Aku Ingin Bermain dengan Manusia

Aku ingin bermain dengan manusia, tertawa, dan makan bersama. Tapi mereka begitu enggan bermain bersamaku. Tidak tahu apa sebab, aku dituduh sebagai pembunuh bayaran, padahal tubuhku sangat kecil—untuk memegang pisau saja tidak bisa. Aku dijauhi. Jika aku dekati, mereka langsung beranjak. Aku benar-benar tidak mengerti.

***

Kawanku mengatakan ia melihat fotoku di trotoar dengan peringatan untuk menjauhiku. Awalnya aku tidak percaya dan coba memeriksa sendiri. Karena jarak tempatku dan tempat foto yang dimaksud sangat jauh, aku nyebong bersama angin. Sekejap aku sudah sampai di tujuan, dan benar saja—fotoku dan “peringatan” dengan huruf besar berwarna merah menusuk mataku.

Manusia memang cerdik dan aku suka dengan mereka. Aku selalu mengikuti mereka ke mana pun mereka pergi, walau mereka memfitnahku sebagai pembunuh. Tapi itu tidak masalah sebab dari mereka aku dapat bertemu dengan kekasihku. Begini ceritanya:

Saat malam ketika aku sampai di trotoar, ada gadis kecil dituntun oleh ibunya. Ia berhenti karena ingin melihat fotoku di trotoar, namun si ibu menariknya paksa dan menangislah gadis malang itu. Aku melihatnya dari belakang dan merasa iba. Entah ada angin apa, aku membuntuti mereka.

Mereka mendadak berhenti di depan apartemen. Si ibu menengadah sedang anaknya pelan-pelan berhenti menangis. Tapi mereka berbelok ke dalam gang di samping apartemen. Di kanan kiri mereka tak ada apa pun selain sekantong sampah. Aku berhenti ketika ada yang menepuk pundakku.

“Hei,”

Karena aku sudah biasa dengan gelap dan sering melakukan hal tak terduga, aku tidak terkejut ketika ditepuk dari belakang. Ini hal biasa. Aku berbalik dan aku melihat surga di mataku. Ia memelukku, hangat sekali. Dan malam itu juga kami jalan-jalan. Aku ajak ia pergi ke tempat bagus di mana banyak manusia bermesra-mesraan. Lalu kubawa ia ke monumen dan ia memujiku. Tidak berhenti di sini, kami berkeliling kota dengan angin. Ia sangat senang.

Kutahu ia baru sampai di kota ini setelah perjalanan jauh. Ia bercerita banyak hal di hari kedua bersamaku. Ia terlahir dengan suku berbeda dari yang lainnya, tetapi ia memiliki saudara puluhan tiap harinya dan berlipat ganda ketika saudaranya melahirkan. Jika ditotal sekarang, mereka sudah ribuan atau jutaan. Ia sendiri terpaksa meninggalkan tempat asalnya untuk menyelamatkan nyawa. Ia sendiri tidak ingin meninggalkan saudara-saudara dalam keadaan sulit, namun karena saudara-saudara memaksanya untuk pergi, dan ia menolak, mereka bersumpah tidak akan mengakuinya sebagai saudara jika tidak menurut, maka ia pun pergi dengan penderitaan dan beban yang ia bawa.

Sebelum ia pergi saudaranya telah berpesan agar memberi tahu keadaan mereka pada orang yang ia temui di kota asing, dan jika bisa meminta bala bantuan untuk membalas dendam.  

Tapi ia tidak ingin ada pertumpahan darah lagi. Ia tidak ingin ada yang mati. Cukuplah ia menanggung beban dan menjalani hidup normal. “Aku ingin anak darimu,” katanya mesra.

***

Di hari ketiga kami bercinta di rumahnya yang gelap. Malam itu kami benar-benar mabuk sampai tak tahu hari sudah terang. Matahari masuk dari kisi-kisi jendela. Dan itu tidak membuat kami berhenti. Kami melakukannya sepanjang hari dan malam. Ketika malam, kami berjalan-jalan dekat apartemen. Aku bertemu gadis kecil tempo lalu di dekat apartemen. Ia berlari bersama anjingnya. Aku hinggap di pundak dan kekasihku di pundak satunya. Kami tertawa melihat cerianya si gadis kecil.

Kami melompat dan kembali pulang.

Sudah diputuskan bahwa kami akan tinggal di tempatku di Bantargebang yang lebih nyaman dan hangat. Aku membantu kekasihku mengepak pakaiannya. Setelah itu kami pergi diantar angin. Tempat tinggal baru ini akan menjadi rumah untuk anak-anakku. Aku bisa bermain dengan mereka dan tidak perlu lagi memikirkan cara untuk bermain bersama manusia.

Dari manusia pula aku lebih terkenal dari sebelumnya. Namaku disebut-sebut, dan sering muncul di TV, koran, media online, dan setiap pertemuan manusia di mana pun itu tempatnya. Seolah-olah aku menjadi trending di YouTube dan mendadak menjadi artis.

Anak pertamaku lahir di bulan tiga hari Jumat tahun 2020. Seminggu setelahnya kekasihku melahirkan anak kembar yang sangat lucu dan anak pertamaku sudah bisa berjalan. Mereka bertiga menjadi kebanggaan kami. Dan jika akhir pekan tiba, kami membawa mereka ke Kali Ciliwung, membelikan es krim, dan berenang. Mereka sangat bahagia.

Satu hari rumah kami kedatangan tamu; seorang kawan lama yang sangat baik. Sebelum aku pindah, ia-lah satu-satunya temanku. Ia pula yang memberi tahu adanya fotoku di trotoar. Ia mengetahui tempatku dari temannya.

Aku tidak menyangka ia masih sama seperti dulu; logat yang kental, dan kumis tebal. Aku mungkin lebih muda darinya, tapi aku sudah memiliki 3 anak. Kawanku ini bercerita bagaimana ia mencariku, dan menceritakan keadaan kota saat aku tak ada.

“Kalau kau masih di sana, kemungkinan umurmu tidak akan lama. Makhluk seperti kita tak layak hidup di bumi. Kau tahu sendiri bagaimana manusia hidup di bumi, kan?”

Aku mengangguk. Saat itu kekasihku sedang bersama anak-anak.

“Aku ke sini pun ingin minta bantuanmu.”

“Bantuan apa?”

“Bolehkah aku tinggal di sini sehari saja. Besok pagi aku akan pergi bertemu kawan,”

“Kau bisa tinggal sesukamu, Kawan.”

Aku tunjukkan kamar kosong untuk ia pakai istirahat. Ia berterima kasih.

Malamnya kekasihku dan anak-anak datang. Aku perkenalkan mereka pada kawanku, dan kami makan malam bersama.

***

Sebelum kawanku pergi ia berpesan agar berhati-hati jika keluar rumah. “Manusia saat ini mencuci tangannya dengan alkohol. Aku sendiri melihat temanku meloncat ke tangan manusia dan ia terbakar seketika.” Aku berterima kasih dan kami berpelukan.

Setelah kawanku pergi, kekasihku menarikku ke dalam kamar. “Ini sama persis dengan di kotaku. Mereka akan mati jika terkena alkohol. Aku takut manusia akan menghujani kota ini dengan alkohol, persis di kotaku dulu. Aku tidak ingin anak-anak kita mati, Sayang.”

“Kau jangan khawatir, tidak semua manusia seperti itu. Kita akan aman-aman saja di sini.”

Sebenarnya aku bimbang bagaimana manusia betambah cerdik dalam waktu dua bulan. Aku jadi ingin berteman dengan mereka dan mengorek informasi, tapi bisa saja mereka membawa racun untukku. Tidak, tidak. Aku tidak ingin keluargaku menderita. Aku akan menjaga mereka.

Pagi-pagi sekali kawanku yang kemarin datang lagi dan membuatku terkejut.

“Kau dan keluargamu harus pergi dari kota ini segera. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu, cepat berkemaslah dan ikut denganku ke tempat aman.”

Aku sungguh tidak tahu ada yang sedang terjadi di luar. Aku membangunkan anak-anak dan kekasihku. Aku masukkan baju ke dalam tas. Kekasihku bingung melihatku. Ia mendekatiku dan bertanya: “Untuk apa kamu masukkan itu semua ke dalam tas?”

“Kita semua akan pergi. Kamu siapkan perlengkapan anak-anak.” Seperti mengerti sesuatu, kekasihku lekas bergerak.

Aku dan keluargaku keluar kamar dan siap pergi.

“Kita akan pergi ke mana?” tanya anak pertamaku.

“Ke tempat yang lebih indah, Nak,” jawab kawanku.

Di perjalanan kawanku bercerita tentang rencana vaksinasi terhadap manusia, dan menghujani kota dengan alkohol. “Jika manusia disuntik vaksin, mereka akan menjadi besar dan kuat. Makhluk seperti kita bila menyentuh kulitnya saja bisa sakit. Apalagi dengan rencana hujan alkohol, habis sudah generasi selanjutnya.” Aku merinding mendengar cerita kawanku. Tiba-tiba saja aku ingin membunuh mereka satu per satu. Aku akan menerima tuduhan mereka kalau aku pembunuh bayaran. Tapi sebelum itu, aku akan bermain dengan manusia, yang tidak melindungi tubuhnya dariku.

Latest posts by Fahrul Rozi (see all)

Comments

  1. Taffy Reply

    Aku kira hantu

    Ternyata setelah baca cerpen ini, virus mirip hantu. Tidak mudah terlihat tapi diam-diam menghanyutkan

  2. Vio Reply

    Bikin penasaran, dipikir hantu makin kesini bakteri apaya, ternyata endingnya ga terduga. Sampe baca lagi buat konfirmasi wkwk

  3. Riyanto Reply

    Hah, semenjak muncul kata ‘alkohol’ langsung tau arah ceritanya mau ke mana. Tetapi tetap enak untuk diikuti.

  4. Vhana Reply

    Ceritanya hampir saja menjebak saya. Isinya sangat menarik. Saya jadi jatuh cinta dengan ceritanya.

  5. Nadia Muliawan Reply

    Keren banget, deg-degan pas baca di awal. Kirain apaan

  6. azliz Reply

    cerita yang sangat menginsipirasi dan penuh misteri di awal. Semangat terus buat author…keren

  7. Adzar Reply

    Sudah kuduga dari awal.

  8. mauli Reply

    baru ngerti setelah adanya kata alkohol

  9. Kuya Reply

    gila sihh ini

  10. Ila Hbb Reply

    Dikira setan awalnya, tapi mikir keras, setan mana yg terkenal jadi pembunuh bayaran… 😅setelah sampai pertengahan, barulah MC-nya terkuak😂😂😂
    Keren gacernya🥰🥰

  11. Che Reply

    Astaggirullah, ngakak… udah serius dari awal bacanya, saya kira ini kisah jin hantu atau sejenisnya, makin kebawah penasaran ternyata tentang virus. Maa shaa allah, semangat berkarya ya! 😉

  12. Rona Dinawati Reply

    Aku kira hantu, di tengah-tengah mungkin ini hewan, eh pas ending ternyata malah virus.

    Deg-degan banget bacanya.

    Keren habiiss 😊

Leave a Reply to mauli Cancel Reply

Your email address will not be published.