Puisi Rika Prima Nanda

 

Gugatan di Atas Kain Songket

 

seharian

jemariku keluar masuk lubang jarum

 

benang emas

menangkap cahaya sore

di pangkuanku

 

satu motif selesai

disusul motif berikutnya

 

burung

daun

pucuak rabuang

 

semuanya tumbuh

dengan sabar

di atas kain

 

orang-orang datang

memuji tangan perempuan

yang mampu membuat keindahan

 

tak ada yang bertanya

ke mana tangan itu

ingin pergi setelahnya

 

jariku tertusuk

 

setitik darah

jatuh di antara benang merah

 

aku membiarkannya

 

barangkali kain ini perlu tahu

bahwa tidak semua yang indah

lahir tanpa luka

 

malam turun

 

bunyi kayu tenun

berhenti di ruang belakang

 

untuk pertama kalinya

aku membiarkan benang

terlepas dari jemariku

 

sehelai demi sehelai

 

di luar

angin menggerakkan jemuran

 

dan kain songket itu

tetap berkilau

 

meski tak lagi

menutupi apa pun

 

 

 

Pisau dan Tingkuluak

 

di atas kasur

kelambu merah menggantung rendah

 

kau meletakkan tingkuluak tanduak

di samping sebilah belati

 

katamu,

menjadi perempuan Minang

adalah belajar memikul sesuatu

tanpa suara

 

aku memandang kain itu

 

lipat demi lipatnya

menyerupai aturan

yang diwariskan lebih lama

daripada namaku sendiri

 

kau ingin aku tersenyum

di hadapan para datuk

 

seolah wajah perempuan

adalah bagian dari upacara

 

diam-diam

 

aku mengasah keberanian

pada mata pisau

yang tak pernah dipakai memasak

 

jika suatu malam

seluruh rumah tertidur

 

aku ingin membuka simpul tingkuluak itu

 

dan membiarkan rambutku

mengenal angin

lebih dulu

daripada adat

 

 

 

 

 

Gadis yang Menolak Dipinang

 

ruang tengah

dipenuhi bau teh pekat

dan asap kayu manis

 

orang-orang duduk melingkar

 

membicarakan masa depanku

seperti membagi sawah

yang belum ditanami

 

namaku disebut

bersama jumlah emas

dan panjang silsilah

 

aku duduk

di dekat jendela

 

hujan memukul halaman

lebih jujur

daripada percakapan di dalam rumah

 

katanya

lelaki itu baik

 

punya tanah

punya pekerjaan

punya keluarga yang dihormati

 

tak seorang pun bertanya

 

apakah aku pernah

membayangkan hidup

dengan wajah yang lain

 

aku berdiri

gelang perak bergemerincing

di pergelangan tangan

 

tak ada pidato

 

hanya pintu yang kubuka

dan udara Bukittinggi

masuk bersama gerimis

 

di belakangku

percakapan masih berlangsung

 

seolah perempuan

bisa tetap dipinang

meski telah meninggalkan ruangan

 

 

Catatan di Lembah Anai

 

di Lembah Anai

air jatuh tanpa pernah meminta

batu-batu menyebut namanya

 

aku berdiri di tepi jalan

membiarkan kabut naik

dari sela pohon dan tebing

 

di sini

perempuan diajari menjadi indah

seperti lembah selepas hujan

 

tetapi harus kuat

seperti batu

yang bertahun-tahun menerima

hantaman

 

aku menyimpan beberapa pertanyaan

di balik buku yang kubawa dari rumah

 

mengapa suara perempuan

selalu terdengar seperti ancaman

ketika ia tidak memilih diam

 

mengapa penolakan

harus dibaca sebagai durhaka

jauh di bawah sana

air Batang Anai menggulung daun

membawanya entah ke mana

 

barangkali begitulah pikiran

 

ia tidak selalu tahu

ke mana harus pergi

 

tetapi sekali mengalir

sulit membuatnya kembali

menjadi genangan

 

aku menulis namaku

di halaman terakhir buku

 

lalu menutupnya

 

sementara air

terus mengikis batu

 

pelan-pelan

Rika Prima Nanda
Latest posts by Rika Prima Nanda (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!