepada orang yang sudah sangat kukuh. Ibaratnya adalah orang itu terjahit dengan benang sutera ke langit. Kemudian angin bertiup sangat kencang hingga mencabut pepohonan dan gunung-gunung. Merobohkan bangunan-bangunan dan membuat bergejolak samudera, sementara orang itu tidak bergerak dari tempatnya.

Ketika beliau ditanya, dengan siapa kita mesti bergaul di dunia ini? Beliau menjawab bahwa janganlah kita bergaul dengan orang yang tidak ngomong Allah Ta’ala. Artinya apa? Tidak ada sesuatu yang penting di dunia ini selain hadiratNya. Selain Allah, pandanglah segala sesuatu sebagai tidak ada.

Betapa sangat sulit untuk memandang segala sesuatu sebagai tiada, hanya Allah Ta’ala yang betul-betul ada, sebagai Wajib al-Wujud. Dari hadiratNya muncul segala sesuatu, termasuk manusia. Segala sesuatu yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah, tidak mungkin tidak. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!