Sajak-Sajak Angga Wijaya

PERBATASAN HUJAN


Menembus senja, bus melaju tanpa

penumpang. Kekosongan sama kita

rasakan, huruf-huruf menggigil di

tubuh buku; masihkah kita baca?

Air basahi halaman, seperti kenangan

datang pada ingatan kita; masa lalu

atau masa depan, penuhi tiga pikiran.

Nyanyi sekelompok orang awali cerita 

Halusinasi menjelma kesedihan;

rumah sakit jiwa, cahaya temaram.

Di perbatasan, jarak kewarasan

amat tipis. Bagai rintik hujan tak

merata, di jalan kota yang kini

sepi sejak wabah melanda dunia

Kita tiba-tiba merasa asing dengan semua
Percakapan hanyalah tanda kekosongan
Puisi tak pernah selesai, hari-hari misteri.

O, di manakah bisa kutemui penyair sejati
Keheningan tempat aku larut-tenggelam
Dalam diam, kita terus mencari diri sendiri.



2021


PULANG MEMBAWA LUKA


Kucingku pulang dengan bekas luka di tubuhnya. Dia berkelahi, ada kucing yang tak suka melihat dia hidup nyaman. Luka di tubuhnya beri pertanda permusuhan.

Aku pun demikian. Setiap pulang, luka itu kembali terbuka. Ingatan buruk tentang masa lalu datang penuhi kepala. Aku ingin mengusirnya, tapi rasanya sulit sekali.

Berkelahi dengan pikiran berkecamuk. Tak ada makanan di meja makan. Mereka lupa hari ulang tahunku, seperti kelahiran dan kehadiran yang tak pernah diinginkan.

Tak ingin aku menyesali semuanya. Kita semua memang tak sakit, tapi tak juga sehat. Dunia adalah rumah sakit jiwa yang luas dan besar, kata seorang guru agung.

Luka kutaruh dalam tas di punggung, dan bergegas pulang ke kota. Aku yakin, tak butuh perkelahian untuk buktikan diri pernah terluka. Sebab kita bukan binatang.


2021

PEMIKIR TUA


Alam seperti bersatu, berikan kita semua
kedamaian setiap detik, dari hari ke hari.

Pagi yang dingin. Aku teringat puja-puji
atas kebesaran tuhan, dari penjuru hati.

Kopi dan rokok terkulai lemas di lantai.
Penyair kota menulis; “Tuhan, mengapa
kita bisa bahagia?” Dia selalu bertanya.

Tak perlu kekosongan itu. Percuma. DIA
berikan waktu bagi kita berpikir, mencari.

Tak perlu menunggu mati bertemu hakiki.

Berlabuh di banyak tubuh, menyadari ruh.
Usia tua yang binal. Jiwa remaja sia-sia.

Kegilaan, ketidaksadaran. Kapan berakhir?



2021

I Ketut Angga Wijaya
Latest posts by I Ketut Angga Wijaya (see all)

Comments

  1. Agus Manaji Reply

    Mantappp

  2. soim anwar Reply

    kagum pada perjalanan hidupnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published.