Syaikh Maudud al-Jasyti #4

Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami mengangkat kepalanya dan berkata: “Dia itu ya dia. Mampukah engkau membedakan dengan orang lain?” Di Sarkhas itu ada seorang laki-laki yang gila dan betul-betul sangat cerdas. Dia betul-betul memiliki karamah nyata, kejadian luar biasa yang terjadi pada para wali.

Dia betul-betul tidak mau berpisah dengan Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. Dia sungguh sangat berkhidmat kepada beliau dalam kondisi apa pun. Pada saat itu, dia datang di majelis Syaikh Ahmad. Kemudian dia berteriak nyaring sekali, sangat nyaring.

Karena terkejut atau takut dengan teriakan yang sangat keras itu, orang-orang yang ada di situ pada kabur. Hingga surban-surban mereka, sandal-sandal mereka, semuanya ditinggalkan. Kecuali Syaikh Maudud yang betul-betul merasa malu. Dia bangkit dalam keadaan minta maaf.

Semua orang sadar kabur karena jeritan yang sangat nyaring dari orang gila. Satu saja orang gilanya itu. Berarti apa? Orang gilanya itu betul-betul dekat kepada Allah Ta’ala, dan benar-benar jauh dari makhluk. Sehingga yang ditakuti oleh dia cuma satu, karena cuma Dia yang Mahaada, yaitu Allah Ta’ala.

Syaikh Maudud betul-betul terlihat kepalanya. Surbannya entah dimana tidak diketahui. Beliau berkata kepada Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami: “Engkau tahu wahai Syaikh, saya betul-betul tidak rida dengan kejadian macam ini.” Ada ketidaknerimaan dalam diri beliau terhadap persoalan ini.

Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami memberikan jawaban: “Engkau benar, benar sekali. Tapi sepantasnya engkau tidak sepakat dengan mereka.” Syaikh Maudud berkata bahwa dia telah mengerjakan perbuatan yang buruk, “Maaf sekali ya,” katanya dengan penuh penyesalan.

Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami memberikan jawaban yang melegakan beliau: “Baiklah. Kumaafkan engkau. Pulanglah engkau bersama jama’ah itu. Tapi engkau harus di sisiku selama tiga hari. Engkau tidak lain bersama khadim di sini.” Syaikh Maudud mengerjakan semua yang dikatakan oleh Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami.

Syaikh Maudud betul-betul datang di hadapan Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. Beliau berkata: “Aku mengerjakan apa yang kalian perintahkan kepadaku. Sekarang, aku kerjakan apa yang kalian katakan.” Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami mengatakan kepada beliau:

“Sekarang, pertama kali yang harus kau lakukan adalah meletakkan sajadah kepemimpinan di tempatnya. Pelajarilah ilmunya. Karena seorang sufi yang bodoh dijadikan barang mainan oleh setan.” Kata-kata Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami itu betul-betul diterima oleh beliau.

“Dengan apa engkau memerintahkan aku?” tanya Syaikh Maudud kepada Syaikh an-Namiqi al-Jami. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan tegas: “Apabila engkau telah selesai memperoleh ilmu, berjuanglah untuk menghidupkan silsilah keilmuanmu, karena silsilah bapakmu dan kakekmu semuanya agung.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!