Syaikh Abu Isma’il al-Harawi #2

Ada seorang perempuan yang sangat tinggi. Namanya Banu. Perempuan itu berkata: “Guruku berkata: ‘Di kotamu ada seorang anak yang umurnya tujuh belas tahun. Dia tidak tahu bapaknya siapa. Dia juga tidak tahu dirinya siapa. Dan tidak ada seorang pun di atas bumi yang lebih utama dan lebih baik darinya’.”

Dari barat dan timur bumi ini penuh dengan kebaikan-kebaikan beliau. Sungguh sangat menakjubkan. Betapa tidak, seluruh bumi ini kebak dengan kebaikan-kebaikannya. Perempuan itu, demikianlah keadaannya. Dia mempunyai seorang anak perempuan. Umurnya satu tahun setengah.

Ia ditinggalkan oleh ibunya. Ditinggalkan untuk melaksanakan ibadah haji. Syaikh Abu Usamah adalah seorang syaikh Tanah Haram. Setelah perempuan itu sampai ke Mekkah, bayi itu dihadapkan kepada beliau. Beliau tidak lain adalah pamannya. Bayi itu memiliki bak tinta dan kertas.

Apabila bayi itu diziarahi oleh para syaikh, ia itu berkata: “Tulislah sesuatu karena Allah Ta’ala.” Bukan karena sesuatu yang lain. Karena apa pun selain hadiratNya itu tidak ada, mutlak tidak ada. Hanya Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Yang Ada. Langit dan bumi dan segala sesuatu tidak ada.

Syaikh al-Islam mengatakan bahwa pertama kali beliau diutus ke kantor adalah ke kantor perempuan. Mereka mengatakan: “Betul-betul bermodarat kantor perempuan itu.” Setelah beliau berumur empat tahun, mereka mengutusku ke kantor perbankan. Setelah umur mencapai sembilan tahun,

Mereka menjadikanku menulis sebuah hadits, yaitu yang diriwayatkan oleh al-Qadhi Abu Manshur dan al-Jawardi. Setelah umurku mencapai empat belas tahun, mereka mendudukkanku di sebuah majelis. Waktu itu aku sangat kecil. Di kantor sastra, aku menulis puisi. Mereka hasud kepadaku.

Syaikh al-Islam mengatakan bahwa pada waktu dulu aku sesungguhnya bersama sebagian anak Syaikh Yahya bin ‘Ammar di dalam salah satu kantor. Di waktu itu, aku menulis puisi dalam bahasa Arab yang begitu indah. Anak-anak tidak suka puisi. Pada sebagian hari yang lain, anak itu berkata di sisi bapaknya:

“Fulan bin fulan suka puisi. Barangkali setiap anak akan mengatakan seperti itu.” Bapak anak itu adalah seorang alim dan utama. Dia datang ke kantor. Dia datang kepada orang di kantor. Dia mengatakan kepada orang di kantor: “Jadikanlah bait berbahasa Persi ini sebagai sebuah puisi.”

Syaikh al-Islam mengatakan dalam bahasa Arab tentang puisi yang tertulis dalam bahasa Persia dengan sya’ir yang bagus: “Pada bahasa muda, dia tidak hidup dalam bahagia. Semua derita tertumpah kepadanya di hari-hari itu. Biarlah engkau sampai selama menginginkan kebahagiaan. Sementara kegelapan akan berkurang dengan meleknya orang-orang yang mulia.”

Betapa meleknya puisi itu, betapa segalanya puisi itu. Sungguh, sangat indah. Di hadapan orang-orang yang makrifat, ia indah sekali. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!