Sri

Kami, anak-anak, memanggilnya ‘Sri’. Dari mana asal nama itu, kami tak peduli. Yang satu memanggil dengan nama ‘Sri’, maka yang lain ikut. Banyak cerita kudengar, bahwa namanya sebenarnya bukan ‘Sri’ tapi ‘Wati’. Lalu ada teman yang nyeletuk, “Ya, mungkin Sriwati, namanya,” sambil tertawa tergelak-gelak. Dan kami semua, anak-anak Gang Manyang, tertawa riang. Kami tertawa, karena saat itu, hanya itulah yang bisa kami lakukan.

Tubuhnya tinggi besar. Gemuk. Wajahnya, menurutku, agak menakutkan. Matanya seperti telor ayam, mendosol, dan jika menatap orang, seperti mau menembus isi kepala yang ditatapnya. Yang lebih mengerikan lagi, bagiku, adalah mulutnya yang selalu terbuka, menampakkan giginya yang tidak rata, ditambah leleran liurnya yang membasahi bagian dada, pakaiannya. Kurasa dia tak pernah ganti pakaian. Mungkin juga tak pernah mandi. Rambutnya yang tidak subur di kepalanya itu, selain kusut juga sudah berwarna antara abu-abu dan kuning. Dia selalu berdiri seperti mengawasi sekeliling. Entah apa yang diperhatikannya.

Jika ada orang yang merasa kasihan dan memberinya kue atau air minum, dia akan menerimanya dengan kegembiraan yang menggelikan. Dia akan ‘ah,uh, ah, uh’ tak jelas seolah mengucapkan  terima kasih, dan langsung melahap, seberapa besar pun makanan yang diberikan kepadanya. Sekali telan. Kuperhatikan kadang-kadang mulutnya sangat penuh sampai-sampai ada ceceran kue atau makanan lain yang keluar ketika dia mengunyah. Dan Sri tak peduli. Kadang air minum itu bercampur dengan ingusnya sendiri dan dia meminumnya dengan tegukan besar. Mengusap mulut dan ingusnya, dilapkannya pada dasternya, dan kembali berdiri mengawasi entah apa.

Sri, yang kemudian kami beri tambahan julukan ‘ngiler’ jadi ‘Sri Ngiler’, selalu kami jumpai di perempatan jalan kampung. Jalan yang nyaris dilewati banyak orang. Jalan kecil saja dan kebanyakan kendaraan yang lalu lalang adalah becak. Satu dua sepeda motor. Dia akan tegak di sana, seolah dirinya adalah tugu pembatas desa. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia hanya berdiri. Kakinya tak bersandal atau alas apa pun.  Hujan deras, dia berdiri di situ. Panas terik dia masih di situ. Beberapa kali, bahkan aku dan teman-teman terpaksa memalingkan muka karena Sri dengan tetap berdiri, kencing.

Tentu saja kami bersorak-sorak melihat Sri Ngiler kencing sambil berdiri, bahkan tanpa mengangkat dasternya. Jadi, dia kencing, ya, begitu saja. Air kecingnya seperti air yang bocor dari ember besar, dari perut Sri Ngiler. Kami teriak-teriak, “Sri ngompool. Sri ngompool.”

Sri seperti tersadar, melihat  kami dan mengancam.  Dan benarlah dia mengejar kami, meskipun dengan langkah berat. Kami, anak-anak, tentu lari sipat kuping, seperti Speedy Gonzales.

Rasanya, banyak orang tersenyum-senyum, mungkin juga ada yang geram pada perbuatan kami. Tapi, kami memang senang.

***

Kami, anak-anak Gang Manyang, berkelompok karena umur kami sama. Kalau berselisih, mungkin hanya hitungan bulan. Aku lahir di bulan Mei, si Dul bulan Januari, Mimin juga Januari tapi di akhir, Teng, Urip, Milah, kurasa juga hanya berbeda tanggal, di bulan yang sama, di tahun yang sama. Jadi, kami berenam ini memang dilahirkan di tahun yang sama, jadi kami tumbuh, ya bersama-sama. Kami juga bersekolah di SD yang sama. Ngaji di masjid kampung yang sama, dengan guru ngaji yang sama. Dan entah bagaimana, kami secara bersama-sama sadar ada sosok lain di kampung kami yang tiba-tiba hadir di hidup kami: Sri Ngiler. Kapan persisnya kehadiran ‘Sri Ngiler, kami tak tahu. Rasanya, dia sudah ada sebelum kami semua ada.

Kami sempat mendengar ucapan guru ngaji kami, entah kapan, bahwa kami tidak boleh mengganggu Sri Ngiler. Meskipun dia mungkin kotor, bau, dan kurang waras, kami tidak boleh mengolok-oloknya. Kami diam karena yang bicara adalah guru ngaji kami. Tapi di luar  masjid, kami membahasnya. Meskipun ada rasa takut, tapi sebenarnya kami sangat senang kalau Sri Ngiler mengamuk karena kami goda. Itu memang permainan kami.

“Kenapa, nggak boleh diganggu?” tanya Teng.

“Kata bapakku, dia itu wali,” ucap Milah.

“Wali? Wali apa?” tanyaku

“Ya, wali … orang sakti. Kalau dia marah, bahaya. Kalau dia bilang kita sakit, maka kita sakit semua.”

“Aah, nggak mungkin!”

Eee, nggak percaya. Coba, tahu nggak, kapan dia tidur? Kapan dia pulang, rumahnya di mana?”

Kami terdiam dikunci oleh ucapan Milah. Kenapa Milah jadi sepandai ini, ya? Aku pernah mendengar dari pamanku, bahwa ada orang-orang yang sebenarnya orang suci, tapi ‘menyembunyikan’ diri menjadi orang aneh atau orang gila. Kata pamanku, jangan menyakiti hati orang-orang seperti ini, kuwalat. Aneh, tapi aku suka cerita paman.

**

Suatu siang, seingatku hari libur, aku, Teng, Urip dan Dul sedang mancing di sungai kecil yang ada di kampung kami. Kami bersepeda mini. Kebetulan, Teng baru dibelikan sepeda, dan benar-benar baru, gres’ sebagian plastik pembungkusnya masih melekat ketika kami pergi ke sungai. Teng boleh berbangga dengan sepeda mini barunya. Kami pun sebagai temannya, ikut bangga, apalagi karena aku boleh pinjam sebentar.

Kami agak berpencar posisi. Mencari posisi mana kira-kira yang banyak ikannya. Itulah yang ada di pikiran kami. Biasanya, ikan akan senang di air yang dingin, karena ternaungi semak atau pohon. Ikan banyak berkumpul di tempat-tempat seperti itu. Sepi sekali siang itu. Kami berempat diam, sambil berdoa agar umpan kami menarik perhatian ikan. Ikan apa saja.

Tiba-tiba terlintas kembali ucapan paman tentang Sri yang Wali. Aku membayangkan Sri berdoa agar aku dapat ikan banyak. Doa orang suci akan dikabulkan. Ah, mungkin saja bisa. Doa wali itu manjur. Tapi bagaimana caranya meminta dia berdoa, mendoakan aku? Dan seandainya aku yang langsung memintanya, apakah dia mau? Mungkin bahkan tidak paham maksudku. Mungkin malah marah, lantaran teringat aku adalah salah satu dari anak-anak yang mengatainya ngompol. Ah, kenapa aku memikirkan Sri ?

Tiba-tiba kami mendengar suara seperti barang dilemparkan ke bak mobil. Sepeda! Dan benarlah, ketika kami buru-buru ke tempat sepeda, kami melihat seseorang mengangkat sepeda Teng dan diunggah ke bak mobil. Kami berteriak dan berlari, tapi mobil itu lebih cepat. Kami menangis. Teng takut dimarahi bapaknya karena sepedanya yang masih baru. Sambil berteriak-teriak di siang yang sepi itu, kami mencoba mengejar pencuri sepeda kami.

**

Entah bagaimana, sejak peristiwa hilangnya sepeda kami, kami jadi takut mengolok-olok Sri. Aku juga tak tahu bagaimana mungkin isi pikiran kami sama. Ada rasa takut yang sangat, seolah peristiwa tempo hari itu adalah semacam ‘balasan’ dari Sri yang diolok-olok.  Milah hanya diam. Mungkin dia membenarkan isi pikiran kami. Mata Teng masih sembab. Kebanyakan menangis karena dimarahi mamaknya.

“Kita harus minta maaf sama Sri,” ucap Dul, begitu saja. Teng terdiam sesaat, tapi kemudian setuju dengan pendapat Dul.

“Ya, tapi ke mana kita menemuinya?” tanya Milah. “Ada yang tahu rumahnya?”

Tentu saja, aku mengatakan bahwa kami akan menemui Sri di perempatan jalan. Biasanya dia di sana, siang, malam.

“Tapi dia sudah beberapa hari nggak kelihatan di sana.”

Seperti diingatkan, kami sadar bahwa sudah tiga hari ini kami tidak melihat Sri di perempatan jalan.

Ya, kami harus meminta maaf pada Sri Ngiler. Meskipun, mungkin dia, seperti dugaan kami, tak paham semua pembicaraan kami, tapi itu semua nggak penting. Yang penting, dia harus kami temukan dan dengan begitu kami bisa meminta maaf. Kami sadar, kami memang anak-anak nakal, tapi kami juga bisa minta maaf. Orang tua kami, guru-guru kami mengajarkan itu semua. Kami harus minta maaf kepada Sri. Tapi, di mana dia sekarang?

Perempatan jalan jadi kosong. Aku dan, kata banyak orang, ada orang-orang yang seolah melihat Sri dengan tubuh bongsornya di sana. Tapi, yang ada hanya kosong. Sunyi. Di perempatan itu, ketika kami pergi dan pulang sekolah, ya hanya lalu-lalang becak, motor, sesekali mobil. Kami tak bisa menemukan di mana Sri Ngiler dengan tubuh besarnya yang mustahil disembunyikan di kota kecil ini.

Kami tak tahu di mana Sri berada. Yang kami ketahui, kami punya rasa bersalah kepadanya. Yang kami tahu, kami harus meminta maaf. Kota ini akan tumbuh, membesar dan melibas jalan-jalan kecil yang menjadi jalan kami pulang dan pergi ke sekolah, tapi ingatan kami tidak lenyap.

Tubuhnya tinggi besar. Gemuk. Wajahnya, menurutku, agak menakutkan. Matanya seperti telor ayam, mendosol, dan jika menatap orang, seperti mau menembus isi kepala yang ditatapnya. Yang lebih mengerikan lagi, bagiku, adalah mulutnya yang selalu terbuka, menampakkan giginya yang tidak rata, ditambah leleran liurnya yang membasahi bagian dada, pakaiannya. Kurasa dia tak pernah ganti pakaian. Mungkin juga tak pernah mandi. Rambutnya yang tidak subur di kepalanya itu, selain kusut juga sudah berwarna antara abu-abu dan kuning. Dia selalu berdiri seperti mengawasi sekeliling. Entah apa yang diperhatikannya. Bisa saja tiba-tiba dia kencing, sambil tetap berdiri tegak, seolah mencurahkan hujan ke bumi dari balik daster panjangnya.

***

Pinang 982

Yanusa Nugroho
Latest posts by Yanusa Nugroho (see all)
  • Sri - 5 June 2026
  • Rai - 4 November 2016

Comments

  1. Angga Reply

    Sri oh Sri..
    Kisah yang menggelitik rasa ingin tahu.. keren sih ini..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!