Syaikh Abu Isma’il al-Harawi #3

Ada seorang perempuan bernama Banu. Orangnya tinggi. Ia mengatakan: “Guruku mengatakan bahwa di kotamu ada seorang anak yang umurnya tujuh belas tahun. Dia tidak tahu bapaknya siapa dia. Dia juga tidak tahu siapa dirinya. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dan lebih baik dari dia.”

Mulai dari ujung barat sampai paling ujungnya timur, penuh dengan kebaikan-kebaikannya. Perempuan itu begitulah keadaannya. Ia punya anak perempuan yang umurnya satu setengah tahun. Dan perempuan itu meninggalkannya. Ia berniat untuk melaksanakan ibadah haji.

Syaikh al-Islam mengatakan bahwa aku pernah bersama sebagian anak Syaikh Yahya bin ‘Ammar di salah satu kantor. Aku mengatakan syair dalam bahasa Arab yang indah. Sementara anak-anak tidak suka syair bahasa Arab. Apa yang mereka sukai? Pada sebagian hari, ada sebagian anak berkata di sisi bapaknya:

“Fulan bin Fulanah menyukai syair. Barangkali juga setiap anak juga menyukai itu.” Sementara bapak anak itu adalah orang yang alim dan utama. Lalu orang itu datang ke kantor dan bilang: “Wahai hamba Allah, tolong bikin bait berbahasa Persi ini sebagai puisi yang indah.”

Aku tidak ngerti bahasa Persia. Tapi aku ngerti bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, berarti begini: “Kukatakan puisi yang indah: pada masa mudaku, aku tidak hidup dalam kegembiraan. Hari-hari pada waktu itu adalah hari-hari malapetaka. Berusahalah engkau sampai jika menginginkan bahagia. Karena demikianlah kata orang-orang mulia.”

Kami akan menemukan air di sungai. Maka kami berharap sebagaimana mereka mengira datangnya air di situ. Syaikh al-Islam juga mengatakan: “Bahwa di kantor kami ada seorang bayi yang sangat tampan. Namanya Ahmad. Dan seseorang berkata kepada saya: Coba katakan satu bait kepadanya.”

Kukatakan kalimat ini kepadanya: “Bagi bapak Ahmad ada sebuah wajah. Rembulan malam adalah anaknya. Dia memiliki pandangan rusa. Korbannya tak lain adalah hati.” Syaikh al-Islam mengatakan bahwa dia hafal lebih banyak dari enam ribu bait syair yang berbahasa Arab dengan wazan yang benar.

Syaikh al-Islam juga mengatakan bahwa dirinya telah merenung kapankah waktu yang benar untuk mengukur kemampuan dari syair-syair yang berbahasa Arab? Syair-syair seperti itu banyak sekali, lebih banyak dari tujuh puluh ribu bait puisi. Betapa sangat banyak.

Beliau juga mengatakan pada waktu yang lain bahwa beliau telah hafal seratus ribu bait puisi berbahasa Arab, baik dari kalangan orang-orang terdahulu maupun dari kalangan orang-orang kemudian. Sungguh, hafalan beliau sangat kuat sekali. Itu jelas termasuk karunia dari Allah Ta’ala.

Kesempurnaan hafalan beliau adalah ketika pada suatu waktu beliau membaca Qur’an bersama orang-orang yang suka membaca, ketika beliau telah pulang, beliau kemudian pergi ke tempat membaca Qur’an yang lain, betapa hafalan yang tadi baru dihafalkan masih utuh, tidak kurang sedikit pun. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!