Syaikh Maudud al-Jasyti

Syaikh Maudud al-Jasyti dikenal sebagai ketua di Jasyt, sebagai wali quthb di sana. Setelah umur beliau mencapai tujuh tahun, beliau betul-betul hafal Qur’an. Setelah mencapai dua puluh enam tahun, Syaikh Yusuf, bapaknya pindah, dan meletakkan anaknya pada posisinya.

Syaikh Maudud al-Jasyti disifati oleh orang-orang dengan sifat-sifat yang bagus, dengan perbuatan-perbuatan yang terpuji. Bahkan penduduk negeri itu meyakini, cinta dan terpaut kepada beliau. Semua orang-orang itu berada di bawah perintah beliau. Semua orang-orang itu tunduk dan patuh pada beliau.

Beliau sempat berjumpa dengan seorang syaikh yang lain, yaitu Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. Ketika Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami datang ke negeri Hirat, beliau bisa menampakkan perbuatan-perbuatan yang khariq al-‘adat, beliau menampakkan karamah-karamah, baik bagi orang-orang awam maupun orang-orang istimewa.

Karena kagum terhadap tindakan-tindakan yang menyalahi adat itu, orang-orang akhirnya meyakini bahwa Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami adalah guru rohani mereka. Tentu saja merupakan suatu keberuntungan bagi beliau, mereka memandang beliau sebagai guru rohani.

Beredar kisah di kalangan orang-orang di negeri itu bahwa ketika Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami menghadap dari arah Hirat menuju kepada tempat-tempat yang akan diziarahi di Jasyt, datang sebuah cerita kepada Syaikh Maudud al-Jasyti bahwa beliau mengumpulkan murid-muridnya sehingga Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami keluar dari negerinya.

Sahabat-sahabat Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami menyembunyikan kabar ini dari syaikh mereka. Sementara syaikh mereka sangat mengenal diri mereka. Ketika mereka datang, syaikh mereka berkata kepada mereka: “Untuk sementara saja, sabarlah sejenak. Karena jama’ah rasul akan datang sebentar lagi.”

Beberapa waktu kemudian, seorang khadim Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami datang dan berkata: “Jama’ah para rasul telah datang. Masukkanlah mereka. Ucapkanlah salam kepada mereka.” Mereka mendengarkan jawaban salam para rasul. Bahkan mereka telah memakan makanan yang dihidangkan pada mereka.

Mereka telah mengangkat para utusan itu. Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami berkata: “Engkau yang akan mengatakan sesuatu atau aku yang akan berkata-kata? Karena hajat apakah kalian datang kemari?” Mereka berkata: “Engkau ya Syaikh yang pernah berkata: Kuutus kalian kepada Syaikh Maudud.”

Kalian berkata bahwa kalian diuutus kepada Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. “Pulanglah engkau. Kalau tidak, akan kupulangkan engkau sebagaimana semestinya,” kata syaikh itu. Para utusan menetapkan perkataan syaikh itu. Mereka membenarkannya.

Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami kemudian berkata: “Kalau yang dimaksudkan adalah wilayah, maka desa-desa ini adalah milik manusia. Sama sekali bukan milikku dan pula miliknya. Tapi kalau yang dimaksudkan adalah manusianya, maka itu adalah kekuasaan Sultan Sanjar.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!