
Baik Juga…
Baik juga jika tak lewat jalan itu—sebuah lorong hitam menuju liang kuburan. Tapi seseorang mungkin menunggu di sana, dengan dagu terpahat ke batu dan tangan menyatu dengan akar-akar yang menjalar ke jantung api unggun.
Tak perlu ragu, ambil mana yang menarik. Pertimbangan moral mungkin baik bagi manusia. Namun suara lapar tentu perlu didengar. Kita boleh menghancurkan gudang roti, istana hijau, dan gedung-gedung milik si rakus, atau kita telentang saja bagai si mati.
Dan makan! Di sini ada kerikil putih dan biji bara yang disimpan moyang di dalam batu. Siapa peduli? Dan setan, dan hantu, dan roh-roh orang yang dikeramatkan tak akan membantu kedua tanganmu bergerak ke kantung bintang-bintang yang menyimpan apa yang kita perlukan.
Oho! Namun sebaiknya aku pergi, tanpa perlu pertimbangan apa-apa. Baik juga jika ada di antara kita yang merayakannya, merayakan apa pun yang tak pernah terjadi, atau mendengar alun himne dari mulut dan mata mayat yang lapar, kerabat kita dalam nasib.
Ketika Aku Telentang
Ketika aku telentang di atas tanah tanpa selembar kain, aku merasa menyatu kembali dengan tanah, bagian dari diriku yang sudah lama hilang. Mataku yang nanar menatap bintang-bintang.
Berapa jumlah bintang? O! sanjungan para dewa. Sekali waktu aku percaya pada bualan seorang tua tentang suara bintang, tentang tangan-tangannya yang mengguratkan takdir di bumi dan manusia terbungkuk-bungkuk di bawahnya. Mereka angkat sembah dan bicara sangat sopan kepada bintang-bintang, eufemisme yang disukai dewa-dewa dan raja-raja!
Dan di masa tertentu kita budak bahasa, mulut kita dirantai dengan temali api ke kaki raja-raja!
Tapi gairahku kini telah kembali ke tanah, dan aku berbagi kesenangan dengan batu-batu, lewat sesaji dua mata rusa yang kucongkel di malam buta.
Aku telentang, dan hanya ingin telentang. Aku kini hamba dari kemalasanku. Dengan lagu-lagu yang dilantunkan bayang sungsang yang berdiam di muka gang (ah! Kota yang tidur tak lebih malas dariku) aku menemukan kemurnian hasratku. Hasrat yang tak pernah merepotkan dan tanpa pretensi berekor putih.
Mulutku tak pernah diajari sopan santun. Hasratku berasal dari mulut, dan ketika melihat bintang-bintang aku ingin melahap bintang-bintang dengan mulutku. Bumiku dalam perut, dan tak seperti para kaisar, raja-raja dan budak-budaknya, aku telah makan beling, makan mahkota bumi dan segala yang berserakan dalam laut.
Pernah seseorang bertanya, “apa bintangmu? Sagitarius atau Canopus?” Aku menjawab dengan nama semua bintang. Bintang-bintang yang telah merestui semua penaklukan oleh raja-raja dan kaisar.
Aku Tidur dalam Negara
Aku tidur di sebuah negara dan kadang enggan bekerja. Moyangku mati lumutan, punggungnya robek dicambuk sekelompok prajurit bayaran. Ras dari selatan yang tak peduli pajak, pembangkang, primordial, dan buta huruf. Aku membayar semua kebodohan ini, keangkuhan ini, tapi di darahku ada semacam keraguan yang murni.
Tak ada reinkarnasi dari keberanian mereka. Seekor kucing melompat dari mimpiku, menggali lubang dan menancapkan bendera hitam. Bukan bagian dari mereka. Mereka sekelompok tanpa bendera. Tanpa lagu-lagu patriot, tanpa cita-cita mulia semacam janji tersembunyi yang dibisikkan di malam-malam kelam.
Kami tak berdagang. Dan bank telah menjadi kutukan sepanjang tujuh turunan. Tapi aku tak peduli! Sebagaimana moyang semua manusia, mereka ada sebelum negara didirikan, sebelum negara menganggap dirinya pusat, memaksa kita untuk membungkuk, meminta sembah dan nyanyian kehormatan.
Laki-laki suci yang datang dari pusaran badai meminta kami untuk berbakti, menyalakan lagu perang dan membela ilusi yang ditanamkan ke pundak semua manusia. Oho! Di janggutnya menggelantung kata-kata bijak, tapi matanya menampakkan keluguan, sebuah mesin dari kebanggaan-kebanggaan tak berarti. Tapi aku enggan bergerak, memberi hormat dan maju ke medan pertempuran (sewaktu-waktu).
Saat Aku Terpejam
Saat aku terpejam, dunia sekelilingku tumbuh dengan gemuruh. Aku mayat yang berjalan kala fajar terbit, sesak di antara orang-orang menahan lapar, pergi dalam pengawasan hukum yang berlaku. Matahari tak begitu berarti, dan cahaya ini, dan keteraturan dunia, dan ketertiban negara, sebuah jeruji yang mengurung mereka setiap saat.
Kesepianku dalam pikiran menelan gemuruh dunia. Aku membentuk diriku sendiri dan tak seorang pun peduli. O! mayat yang berjalan dalam kealpaan. Tapi serdadu-serdadu hidup dalam diriku, dalam keriangan masa kanakku yang menyala di tubuh. Sebuah teror sempurna telah menempel di telingaku, jauh sebelum aku dilahirkan.
Mataku terbuka, hukum hanya menjanjikan penjara dan penyiksaan, sebuah racun dari kehidupan yang alami. Ketika seorang tentara yang terasing dari lautan memukul kepalaku, hukum seketika mandek. Jatuh di atas kedua kakiku yang kurus, yang terbiasa berjalan dalam koridor sipil yang inferior. Keberingasannya mencerminkan kenaifan. Satu mimpi buruk dari cita-cita mulia.
Saat kembali terpejam, aku hanya ingin menjadi hukum bagi diriku sendiri. Meredakan teror di telingaku, dan membakar dunia yang tak bermakna.
- Puisi Kim Al Ghozali - 5 May 2026
- Puisi Kim Al Ghozali AM - 26 March 2024
- Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM; Yang Tertinggal - 6 November 2018
