Kita tiba-tiba merasa asing dengan semua Percakapan hanyalah tanda kekosongan Puisi tak pernah selesai, hari-hari misteri.
O, di manakah bisa kutemui penyair sejati Keheningan tempat aku larut-tenggelam Dalam diam, kita terus mencari diri sendiri.
2021
PULANG MEMBAWA LUKA
Kucingku pulang dengan bekas luka di tubuhnya. Dia berkelahi, ada kucing yang tak suka melihat dia hidup nyaman. Luka di tubuhnya beri pertanda permusuhan.
Aku pun demikian. Setiap pulang, luka itu kembali terbuka. Ingatan buruk tentang masa lalu datang penuhi kepala. Aku ingin mengusirnya, tapi rasanya sulit sekali.
Berkelahi dengan pikiran berkecamuk. Tak ada makanan di meja makan. Mereka lupa hari ulang tahunku, seperti kelahiran dan kehadiran yang tak pernah diinginkan.
Tak ingin aku menyesali semuanya. Kita semua memang tak sakit, tapi tak juga sehat. Dunia adalah rumah sakit jiwa yang luas dan besar, kata seorang guru agung.
Luka kutaruh dalam tas di punggung, dan bergegas pulang ke kota. Aku yakin, tak butuh perkelahian untuk buktikan diri pernah terluka. Sebab kita bukan binatang.
2021
PEMIKIR TUA
Alam seperti bersatu, berikan kita semua kedamaian setiap detik, dari hari ke hari.
Pagi yang dingin. Aku teringat puja-puji atas kebesaran tuhan, dari penjuru hati.
Kopi dan rokok terkulai lemas di lantai. Penyair kota menulis; “Tuhan, mengapa kita bisa bahagia?” Dia selalu bertanya.
Tak perlu kekosongan itu. Percuma. DIA berikan waktu bagi kita berpikir, mencari.
Tak perlu menunggu mati bertemu hakiki.
Berlabuh di banyak tubuh, menyadari ruh. Usia tua yang binal. Jiwa remaja sia-sia.
Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Mengawali karier kepengarangan sebagai penulis puisi sejak SMA tahun 2001 saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya di kota kelahirannya, tempat ia menimba banyak ilmu pada Nanoq da Kansas, guru pertama yang mengajarinya menulis, bermain teater, membaca kehidupan, dan melihat dunia dari sisi lain.
Melanjutkan studi ke kota Denpasar, ia tetap menulis puisi, mengisi lembar sastra-budaya koran lokal dan membawanya pada banyak perhelatan sastra, di antaranya Festival Sastra Internasional (2003) yang digagas Komunitas Utan Kayu Jakarta dan jejaring komunitas sastra di Bali. Ia mulai menekuni esai sejak 2008, saat menjadi wartawan tabloid budaya di Denpasar dan kolumnis koran Independent News yang memberinya ruang berekspresi dan mengasah mata pena serta kemampuan menulisnya.
Sempat kuliah di Program Studi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, tak rampung karena penyakit mental skizofrenia mendera di ujung studi membuat ia berada di titik nol kehidupan. Ia terselamatkan berkat cinta dan dorongan kekasih yang membuatnya bangkit, kembali berkarya dan bekerja di Denpasar. Perkenalan dengan seorang psikiater membuatnya bisa pulih, bersama kawan-kawan senasib membangun Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang kini menjadi garda depan pemberdayaan ODS (Orang dengan Skizofrenia) di Bali dan aktif mengedukasi masyarakat terkait isu kesehatan mental.
Sejak awal 2018 ia telah menerbitkan 6 (enam) buku kumpulan puisi, Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018), Dua Kota Dua Ingatan (Basabasi, 2019), Taman Bermain (Purata Publishing, 2019) dan Notes Going Home (Pustaka Ekspresi, 2019) dan Tidur di Hari Minggu (Mahima Institute Indonesia, 2020) dan Menulis Halusinasi (Lire Publisher, 2021). Juga, buku kumpulan esai Masa Depan Itu Nisbi (Pustaka Larasan, 2020) dan buku kumpulan artikel Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (Megalitera, 2020).
Selain bekerja sebagai jurnalis, kini dia juga bergiat di Rumah BISAbilitas Denpasar, berbagi ilmu tentang kepenulisan serta mengelola portal sastra sebagai wadah berkarya bagi kawan-kawan penyandang disabilitas. Ia bisa dihubungi di akun Instagram @anggawijaya548.
Agus Manaji
Mantappp
soim anwar
kagum pada perjalanan hidupnya..
Budhi Setyawan
sajak-sajak yang kalimatnya asyik dibaca. salam progresif mas Angga